
visual papa Adrian versi sedikit lebih tua😁👇
Pria dewasa bernetra hijau melangkahkan kakinya lebar menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar inap yang menjadi tempat sang putra dirawat.
Sikapnya masih terlihat sangat tenang.Tak ada gurat emosi ataupun kesedihan dari dalam diri pria yang dulu pernah menjadi penjahat kelas kakap itu.Adrian bersikap seolah tak terjadi apa apa.Meskipun kini putri nya bisa dibilang tengah dalam kondisi depresi,sedangkan sang putra dirawat di rumah sakit.Tapi sungguh....tak terlihat sedikitpun gurat kepanikan,ataupun emosi dalam dirinya.
ceklekk...
Adrian membuka pintu sebuah kamar inap yang dimana sang putra kini terbaring lemah.
"papa..." ucap Angkasa dari atas tempat tidur..Angkasa hendak bangkit dari tidurannya namun Adrian mengangkat tangannya mengisyaratkan dirinya untuk tak bergerak dan tetap pada posisinya.
Angkasa pun menurut.Jordan bangkit dari duduknya.Adrian mendekati ranjang pasien.
Adrian menatap kondiisi sang putra dari atas sampai bawah.Bonyok..!Muka lebam semua..!bibir dower..!pala benjol..!mata bengkak..!perban di pelipis kanan...!dagu memar...!!
Fix....ini bukan Kecelakaan..!tapi di pukulin orang..!
Adrian menunduk.Ia menghela nafas panjang....
"kamu kenapa?"
Wajah menyesal langsung tergambar dari mimik muka Angkasa.Remaja itu menunduk,tak berani menatap sang ayah.Jordan hanya menatap sepasang ayah dan anak itu bergantian,sambil mencoba mengamati,seperti apa Adrian itu.
"dek...." ucapnya lagi.Tergambar jelas sosok ayah yang tegas dan bijaksana dari dalam dirinya.
"maaf pa...." cicitnya.
"papa nggak nyuruh kamu minta maaf..papa tanya kamu kenapa?"
Angkasa makin menunduk.
"Angkasa nyamperin bos nya kak Nabil...." ucapnya.
Adrian masih diam,menunggu penjelasan dari sang putra.
"Angkasa di pukulin...." ucap Angkasa.
Jordan hendak menyangkal,lantaran kejadian sebenarnya kan Angkasa yang mukul duluan.
"dia mukul kamu karena???" tanya Adrian seolah sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Angkasa diam sejenak....
"karena aku mukul duluan...." cicit Angkasa lirih akhirnya.
Adrian menghela nafas panjang sambil mengangkat wajahnya.
"sakit nggak?" tanyanya.
Angkasa tak bergeming
"kalau nggak sakit papa tambahin" ucapnya lagi membuat Angkasa reflek menoleh ke arah sang papa.
"sakit pa..." cicitnya.
Adrian menghela nafas LAGI...
"ngapain nyamperin bosnya kakak?"
"pa...dia tuh breng*ek..!dia udah bikin kak Nabil jadi kayak sekarang?!aku nggak terima lah...!!" ucap Angkasa kesal.
"dia harus dapet pelajaran pa...!dia nggak bisa di diemin terus...!!" ucapnya lagi dengan ekspresi wajah menggebu gebu.
Adrian kembali mengangkat wajahnya.
"dan sekarang dia udah dapet pelajaran nya?" tanyanya tenang yang sukses membuat Angkasa terdiam lalu kembali menunduk.
"atau kamu yang justru sekarang dapat pelajaran?"
Angkasa makin menunduk
"nggak semua hal bisa kamu selesaikan dengan kekerasan dek..."
"kamu perlu jadi orang kuat tapi terlebih dulu kamu harus jadi orang cerdik..!karena nggak semua hal bisa kamu selesaikan dengan fisik..!kamu juga perlu pakai otak untuk menyelesaikan permasalahan kamu..!"
"kamu bukan lawan yang seimbang untuk laki laki seukuran bos nya kakak...!kalau kamu datang ke dia nantangin dia berantem...itu bukan ngasih pelajaran namanya...tapi kamu nyerahin nyawa kamu ke dia..!masih untung kamu cuma dirawat di sini...!gimana kalau lebih parah lagi...?nggak sayang kamu sama nyawa kamu..?"
"berfikir sebelum bertindak Angkasa...kamu belum cukup mahir dalam hal bela diri..sadari kemampuan kamu sambil terus berlatih..!pilih lawan yang sepadan sama kamu..!jangan kedepanin emosi kamu..!yang ada kamu bunuh diri kalau kayak gini..!" ucap Adrian panjang lebar.
Angkasa mengangguk merasa bersalah.
"maaf pa..." ucapnya lagi.
__ADS_1
Adrian menghela nafas lagi sambil memijit pelipisnya.
"apa kata dokter?" tanya Adrian.
"nggak ada masalah kok pa...paling tiga atau empat hari udah boleh pulang" ucap Angkasa.
Adrian menghela nafas panjang.Ia kemudian melirik ke arah pemuda yang berdiri sisi samping ranjang.
"sore om..." ucap Jordan.
Adrian hanya mengangguk sambil tersenyum penuh sahaja.Jordan makin yakin kalau laki laki ini tak seperti yang Zev katakan.
"kamu yang nelfon saya tadi?" tanyanya.
"iya om...ada yang pengen saya omongin sama om..." ucap Jordan.
Adrian mengangguk.
"kita bicara di luar aja" ucap Adrian.
"baik om.."
"lho...kok keluar...?disini aja pa....Angkasa juga pengen denger " ucap Angkasa.
"kamu istirahat...!" ucap Adrian.
Angkasa tak bisa menyangkal lagi.Ia tak akan bisa menolak ucapan sang papa.Remaja itupun pasrah.Ia ditinggal sendiri di dalam ruangan itu sedangkan Jordan dan Adrian pergi keluar kamar dan berbincang di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.
"apa kabar om?" tanya Adrian mencoba berbasa basi.
Adrian tersenyum....
"seperti yang kamu lihat....saya baik baik saja" ucapnya.
Jordan mengangguk sambil tersenyum.
"apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Adrian.
Jordan membenarkan posisi duduknya yang sebenarnya sudah benar.
"jadi gini om....sebelumnya kenalkan...saya Jordan,saya teman sekaligus anak buahnya Pak Kyle...alias Zev..." ucapnya.
Adrian tak bergeming,menunggu Jordan selesai dengan ucapannya.
Adrian masih tak bergeming....
"saya teman Zev...saya adalah orang kepercayaan Zev...dalam hal pekerjaan...dan juga...misi balas dendamnya...ke om dan keluarga.." ucapnya akhirnya.
Adrian mengangkat wajahnya.Ia mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"saya punya informasi untuk om..tentang semua rencana rencana Zev...dan pamannya,Dave untuk menghancurkan keluarga om" ucapnya.
Adrian mengenyitkan dahinya.
"kamu orang kepercayaan Zev,sahabatnya,tangan kanannya...tapi kamu mau memberikan informasi tentang rencana rencana Zev pada saya...musuhnya?" tanya Adrian sangsi.
"iya..."
"untuk apa?"
"Karena saya mau membuka mata Zev....kalau sebenarnya apa yang Zev lihat tentang anda selama ini adalah salah...saya yakin Zev sebenarnya hanya termakan omongan pamannya" ucap Jordan.
"Zev sebenarnya orang baik kok....cuma menurut saya...dia terlalu labil dan nggak punya pendirian tetap..!" ucapnya.
"dan kamu mau membocorkan informasi tentang sahabat kamu ke saya?" tanya Adrian lagi meyakinkan.
Jordan mengangguk...
"ya...saya akan menjadi penghianat di kubu Zev dan Dave...!saya akan jadi mata mata untuk om...!tapi saya minta....keluarkan Zev dari cengkraman Dave....karena laki laki itu selalu berusaha menghasut dan mempengaruhi pikiran Zev..!Kalau cuma saya yang ngomong...dia nggak akan dengerin...makanya saya minta bantuan om.."
"lima hari lagi Dave bebas...dan saya yakin...dia sudah menyiapkan sejuta kata kata untuk mencuci otak Zev" ucapnya.
Adrian menghela nafas panjang....
ia lantas menyandarkan tubuh kekarnya pada sandaran kursi tunggu itu.
"baik....kalau begitu ceritakan...apa yang kamu tau...semuanya...." ucap Adrian sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Dan...sang sahabat yang berkhianat demi kebaikan itupun akhirnya menceritakan semuanya....awal pertemuannya dengan Zev hingga kisah hidup Zev kecil yang ia dengan dari mulut Zev sendiri,dan perjalanan hidup Zev pasca keluar dari penjara yang ia saksikan sendiri.Semua ia ceritakan pada Adrian tanpa ia tutup tutupi.Ia mengorbankan kepercayaan Zev.Ia menghianati sahabatnya.Menceritakan semua rencana jahat Zev pada sang musuh.Entahlah....ia tak berfikir bagaimana jika ternyata Adrian bukanlah orang baik seperti yang ia pikirkan.Ia hanya bermodalkan feeling dan keyakinan.Jordan seolah yakin bahwa Adrian memang orang yang tepat yang mungkin bisa menyelamatkan Zev dan membantunya hidup normal tanpa bayang bayang balas dendam.
"jadi dia sudah menikah dan punya anak tiri?dia sudah menata semuanya serapi ini untuk menjebak putriku?" tanya Adrian.
"benar om.."
Adrian mengusap wajahnya sambil beristigfar.Sungguh....sangat tak pernah ia duga bahwa bocah yang sedari dulu ingin ia rangkul ternyata perjalanan hidupnya begitu rumit.
__ADS_1
Adrian menghela nafas panjang...
"oke....terima kasih infonya Jordan.." ucapnya
"sama sama om....saya melakukan ini semua demi Zev...saya harap om mau menuntun Zev untuk pergi menjauh dari bayang bayang Dave..."
Adrian tersenyum...
"sejak dia masih dalam penjara,saya selalu berusaha menemuinya,tapi dia menolak.Dan setelah dia bebas...saya masih mencoba mencarinya...saya hanya ingin merangkul dia...saya sadar...memang benar...ayah dan ibunya meninggal karena saya...tapi dia nggak tau ada kisah apa di balik insiden itu." ucap Adrian.
Jordan mengangguk.
"saya percayain semua sama om...saya yakin om adalah orang yang tepat yang bisa menuntun Zev keluar dari lubang kebencian yang Dave buat" ucap Jordan
Adrian hanya tersenyum...
"ya udah om...saya cuma mau bilang itu.Ini udah mau maghrib...saya harus pulang" ucap Jordan.
"ya....makasih ya nak...kamu udah bawa Angkasa ke rumah sakit"
"sama sama om.." jawabnya.
"kalau begitu saya permisi dulu...assalamu alaikum.."
"wa alaikum salam..."
Jordan pun pergi dari tempat itu meninggalkan Adrian yang masih duduk sendiri di kursi tunggu rumah sakit itu.
Adrian kembali mengucap istigfar.Rupanya sudah belasan tahun lamanya,tapi Zev dan Dave masih menyimpan dendam pada keluarganya.Ternyata hidupnya belum sepenuhnya aman.
Adrian menghela nafas panjang.Ia merogoh sakunya,mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam sakunya lalu membuka Aplikasi WhatsApp dan mencari nomor salah seorang sahabatnya.
tuutt....tuutt....tuutt....
"halo Assalamu alaikum..." ucap seorang pria dari seberang sana.
"wa alaikum salam pak polisi...." jawab Adrian.
"hahaha......bisa aja lo Dri..!tumben lo nelfon gue...ada apaan nih?"
"gue butuh bantuan lo Jod"
Jod???
Yuup....anda benar..!itu Joddy..!
"hahaha...lo mah gitu...selalu hubungin gue kalo lagi ada maunya..."
"ya kan emang cuma itu gunanya lo" ucap Adrian
"bang*e lo...!ada apaan nih...apa yang bisa gue bantu?"
"gue minta data soal napi yang namanya Dave..dia ditahan sejak lima belas tahunan yang lalu kalo nggak salah...salah satu ketua sindikat perdagangan obat terlarang" ucap Adrian
"bisa....apasih yang lo nggak bisa dapat...lo mah orang istimewa buat polisi....semua pasti dikasih kalo lo yang minta" ucap Jodd
Adrian tertawa....
"thanks Jod..." ucapnya.
"sama sama....ya udah..ntar gue kabarin lo ya..."
"oke...sakali lagi makasih ya..."
"sama sama...ya udah gue tutup ya...gue masih di jalan soalnya..."
"oh..oke..."
"assalamu alaikum"
"wa alaikum salam.."
sambungan telepon pun terputus.
Ia kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya dan kemudian bergegas pergi masuk ke dalam ruang rawat inap untuk menemani sang putra.
...----------------...
***SELESAI NULIS JAM SET 6 PAGI TGL 19....ini kira kira lama lagi nggak ya lulusnya...
kesel deh Othornya..bab sebelumnya sehari nggak lulus"😩😩nggak tau ini NT kenapa jadi lama banget gini....
yukkk....kasih dukungan yuk....klik like komen vote nya🥰🥰🥰***
Jangan lupa bab sebelumnya juga di like komen....ini udah nulis lagi...langsung up kalau ini bab udah ke up...semoga bisa cepet deh...
__ADS_1