
Fernandes mengikuti tyac. Tidak secara raga, melainkan dengan menggantikan dirinya dengan lalat pengintai.
Ia harus latihan dengan tim center. Pertarungan antar tim akan dimulai lagi. Dan sore nanti mereka akan melawan tim Kapten Rega.
Setiap saat Fernandes selalu memantau pergerakan Tyac. Sampai ia melihat Tyac harus menemani Almira.
Anak Andreas, lelaki itu kebiasaan menitipkan Almira pada para Jonny. Jadi Fernandes menganggapnya biasa. Ia tak tahu jika Tyac naksir pada Andreas.
Dalam pengintaiannya ia tak pernah mendapati Tyac ke lantai terlarang. Sudah seminggu ia mengintai.
Insiden terjadi, robot lalat yang Fernandes pakai untuk mengintai rusak. Itu sudah Fernandes pikirkan. Ia mengganti lalat pengintai dengan serangga lain, semut terbang.
Robot yang ini lebih canggih, ia baru saja mendapatkannya dari salah satu teman manusianya.
Robot semut terbang ini, memiliki penangkap suara. Jadi robot ini bisa menangkap gambar dengan suara.
Dan hasil mengintainya seminggu ini tidak sia-sia. Berbuah manis untuk disampaikan pada Resta.
Ia bergegas akan memperlihatkan pada Kaptennya. Benar Tyac salah satu penyusup.
"Projek sedang berjalan. Tak perlu cemas semua telah seperti rencana" ucap Tyac dalam video bercakap dengan sosok lelaki yang tidak terekam.
"Benalu sudah merambat pada jaring. Dan ombak tenang. Karena para serangga dibuat diam" ucapan dengan umpama yang tidak dimengerti.
"Baik bos" Tyac mengangguk hormat.
Resta menatap Fernandes. "Siapa lelaki itu? Suara disamarkan. Dan pendeteksi suara tidak menemukan siapa pemilik suara ini."
Resta telah mengaktifkan pemindai suara, dan hasilnya nihil begitu pun Fernandes, Ia telah mencoba dan hasilnya sama.
"Mereka sangat hati-hati"
"Bagus Fernandes, teruskan mengintai wanita itu, aku memanggil Lazarus dan Zack juga Olugi untuk mengintai Vtop dan Button."
Ketukan kembali terdengar. Ketiga orang yang baru saja Resta sebut namanya muncul.
"Kalian datang, aku memiliki misi untuk kalian berdua" Resta memberikan berkas pada masing-masing lelaki didepan mereka.
Membacanya dan Fernandes melihat ekspresi Olugi yang menggelikan. Ia ternganga.
"Aku kira gosip di sini hanya sekedar gosip. Ternyata mereka terlalu berani masuk ke kandang musuh"
"Mereka berani karena orang yang berada dibalik mereka." Lazarus membaca tentang Button.
"Will pernah berkata padaku sebelum ia menjadi kapten kalau mereka bertiga, tidak serius saat melawan dan terkesan mengalah." Sahut Olugi.
"Apa tim kita ada jadwal bertanding dengan mereka?" Tanya Resta.
"Ada Kapt" jawab Olugi.
"Bagus,"
*
__ADS_1
*
*
Popi kembali meringis. Perih pada kulit kaki yang terkena air panas, semakin memerah. Wajahnya nyalang. Rencananya berantakan semua karena ulah wanita itu.
Ia meremas bantalnya. Ia harus mengambil kembali miliknya. Setelah ia dibeli oleh Troto, Popi tertarik pada Troto.
Walau dingin ia bisa merasakan kehangat pada lelaki itu. Beberapa hari tinggal dirumah Troto sebelum Willow datang, Popi merasa Troto tidak sedingin ini.
Kembali Popi menghantam bantalnya. Lalu dengan kenyataan yang ia dengar, ia mantan Troto membuatnya berbunga, apa kebaikan yang ia terima dari Troto adalah bentuk cinta yang maaih lelaki itu simpan untuknya.
Prasangka itu membuat Popi semakin senang. Dengan jalan berjalan pincang ia masuk kedalam kamar Troto yang temaram.
Melihat punggung penuh tato tribal dengan kulit kecoklatan menelungkup di atas ranjang senyuman mengembang. Tanpa ragu Popi meloloskan kain di tubuhnya.
Lalu Popi melemparkan dirinya di atas punggung Troto yang menelungkup. Ia merabai punggung dingin itu.
"Sayang aku datang" ucapnya penuh godaan.
Lelaki itu tidak merespon. Ia menjatuhkan kecupannya pada kuping Troto. Dan berbisik.
"Aku tahu kau menginginkan aku sayang" Popi semakin rakus. Ciuman Popi naik ke tengkuk Troto.
Popi menggodai tubuh besar di bawahnya itu.
"Aku tahu kau masih mencintai aku,"
"Kau hanya mencari penggantiku saja, kasihan sekali wanita itu" kekehnya sambil mengecupi punggung kecoklatan lezat di hadapannya.
Popi tidak peduli jika Troto tidak merespon dirinya untuk sekarang, esok hari ia akan mengagetkan lelaki itu dengan tidur telan jang disampingnya. Lalu minta pertanggung jawaban.
"Seperti ini kelakuan mu pada Tuanmu!" Ucap Troto yang menyalakan lampu kamar. Popi menarik apapun untuk menutupi tubuh telan jangnya.
Kepalanya menatap tubuh disampingnya lalu kembali menatap Troto yang berdiri dekat lampu bersama Willow.
"Aku tak menyangka kau memiliki budak yang gila, sayang. Suka menggoda mayat"
Keterkejutannya membuat Popi mendorong ongokan mayat entah mayat siapa itu. Tubuh wanita itu bergetar hebat.
Matanya kosong, ia mengulurkan tangannya bergetar hebat. Ia mengelap kasar mulutnya dengan kain. Ia merasa jijik pada dirinya. Matanya memerah berair. Ia menatap keduanya nyalang.
"Bagaimana bercinta dengan mayat?" Ejek Willow. Ia sangat ingin membunuh wanita di depannya ini, namun tidak. Willow ingin bermain sebentar.
Troto menatap datar wanita yang telan jang di ranjangnya itu. Rasa ibanya tidak lagi ada. Apalagi setelah mendengarkan dari apa yang Zale katakan. Jika tidak menutup kemungkinan Popi adalah umpan dari musuh.
Kedatangannya yang sangat tiba-tiba dan menjadi tawanan budak pelelangan sungguh mustahil.
Popi anak dari keluarga penjahat yang disegani di dunia manusia, tidak ada yang berani menyentuhnya. Apalagi membuat anak seorang Milano, menjadi budak.
"A-apa yang terjadi?"
"Me-mengapa? Mengapa ini …" Matanya ketakutan.
__ADS_1
"Ma-maaf Tu-Tuan, saya-saya tidak sadar" Popi menjadikan dirinya polos dan tak ingat apapun. Melihat pada Willow dan Troto, dengan tampang kebingungan.
Ia salah Willow dan Troto tahu dan menikmati pertunjukan yang Popi tampilkan. Popi bersimpuh di ranjang Troto.
"Pakai pakaianmu! Sayang kita keluar, kita tunggu diluar" Willow keluar dari kamar Troto. Lelaki itu mengikuti wanitanya. Meninggalkan Popi dengan tangisannya.
"Mereka! Lihat saja! Dan ini, kau mayat sialaan!" Umpatnya pada mayat yang tergeletak di bawah ranjang Troto. Popi menendang tubuh mayat itu kencang.
Ia meraih kain terusannya yang tipis, nekat ia keluar, dan masih mencoba menggoda Troto. Alis Willow naik. Benar-benar tak memiliki malu.
"Panggil penjaga rumah untuk masuk" ucap Willow pada kepala penjaga.
"Baik Nyonya"
Willow berjalan mendekat. "Kau tak punya malu!" Ejek Willow. Popi menatap wanita itu dengan menantang.
Derapan langkah kaki masuk dalam ruangan, banyak penjaga masuk. Wajah mereka terkejut melihat Popi berdiri hanya dengan kain tipis.
"Kau ingin mempertunjukan tubuhmu bukan? Mengapa hanya pada satu orang saja?" Tanya dengan nada tinggi Willow.
Rahang Popi mengetat. Ia memang masih ingin menggoda Troto. Tapi dengan tatapan lapar dari penjaga nyalinya jadi terguncang.
"Aku membantumu, tidak hanya satu tapi sepuluh" ucap Willow. Ia meraih kain tipis itu dan merobeknya.
BREERRTT!!
Popi telan jang. Tubuh wanita itu bergetar halus, ia menutupi sebisanya dari pandangan para penjaga.
Popi tampak pucat ia meraih tangan Willow dan menggeleng,
"Nyo-Nyonya ampuni aku!"
"Tidak Nyonya!" Pipi menggeleng keras kepalanya.
"Nyonya maafkan aku!"
"Nyonya ampuni aku!"
"Lakukan apapun yang kalian suka pada budak ini" mata Willow nyalang menatap air mata buaya Popi.
"Tidak! Nyonya Tidak!"
"Nyonya jangan pergi!"
"Tuan! Tolong aku Tuan!"
Popi mundur saat para penjaga mulai maju.
"Pergi! Menjauh!"
"Aaargh!"
"Jangan coba menyentuhku!" Bentakan keras terdengar.
__ADS_1
Jeritan budak itu tidak Willow dan Troto dengarkan. Mereka keluar kembali ke Giant Pipe.
Tbc.