
Braxton menatap lembar laporan dan layar didepannya. Ia memandang lama layar itu.
Kejadian Marzon dalam keadaan tidur, ia berjalan terhuyun menuju belakang lemari. Video itu dipercepat. 6 jam kemudian Marzon kembali ke brangkarnya ia kembali tertidur.
Braxton belum memerintahkan pasukannya untuk masuk kedalam, ia masih ragu.
"Perintahakan pasukan berjaga, aku ingin membuka ruangan Marzon." Perintah Braxton pada Mariah.
"Baik Tuan!"
Mariah meninggalkan ruangan Braxton.
*
*
*
Braxton didepan ruangan Marzon dengan robot kotak sibuk mengelas pintu ruangan Marzon.
Mereka mengenakan kacamata pelindung, robot itu mengangkat pintu lalu berjalan mundur. Ia akan membawa pergi jauh.
Pasukan berderap mendemati pintu Marzon dengan senjata lengkap ia berjaga.
"Selesai Tuan" robot itu bersuara kaku. Saat melewati Braxton ia berhenti sebentar.
"Saya undur diri" Robot itu melanjutkan jalannya.
"Clear!"
Braxton melangkahkan kakinya masuk, saat petugas memberikan tanda aman. Braxton mendekati Marzon yang tertidur. Ia menambahkan obat bius dalam makanan Marzon. Melihat sang kakak tertidur pulas
Braxton langsung mendekati belakang lemari yang menjadi tempat misterius menghilangnya Marzon.
Braxton masih menyangka ini trik yang Marzon gunakan agar bisa lolos dari kurungannya.
Braxton tak menemukan apapun disana hanya ada dinding kosong.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, lycan!" Geramnya. Braxton menempatkan sebuah alat buatnyanya sangat kecil di beberapa sisi.
__ADS_1
Alat seukuran serangga. Alat pengintai yang bisa terbang itu cocok untuk menangkap apa saja.
"Tutup kembali" perintah Braxton setelah meletakkan alat itu.
Ia keluar dari ruangan Marzon dan beranjak keruangannya. Seseorang menjajari langkahnya. Ia menxekat pada Braxton.
"Tuan, Dia tak lagi melanjutkan penelifian di tempat Tuan Potka." Bisikan dari pria itu.
Melirik Bra ton ingin informasi lebih.
"Namun saya mengikuti Potka ke tempat gedung kosong di Wildlife"
Pria itu mengirimkan gambarnya ke layar Braxton, beserta denah gedung, dan sekelilingnya sangat lengkap dan akurat.
"Lalu apa lagi yang temukan" Braxton tak sabar. Pria ini terlalu berbelit.
Braxton membuka denahnya,
"Ada beberapa orang yang keluar masuk, salah satunya Bill, si peneliti jenius, saya melihat beberapa kali keluar masuk saat mengintai"
Braxton telah duduk dikursinya, informasi yang ia dapat sangat bagus, sejak kapan Bill, si peneliti jenius, keluar dari sarangnya.
"Potka dan Bill, masuk kegedung yang tak terpakai, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi"
"Mm ... Tuan, sebenarnya aku mendengar selentingan di Wildlife, klan Trudy sedang mencari keberadaan tim DarkHole"
"Karena berani membunuh ketua mereka dan mengacak tempatnya, dan orang menyebutnya tempat tersembunyi klan Trudy."
"Kalau tak salah, melihat dari denah tempatnya sama seperti tempat tersembunyi milik klan itu"
Braxton penuturan Mariah, Potka berhubungan dengan klan Trudy? Klan Trudy mencari salah satu tim Darkhole yang entah sekarang sembunyi dimana,
Mariah bangga dengan dirinya sendiri membuat Braxton memunculkan senyuman dibibir pria itu.
*
*
*
__ADS_1
"Bharat bersiaplah" suara terdengar dari kepalanya, Haiyla sedang memberinya pesan.
"Bersiap? Untuk?" Bhart bergumam.
"Nanti malam bulan penuh, sinarnya sangat cocok untuk membersihkah kristal dan menambah kesucian kristal"
"Aku akan memberi instruksi nanti"
Bharat keluar kamarnya, ia ingin mencari Simon, dan bertanya tentang bulan penuh yang baru baginya.
"Simon?" Bharat mengetuk ruangan Simon.
"Masuklah" Simon dengan kacamata bacanya, sibuk dengan surat kabar ditangannya.
"Simon kau tahu mengenai bulan penuh?" Bharat yang sudah duduk didepan pria dengan rambut panjang beruban itu.
Simon melirik dengan dahi mengernyit. Menatap lama Bharat. "Sudah waktunya tahap selanjutnya rupanya"
Ia melipat surat kabar dan melepaz kacamatanya. Ia beranjak dari tempatnya ke lemari buku miliknya, mengambil salah satu buku tebal disana.
Ia meletakka buku itu dihadapan Bharat.
"Bulan itu magis, mereka memiliki misteri yang manusia seperti kita tak ketahui. Teknologi bahkan masih kalah dengan kekuatan mereka." Ucap Simon.
'SECRET OF MOON' tulis kapital di sampul buku tebal itu. Bharat menarik ya mendekat.
"Disana kau akan tahu apa yang haris kau siapkan, dan kau butuhkan"
"Kapan waktunya?" Tanya Simon.
"Nanti malam" Simon hanya mengangguk.
"Bisa, hapalkan semua yang ada dalam buku itu saja, manual tanpa bantuan alat, Dan aku akan membantumu mencari barang yang kau butuhkan"
"Menghapal? Ini? Tanpa alat?" Bharat menunjuk buku sangat tebal didepannya. Simon mengangguk.
"Bulan ingin kesungguhan darimu, kembali kekamarmu dan mulailah" Bharat mengendong buku tebal itu, ia menuju kamarnya.
Tbc.
__ADS_1