Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
122


__ADS_3

...----------------...


"usir dia" ucap Adrian dingin....


Bu Ela semakin banjir.Adinda menatap sayu ke arah laki laki itu seolah meminta belas kasihan.


"mas...." ucapnya lirih dengan nada memohon.


"usir dia atau aku yang pergi dari sini" ucapnya tanpa menoleh.


"mas..kamu jangan kayak gini dong....semua bisa di bicarain baik baik" ucap Adinda.


"kau tidak tau apa apa Dinda" ucap Adrian masih dengan mode dinginnya.


"mas ibuk nggak punya tempat tinggal...dia mau tinggal dimana..."


Adrian mengangguk,ia kemudian menoleh ke arah Adinda.Seolah ia mengerti sesuatu.


"oke....kau masih mau tinggal dengan dia?baiklah....biar aku yang pergi" ucap Adrian kemudian melangkah lebar meninggalkan tempat itu.


"mas...nggak gitu....mas...."


Adinda mengejar pria itu sambil menangis.Tangan putih itu tergerak menarik kaos Adrian meminta laki laki itu untuk berhenti.Adrian pun menghentikan langkahnya.


"mas....tolong jangan begini....hikss..."


"kamu duduk dulu ya....kita bicarain ini baik baik sayang...."


Adrian tertawa getir.


"baik baik?apa maksudmu baik baik??kau menyuruhku tinggal dengan wanita itu?" ucapnya sambil menunjuk ke arah Bu Ela yang terus menangis.


Adrian menggelengkan kepalanya.


"nggak akan" ucapnya kemudian.


"mas...ibuk udah nggak punya siapa siapa?!"


"KAMU PIKIR AKU PUNYA..??!!!" ucap Adrian kembali membentak.


"AKU JUGA NGGAK PUNYA SIAPA SIAPA DIN..!DAN SEMUA GARA GARA DIA...!!!" ucapnya lagi sambil kembali menunjuk nunjuk bu Ela.


"dia ibu kamu...!kamu masih punya dia mas...dia keluarga kamu...!!!!"


"AKU NGGAK PERNAH PUNYA IBU..!!"


"aaaarrrggghhhhhh!"


daaaaggghhhhh....


Adrian bak orang gila yang ngamuk ngamuk.Ia berteriak teriak sekuat tenaga hingga menampilkan urat urat lehernya.Ia menendang besi tepian tangga.Bahkan kini ia menatap Adinda seolah hendak memangsanya hidup hidup.Adrian yang mantan orang gila tak bisa membedakan mana istri,mana musuh jika sedang dikuasai emosi.


"sudahh....sudaahhh.....cukup...biar saya yang pergi..."


Suara itu berhasil membuat sepasang suami istri menoleh ke arah bu Ela.Wanita itu merasa semakin bersalah saat melihat dua anak manusia yang saling mencintai itu kini terlibat pertengkaran hanya karena dirinya.Ia biang masalahnya.Tak seharusnya ia kembali ke kehidupan Adrian yang sudah tenang dengan Adinda.


"ibuk..." lirih Adinda seolah tak ikhlas.

__ADS_1


"biar saya yang pergi...saya yang salah...saya yang akan menanggung semua dosa dosa saya...saya tidak akan mengganggu kalian lagi..!" ucap Bu Ela bergetar.


Adinda menggelengkan kepalanya.Ia tak mau ditinggal oleh mertua yang begitu baik padanya itu.


Adrian pun bergetar.Entah apa yang ia rasakan.Ia juga seorang anak.Namun ia juga membenci wanita itu.


"bagus....segera pergi dari sini...lebih cepat lebih baik" ucap Adrian menahan emosi.Ia kemudian naik ke kamarnya, pergi meninggalkan tempat itu.


Adinda mendekati sang mertua.


"buk......"


"dah...ndak apa apa...." ucapnya sambil mengusap lelehan air mata di pipi Adinda.


"trus ibuk mau kemana....hiks..."


"ndak usah pikirin ibuk...ibuk bisa jaga diri baik baik." ucap bu Ela.


Wanita itu mengusap rambut panjang Adinda yang tergerai...


"Ibuk titip anak ibuk ndok...jaga dan sayangi dia...karena ibuk ndak pernah bisa memberikan itu pada anak ibuk" ucapnya dengan linangan air mata.


Adinda semakin terisak.Ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat.Begitu pun bu Ela,ia sudah sangat menyayangi menantunya tersebut.


Sepasang netra hijau itu menatap tajam dari lantai dua rumah mewah itu.Wanita tua itu terlihat begitu tulus pada istrinya.Tapi bayang bayang kebengisannya dulu masih selalu menari nari di ingatan Adrian,membuat dada laki laki itu semakin sesak.


Adinda mengantar bu Ela masuk ke kamar yang ditempati wanita itu untuk mengemasi barang barangnya.Semua itu tak lepas dari tatapan tajam Adrian yang begitu mengerikan.


Tak butuh waktu lama,Bu Ela keluar dari kamarnya membawa tas jinjing besar berisi pakaian pakaian nya.Adinda setia berdiri di samping bu Ela menemani setiap langkah wanita tua itu.


"Dinda anter sampai depan ya buk" ucap Adinda.


Baru saja kedua wanita itu hendak menapaki anak tangga,tiba tiba Nabila muncul dari dalam kamarnya dengan muka bantalnya.


"nenek...." ucap Nabila.


"Nabil..." ucap Bu Ela mencoba tersenyum.


Nabila melangkah hendak mendekati bu Ela,namun ketika ia melewati Adrian,pria itu menahannya.


"nenek mau kemana pa?" tanya Nabila polos.


Adrian tak menjawab.


"nek..." ucap Nabila kembali hendak melangkah mendekati neneknya,namun lagi lagi Adrian menahannya.


"pa...."


"Nabila...nenek mau pergi dulu...kamu disini sama mama sama papa ya nak ya..."ucap bu Ela lembut.


Nabila mengembun.


" kok pergi....aku nggak punya nenek lagi...kemarin papa pulang...sekarang nenek pergi....aku nggak pernah punya keluarga lengkap...hwaahaahahaaa......."


Nabila menangis meraung raung.


"kenapa nenekku nggak ada yang sayang sama aku...hwahahahaaaaaaa......"

__ADS_1


Bu Ela berjalan mendekati sang cucu,baru selangkah,tiba tiba....


"jangan mendekat" suara dingin itu kembali terucap dari bibir Adrian tanpa menoleh.


Bu Ela pun menghentikan langkahnya.


"cepat pergi" ucap Adrian lagi masih dalam mode dingin.


Nabila paham sekarang.Ayahnya marah,ia tidak suka neneknya ada di rumahnya.


Nabila meraih telapak tangan sang papa.Dengan wajah memelas ia memohon pada laki laki tampan itu.


"pa...." ucap Nabila.


"jangan usir nenek..."


"nenek Lastri nggak suka sama aku pa....nenek Ela yang sayang sama aku....aku nggak mau ditinggal nenek..." ucap Nabila memelas membuat dada laki laki itu makin sesak.


"pa..."


"Nabil...masuk kamar.." ucap Adrian tanpa melihat ke arah Nabila.Sungguh,ia tidak tega melihat wajah putri nya itu.


Nabila merosot,ia memeluk kaki Adrian sambil terus memohon.


"tolong jangan usir nenek pa....hikss..."


"Nabila....jangan seperti itu nak..." ucap Bu Ela...


"papa....hiks..." ucap Nabila terus memohon.


Adrian tak kuat.Ia merasa perih mendengar rintihan sang putri.


"bangun.." ucap Adrian pada Nabila.


Nabila menurut,ia masih menatap sang papa dengan wajah memelas.


Adrian mengusap lelehan air mata di pipi Nabila.Laki laki itu kemudian menoleh ke arah Dinda dan bu Ela.


"bawa dia ke kamar belakang.Aku tidak sudi kamar kakekku dikotori oleh wanita itu..!" ucap Adrian dingin.


"aku ijinkan dia tinggal disini....tapi jangan pernah menyentuh barang barang pribadiku..!"ucap Adrian lagi.


Adrian menatap tajam ke arah bu Ela.


" dan kau...ingat..jangan pernah menampakkan wajah mu di hadapan ku" ucapnya dingin penuh penekanan.


Adrian kemudian pergi menuruni tangga.Meninggalkan tempat iti beserta tiga wanita yang kini berpelukan mengucap syukur.


Setidaknya Adrian tak mengusir bu Ela.Itu akan lebih baik.Tugas Adinda kini adalah kembali mencoba meluluhkan hati Adrian yang keras agar mau menerima ibu kandungnya itu sepenuhnya.


...----------------...


***GIMANA??


BIKIN EMOSI APA BIKIN MEWEK?APA BIASA AJA🤭🤭🤭


TAMBAHIN LAGI YUKKK VOTE DAN HADIAHNYA....BIAR YANG NULIS MAKIN SEMANGAT...☺☺☺

__ADS_1


jangan lupa ramaikan kolom komen dan klik like setelah baca🥰🥰🥰🥰***


__ADS_2