
Malam hari.....
Hari berganti hari,
Hari ini adalah hari ke enam meninggalnya tuan William.Hubungan di antara Adrian dan Dinda kian hari kian membaik.Apalagi kini ada Nabila di antara mereka,membuat hubungan mereka bertiga bak keluarga utuh yang berbahagia.Seperti saat ini keluarga kecil itu tengah menikmati waktu kebersamaan mereka dengan mendirikan tenda di halaman belakang rumah mereka.Setelah pulang dari panti asuhan,Adinda tiba tiba punya inisiatif untuk camping di halaman belakang rumah mereka.Dengan satu tenda camping disana,keluarga bahagia itu begitu menikmati waktu kebersamaan mereka.
Adinda tengah sibuk dengan jagung dan sosis bakarnya di depan tenda.Sementara Adrian dan Nabila sedang asyik bercanda di dalam tenda sambil memainkan gitar.Sesekali tawa lebar keluar dari mulut mereka lantaran suara cempreng yang keluar dari mulut keduanya.Adinda pun sesekali ikut tertawa mendengar candaan suami dan anaknya itu.Makin hari Adrian jadi semakin humoris.Candaan dan celetukan asal sering keluar dari mulut nya.Sungguh,image garang dan kejamnya seolah sirna saat bersama dua wanita tercintanya itu.Tapi entahlah jika sedang berada di luar rumah atau sedang berhadapan dengan bisnis bisnis haramnya.Adinda tidak tahu.Karena semenjak tuan William meninggal,laki laki itu seolah tak pernah keluar rumah.Ia terlalu sibuk dan asyik menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
"papa kentut...." celetuk Nabila sambil menutup hidungnya.
"enak aja...kamu yang kentut" ucap Adrian mengelak.Pria itu kini tengah berbaring di dalam tenda yang memainkan gitarnya sedangkan Nabila duduk di atas perut sixpacknya.
"mama....papa kentut...!!!" ucap Nabila mengadu.
"nggak.....Nabila yang kentut...mana bauk bangett lagi" ucap Adrian menggoda sambil meletakkan gitarnya di samping tubuhnya.
"aku nggak kentut...papa yang kentut..!"ucap Nabila tak mau kalah.
" nggak boleh bohong...kalo kentut bilang..."ucap Adrian sambil menggelitiki anak gadisnya itu.Nabila tertawa kegelian di atas perut sang papa.Adinda hanya geleng geleng kepala melihat tingkah polah anak dan suaminya.
Ayah dan anak itu saling bergelitik ria.Tawa lepas terdengar dari mulut keduanya.
"sosisnya udah mateng nih....siapa yang mau....??" ucap Adinda.
"aku....!!!"ucap Nabila sambil berlari mendekati sang mama disusul Adrian.
" aku mau yang gede ma..."
"ini semua gede sayang...."
"papa nggak usah dikasih ma" celetuk Nabila.
"jangan nakal...!" ucap Adrian sambil mencolek pinggang Nabila membuat gadis kecil itu terjingkat kegelian.
"sini pangku papa" ucap Adrian.
Nabila pun menurut ia duduk di pangkuan sang papa sambil memegang satu tusuk sosis panggang.
Adinda menyerahkan satu sosis untuk Adrian.
"bentuknya kek punyaku ya Din....tapi jauh lebih gedean punyaku sih" ucap Adrian sekenanya,membuat Adinda melotot lalu mencubit paha Adrian.Nggak tau tempat banget kalau ngomong.
"aw....sakit..." ucapnya.
__ADS_1
"papa punya sosis yang lebih gede?"tanya Nabila polos
"punya.."
"mana pa....kok nggak dibakar sekalian?"
"udah di abisin sama mama" ucap Adrian santai sambil melahap sosis ditangannya.Matanya menatap nakal ke arah sang istri yang wajahnya nampak merah mendengar ucapan ambigu itu.
"udah makan buruan...." ucap Adinda mengalihkan perhatian.
Adrian menyodorkan sosis ditangannya ke mulut Dinda.Adinda pun menerimanya,ia menggigit sosis yang tinggal separuh itu dan mengunyah nya.
"enak?" tanya Adrian.
Adinda mengangguk...
"enak mana sama punyaku" tanya Adrian dengan tatapan nakalnya.
"maass....." ucap Adinda malu malu.
Adrian hanya terkekeh.
Keluarga kecil itupun menghabiskan waktu malam mereka dengan penuh kehangatan.Kebahagiaan tak henti terpancar dari wajah ketiganya.
Kini waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam.Ketiganya kini berada di dalam tenda yang tertutup itu dengan Nabila yang sudah tertidur lelap di tengah tangah Adrian dan Adinda.
Sepasang suami istri itu berbaring dengan posisi miring menghadap Nabila.
Adinda mengusap lembut rambut panjang Nabila.
"Nabil itu manis banget ya mas..."
"iya...."
"tapi sayang....hidupnya nggak semanis wajahnya.Dia harus jadi yatim piatu di usia nya yang masih sekecil ini" ucap Adinda.
Adrian menatap lembut ke arah Adinda.
"aku seneng deh,kamu mau ngangkat Nabil jadi anak kita...dia jadi nggak kesepian lagi sekarang" ucap Adinda.
Adrian semakin dalam menatap Adinda.
"tapi mungkin sebentar lagi dia akan kecewa sama aku Din" ucap Adrian.
__ADS_1
Adinda menatap penuh tanya pada suaminya itu.
"maksudnya?"
"besok tepat tujuh hari kepergian kakek Din.Itu artinya kebersamaan kita tinggal malam ini dan besok...setelah itu aku akan mengantar kamu pulang"
"mungkin Nabil akan kecewa sama aku karena dia akan kehilangan kamu" ucap Adrian.
Adinda terdiam.Seketika ia merasa sesak.Udara di dalam tenda itu seolah mendadak panas.
"mas....."lirihnya.Adinda seolah ingin mengatakan sesuatu,namun mulutnya seolah terkunci,tak sanggup berucap sepatah katapun.
" aku minta maaf Din...aku sudah merusak masa depan kamu.Aku sudah menorehkan banyak luka di hati kamu.Aku bia**p Din..."ucap Adrian dengan tatapan penuh penyesalan.Ia seolah menerawang,mengingat ingat kembali kasalahan kesalahannya pada sang istri.
"andai kamu nggak ketemu anak buahku waktu itu,mungkin....."
"cukup mas.." ucap Adinda lirih dengan mata yang mulai mengembun.Ia kemudian bangkit,duduk bersila menatap lurus ke depan.Seolah ia tak mau menatap wajah Adrian yang nampak penuh penyesalan.Dadanya naik turun merasakan sesak di dadanya.Entahlah...apa yang ia rasakan,ia pun tak tahu.
"jangan diterusin lagi..." ucapnya.Cairan bening itu kembali luruh.Adrian bangkit,duduk menghadap sang istri yang terus memalingkan wajahnya menyembunyikan air mata yang mulai banjir itu.
Tangan Adrian tergerak mengusap air mata tersebut.
"besok aku akan pesen tiket pesawat buat kita.Sementara aku akan nitipin Nabil di panti sampai aku kembali dari kota kamu" ucapnya.
"mas...." ucapnya lagi.Namun lagi lagi ucapannya terhenti.Seolah ia tak mampu berucap lagi.
"aku akan mengembalikan kamu ke orang tuamu dengan cara baik baik.Dan aku akan minta maaf atas semua yang sudah aku perbuat selama ini sama kamu" ucapnya.
Adinda menggelengkan kepalanya samar.Entahlah....bukankah harusnya ia bahagia?tapi kenapa ucapan Adrian justru terasa begitu perih untuknya?apa mungkin ia mulai mencintai suami nya?ia merasa tak mau dilepaskan oleh Adrian?begitukah?tapi kenapa?bagaimana bisa?bagaimana bisa ia jatuh cinta pada laki laki itu?atau mungkin ia hanya terbawa suasana saja lantaran selama satu minggu ini Adrian begitu baik padanya??
"aku mau solat dulu mas..." ucap Adinda sambil menunduk.
"kamu tadi udah solat isya' di masjid Din"
"aku mau solat malam" ucapnya kemudian bergegas pergi dari tenda itu dengan buru buru.Adrian menatap nanar melihat sang istri yang berlari menuju ke dalam rumah.Adinda menangis.Entahlah apa yang ia tangisi.
...----------------...
***LIKE NYA PLISS....🥺
HADIAH DAN VOTE NYA BANYAKIN PLISS😢😢😢
RAMAIKAN KOLOM KOMENTARNYA PLISSSS🥺🥺🥺🥺🥺🥺***
__ADS_1