Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
76


__ADS_3

Kesibukan terjadi di warung soto yang tak terlalu luas itu.Warung yang sudah lama tak buka itu kini nampak di serbu para pelanggan setianya.Terlebih lagi kini penjualnya adalah dua manusia good looking.Membuat para pembelipun rela antri demi mendapatkan pelayanan dari dua pedagang soto yang ganteng dan cantik itu.


Adrian yang baru pertama kali merasakan jualan itu pun dibuat kewalahan dengan banyaknya orang yang memesan makanan di warungnya.


"duh Din....kamu itu tiba tiba ngilang...pulang pulang kok bawa cowok ganteng begini nemu dimana to Din?" celetuk seorang ibu ibu sambil memakan sotonya.


Adinda hanya tersenyum.


"kalau ada satu lagi yang kayak gini mbok aku dikenalin Din.Mumpung aku rondo (mumpung aku janda) " celetuk ibu ibu lainnya.


"mas....kok ganteng banget makannya apa to?"


"mas...ndak butuh istri kedua to?"


"mas....badane kok gede banget maemnya apa?"


Dan masih banyak lagi ucapan bernada menggoda serta kekaguman yang dilayangkan untuk Adrian.Tak kalah dari ibu ibu yang begitu hebohnya,para bapak bapak pun tak jarang mengeluarkan ucapan ucapan bernada genit pada Adinda yang makin hari terlihat makin cantik


"tambah ayu ae Din"


(makin cantik aja Din)


"tau tau kok udah nikah Din...tau gitu aku nglamar kamu dari dulu"


Dan masih banyak lagi ucapan ucapan dengan nada menggoda.Adinda hanya tersenyum,tak jarang ia ikut tertawa mendengar ucapan ucapan konyol dari mereka.Karena Dinda memang sudah terbiasa dengan hal itu.Ia tahu bahwa itu hanya sebuah candaan antara pedagang dan pembeli agar suasana mencair dan tak terlalu tegang.Toh Dinda juga sudah mengenal baik para bapak bapak itu.Namun tidak demikian dengan Adrian.Dia warga baru disini.Mendengar istrinya digoda laki laki didepan mata kepalanya sendiri membuat laki laki itu terbakar cemburu.Namun lagi lagi,ini ujian kesabaran.Restu mertua saja belum ia dapatkan,jangan sampai ia membuat onar ditempat itu dengan emosinya yang meledak ledak.Bisa makin jauh tuh restu mertua.Jika bukan karena demi restu dan image baik yang harus segera ia dapatkan,pasti sudah ia rubuhkan pasar itu saat ini juga.


Hari semakin siang,


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.Adrian kini bergegas untuk menjemput Nabila di rumah.Dengan motor matic putihnya pria berbadan tegap itu melesat menuju kediaman sang mertua.Tak butuh waktu lama,sekitar sepuluh menit perjalanan Adrian sudah sampai di rumah kecil itu.


"assalamu'alaikum..."


"wa alaikum salam.." ucap gadis kecil itu yang langsung berlari dari dalam kamar dengan riangnya dan segera mendekati Adrian.Nabila sudah wangi,rambutnya sudah basah dengan wangi khas sampo anak anak.Pipinya sudah putih dengan bedak yang ia usap tidak merata.Ya....Nabila sudah mempersiapkan dirinya untuk dijemput sang papa,makanya ia berinisiatif untuk membereskan kamar,dan membersihkan dirinya setelah bangun tidur.


"siapa yang bedakin kok cemong kayak gini?" tanya Adrian.


"heheheh....Nabil bedakan sendiri pa.." ucapnya sambil nyengir kuda.


Adrian tertawa,ia kemudian berjongkok dan mengusap lembut wajah sang putri agar bedaknya merata.Biasanya Adinda yang mendandani Nabila sehabis mandi,dan ini untuk pertama kalinya Nabila dandan sendiri,alhasil beginilah jadinya,cemong kemana mana.


Adrian mengusap lembut wajah mungil itu.Ia menata rambut sang putri lalu memasangkan sebuah bando pink yang berada di tangan Nabila.Sungguh...terlihat sekali aura kebapakan dari dalam dirinya.Adrian sangat menyayangi Nabila,meskipun gadis itu bukanlah darah dagingnya sendiri.


"dah...udah cantik.." ucap Adrian sambil tersenyum.

__ADS_1


"aku wangi nggak pa?"


"wangi dong...anak siapa dulu..." ucap Adrian.


Nabila tersenyum.


"dah yuuk...kita nyusulin mama..." ucap Adrian.


"bentar pa....tungguin bentar" ucap Nabila.Gadis itu kemudian berlari ke dapur,tak berapa lama kemudian ia kembali menghampiri sang papa.


"ayo pa..." ucapnya.


Ayah dan anak itupun bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Tak butuh waktu lama,keduanya sampai di pasar tradisional tempat Adinda berjualan.


"mama...." ucap Nabila sambil memeluk Adinda.


"eh anak mama udah dateng.Duduk dulu sayang....mama bikinin sarapan" ucap Adinda.


"mas...soto satu..." ucap seorang laki laki bertubuh kurus yang merupakan juru parkir di pasar itu.


"ya mas.." ucap Adrian.Laki laki itupun segera membuatkan pesanan untuk laki laki itu.


"kamu kan belum sarapan nak.." ucap Adinda.


"udah kok..."


"kapan?"


"tadi aku di masakin telor ma sama nenek...aku disuruh sarapan." ucapnya.


Adrian menghentikan pergerakannya.Begitu pula Adinda,sejenak mereka saling pandang.


"oh ya....nenek nyuruh kamu sarapan?" tanya Adinda.


"iya...tapi Nabil takut....soalnya nenek nggak mau senyum..nggak kaya mama sama papa..." ucap Nabila polos.


Adrian hanya mendengarkan tanpa berucap sepatah katapun.


Adinda tersenyum.Perlahan lahan ibunya mulai mau menerima Nabila dan Adrian.Yah....setidaknya Bu Lastri mau membuatkan sarapan untuk Nabila,itu artinya bu Lastri masih peduli pada anaknya.Ia tak mau cucunya itu kelaparan.


Adinda menatap ke arah sang putri.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu...Nabil duduk aja ya..."


"Nabil boleh bantuin cuci piringnya ma...?"


"kamu mau?"


"mau ma..."


"ya udah sini bantuin..." ucap Adinda.Nabila pun mendekati ibunya dan segera menuju ke belakang kios untuk mencuci piring.


Sementara itu,Adrian mematung.Bu Lastri sudah mulai membuka hati untuk Nabila,itu artinya perjuangannya tak sia sia.Usahanya mencoba menahan emosi beberapa hari ini berbuah manis.Alhamdulillah.


"woeee mas...aku luwe ig lo....malah ngalamun..!"


(woee mas...aku lapar nih...malah ngelamun)"


ucap si tukang parkir.


"maaf.." ucap Adrian singkat.


"ganteng tok...tapi leda lede..." ucap pria itu lagi.


(ganteng doang..tapi lelet)


Adrian menghentikan pergerakan nya.Ia menatap tidak suka ke arah tukang parkir itu.


Adinda datang dari belakang kios hendak mengambil sabun cuci piring.Tiba tiba..


praaangg.....


Adrian meletakkan piring berisi nasi soto itu kasar tepat di hadapan kang parkir itu,membuat sendok dan sebagian kuah soto itupun tumpah mengenai bajunya.Hal itu sontak membuat Dinda dan tukang parkir tersebut terjingkat kaget.


"kalau nggak sabar bikin sendiri..!" ucap Adrian kesal dengan tatapan mata tajam.Kang parkir itupun menciut.Adrian terlihat begitu menyeramkan saat ini.


Dinda mendekati suaminya itu,ia meremas telapak tangan suaminya dengan lembut sambil memberikan senyuman semanis mungkin,seolah mengingatkan laki laki itu "sabaaarrrr"


"maaf mas...tumpah ya soto nya...saya ganti ya..." ucap Dinda pada kang parkir.


Kang parkir yang sudah merasa ngeri dengan Adrian itupun hanya mengangguk.Suami Adinda itu ternyata sangat menyeramkan jika sedang marah.


...----------------...


***TRIMA KASIH YANG SUDAH MENDUKUNG NOVEL INI🤗🤗🤗

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN TERUS YA BIAR YANG NULIS JUGA SANGAT LANJUTIN NOVELNYA🥺🥺🥺🤗🤗🤗🤗🤗***


__ADS_2