
Di sebuah ruangan yang dipenuhi lukisan....
Pria itu berdiri menghadap sebuah foto berbingkai yang tertempel di dinding.Foto seorang laki laki gagah berjas hitam yang terlihat begitu mirip dengan dirinya.
Ya....itu foto ayahnya.Aryan Tama.Pria yang tewas dua puluh tahun yang lalu ditangan Bertha,wanita yang baru saja hendak ia usir.
ceklek....
pintu terbuka.
Adinda datang memasuki ruangan yang dulu pernah ia kunjungi saat pertama kali Adrian membawanya kerumah ini sebelum terjadi insiden pelemparan Dinda ke pinggir jalan.Dengan secangkir kopi di tangannya,wanita itu berjalan memasuki raungan yang dulu menjadi tempat tuan William menghabiskan waktunya'.
Adinda meletakkan kopi itu di atas meja kecil yang ada disana.Dinda yang sudah mulai tenang berjalan mendekati Adrian.
seettt..
Adinda memeluk laki laki tampan itu dari belakang.Ia menempelkan kepalanya di punggung kokoh Adrian sambil menghirup aroma tubuh suaminya tersebut.Tangannya tergerak menyentuh dua bongkahan dada bidang laki laki yang sangat ia cintai itu.
"maaf" ucapnya lirih
Adrian yang sudah mulai mereda emosinya itu pun berbalik badan.Ia membimbing tubuh ramping Adinda masuk ke dalam pelukannya.
"aku yang minta maaf...aku nggak bisa ngontrol emosiku Din..." ucapnya sambil mengusap lembut rambut panjang sang istri.
"maaf udah bentak kamu...maaf udah bikin kamu nangis..." ucapnya.
Adinda tak menjawab.Ia mengeratkan pelukannya pada laki laki itu.
Adrian mengecup pucuk kepala Dinda berulang kali.Ia benar benar merasa bersalah karena sudah membentak wanita itu tadi.
Adrian menjauhkan tubuhnya.Ia menangkup wajah ayu Adinda lalu mengecup bibir mungil itu lembut.
"Nabil mana?" tanya Adrian.
"dikamar belakang mas..." ucapnya.
Adinda paham jika Adrian pasti tak akan mau mendengar nama bu Ela,makanya ia hanya menyebut kamar belakang,tempat dimana ibu mertuanya itu berada sekarang.
Adrian tersenyum.
"aku bikinin sarapan dulu mas....abis ini aku mau bikin kue...ada pesanan soalnya"
"kamu nggak ada jadwal pemotretan hari ini?"
"besok mas...tapi tadi mas Marco bilang dia mau main kesini katanya"
Adrian hanya mengangguk.
"kamu panggilin Nabil gih...suruh kesini...aku mau main sama dia"
"iya mas...." ucapnya.
Adinda pun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut untuk memanggil Nabila dan membuatkan sarapan.
...****************...
Ditempat lain....
Di sebuah kursi ayunan di balkon rumah yang cukup mewah.
Pria berkulit putih itu terlihat senyum senyum sendiri sambil sesekali menggeser geser layar ponselnya.Marco saat ini sedang sibuk stalking akun Instagram gadis manis berlesung pipit bernama Naya yang ternyata adalah putri dari seorang ustadz di kampung halaman Adinda.Pantas saja ia begitu pemalu,selalu menundukkan pandangannya ketika bertemu Marco.Selain itu cara bicaranya juga begitu halus.
Entahlah...ada rasa ketertarikan tersendiri dalam diri Marco pada gadis yang terlihat alim itu.
Marco keluar dari aplikasi instagram,kemudian menuju aplikasi WhatsApp.Ia mencari cari nama 'Putri' disana.Salah satu teman Adinda yang masih ia simpan nomor ponselnya.Padahal awalnya ia minta nomor ponsel Naya kan...eh...malah si Putri yang suka rela ngasih nomornya.
"Putri......." tulisnya.
__ADS_1
Marco menunggu cukup lama,menunggu balasan dari gadis ber hijab itu.Namun belum ada juga balasan yang masuk.
tingg.....
1 pesan masuk.
*Putri
"iya....siapa?"
"ini Marco...temennya Dinda"
"oh....iya....ada apa mas..."
"kamu lagi dimana?"
"dirumah mas..."
"nggak sama ibunya Dinda?"
"nggak mas...ibuk lagi sama Naya sekarang*"
Marco reflek melonjak dari tempatnya duduk.Pas banget daah ahh.....
Dengan semangat empat lima ia pun kembali mengetikkan sesuatu.
"*ooh...sayang banget...ada yang pengen aku omongin sama ibuknya Dinda...penting banget soalnya..aku boleh minta nomor hp nya Naya nggak"
"emangnya ada apa mas?Dinda baik baik aja kan?"
"Dinda baik kok....cuma emang lagi ada yang pengen aku omongin aja....boleh kan minta nomornya Naya sekarang...soalnya aku buru buru ini"
"oh...iya mas boleh*"
tingg...
1 pesan masuk...
Pria itu reflek meloncat dan menghempaskan bo*ongnya ke sofa kecil yang ada di atas balkon kamarnya.Entahlah...kenapa ia bisa sesenang ini.
Marco terkekeh.
"sendalnya cantik banget.." ucapnya sambil senyum senyum melihat foto sendal jepit warna hijau dekil yang jadi foto profil Naya.
cinta memang buta kawan🤣🤣
Dengan semangat yang bergelora Marco segera menyentuh tombol video di sana.Hingga sambungan video call pun terhubung antara dirinya dan nomor pemilik sendal buriq itu.
"halo.." ucap Naya dari seberang sana.
Marco tersenyum lebar melihat wajah wanita manis itu dengan jarak yang cukup dekat.
"kok gak onok wonge seh?" ucap Naya polos
("kok nggak ada orangnya sih?)
Ya....Marco sengaja mengarahkan ponselnya ke kamera belakang,sehingga yang terlihat di layar ponsel Naya saat ini hanyalah satu tanaman di dalam pot yang berada di pojokan balkon kamar Marco.
"halo ini siapa?mukamu dimana?" tanya Naya.
Marco terkekeh...lucu juga dia.
"iki sopo seh iseng banget..." ucap Naya menggerutu.
"halo....ini siapa sih....nggak minat ngomong ta?kalau nggak niat ngomong tak matiin lo...gangguin orang lagi sarapan aja" ucapnya sambil menyendok nasi di hadapan nya.
Marco mengganti mode kamera ke kamera depan,hingga kini terpampanglah wajah tampannya di layar ponsel Naya.
__ADS_1
Gadis itu melotot.Untuk beberapa saat ia merasakan sulit untuk menelan makanan di mulutnya.
"haloo....assalamu alaikum" ucap Marco dengan senyum manisnya.
Naya jadi salah tingkah.
"salam tuh dijawab mbak..." ucap Marco lagi.
"emm....iya...assalamu alaikum..eh...maksudnya Wa alaikum salam..." ucap Naya jadi gugup membuat Marco makin tersenyum gemas.
"lagi ngapain?"
Naya menunduk.
"sarapan mas.."
Marco tersenyum.
"lagi di rumah ibuknya Dinda ya?"
"i..iya mas.."
"ibuknya Dinda siapa sih namanya...lupa aku.."
"bu Lastri mas..."
"oh...bu Lastri...kalau bapak kamu?"
Naya mengernyitkan dahinya.
"kenapa mas nanyain bapak saya?"
"pengen tau aja...kan biar kenal sama calon mertua.....ooppss" ucap Marco sambil menutup bibirnya di akhir kalimat
Wajah Naya makin memerah.
"kok nggak dilanjut makannya?lanjutin dong.."
"mas ada perlu apa nelfon saya?" tanya Naya.
"nggak apa apa...iseng aja..." ucap Marco.
"gimana ujiannya?"
"lancar mas"
"Alhamdulillah..."
Naya terus menunduk.
"rencana mau ngelanjutin kuliah dimana?"
"belum tau mas..."
Marco hanya mengangguk.Kini ia jadi bingung sendiri.Mau nanya apalagi?gadis itu hanya menjawab seperlunya...ia sampai kehabisan bahan obrolan.
"maaf mas..masih ada yang mau ditanyain?saya mau ke dapur.Kalau masih mau ngobrol...saya panggilin ibuk ya....biar ngobrol sama ibuk"
"oh...nggak usah...matiin aja nggak apa apa...ntar kapan kapan kita video call an lagi aja" ucap Marco
Lagi lagi wanita itu hanya mengangguk sambil terus menunduk.
"gue matiin ya....assalamu alaikum"
"wa alaikum salam."
...----------------...
__ADS_1
YUKK....TAMBAHIN VOTE DAN HADIAHNYA PLISS.....🥺🥺🥺🥺🥺🥺
JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMEN,KLIK LIKE SETELAH BACA JUGA 🥰🥰🥰🥰