
"Kau melihatnya dari ingatanku?" Tanya Jo, Benar. Ia melihat Wina dan Theo bersama sebelum pertandingan Jenny dan Theo. Dari pandangan Jo saat itu.
"Aku pun tak menyangka" lanjutnya.
"Semoga ketakutanmu tak jadi nyata." Bharat kembali fokus pada Rowena, "Lalu kenapa Jo merasakan nyeri itu, Rowena?"
"Sejak awal aku merasakan terikatan kalian, bukan semacam dendam, tapi semacam hukuman yang membuat kekuatan Bharat menghilang."
"Dan orang yang menghilangkan kekuatanmu masih memiliki hubungan darah dengan anda Miss Radha." Kenyataan yang membuat Bharat dan Jo sekali lagi terkejut.
"Jo, apa kau memiliki saudara yang bekerja pada Nokturnal?" Jo tak tahu pasti,
"Tidak tahu" Jo menggeleng.
"Bukan sembarangan orang bisa menggunakan trik ini, ia harusnya level tinggi" level dibawah dirinya.
"Siapa? Apa bisa dilihat Rowena?" Rowena hanya menggeleng. Buntu.
"Sepertinya kita bisa kembali sekarang" Bharat, ia sudah bisa membantu Camy.
"Rowena terima kasih, atas semuanya dan maaf merepotkan." Bharat memeluk Rowena.
Ziiiink...
Ia mendapat gambar yang berganti dengan cepat. Rowena memeluk Bharat dengan erat. Kemudian sedikit dengan mantranya menenangkan Bharat.
"Apa---" lirih. Ia menatap Rowena.
Rowena hanya tersenyum pada Bharat. Lalu menggeleng.
"Ayo ikut kami s---" Rowena langsung memotong perkataan Bharat.
"Senang sekali bisa membantu kalian, semoga kita bertemu lagi"
"Dan ini pelajari, juga ini, mereka akan membuatmu, untuk lebih tahu dan kuat" Rowena kembali memeluk Bharat dengan mengunci dirinya agar tak di baca Bharat.
"Thanks Rowena, senang berjumpa denganmu see you soon" Jo sudah berada di mobil.
Bharat masih mematung di tempatnya. Rowena mendorong tubuh Bharat dan membuka pintu mobil, dan memaksa Bharat masuk, Jo mengernyit, Bingung dengan kelakuan Bharat.
Bharat menggelengkan kepalanya, ia tak melepas tangan Rowena, ia ingin membaca apa yang terjadi selanjutnya. Tapi Rowena menutupnya.
"Hati-hati kalian, senang bisa berkenalan dengan kalian, nice to see you again" Rowena melambai pada Jo juga Bharat.
Sepanjang jalan. Bharat hanya diam.
"Bharat kau kenapa?" Jo yang bingung pun bertanya.
"Rowena dibunuh karena aku..." lirih Bharat.
"Kau bicara apa?" Jo masih tak mengerti perkataan Bharat.
"Karena aku meminta tolong padanya, ia akan dibunuh, bahkan ia mentransfer semua ilmunya padaku."
"Apa maksudmu, coba jelaskan?" Pekikan keras Jo yang ingin memastikan untuk dirinya sendiri. Bahwa ia tak salah dengar dengan rancuan Bharat.
__ADS_1
"Apa yang tak kau mengerti dari ucapanku? Rowena mengumpankan dirinya, untukku, untuk kita! Karena orang yang mengunci kekuatanku, jadi menginginkannya karena Rowena bisa membobol perisai orang itu!" Jelas Bharat dengan nafas tersengal. Ada amarah, kesedihan juga penyesalan. Tapi ia tak bisa apa-apa.
Melihat dengan jelas gambaran masa depan yang diperlihatkan Rowena padanya. Bharat melihat akan ada pertempuran besar dan banyak nyawa akan melayang. Jika ia tetap menyelamatkan Rowena.
Air mata Bharat mengalir, rasa prustasi atas ketidakmampuannya membuatnya tak berguna.
*
*
*
BRAK!
Pintu rumah Rowena terbuka kasar dan rusak. Seorang wanita dengan boots tingginya masuk kedalam. Suara langkah sepatu mendominasi ruangan yang sepi itu.
Ia melangkah ke arah ruangan dengan meja bulat tempat ritual Rowena.
"Disini kau rupanya" Sapa wanita itu. Rowena yang sibuk dengan kartu tarotnya mendongak. tersenyum pada sang pencabut nyawanya.
"Silakan duduk, aku sudah menunggumu"
"TAK PERLU BASA BASI" Seruan wanita itu menodongkan pistolnya pada dahi Rowena.
DOR!
Brak!
Rowena jatuh di meja bulatnya, dengan kepala yang berlubang dan matanya terbuka. Wanita itu tewas.
"Siaall dia telah memindahkan kemampuannya pada orang lain, dan menutup akses pada diri dan sekitarnya" Saat tangan pria iti tak merasakan adanya kekuatan dalam tubuh mati Rowena.
"Biarkan saja mayat tak berguna itu" Wanita dan Pria itu keluar dan pergi dari tempat itu.
Dan membakarnya. Mobil mereka melaju dengan kobaran semakin melalap rumah Rowena.
*
*
*
Camy mendatangi Hide Dome dengan mengajak Amber dan Elle, Elleori Brigit, seorang arkeolog forensik, seorang yang bergelut dengan kerangka yang terkubur untuk menemukan bukti kejahatan. Dengan menggunakan teknik arkeologi. Elle anggota baru dalam DarkHole Lab.
Amber meneliti bagunan itu dengan seksama, ia telah mengambarnya ulang. Melihat dari struktur bagunan, ia merasa familiar.
"Bisa diledakkan seperti bangunan pada umumnya."
"Apa kerusakkannya yang ditimbulkan akan fatal?" Perkiraan Camy banyak bukti dalam Hide Dome. Semoga tak rusak jika jalan itu satu-satunya yang tersisa untuk bisa menuju ke ujung lorong terowongan.
"Menurutku tidak, ini bangunan sangat mudah tapi rumit. Dan pemugarannya ditata agar mudah. Karena menggunakan bahan yang lunak, dan akan sangat kuat bila dicampur dengan bahan bangunan lain. Aku pernah memainkannya, dulu saat kecil"
"Jadi jika kita menyingkirkan puing-puing ini, tak akan menggoyahkan terowongan ini?"
"Iya, jika tak diledakkan ya terowongan ini tetap akan kokoh" penjelasan Amber.
__ADS_1
"Aku jadi ingin membuatnya" Amber membawa beberapa sample untuk diteliti nanti.
"Apa alasanmu membawaku kemari Cam? Aku bergabung denganmu bukan untuk mengorek luka lama" ucap Elle yang sedari tadi diam karena kesal. Ia tak suka mengungkit kejadian dimana para orang tua mereka mengorbankan diri.
"Joana bilang kau butuh bantuan, Tapi bukan untuk ini" kesal Elle. Semua tahu tentang kejadian di Hide Dome yang menyebabkan mereka tumbuh besar sendiri. Tapi tak ada yang tahu tentang kejadian sebenarnya di ujung lorong terowongan itu.
"Maafkan aku sebelumnya Elle, yang ikut menyeretmu lagi kemari. Tapi Sandos menemukan beberapa potongan yang aku kira adalah potongan belulang, makanya aku mengajakmu,"
"Aku menunggu kau dan Amber menyelesaikan puing-puing ini saja. Nanti aku akan kembali" Elle menghembuskan nafas lelahnya.
"Kata siapa aku menemukan belulang itu di dalam terowongan? Sandos menemukannya di luar terowongan ini"
"Sandos berikan belulang itu pada Elle" perintah Camy.
Sandos menyerahkan belulang itu pada Elle.
Kling!
(Cam kau dan Joana harus lihat laporan yang aku kirimkan) pesan Jenny
Camy membuka laporan Jenny tentang perkembangan formula yang mereka kerjakan di Nokturnal, Yang Nokturnal klaim sebagai penawar virus itu. Camy membaca dan dengan cepat temuan Jenny yang tak asing, kemudian mengetikkan sesuatu.
Membuka folder rahasianya, Formula yang ia dapat dari mimpinya, sama dengan yang dikirim Jenny, dan beberapa bahan yang berada diurutan terbawah namanya beda tipis. Karena dalam mimpi daftar paling bawah tulisannya terlihat kabur.
Formula Ayahnya?
*
*
*
Bharat sedang di lab, ia masih dalam kedukaan. Setelah menyaksikan berita di televisi, tentang Rowena yang mati hangus didalam rumahnnya, membuat rasa bersalahnya semakin bertambah.
Rowena tahu hidupnya tak lama lagi, saat ia mengembalikan kekuatan Bharat kembali ketubuhnya, saat itu pula Rowena memberikan ilmunya pada Bharat.
Bharat sengaja menutup penglihatannya. Tetapi saat melihat tumpukan buku yang diberikan Rowena, Bharat tak bisa begini terpuruk.
Rowena telah berkorban, ia harus membalas dengan kesungguhannya dalam mendalami lagi kemampuan yang diberikan Rowena padanya. Juga menemukan siapa yang telah membunuh Rowena.
Bharat keluar kamarnya, ia melintasi kamar Willow,
Ziiiiing...
Ia merasakan getaran yang membuatnya pening, dengan sedikit oleng, Bharat mencari pegangan. Ia bersandar pada pintu Willow dan saat itu Bharat masuk dalam penglihatannya.
Gambar-gambar bermunculan dengan cepat berganti. Seperti puzzel yang tak lengkap. Kebakaran besar, wajah Willow yang tersenyum senang dengan mata memandang kobaran api.
Bharat memegangi keningnya, gambaran itu hilang saat tepukan bahu menyadarkannya.
"Bharat kau kenapa?" Willow sudah ada didepannya dengan wajah cemasnya. "Ah aku hanya kurang tidur,"
"Baru juga pulang kampung, malah sakit, harusnya makin semangat! Oke aku tinggal ya" Ucap Willow yang meninggalkan Bharat diluar kamarnya.
Willow menyentuhnya lagi tapi ia tak melihat apapun. Padahal tadi ia bisa melihat gambar Willow, Lalu apa maksud gambaran itu?
__ADS_1
tbc.