
Azelll dan abra kini sudah berada di mobil.
Dengan persaan senang azell terus tersenyum karena setelah perdebatan cukup sengit dan panjang tadi, akhirnya abra menyetujui untuk membelikannya kucing, meskipun dengan beberapa persyaratan yang abra tujukan untuknya, tapi tidak masalah untuk azell, toh membelinya saja azell sudah merasa senang.
Kucing berwarna abu-abu beserta kandangnya kini sudah berada di jok mobil Abra, jahat memang abra meletakan kucing yang baru beberapa menit ini menjadi milik istrinya.
Tapi itu salah satu persyaratan dari abrq, bahwa azell tidak boleh dekat-dekat dengan kucing yang baru di belinya itu.
" Bang." Panggil azell kepada Abra.
" Apa sayang?." Jawab Abra membuat pipi azell bersemu merah, meskipun sudah tidak ada kecanggungan di antara mereka tapi tetap saja jika Abra bersikap romantis atau memanggilnya dengan sebutan
" Sayang ", hati azell masih saja berdebar.
" Gimana kalau kucing itu kita kasih nama?." Usul azell yang hanya di angguki oleh Abra.
" Emm siapa ya?." Ucap azell sembari memikir nama yang cocok untuk kucingnya.
" Cebo." Jawab Abra singkat membuat azell menoleh ke arah Abra.
" Nggak mau, nanti di ledekin cebok lagi sama yang lain pas main ke rumah." Jawab azell membuat Abra tersenyum.
" Zink aja gimana? Dia kan cowok." Usul azell yang kembali di angguki oleh Abra.
" Setuju, biar wangi terus kayak nama sampo." Jawab Abra membuat azell membrengut kesal.
__ADS_1
Pasalnya azell memang sedang tidak bercanda apa lagi iklan untuk produk orang lain.
" Nggak lucu ya. " Jawab azell dengan nada kesalnya.
" Emang nggak, yang lucu kan kamu yank." Jawab Abra membuat azell memanyukan bibirnya tapi kemudian tersenyum.
Sampai akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Pamungkas.
Abra segera turun dari mobilnya. Lalu dengan buru-buru dia menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengangkut kucing yang sudah dia bawa ke rumahnya.
Azell masih berdiam diri di dalam mobil.
Dia masih memikirkan nama yang pas untuk kucingnya.
" Sayang ayo turun." Ajak Abra yang sudah membukakan pintu mobil azell.
" Mau abanh gendong?." Tawar Abra karena tidak dapat tanggapan dari Azell.
" No." Jawab Azell singkat tapi juga masih anteng duduk di sebelah kemudi.
Abra menatap azell dengan gemas, lalu tanpa berkata lagi Abra segera menggendong azell yang sekarang sudah begitu terasa berat.
" astaga. Aku nggak nyangka istri ku sekarang seberat karung isi beras gini." Batin Abra.
Dasar konyol Abra, memangnya dia pernah mengangkat karung berisi beras? Jangankan karung belanjaan saja dia mau angkat jika belanjaan Azell.
__ADS_1
Azell lebih berat dari karung isi berat kali Abra Haha..
" Yubi gimana yank ?." Tanya azell masih dengan pikirannya tentang nama kucingnya.
Abra mengangguk, lalu mendudukan azell di sofa ruang tengah.
Tentu saja karena azell yang sudah terasa begitu berat, rasanya Abra tidak akan sanggup jika naik tangga sampai ke kamar mereka.
Lagian azell juga tidak meminta Abra untuk itu.
" Eh... Kok udah sampai?." Tanya azell terkejut karena dirinya yang sudah berada di dalam rumah.
" Abang gendong adik ya?." Tanya azell kepada Abra.
" Enggak, tadi kamu terbang sendiri." Jawab Abra membuat azell tersenyum.
" Ih lucu deh bang." Jawab azell yang tiba-tiba genit.
...❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Terima kasih....
Mampir ke ceritaku yang lain ya kak
__ADS_1