DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Agrabella, Grandpa D dan Marzon


__ADS_3

Langkah tergesah memasuki rumah mungil. Ia merasa sang suami pasti ada didalam rumah.


"Sayang kau tahu, aku baru saja mengantar Ratu pelindung kembali ke Arctos." ia langsung sibuk kearah lemari, ia ingin langsung membuatkan ramuan untuk Ratu barunya.


"Dan kau tahu, ia dengan cepat mengalahkan Kaktaka, sungguh luar biasa," iya, dia adalah Agrabella. Ia masih memilah-milah botol dengan ramuan mana yang akan diperlukan Ratunya.


"Aku lega sekali, tak ada lagi yang akan memangsa bangsa kita," Agrabella terus saja mengoceh, dengan tangan yang sibuk.


"Kau harus melihat, bagaimana perwujudannya saat menggunakan pedang kristal naga," ia tahu suaminya sedari tadi mendengarkannya, namun ia tak tahu ada sosok lain juga yang ikut mendengarkan ocehannya sedari tadi.


"Ia sangat mempesona, sudahlah lupakan dengan Raja dunia bawah, untuk saat ini Ratu pelindung sudah mampu melindungi bangsa kita," toelan ia dapatkan dari sisi samping, pundaknya,


"Apa sih? Kau harus dengar, dan kau harus melihatnya langsung," Toelan menjadi lebih intens dibahunya,


"Hei Dylan! Kenapa kau---" suaranya terhenti.


"Ehem" Deheman suara berat memotong ucapan Agrabella, wanita itu mengernyit.


Ia menengok ke belakang, matanya melebar saat netranya menangkap sosok besar, tinggi dan menyeramkan disebelah suaminya. "Lycan" lirihnya.


Dengan agak gemetar ia mengacungkan botol ramuan pada sosok menyeramkan itu. Mulutnya yang bergetar tak bisa merapal dengan baik.


"Mengapa ada---" Agrabella siap memantrai Lycan itu.


"Tenang sayang" suara tua dengan sosok kerdil maju perlahan, menenagkan sang istri yang ketakutan didepannya. Granpa D. Dan Lycan itu adalah Marzon. Ia kembali kewujud Lycannya.


"Sayang kenalkan ini Raja yang aku ceritakan, ehem ... " Pria tua itu mempeekenalkan Marzon kepada Agrabella.


"Raja baru kita Lycan?!" Pekiknya gak percaya, Lycan salah satu ras yang juga suka memangsa bangsa peri.


"Tenang sayang!" Granpa D memenangkan istrinya,


"Aku sudah cerita padamu sebelumnya, tapi kau terlalu bersemangat diutus Haiyla Moon Goddess menjadi pendamping Ratu pelindung"


Agrabella hanya menggelengkan kepala. Jadi apa nanti bangsanya, jika klan Lycan yang menjadi pemimpin dunia bawah.

__ADS_1


Marzon tak buta, ia melihat tampang pias istri Grandpa D. Memangnya apa yang telah ia perbuat? Em ... maksudnya apa yang sosoknya yang ini perbuat hingga mereka ketakutan saat melihat perubahannya.


Bukan hanya wanita tua didepannya, Regulas pun ketakutan. Bahkan Grandpa D, agak cemas saat ia meminta racikan minuman yang ia sukai.


Dan dari istrinya lah racikan minuman itu tercipta dan belum mendapatkan racikan minuman itu ia telah menjadi sosok yang ditakuti oleh wanita tua itu.


Marzon berdehem sekali lagi. Setidaknya ia telah mendapatkan kepercayaan dari Grandpa D dan Regulas.


"Regulas!" Grandpa D meneriakkan nama peri asistennya. "Ya Grandpa D" tergopoh Regulas datang.


"Antar Raja ke kamarnya" ucapan Grandpa D mendapat kernyitan dari sang istri.


"Baik Grandpa D"


"Silahkan ikuti Regulas Yang Mulia, beristirahatlah sambil menunggu kami siapkan makan malam" usir halus Grandpa D pada Marzon.


"Permisi Yang Mulia" Regulas menunduk hormat. Ia berjalan terlebih dulu dan Marzon mengikuti dibelakangnya.


"Sebentar? Ia menginap?" Pekik suara wanita tua itu masih bisa Marzon dengar.


"Tenang sayang, aku akan jelaskan, dia berbeda" Marzon meninggalkan keduannya dengan perdebatan yang terdengar samar saat ia menjauh.


"Regulas mengapa wanita tua itu sangat membenciku?" Marzon penasaran.


Regulas tersenyum canggung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Emm ... itu ... Yang Mulia, bagaimana ya saya menjelaskan" ragu Regulas.


"Jelaskan saja dengan gamblang, aku akan mendengarnya" lugas Marzon yang ingin tahu.


Regulas masih diam. Ia masih menimbang, bagaimana menjelaskan agar tak menyingung Raja Dunia Bawah ini, karena sekali lagi, ia adalah seorang Lycan yang menurutnya berbahaya.


Tak ada yang dengan sadar menyinggung sesosok Lycan. Ia masih ingin bisa menghirup udara.


Regulas melirik dan melihat Marzon menunggung jawabannya. Tenggorokannya seakan tercekat. Berkali ia berdehem mencoba membersihkan tenggorokannya.

__ADS_1


"Mereka ... Mereka suka memangsa kami, Yang Mulia" lirihnya dengan menunduk. Marzon menunggu Regulas melanjutkan ucapannya, namun tak terdengar.


"Mengapa?"


"Karena jika mereka memangsa ras peri, maka merekabakan bertambah kuat, oleh karena itu kami membuat barrier" lanjutnya, Regulas melirik takut-takut pada Marzon.


"Dan barrier iti semakin kuat karena perlindungan dari Ratu Putih" lanjutnya lagi.


"Ratu Putih?" Regulas sudah lebih tenang saat tak menemukan perlakuan Marzon yang berubah.


Marzon masih mendengarkan penjelasan Regulas. Tanpa merubah niatnya ingin memangsa bangsa peri setelah mendengar penjelasan Regulas. Dan Regulas lega akan hal itu.


"Iya Yang Mulia, sama seperti anda, yang baru, Ratu Putih pun baru. Selama ini dunia bawah dan bangsa yang dianggap primitif, menghilangkan diri, karena ingin melindungi bangsanya dari kekejaman teknologi"


"Kami bisa hidup berdampingan, namun ada banyak yang ingin menghancurkan dengan merebut kekuatan yang kami miliki"


"Kristal meteor contohnya, desa Arctos tempat Ratu Putih berada, sempat dihancurkan, dan Ratu terdahulunya hilang, membuat keseimbangan didunia bawah dan dunia Moon Goddess berantakan." Regulas menceritakan senua desas desus yang ia dengar.


"Bahkan kamipun tak bisa melawan musuh yang selama ini tinggal di dalam barrier ini, Kaktaka, karena kekutan kami hanya bisa untuk menjaga barrier agar tetap kuat melindungi desa kami"


Regulas menjelaskan tanpa berpikir, Jika bisa saja Marzon akan menyerang desanya, Marzon merasakan ada emosi dalam penjabaran Regulas.


"Kami begitu lemah!" Ada geraman disana. Regulas pun tersadar saat ia melihat pintu kamar yangvakan Marzon tempati.


"Emm ... Silahkan ... Yang Mulia, saya akan memanggil anda jika makan malam siap" Regulas membuka pintu dan masuk kedalam, diikuti Marzon.


"Saya ... saya permisi Yang Mulia" Regulas ingin segera pergi dari sana. Ia terlalu banyak bicara. Sekeluarnya dari kamar Marzon Regulas menepuk kesal mulutnya.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Gumamnya sambil berjalan cepat menjauh.


"Kau terlalu banyak bicara! Dasar kau mulut ember! Bagaimana ini!" Regulas cemas, ia tadi dengan emosi menjelaskan seauatu yang harusnya tak ia katakan.


"Semoga kau benar Raja yang juga akan melindungi kami" hanya itu harapan Regulas.


"Bodoh!" Kembali ia menepuk gemas bibirnya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2