
Abra mengacak rambutnya kesal , dia baru sadar jika ada wanita lain selain istrinya yang melihat tubuh sexynya .
Abra paling tidak suka memarkan apa yang menjadi kelebihannya selain ketampanan dan kekayaan di depa wanita lain selain istrinya .
Jelas karena Abra tidak ingin mereka semakin menggilainya dengan kategori laki laki yang hampir sempurna itu .
Setelah rapi dan selesai memakai setelan jasnya kembali , Abra dan Azell menemui Adam , Pak Rendy dan Oliv yang masih duduk di ruangannya .
Dengan wajah tanpa dosanya , Abra duduk di depan mereka , bahkan dirinya ikut duduk di sofa ketimbang duduk di kursi kerjanya , hal itu membuat Pak Rendy merasa tidak enak hati , jelas tidak seharusnya Orang seperti Abra ikut duduk di sofa hanya untuk masalah seseorang seperti Oliv .
Jika bukan rekan kerjanya rasanya Abra terlihat begitu rendah hati .
" Tuan muda Abra , sebaiknya anda dud ... " Ucap Pak Rendy terpotong , Abra sudah mengisyaratkan dengan jari telunjuknya agar Pak Rendy diam dan tidak menyuruhnya untuk duduk di kursi singgah sananya .
" Sssttt .... " Abra mengisyaratkan kepada Pak Rendy yang akhirnya mengangguk tanpa menjawab .
Abra menatap Adam dan Oliv bergantian , lalu menghela nafas pelan .
__ADS_1
" Apa tidak ada yang ingin di bicarakan ?. " Tanya Anra membuat Pak Rendy buru - buru menoleh ke arah Oliv , matanya mengisyaratkan untuk menyuruh Oliv mengatakan apa yang menjadi tujuannya saat ini .
Oliv yang mengerti maksud dari Pak Rendy mengangguk pelan , ntah kenapa sikapnya berubah tidak seperti tadi ketika dia datang ke Kantor Pamungkas .
Mungkin Oliv merasa begitu bersalah dan malu pastinya dengan keangkuhan dirinya tadi .
" Begini Tuan Abra . " Ucap Oliv terjeda .
Dirinya menghela nafasnya dalam untuk menenangkan dirinya , kedua tangannya saling bertautan seraya meremas jemarinya .
Bahkan melihat Abra sekarang yang duduk di hadapannya membuatnya merasa sedikit gugup , bukan karena malu apa yang ingin di ucapkan atas kesalahan dirinya , tetapi karena pesona Abra yang sudah mengambil hati
" Saya mau minta maaf . " Sambung Oliv dengan nada bicara yang sangat tenang .
Oliv sangatlah pintar menyembunyikan apa yang dia rasa saat ini .
" Minta maaf untuk apa ? Bukankah saya bersalah karena telah membuat Kakak anda hidup di New york ?. " Tanya Abra sarkas .
__ADS_1
Mendengar apa yang Abra katakan membuat nyali Oliv sedikit menciut , tidak ada gunanya memang berpura - pura biasa saja , padahal dalam hatinya begitu merasa malu dan bersalah .
" Saya salah sudah menuduh Tuan Abra dan Papa tuan Abra yang bukan - bukan , saya sadar apa yang sudah Bapak dan Kakak saya lakukan sangatlah salah . " Jelas Oliv membuat Abra tersenyum miring .
" Dan saya minta maaf atas nama mereka juga apa yang sudah saya lakukan tadi , saya benar - benar minta maaf . " Sambung Oliv seraya menundukan kepalanya sekilas .
Dalam hati Oliv terus berharap , supaya Abra memaafkan atau bahkan bisa mengenal Abra lebih jauh , bukan karena masalah ini , tetapi karena dirinya anak Pak Septa seseorang yang cukup keluarga Pamungkas segani , meskipun itu dulu , tetapi Oliv tetap berharap .
" Sudah saya maafkan Nona Oliv , silahkan anda boleh pergi sekarang . " Jawab Abra membuat Oliv terkejut dengan jawaban enteng Abra .
...❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih....
...Mampir ke ceritaku yang lain ya kak...
__ADS_1