DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Potka dan Wina Neddle Bees


__ADS_3

Potka melipat tangannya pada dada, ia melihat tingkah Wina yang begitu antusias dengan liontin.


Wina tak mengindahkan dirinya.


"Kau mau?" Wina mengangguk lalu menggeleng,


"Tapi aku tak ada uang" dengan Wajah yang kecewa.


"Ambil yang kau mau" Potka ingin melihat reaksi wanita itu.


"Boleh?" Dan ya ia melihat binar seperti bocah yang diperbolehkan makan gula-gula oleh ibunya.


"Potka?" Akhirnya Wina menyadari dirinya.


"Pilihlah yang kau mau" Potka melepas tudung dikepalanya.


Wina masih menatap tak percaya pada pemuda yang juga fokus menatap lapak liontin didepannya.


"Ini sepertinya cocok, atau ini? Atau yang ini? Ah ini!"


"Ini" mereka menunjuk bersamaan liontin dengan bentuk serigala. Senyum Wina mengembang.


"Iya aku mau ini, kau yang bayar ya" Potka mengeluarkan kantung dan membayar dengan beberapa koin emas miliknya.


"Wah cantiknya" Wina mengangkat tangan dan untaian rantai tipis dengan liontin serigala itu berkilau terkena sinar lampu.


"Ngomong-ngomong kita ini ada dimana? Masih didesa Arctos?" Wina melihat Potka menggeleng.


"Desa Arctos yang kau tahu, itu garda depan dari dunia ini," Mereka berjalan bersisihan, Potka akan membawa Wina ketempatnya.


"Garda depan?" Wina memainkan liontinnya.


"Iya seperti pos security, juga, kita seperti pos pengecekan id untuk masuk ke perusahaan."


"Dan tempat kami, juga dilindungi oleh Seorang Ratu Putih, Ratu Pelindung yang menjaga keseimbangan dunia kami"

__ADS_1


Wina mendengar dengan seksama. Ratu Putih? Bharat kah? Tangannya mengisap liontin serigala itu. Entah mendengar tentang Bharat biasanya akan membuat dirinya mengamuk.


"Jadi ini ... "


"Penobatan Ratu Putih"


"Apa benar akan dibagikan kristal abadi? Apa itu kristal abadi?" Lama tak ada jawaban dari Potka. Wina mengamati Potka sejenak.


"Kenapa?" Saat Wina melihat Potka yang juga mengamatinya.


"Aku tak akan beritahu, Kau tahu sifat manusia itu serakah, aku melihatmu yang beradu dengan Bharat, dan bagi kami, kau  adalah hama pengacau didunia kami"


Wina tak tersinggung dengan ucapan Potka, nyatanya memang sifat alami manusia itu ya serakah, licik dan tamak.


Ingin menguasai. Ingin dilihat, ingin memerintah. Wina mengikuti Potka, pria itu memang sudah tak dianggap oleh desa Arctos namun ia juga masih tetap kembali melalui jalur ilegal milik klan Trudy.


Sama seperti peneliti tingkat tinggi di Nokturnal, Potka tentu memiliki kekuatan yang diilegalkan oleh Nokturnal.


Potka membawanya masuk dalam hutan belantara yang gelap, kabut menghiasi dan udara semakin dingin.


"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Wina meringkuhkan tubuhnya. Dingin menusuk ketulang. Tangannya memeluk dirinya sendiri.


"Tahan sebentar lagi" Potka memperlambat langkahnya. Wina lebih mendekat pada Potka. Ia tak kuat ingin meneriaki pria didepannya.


Dan Wina melihat cahaya jingga berpedar. Langkahnya semakin cepat. Pedaran cahaya itu ternyata dari jendela rumah-rumah pohon yang  menyerupai rumah lebah, bentuk lonjong dan menempel pada pepohonan.


Potka melangkah lebih dalam, ia menuju salah satu rumah, membuka pintunya. Dentingan terdengar.


"Selamat datang di Needle Bees" Wina terpaku memandangi kucing putih dengan armour biru keperakan. Sangat cantik dan elegan.


"Apa kabar Morana?" Senyuman si kucing melebar.


"Potka? Baik kamu bagaimana kabarmu? Sudah berapa lama kau tak kembali? Giliran ada pembagian kristal saja kau datang, sudahlah kalian-kalian ini, sama saja." Ya kucing cantik ini, memang sangat mempesona, tapi tidak dengan mulutnya, jadi jangan terkecoh.


"Oh iya siapa yang kau bawa?" Kucing itu menengklengkan kepalanya, untuk melihat siapa yang berada dibelakang Potka.

__ADS_1


Melihat pakaian yang Wina kenakan, kucing itu menghardik Potka, "Potka kau bukan Gentleman! Kau biarkan perempuan ini menggunakan pakaian tipisnya, benar-benar! Kau memang tak tertolong!"


"Aku tadi ingin meminta selimut juga minuman hangat tapi kau malah terus mengomel dan tak memberi waktu untuk berbicara" Kucing itu mengetuk kepala Potka.


"Kau harusnya langsung mengambil selimut, kau tahu kan tempatnya. Benar-benar hopeless!" Lagi omelan Monara.


Monara mengambil selimut tebal dan menyelimuti tubuh Wina yang bergetar mengiggil. Morana melirik Potka tajam.


"Ini kunci kamarmu, dan ini kuncimu honey, nanti aku akan antarkan minuman hangat ke kamarmu, oke, Dan kau!" Morana menujuk Potka.


"Nyala kan perapian di kamarnya, kau berganggung jawab untuk mengurus tamumu" kucing itu telah menghilang, masuk ke dapur.


"Hei Morana!" Potka ingin protes namun saat melirik Wina ia merasa tak enak hati. Wanita itu menggigil.


"Ikuti aku," Ajak Potka. Ia masuk kedalam ruangan dengan dekorasi shabby, macam rumah nenek, perapian pada sudut ruangan sudah menyala.


Wina duduk dekat perapian. Hawa hangat menjalar ke tangannya.


"Mengapa disini?" lagi-lagi Potka mendapat tatalan tajam dari si kucing.


"Biar cepat, lagi pula disini perapiannya telah menyala" Potka tak mau kalah.


"Ini sangria, lebih cepat menghangatkan tubuh." Morana datang dengan dua cangkir sangria. Wina menarik sedikit bibirnya.


Ia menyesap hangat cairan berwarna merah kehitaman itu dengan aroma jeruk yang menyegarkan.


"Kau tak mengenalkan tamumu padaku?" Morana menatap tajam pada Potka. "Ini Wina dia juga bekerja di Nokturnal. Wina ini Morana dia pemilik penginapan ini"


Dengusan terdengar dari Morana. "Penginapan para buangan, yang benar, kau bukan buangan juga kan Wina?" Wina menggeleng, "Bagus!" Potka akan memaki jika dengting pintu terbuka tak terdengar.


"Maaf aku permisi, kalau ada event seperti ini pasti sedikit ramai" ucap kucing itu. Meninggalkan keduanya yang sedang menghangatkan diri.


Tbc.


 

__ADS_1


__ADS_2