
Pria bernetra hijau itu duduk menyandarkan tubuhnya di dinding sel.Pria berseragam tahanan dengan kedua tangan yang di borgol itu nampak melamun mengarahkan pandangannya ke langit langit ruang pesakitan itu.
Adrian sadar betul ini semua adalah buah dari kejahatan yang ia tanam selama ini.Ini adalah karma Tuhan yang diberikan padanya atas semua penyiksaan dan perlakuan semena mena terhadap puluhan atau bahkan ratusan wanita yang tak berdosa.Ini adalah jawaban dari semua doa doa para orang tua dan keluarga yang sudah ia sakiti karena menjual dan membunuh anggota keluarga mereka yang sangat mereka cintai.
Ini karma nya,ditinggal mati kakeknya,tidak direstui mertuanya,dipertemukan lagi dengan ibunya,dan kini dijauhkan dari anak dan istrinya dan seluruh aset kekayaannya pun akan terancam di sita oleh negara.
Adrian memejamkan matanya.Hatinya semakin teriris perih saat ia ingat bahwa bukan hanya dirinya yang ikut menanggung dosa dosanya.Tapi diluar sana,dua orang wanita yang sangat ia sayangi,kini justru jauh lebih menderita dibandingkannya.
Ia menyesal...sangat sangat menyesal.Andai ia tak se bia**p ini,mungkin kini ia masih bisa menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.Ini semua salahnya,ini semua berawal dari dirinya.
"maafkan aku Dinda...maaf..." ucapnya lirih.
...****************...
Di luar kantor polisi.
Adinda kembali datang dengan Nabila mengendarai motor maticnya.
"ma...hari ini kita jemput papa kan?" tanya Nabila polos dengan sebuah senyuman di bibirnya.Gadis itu mengira bahwa ia kemari untuk menjemput papanya.
Adinda hanya tersenyum getir.Entahlah,bagaimana nanti ia menjelaskan pada Nabila soal ini.
"kita masuk ya sayang" ucapnya.
"iya ma"
Kedua wanita beda usia itupun mendekati petugas jaga yang ada disana.
"permisi pak...saya mau ketemu suami saya"
"siapa?"
"Adrian" ucapnya.
"tunggu di ruang besuk dulu dek.." ucap sang petugas jaga
Adinda pun menurut.Wanita yang menggendong ransel dengan mata bengkak itu menuju ke ruang tunggu sambil tangan kanan menggandeng tangan Nabila dan tangan kiri menenteng sebuah tas bekal yang berisi makanan untuk Adrian.Kedua wanita beda usia itupun duduk di salah satu kursi di ruang besuk tersebut.
Adinda berkali kali menarik nafas panjang,menetralkan emosinya agar tak menangis saat bertemu dengan suaminya.
Tak buatuh waktu lama,seorang pria bertubuh tegap datang di antar oleh seorang sipir.Kedua tangannya di borgol,baju orange khas tahanan melekat di tubuh pria tampan bertato yang nampak menyedihkan itu.Matanya memancarkan duka yang teramat sangat.Ia menatap nanar ke arah dua wanita yang nampak menunggunya disana.
"papa.....!!" pekik Nabila.Ia segera berlari memeluk papanya yang kini berjongkok bersiap menyambut sang putri.
Nabila menabrakkan tubuhnya ke tubuh Adrian.ia memeluk erat laki laki itu seolah ingin meluapkan segala kerinduan yang ia pendam sejak kemarin.
"papa...Nabil kangen" ucapnya.
Adrian tersenyum,ia menciumi pipi chubby milik gadis kecil itu.
Nabila melepaskan pelukannya.
"tangan papa kok diborgol...kayak penjahat aja..!lepasin aja pa....kita kan mau pulang" ucap Nabila.
__ADS_1
Adrian menatap sendu ke arah sang putri.
"kita duduk di kursi sana yukk" ucap Adrian mengalihkan pembicaraan.
Pria itupun menujunke sebuah kursi panjang yang diduduki oleh Adinda.Nabila naik ke pangkuan sang papa,ia menyandarkan tubuhnya ke tubuh tegap pria bertato itu.
Adinda menarik nafas panjang.Sekuat tenaga ia mencoba agar tak menangis di hadapan suaminya.
Adrian tersenyum menatap Adinda,namun tak bisa ia pungkiri,jauh dari dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasa perih melihat sang istri yang nampak menyedihkan dengan kedua mata bengkak.
"Din...." ucapnya..
Adinda kembali mencoba menetralkan emosinya.
"iya..." jawabnya dengan seutas senyum manis.Namun itu jelas tak bisa menutupi kesedihan yang ia rasakan.Matanya sudah menggambarkan semua itu.
Adinda berusaha terus menebar senyum.Adrian justru semakin teriris.Ia menatap pilu ke arah wanita itu.Ingin sekali rasanya ia memeluk Adinda,namun tidak bisa,kedua tangannya tak diberi leluasa bahkan hanya untuk sekedar menyentuh wajah istri kecilnya itu.
"maaf Din" lirihnya.
Adinda terdiam.Sepersekian detik kemudian,air mata itu luruh.Ia tak bisa berpura pura lagi.Ia menutup mulutnya agar tidak histeris.Wanita itu menangis sesenggukan di hadapan sang suami.Adrian semakin merasa tercabik cabik.Ia tak tega menyaksikan pemandangan di hadapan nya.
Adinda mendekat,dengan cepat ia memeluk tubuh tegap itu.Ia menangis sejadi jadinya di pundak kokoh yang selalu menjadi tempat ternyamannya untuk bersandar.Adrian mematung,matanya ikut mengembun merasakan setiap tetesan air mata yang menetes menembus baju nya membasahi pundak kekarnya. Ia membiarkan wanita itu meluapkan segala kesedihannya.
Cukup lama Adinda menangis,ia mengusap lelehan air matanya,lalu kembali mencoba tersenyum.
"dah...nggak usah ditangisi" ucap Adrian.
"aku minta maaf Din..." ucapnya Adrian.Ia seolah kehabisan kata kata untuk mengungkapkan betapa ia sangat menyesali semua kesalahannya.Betapa ia ingin sekali menebusnya.Betapa ia begitu merasa berdosa pada wanita cantik itu.
Adinda mengusap lagi air matanya.Ia kembali berusaha menetralkan emosinya dengan menarik nafas panjang.
"semua udah terjadi mas...aku udah maafin kamu dari awal..."ucapnya sambil Kenyan kepalanya di pundak Adrian.
"kamu bisa pergi kalau kamu mau Din" ucap Adrian seolah hampir menyerah.
"kamu ngomong apa?pergi kemana?aku nggak akan kemana mana mas...aku akan tetap nungguin kamu sampai kamu bebas" ucapnya.
"masa depan kamu masih panjang Din...kamu bisa dapetin orang yang lebih baik dari aku."
"aku cuma mau kamu" ucapnya.
Adinda mengangkat kepalanya,ia melepas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari dalam sana.
"mas....aku bawain ini buat kamu" ucapnya sambil mengeluarkan sajadah,sarung,peci,al Quran,iqro',juz amma,tasbih dan buku panduan sholat.
"aku nggak bisa ngajarin kamu lagi sekarang.Aku bawain ini buat kamu,kamu belajar sendiri ya" ucapnya sambil menyerahkan alat alat sholat tersebut.
"aku selalu mendoakan kamu.Aku selalu mendoakan keluarga kita.Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama kayak aku mas.Aku mau kita berjuang sama sama walaupun kita berjauhan."
"kita berjuang lewat doa ya..." ucapnya lagi dengan air mata yang mengalir.
"bantuin aku mas....Allah pasti mendengar doa doa kita kalau kita melakukannya sama sama" ucapnya.
__ADS_1
"aku akan sering sering kesini jengukin kamu.Kita nggak jauh jauh amat kok" ucapnya mencoba menghibur diri.
Netra hijau itu mengembun.
"aku akan berubah.Aku akan jadi imam yang baik untuk kamu setelah aku keluar aku disini" ucap Adrian.
"kamu mau nungguin aku?" tanyanya
Adinda mengangguk.
"aku pasti nungguin kamu...." ucapnya.Adinda kembali memeluk tubuh tegap itu.Adrian menciumi pipi mulus yang basah itu berulang ulang.
"saudara Adrian....waktu besuk sudah habis" ucap saang sipir.
"iya pak..." jawabnya.
"katanya papa pulang?" ucap Nabila protes.
"nak...dengerin papa" ucap Adrian dengan tatapan lembut ke arah Nabila.
"papa pernah punya salah...dan sekarang papa harus nginep disini dulu.Nanti kalau kesalahan papa udah di maafin,papa pasti akan pulang.Nemuin Nabila...sama mama" ucap Adrian mencoba memberikan pengertian.
"papa nggak salah...papa bukan penjahat...!ini tempat nya penjahat pa....hiksss...."
"nggak sayang....papa bukan penjahat.Papa cuma pernah ngelakuin kesalahan aja..nanti kalau papa udah dimaafin sama pak polisi...papa pasti pulang" ucap Adrian sambil menciumi pucuk kepala gadis mungil itu.
"kamu dirumah dulu sama mama...nggak boleh nakal...nurut sama mama sama nenek ya nak" ucapnya lagi.
Nabila mengangguk.
"jangan lama lama ya pa disininya..." ucap Nabila.
"iya sayang"
Nabila kembali memeluk tubuh papanya.Adrian mengecup pipi Nabila bergantian.
Pria itu kemudian bangkit membawa alat sholat pemberian Adinda.Adinda menyerahkan tas bekal yang ia bawa.
"buat makan siang mas" ucapnya.
"makasih sayang."
Adrian mengecup kening Adinda sebagai akhir pertemuan mereka hari ini.Keduanya pun berpisah.Adrian di bawa kembali ke sel.Adinda dan Nabila hanya bisa menyaksikan kepergian laki laki itu dengan tatapan nanar.
Adinda menghela nafas panjang.Drama kehidupannya masih panjang.Kini ia harus bersiap untuk berjuang mengurus Nabila sendiri,melunakkan hati ibunya,dan bertahan menunggu kepulangan Adrian yang entah kapan bebasnya.
SEMANGAT YA DIN.....❤❤
...----------------...
***MANA VOTE DAN HADIAH NYA?
KASIH LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK YA....❤❤❤❤❤***
__ADS_1