DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Masuk ke Dunia Bawah


__ADS_3

Ruangan gelap, seorang tengah duduk ditengah ruangan gelap itu.


Seorang wanita, matanya bergerak. Terkena sinar dari lubang kecil di dinding. Tenggorokannya kering, susah menelan.


Ia menyipit, kesadarannya masih berpencar. Sedikit demi sedikit mulai terkumpul.


Matanya melebar. Ia berada disebuah ruangan gelap hanya sinar yang masuk melalui lubang dinding itu penerangnya.


Melihat ke sekeliling. Yang ia ingat, saat belasan robot toples menyerangnya, ia lengah dan berhasil ditangkap. Hanya sampai kejadian itu.


Dan bangun-bangun ia berada di ruangan ini.


"Kau bangun!" Suara dari pojok. Ia hanya melihat sebuah speaker di ujung atas ruangan.


"Lepaskan aku, Braxton!"


Ia mengenal suara itu. "Aku sudah mengingatkanmu"


"Ck!"


Decakan Brigit, malas.


"Hei kau sendiri yang melanggar, aku tak akan marah tapi anak buahku yang akan turun tangan"


"Sekarang kau lihat kan?"


"Aku akan mengurungmu tanpa makan"


"Braxton ayolah, aku tak sengaja" rayu Brigit, ia tak ingin dikurung, lebih-lebih 8a sangat haus sekarang.


"Tak sengaja, kau ingin menjebol data penting milikku dan kau bilang tak sengaja, jangan bodoh!" Braxton melihat dari layar. Ia duduk di kursi dengan melonjorkan kaki ke atas meja.


Dengan menikmati sarapannya. Ia sengaja ingin menikmato sarapan dengan menonton hiburan. Dan Brigita adalah hiburan baginya. Wanita itu berani sekali kepadanya.


"Ayolah, aku tak ada niatan melawanmu Braxton" kembali Brigita berkelit.


"Okay ... aku hanya penasaran, bagaimana bisa pohon di lahan 11 menjadi menakjubkan, pertumbuhannya membuatku ingin tahu" lirihnya, sudahlah, sekarang ia sangat haus. Jadi tak ada guna memperpanjang debatnya dengan Braxton.


"Akhirnya kau mengaku! Karena aku sedang senang, maka aku akan mengurungmu" Braxton orang yang gampang sekali melambung jika dipuji, itu yang Brigita lakukan sekarang, memujinya, dan kau lihat, prua itu luluh dengan pujian.


"Bawakan dia sarapannya"

__ADS_1


"Terima kasih Braxton!" Senyum manis tercetak dari bibir Brigita. Braxton bisa melihat itu. "Kau masih berguna" Braxton sengaja, ia tahu, jika Brigita sangat tertarik dengan lahan 11.


Dan Braxton memerintahlan untuk pertama kalinya Brigita menginjak lahan yang membuat ia penasaran dan ia tak bisa mengontrol keingintahuannya.


Membuat Brigita dengan semangat bekerja tanpa harus ia ancam. Ia akan dengan suka rela membantu dan tak akan berkhianat.


*


*


*


Marzon kembali masuk dalam dunia bawah tanpa ia sadari, ia bisa membuka portal dengan sendirinya.


Tubuhnya yang tertidur melayang masuk dalam portal dunia bawah.


Terbangun pada pinggir danau Sorow, tempat dimana Hecate mengumumkan ia adalah Raja dunia bawah.


"Yang mulia" sapaan dari Rooth. Pohon kering tinggi menjulang, dengan lumpur dan lumut meyelimutinya.


Marzon hanya mengangguk. Ia mendekat pada danau, ia melihat dirinya menjadi Lycan.


Marzon masih mencerna, apa yang akan ia lakukan. Mengapa ia yang terpilih? Banyak pertanyaan.


Hecate bukan sembaramg bicara, ia sudah bisa menduga, Marzon sudah terikat dengan dunia bawah walau ia merasa belum siap.


Nyatanya ia bisa tampa sadar datang. Dan Rooth memang sedang menunggu kedatangannya. Asap hitam mengitari pohon kering itu.


Lalu asap itu mendekat pada Marzon. Dan dari tanah terlihat kaki, semakin keatas terlihat perwujudan dari pria dari dalam lingkaran asap itu.


"Rooth?" Marzon bergumam. Memastikan siapa sosok yang tiba-tiba muncul dari dalam lingkaran asap hitam.


"Saya yang mulia" pria itu menunduk hormat. Ia mengenakan pakaian bisa, kemeja dengan rompi berwarna coklat tua, juga celana panjang hitam dan sepatu kulit hitam mengkilat.


Cukup bagus, lalu Marzon menatap dirinya dari air didanau. Ia masih dengan penampakan Lycannya. Lagipula jika ia berubah menjadi manusia, pakaiannya juga rusak, sudahlah, Marzon pikir.


"Mari Yang mulia" Rooth mendahului Marzon.


"Senang bisa memandu anda yang mulia, ini sebuah kehormatan bagi saya"


Marzon hanya menjadi pendengar, Rooth menjelaskan tempat demi tempat pada Marzon.

__ADS_1


Hingga dari arah belakang, sosok Lycan lain menyerang Marzon. Karsna instingnya yang peka Marzon bisa menghindar serangan itu.


"BARON!" suara panggilan dari belakang penyerang itu membuat fokus Marzon teralihkan.


"Yang mulia!" Pekik Rooth. Ia mencoba membantu, Marzon menggeleng. Ia akan hadapi Lycan ini.


Lycan lain, yang bernama Baron itu berhasil menyerang Marzon. Walau Marzon sudah menghindar, tangannya tergigit.


Baron merasa belum puas, karena leher adalah incarannya. Ia kembali menyerang Marzon. Dengan cakar tanjamnya, Baron mengatahkannya pada kepala Marzon.


Perkelahian sengit terjadi. Tak ada yang mau mengalah dari kedua Lycan itu. Baron yang terlihat kualahan.


Tubuhnya kelelahan, banyak luka menganga yang Marzon sebabkan. Namun ia tak ingin berhenti. Karena ia tak terima dengan keputusan Hecate yang mengangkat Marxon menjadi Raja dunia bawah. Sedangkan mereka telah mempunyai kadidatnya sendiri.


Ia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ia melirik kearah pria yang meneriakinya sedari tadi. Mengangguk lalu kembali berlari ke arah Marzon.


"Graaawwhhh ... "


Pria yang dilirik tak tinggal diam dengan cepat ia berubah menjadi Lycan. Tubuhnya lebih besar dari Baron. Dan dengan cepat menghentikannya.


Pria itu menjadibtameng untuk Marzon, ia menggunakan tubuhnya menerima serangan Baron.


Baron melebarkan matanya. Ia tak menyangka, "TROY MINGGIR" suara amarah dari Baron.


"Berhenti!" pria itu menahan kedua tangan Baron. Yang mengeluarkan bola api.


"MiNGGIR KAU!" Bentakan berat Baron, namun Lycan yang menahan tangannya, Troy, tak sama sekali bergeser.


Marzon hanya melihat peperangan dua Lycan didepannya.


"Yang mulia kau tak apa?" Rooth mendekat. Ia melihat tubuh Marzon yang juga terluka. Ia murka! Gejolak kemarahan dalam dirinya merubahnya menjadi wujudnya aslinya.


"HRAAH ... " Rooth menjulang tangannya yang panajang meraih dua Lycan itu dengan ringan. Ia mengangkatnya keatas. Dan melemparnya kearah bebatuan besar.


Serangan yang tak mereka sangka. Troy dan Baron terkapar tubuh mereka kesakitan menghantam bebatuan.


"Kalian telah menyakiti RAJAAAAAA ... " Murka Rooth. Ia meraih kedua Lycan yang mencoba lari itu. Dan sekali lagi menghempaskannya keras ke tanah.


"ROOOTH!" Teriak Marzon. Ia melihat dua lycan ia sudah tak berdaya. Ia harus menghentikannya. Mereka pasti memliki alasan menyerangnya.


Dan Marzon ingin tahu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2