
" Tepat, wow?." Tanya Tian yang di angguki oleh abra. Mereka berdua memutuskan untuk keluar sebentar menikmati segelas coffe**e di caffe dekat kantor.
Tapi sebelumnya Tian sudah mengirim pesan kepada Adam untuk menyusul mereka di caffe.
Dan sekarang duduklah dua laki laki tampan di caffe dekat Kantor Pamungkas.
Caffe yang sering abra dan adam kunjungi. Juga caffe yang pemiliknya sangat dekat dengan Abra.
Tian mengeluarkan bungkus rokok dari saku jasnya, membuat Abra menatap Tian dan tersenyum miring.
" Lo masih ngerokok?." Tanya abra yang di jawab Tian dengan senyuman.
" Gue udah berhenti, tapi beberapa bulan ini Gue ngerokok dan minum lagi." Jawab Tian sembari menyesap rokoknya.
" Orang seperti Lo akan susah berubah." Ledek abra tapi terdengar tidak ada lucunya sama sekali.
" 4 bulan lalu, Gue balik ke sini." Ucap Tian dengan nada suara yang sudah berbeda, seperti menahan amarah dan juga kesedihan.
Abra menatap Tian seksama untuk mendengarkan apa yang akan sahabatnya katakan.
" Bonyok Gue udah pisah Bra, 4 bulan yang lalu Gue balik hanya untuk menghadiri sidang Nyokap sama Bokap." Jelas Tian yang cukup membuat abra terkejut, pasalnya abra kenal dengan Orang Tua Tian yang sangat baik dan terlihat tidak ada masalah sedikitpun.
__ADS_1
Hufh... abra menghela nafasnya, dia menatap Tian yang masih menikmati rokok di tangannya.
" Lo udah bukan anak kecil lagi, Lo bisa bersikap lebih bijak dari keputusan yang udah orang Tua Lo pilih." Jelas abra membuat Tian tersenyum miring.
" Gue terima keputusan mereka bra,, tapi Gue nggak terima Nyokap Gue nikah lagi." Ucap Tian yang sukses membuat abra terkejut.
Abra tahu, di sini yang menjadi masalah ialah karena Ibunya Tian yang sudah memiliki pasangan lain.
" Lo boleh marah, tapi tidak seharusnya Lo seperti itu, Lo boleh tinggal di hotel Gue sampai Lo bosen, Gue tahu Lo pasti malas untuk pulang ke Rumah sekarang." Jelas abra yang mendapat tepukan di pundaknya dari Tian.
" Thanks Brother ." Ucap Tian yang dapat anggukan dari abra.
Tidak lama datanglah ada. dengan beberapa kantong plastik kecil, abra dan Tian menatap adam bingung.
" Bawa apa Lo?." Tanya adam kepada ad.
" Pesenan Ais." Jawab Dimas jujur dan membuat abra menggeleng, sedangkan Tian tertawa.
" Wuih salah satu bucin Lo." Ucap Tian yang di jawab Adam dengan tertawa ringan.
" Bucin itu bukan Gue, tapi seseorang yang di sebelah Lo." Jawab adam, membuat Tian menoleh ke arah abra yang sedang duduk tanpa expresi.
__ADS_1
" Abra?." Tanya Tian dan di angguki langsung oleh adam.
" Ha...ha...ha.." Tawa Tian pecah.
" Tapi Gue juga pasti bucin parah kalau dapat bini seperti bini abra." Cletuk Tian yang langsung dapat tatapan tajam dari abra.
" just kidd bra." Ucap Tian dengan tawanya, juga adam yang ikut tertawa.
Sedangkan abra hanya menatap mereka malas.
" Gue sungguh-sungguh bra, lo beruntung banget." Batin Tian yang sebenarnya memang mengatakan apa yang dia rasakan.
...❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih....
Mampir ke ceritaku yang lain ya kak
__ADS_1