Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
63


__ADS_3

Malam semakin larut,namun netra itu seolah lagi lagi tak mau terpejam.Adrian menoleh ke sampingnya,Nabila masih terlelap dalam tidurnya,sedangkan Adinda,hingga kini ia belum kembali setelah wanita itu masuk ke dalam rumah dengan berlinang air mata.Adrian mengambil ponselnya untuk melihat jam.


02:30


kemana istrinya itu?


Adrian lalu menelpon salah satu anak buahnya yang bertugas berjaga di depan rumah nya.


"halo tuan...." ucap sang anak buah dari seberang sana.


"ke halaman belakang sekarang...." ucap Adrian.


"baik tuan"


Sambungan telepon terputus.Adrian meletakkan ponselnya disamping tubuhnya.Tak berapa lama berselang,pria berbadan besar datang menuju halaman belakang rumahnya.


"tuan" ucap sang anak buah dari luar tenda


"hmm"


Adrian segera bangkit,ia pun segera keluar dari dalam tenda tersebut.


"jaga Nabila" ucapnya


"baik tuan"


Adrian segera melangkah menuju ke dalam rumah nya.Pria itu bergegas menuju kamar nya untuk mencari tahu keberadaan sang istri.


ceklek....


Pintu kamar terbuka dengan pelan....


Dilihatnya sang istri tengah berada di atas sajadahnya dengan sebuah tasbih di tangannya.Adrian menutup pintu kamarnya setenang mungkin agar tak menimbulkan suara.


Adrian berdiri bersandar di tembok sambil netranya tak henti menatap wanita yang kini terdengar sesenggukan di atas sajadahnya itu.


Kurang lebih tiga puluh menit berselang,


Adinda mengakhiri ibadah nya.Wanita cantik itu melepas mukenahnya lalu melipat nya beserta sajadahnya dan meletakkan nya di atas meja.


"mas..." ucapnya saat melihat sang suami yang sudah berdiri di samping pintu.


Adrian tersenyum,ia kemudian berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepinya.


Adinda mengikuti langkah sang suami,ia duduk di tepi ranjang dengan wajah yang terus tertunduk.Tangan bertato itu tergerak menyentuh wajah yang nampak sembab itu.


"Din..." ucapnya sambil menyentuh dagu Adinda,mengarahkan wajah cantik itu untuk menghadapnya.


"kamu kenapa?" tanyanya.Nampak jelas dari wajahnya,bahwa wanita itu baru saja menangis semalaman.


"mas....." ucapnya.Lagi lagi lidah itu kelu.Ia seolah tak mampu berkata apapun.Perasaan nya bimbang,jauh di dalam lubuk hatinya ia seolah tak rela jika harus terjadi perpisahan.Tapi jika terus bersama,ia takut ia akan kecewa.Mengingat ia pun tak tahu sudah sejauh apa perubahan sikap sang suami,lantaran Adrian adalah laki laki yang tak bisa ditebak.Ia bisa berubah sikap hanya dalam hitungan detik.


Batin Adinda semakin berkecamuk.Mungkinkah ini hanya permainan Adrian.Ia hanya ingin mempermainkan nya,membahagiakan dia untuk sesaat lalu membuangnya?begitukah?Apa Adrian hanya ingin memperdalam luka batin Adinda?Jika memang iya....jahat sekali dia....


"kamu kenapa?"


Adinda menangis,air mata itu tumpah.Adrian mendekatkan tubuhnya,


"kenapa sih Din?ada apa?" tanyanya.Jujur,ia benar benar dibuat bingung.Ada apa dengan istrinya,kenapa ia jadi sedih seperti ini,padahal dari tadi semua baik baik saja.


Adinda menabrakkan dirinya pada tubuh kekar Adrian.Pria itupun memeluk sang istri,mencoba menenangkan wanita itu meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya membuat Adinda menangis.


Cukup lama Adinda menangis dalam dekapan Adrian,membuat kemeja putih yang Adrian gunakan pun jadi basah.


Setelah merasa tenang....


Adinda sedikit menjauhkan tubuhnya dari Adrian.Ia mengusap lelehan air mata di pipinya.

__ADS_1


Adrian tersenyum....


"kamu kenapa...?


" mas...."ucapnya sambil menatap dalam mata hijau itu.


"ada apa?"


"kenapa kamu sebaik ini sekarang?" ucapnya dengan suara bergetar.Dadanya naik turun seolah menahan sesak dalam dirinya.


Adrian tersenyum....


"karena aku ingin menebus dosaku Dinda.Aku hanya ingin membahagiakan kamu di hari hari terakhir kita"


"tapi kamu jahat mas....hiks..."ucapnya sesenggukan


Adrian mengernyitkan dahinya.


"jahat kenapa?"


"dengan perlakuan kamu yang kayak gini cuma bikin aku bahagia untuk sesaat.Tapi setelah itu kamu akan membuang aku kan?"


"bukan membuang Dinda..."


"terus apa namanya?!"


Air mata itu semakin deras mengalir.Apa yang Adinda rasakan dan ia pendam selama ini seolah tertumpah semuanya.


"kamu bikin aku nyaman.Kamu bikin aku bahagia...dan sekarang dengan gampang nya kamu bilang kalau kamu akan mengembalikan aku ke orang tuaku..!kamu mikir nggak sih?!aku merasa kamu cuma mau mempermainkan aku mas...!!"


"Dinda kamu ngomong apa sih?bukannya memang ini yang kamu mau?kamu sendiri yang bilang kamu mau lepas dari aku kan?aku turutin...!aku akan melepas kamu..!aku akan bawa kamu kembali ke orang tua kamu...kamu akan bebas..!!"


"mas...hiks..."


Adrian menangkup wajah sayu itu.


"kamu kenapa?"


"aku nggak tau.." ucapnya.


Adrian menghela nafas.


"Din....kamu berhak bahagia..masa depan kamu masih panjang"


"tapi sekarang aku bahagia mas sama kamu" ucapnya dengan lelehan air mata.


Adrian mematung.


"kamu bikin aku bahagia mas sekarang,kamu bikin aku nyaman...tapi aku takut....aku takut kalau ini semua cuma aku yang ngerasain.Aku takut kamu akan kembali jadi kamu yang dulu mas.." ucapnya.


"aku nggak mau pisah....." ucapnya dengan air mata banjir.Adrian semakin mematung.


Untuk sesaat mereka saling diam dengan pikiran mereka masing masing.


"kamu harus pergi Din..." ucap Adrian lirih.


Adinda menatap nanar ke arah Adrian.


"kamu nggak pantas disini.Aku buruk Din...kehidupan ku terlalu kotor.Kamu terlalu baik untukku.Kamu berhak bahagia diluar sana"


Adinda menggelengkan kepalanya samar.


Adrian menghela nafas panjang,kemudian dia tersenyum,


"istirahat,aku mau ajak kamu dan Nabila jalan jalan nanti siang" ucapnya sambil mencoba tersenyum.


Adinda masih terus mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


Adrian bangkit,ia hendak melangkah pergi,namun....


"aku benci mas sama kamu" ucap Adinda lirih dengan deraian air mata.


Adrian menghentikan langkahnya...


"bener kata perempuan itu" (Sheila)


"kamu cuma manfaatin aku.Kamu akan membuang aku kalau kamu udah bosan"


Adrian berbalik badan menghadap Dinda.


"Din...aku nggak membuang kamu..!" ucapnya dengan nada tinggi.


Adinda bangkit dengan cepat.


"terus apa namanya?!!"ucap Dinda tak kalah keras.


" aku nggak mau kamu disini terus!aku nggak mau kamu terus terusan terikat dengan kehidupan aku yang kotor..!!


"tapi aku udah nggak punya apa apa mas?!!kamu udah mengambil semuanya..!!kamu pikir dengan kamu melepas aku semua bisa kembali seperti semula??nggak...!!!!" ucapnya histeris sambil mendorong tubuh besar itu.


Adinda semakin frustasi...


"kamu menjauhkan aku dari keluarga ku...kamu memaksa aku menikah sama kamu...kamu merenggut kehormatan ku...kamu bunuh calon bayi aku...kamu kasih luka fisik dan batin untuk aku...dan sekarang kamu dengan gampangnya bilang...kamu akan melepasku?" ucapnya dengan penuh penekanan dan air mata.


"jahat kamu mas..." ucapnya semakin lirih.


"Din...nggak gitu maksud ku...." ucap Adrian bergetar.


"aku nggak mau pisah....hiks..."


Adinda semakin menangis sesenggukan.Adrian mematung menatap Adinda.Ada apa ini?bukankah ini keinginan Adinda?dia yang meminta dilepaskan,tapi kenapa sekarang dia histeris bilang nggak mau pisah?


Adrian mendekat,ia meraih tubuh mungil itu,lalu memeluknya dengan erat.Dadanya bergetar mendengar semua dosa dosa yang sudah ia lakukan pada Dinda yang keluar dari mulut mungil sang istri.Ya.....Dinda benar...mengembalikan Dinda kepada orang tuanya setelah ia merusak wanita itu bukan jalan yang sepenuhnya tepat.Semua tidak akan kembali seperti sedia kala.Adinda akan kembali menanggung beban baru nantinya.Beban yang mungkin justru akan membuat wanita itu semakin terpuruk.


Lalu ia harus bagaimana?mempertahankan Dinda?begitukah??Apa dia pantas?Adinda terlalu suci untuk Adrian yang kotor.Adinda terlalu baik untuk Adrian yang berlumuran dosa.Adrian merasa tidak pantas.Ia tidak pantas bersanding dengan Adinda.


Pelukan itu semakin mengerat.Adinda memeluk tubuh besar itu seolah ia tak mau lepas dari laki laki itu.Sedangkan Adrian pun sama,ia mendekap tubuh wanita yang telah berhasil memporak-porandakan pikiran seorang Adrian Tama yang kejam.Ia begitu lemah terhadap wanita itu.


Adrian melepaskan pelukan nya,ia menangkup wajah manis itu,lalu menatap matanya dalam.


"kamu tau.....kamu adalah wanita pertama yang bisa bikin aku kayak gini Din.Aku lemah saat bersama kamu Din..." ucapnya lembut


"aku minta maaf,aku bukan bermaksud membuang kamu...aku hanya ingin kamu nggak masuk ke kehidupan ku lebih jauh lagi.Dunia ku terlalu gelap sayang" ucapnya.


Adinda banjir lagi.....


"sekarang....aku menyerahkan semua keputusan sama kamu.Kamu mau tetap sama aku,atau menjauh dariku."


Adrian tersenyum,ia mengusap lelehan air mata yang seolah tak pernah kering itu.


"minta petunjuk sama Tuhanmu...aku nggak mau kamu terburu-buru mengambil mengambil keputusan yang nantinya hanya akan membuat kamu menyesal." ucapnya.


Adrian mengecup lembut kening Adinda.


"aku sayang kamu Din..." ucapnya.


Adrian tersenyum,ia kemudian pergi dari kamar itu meninggalkan Adinda yang masih mematung.Adinda merosot.Kenapa harus begini?kenapa ia harus merasakan perasaan ini pada orang yang jelas jelas harus ia benci.Adinda lemah....wanita belia itu seolah kehilangan arah.Harusnya ia tak begini.Harusnya ia bahagia lepas dari laki laki itu.Tapi kenapa jadi begini.Ia mulainmencintai laki laki itu.Laki laki bej*t yang sudah menghancurkan hidupnya.Benarkah perasaannya ini?patutkah ia mencintai laki laki itu.Mungkinkah mencintai Adrian adalah sebuah kesalahan?Entahlah.........


...----------------...


***GUT MORNING EPRIBADI.....


YOOKKKK RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR DENGAN PENDAPAT DAN UNEK UNEK KALIAN..


BANYAKIN LIKE VOTE & HADIAHNYA YOKKK...

__ADS_1


YOOKKK....SABI YOOOKKK....😘🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳***


__ADS_2