Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
100


__ADS_3

Adinda mengusap dahi dan leher gadis mungil yang mulai mengeluarkan keringat itu.Panasnya mulai turun setelah meminum obat dari dokter Ridwan.Adinda menatap sendu wajah polos gadis delapan tahun itu.Begitu tersiksanya gadis itu dipisahkan dari laki laki yang begitu ia sayangi.Laki laki yang mengangkatnya sebagai anak dan selalu memeberikan kasih sayang sepenuh hati,kini mereka harus terpisah dengan jarak waktu yang entah berapa lama.Mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Adrian cukup berat,bisa dipastikan hukuman yang diterimapun pasti akan cukup lama.


Bu Ela masuk ke dalam kamar Adinda.


"kamu tidur ndok....ini udah hampir subuh..dari kemarin kamu ndak tidur" ucap Bu Ela.Memang saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.Dan Adinda sama sekali belum memejamkan matanya sejak samalam.


"Dinda nggak ngantuk buk...Dinda mau sekalian bikin kue buat di jual"


"kamu ndak usah jualan dulu.Biar ibu saja yang jualan" ucap bu Ela.


"nggak buk..." ucap Adinda namun terpotong oleh ucapan bu Ela.


"Din....kamu juga harus jaga kesehatan kamu.Jangan sampai kamu ikut ikutan sakit ndok....kasian anakmu" ucap bu Ela.Ia begitu iba melihat sang menantu yang makin lama makin terlihat kurus dan tak terawat.


Adinda hanya menunduk.Bu Ela duduk di samping menantunya itu.


"jangan putus mendoakan suami mu Din...dia sangat butuh doa dari istri sholehah seperti mu nak..." ucap Bu Ela.


Adinda kembali meneteskan air mata.


"Dinda selalu mendoakan mas Adri buk...selalu setiap saat.Tapi cobaan ini begitu berat buk..." ucap Adinda dengan suara pilu menyeyat hati.


"kalau cuma Dinda yang ditinggal...mungkin Dinda masih bisa kuat...tapi ini ada Nabila buk...dia sangat menyayangi papanya" ucap Adinda lagi.


"sekarang mas Adri dipindahin....Nabila udah nggak bisa ketemu papanya lagi.Dan Dinda nggak tau...harus sampai kapan...hikss..." tangis Adinda semakin pecah.Bu Ela samakin merasa trenyuh.Ia memeluk tubuh ramping yang semakin kurus itu dengan penuh kasih sayang.


"yang sabar ndok....sabar....ini semua ujian untuk kalian.Jangan berhenti mendoakan suamimu..." ucap Bu Ela.


Sesaat mereka hanyut dalam pelukan masing masing.Bu Ela kemudian melepaskan tubuh Adinda.


"ndok....kalau kamu mau mengunjungi suami kamu,kamu mungkin bisa numpang mobilnya Pak Siwi.Dia kan seminggu sekali ngantar buah buahan ke kota itu.Kamu bisa numpang ndok" ucap Bu Ela.


"memangnya boleh buk?"


"nanti coba ibuk tanyakan.Siapa tahu beliau bisa bantu.Pak Siwi itu orang nya baik kok ndok" ucap Bu Ela.


Adinda mengusap lelehan air mata di pipinya.


"makasih buk" ucapnya sambil mencoba tersenyum mengusap lelehan air mata di pipinya.


Bu Ela hanya tersenyum..


"dah..mending sekarang kamu tidur.Ibu ndak mau kalau kamu sampai ikutan sakit" ucap Bu Ela.


"iya buk..." ucap Adinda.


Bu Ela tersenyum.Ia kemudian pergi meninggalkan kamar itu menuju dapur untuk memulai membuat kue dagangan nya.


Adinda merebahkan tubuh nya di atas tikar lusuh yang bersentuhan langsung dengan lantai tanah itu.Dengan boneka hello kitty sebagai bantal,Adinda menatap nanar ke langit langit rumah reyot itu.Pikirannya melayang layang menerka nerka sedang apa suamimu sekarang.Dia pasti merasa kesepian.Adrian yang tak punya sanak saudara harus dipisahkan dari istri dan anaknya.

__ADS_1


"tungguin aku sama Nabil mas.....kita pasti akan sama sama lagi" monolog Adinda.


Adinda menoleh ke arah sang putri yang kini sudah tertidur lelap.Adinda memiringkan tubuhnya.Ia tidur menghadap sang putri yang nampak tenang di dalam mimpi mimpi indahnya.


...****************...


07:00


Adinda tengah menjemur pakaian pakaian yang baru saja di cucinya di belakang rumah nya.Saat tengah sibuk dengan aktivitasnya....


"assalamu alaikum...." suara seorang laki laki terdengar dari luar rumah berdinding anyaman tersebut.Adinda menghentikan aktifitasnya.Dengan rok dan kaos panjang panjang yang sedikit basah terkena air saat menjemur pakaian,Adinda menyambar hijab instan yang sudah kering yang tergantung di tali jemuran itu kemudian mengenakan nya.


Adinda pun berjalan menuju ke pintu rumah tersebut.Saat ini hanya ada dirinya dan Nabila.Sedangkan bu Ela sudah berangkat jualan.


"assalamu alaikum" suara itu terdengar lagi.


"wa alaikum salam" sahut Adinda sambil membukakan pintu kayu tersebut.


Nampaklah seorang pria berperut buncit dengan jenggot dan rambut yang sudah mulai memutih berdiri di depan pintu rumah itu.


"pak Ridwan?" ucap Adinda.


"Adinda..." jawab pria itu sambil tersenyum.


"bapak...ada perlu apa?"


"oh...saya kesini mau bertemu dengan kamu.Ingin menanyakan keadaan putri kamu" ucap Pak Ridwan.


Adinda menundukkan pandangannya.


"alhamdulillah sudah mendingan pak" ucap Adinda.


"alhamdulillah....boleh saya menengoknya?" tanya Dokter Ridwan.


Adinda ragu,lantaran saat ini ia hanya dirumah berdua dengan Nabila.Rasanya kurang pantas jika ada laki laki asing masuk ke rumah itu saat dirumah tak ada orang lain selain dirinya dan sang putri.


"boleh?" tanya Dokter Ridwan lagi.


Adinda mengangguk ragu.Tak apalah....hanya sekedar memeriksa kondisi Nabila,pikirnya.


"silahkan pak...." ucap Adinda akhirnya sambil mengarahkan tangan nya mempersilahkan dokter Ridwan untuk masuk ke dalam gubugnya.


Dokter Ridwan tersenyum.Namun entah mengapa ia merasa risih melihatnya.Adinda pun terus menundukkan pandangannya.Dokter berperut buncit itu kemudian masuk menuju ke ruangan sempit yang menjadi kamar Adinda dan Nabila itu.


Dokter Ridwan duduk di tepi kasur lusuh dimana Nabila masih tertidur lelap itu.Ia kemudian mengeluarkan stetoskop miliknya lalu mulai memeriksa bocah kecil itu.Setelah selesai pria itu bangkit dan mendekati Nabila.


"seperti nya putri kamu sudah membaik" ucap dokter tersebut.


Adinda hanya mengangguk sambil terus menunduk.

__ADS_1


Dokter Ridwan kemudian mengeluarkan dompetnya yang cukup tebal dari dalam saku celananya lalu mengeluarkan sejumlah uang dan menyodorkan nya pada Adinda.Membuat wanita itu kaget sekaligus heran.


"apa ini pak?" ucapnya sambil memundurkan tubuhnya.


"buat kamu" ucap Dokter Ridwan lembut.


"buat saya?atas dasar apa bapak ngasih saya uang?"


"saya tahu kamu sedang kesulitan ekonomi...saya berniat bantu kamu...tapi ya....ada imbalannya..." ucap dokter itu. Adinda mengernyitkan dahinya..


"maksud bapak..?" tanya Adinda mulai tidak nyaman.


Adinda mulai bergerak mundur,Pak Ridwan semakin mendekati istri Adrian Tama itu tangannya bahkan dengan lancangnya mencoba menyentuh lengan Adinda yang berbalut kaos panjang hitam tersebut.


"saya kesepian Din...sudah lama saya jadi duda...suami kamu kan juga sedang dipenjara...bisa kan kita menghabiskan malam berdua malam ini" ucap Pak Ridwan sambil terus mencoba memegang lengan wanita itu.


"maaf pak..saya nggak mau...kalau bapak sudah nggak ada kepentingan lagi bapak bisa pergi" ucap Adinda mencoba menghindar.


"nggak usah jual mahal...saya tau kamu lagi butuh duit sekarang..." ucap Pak Ridwan yang kini berhasil memegang lengan Adinda dengan kuat.


"pak....lepasin ya....jangan ku**ng ajar...!!"


"halaaaahh....nggak usah munafik Din....kamu saja rela menjadi istri seorang penjahat....masih aja sok suci..!!kamu pasti juga pernah jual diri kan sebelum akhirnya dinikahi sama laki laki itu?"


Adinda semakin berontak..


"lapasin tangan saya!" ucap Adinda dingin.


"ayolah Din....saya akan kasih kamu uang..."


"lepas....!!!" ucap Dinda sambil menghempaskan tangan dokter Ridwan.Ia dengan segala kecepatannya berlari keluar rumah menjauh dari dokter itu.Namun sang dokter tak tinggal diam,ia pun mengejar wanita itu.Adinda pun melangkah keluar rumah dan tiba tiba....


.


.


.


.


.


buugghhhhh......


"awwww....."


Adinda menghentikan langkahnya saat ia menabarak sebuah dada bidang milik seorang laki laki yang sangat ia kenal.


Adinda membelalakan matanya melihat siapa yang ada di hadapannya...

__ADS_1


...----------------...


DITUNGGU LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA MANTEMAN....BOLEH LAH...BIAR OTHOR MAKIN SEMANGAT...🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2