
Malam menjelang....
Di sebuah rumah sakit ...
Adinda masuk ke dalam ruangan ICU yang kini menjadi tempat bu Ela dirawat.Mata indahnya langsung terfokus pada sosok tinggi besar yang sedari tadi tak mengubah posisi duduknya sedari siang.Laki laki itu masih terlihat menangis sambil menciumi punggung tangan keriput milik wanita tua yang malang itu.Penampilannya sudaj acak acakan.Matanya sembab saking tak hentinya ia menaangis sedari tadi walaupun tanpa suara.
Adinda menghela nafas panjang,ia kemudian mendekati suaminya yang tengah terpuruk itu.
"mas..." ucapnya lembut sambil menyentuh pundak sang suami.
Adrian tak menjawab.
"makan dulu yuk....dari siang kamu belum makan..." ucap Dinda penuh kelembutan.
Adrian masih tak menjawab.
"mas...nanti kamu juga bisa sakit loh kalau kamu nggak makan....kita makan dulu yuk...aku udah beliin makanan..kita makan di luar ya...."
"mama gimana Din....dari tadi siang mama belum sadar sadar juga...." ucap Adrian.
Adinda menghela nafas,ia mengusap lembut rambut sang singa yang rapuh....
"kamu belum sholat kan?kita makan dulu....biar aku telfon mas Gunawan,biar dia bawain alat sholat kita kesini,trus kita sholat berjamaah disini." ucap Dinda begitu lembut.
"ibuk juga butuh doa mas...." ucap Dinda.
"bangun yukkk....kita makan dulu..." ucap Dinda lagi.
Adrian mengusap wajahnya.Ia menatap sendu ke arah sang istri lalu mengangguk.Adinda tersenyum manis.Mereka pun segera keluar dari ruangan tersebut menuju ke kursi tunggu dimana sudah ada satu kantong plastik berisi makanan yang Adinda belikan untuk suaminya.
Keduanya pun duduk di kursi tunggu.Dinda meraih ponselnya lalu mencari nama Gunawan disana.Dinda segera menyentuh tombol telepon yang ada di layar benda pipih tersebut.
"halo..." ucap Gunawan dari seberang sana.
"halo assalamu alaikum mas Gunawan..." jawab Dinda.
"wa alaikum salam nyonya..."
"mas...tolong bawain alat sholat,sama sekalian baju ganti buat aku sama mas Adri ya..."
"baik nyonya...akan segera saya bawakan..." ucap Gunawan
"ya udah makasih ya mas...assalamu alaikum" jawab Adinda.
"wa alaikum salam.."
Sambungan telepon terputus.
Adinda kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.Ditatapnya sang suami..lagi..hanya diam,tak bersuara dengan tatapan mata kosong.
Dinda meraih boxs yang ada di dalam.kantong plastik.
"mas...makan dulu ya...aki udah beliin makanan buat kamu" ucap Dinda lembut sambil membuka boxs tersebut dan menyendokkan makanan yang dipesannya itu lalu mengarahkannya ke mulut sang singa.
"aaa....makan dulu sayang..." ucapnya.
Adrian tak bereaksi.
"ayo dong mas makan dulu..." ucap Dinda.
Adrian menoleh...
"aku durhaka Din.." ucapnya lirih dengan mata yang mengembun.
Ya Allah....laki laki ini benar benar rapuh.
__ADS_1
Dinda menghela nafas panjang.Ia meletakkan makanannya lalu mendekati Adrian dan memeluk tubuh tegapnya.
Wanita itu menyandarkan kepala nya dipundak Adrian.
"mas....semua orang pernah melakukan dosa..." ucap Dinda.
"tolong kamu jangan seperti ini..."
"bangkit sayang....kita doain ibuk...jangan terus larut dalam penyesalan kamu mas..."
"kita bisa mulai semua dari awal...perbaiki sikap kamu sama ibuk kalau ibuk udah sadar nanti...jangan putus doain ibuk saat ini...minta pertolongan sama Allah semoga ibuk bisa cepet sembuh mas...." ucapnya.
"mama pasti sembuh kan Din?" tanya pria itu lagi.
Adinda menegakkan posisi duduknya.Ia menatap dalam pada sepasang netra hijau itu..
"insya Allah....." ucapnya.
"dah....jangan nangis terus dong....aku sedih loh mas....kamu makan dulu ya...aku suapin..." ucap Adinda.
Adrian mengangguk....
Wanita hamil itupun mulai menyuapi singanya yang tengah hancur itu dengan telaten.Baru dua suapan...tiba tiba...
"udah Din..."
"baru dikit mas...ini masih banyak...abisin dulu dong..."
"aku udah kenyang Din...aku harus jagain mama..."
"nggak...makan dulu...kamu bisa sakit kalau kayak gini..."
Dinda kembali menyodorkan sendok berisi makanan itu.
"aaa...buka mulut nya..."
"maaasss.....aku nggak mau kamu sakit....!" ucapnya.
"Dinda...mama sendirian..."
"Ya Allah mas...makan dulu sayang....ntar kita masuk lagi jagain mama lagi....makan dulu mas...perut kamu kosong dari tadi siang..." ucap Adinda.
Adrian hanya menurut.Ia kembali melahap makanannya.Tak butuh waktu lama,boxs makanan itu kosong pertanda Adrian sudah melahap habis semua isinya.Adrian bergegas kembali menuju ke ruang ICU,tiba tiba......
Gunawan datang dengan membawa tas ransel berisi alat solat dan beberapa pakaian ganti dan perlengkapan lainnya milik Dinda dan Adrian.
"selamat malam nyonya...tuan..." ucap Gunawan.
"malam mas..." jawab Adinda sopan.
"ini alat solat dan juga keperluan tuan dan nyonya yang lainnya." ucap Gunawan sambil menyerahkan sebuah ransel berukuran sedang untuk Dinda dan Adrian
"makasih banyak ya mas..."
"sama sama nyonya..."
"oh ya...Nabil gimana?" tanya Adinda lagi.
"Nona Nabila ada dirumah nyonya...bersama nona Naya dan nona Chika....seperti perintah nyonya tadi siang." ucap Gunawan pasti.
Adinda mengangguk.Ya....ia memang meminta tolong pada Naya dan Chika untuk tinggal di rumahnya beberapa waktu guna menemani Nabila sampai bu Ela kembali pulih.Bahkan ia juga meminta Naya untuk menemani Nabila outing class besok,mengingat saat ini ia dan suami sepertinya tak akan bisa menemani putri kecilnya itu lantaran harus menjaga sang ibu yang tengah terbaring koma.
"ya udah kalau gitu mas..makasih ya..." ucap Adinda sambil tersenyum
"sama sama nyonya...kalau begitu saya permisi dulu..." jawab Gunawan.
__ADS_1
Adinda mengangguk.Gunawan hendak pergi dari tempat itu...tiba tiba....
"tunggu!"
Suara yang terdengar dingin itu menggema membuat Gunawan reflek menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
Adrian bersuara dengan tatapan yang kini menajam lurus ke depan.Raut wajah sendunya tiba tiba hilang tak berbekas.
"ada apa tuan?"
"siapa yang harus bertanggung jawab atas ini semua?" tanyanya dingin
Gunawan menunduk.
"maafkan saya tuan..." ucapnya.
buuuggghhhhh.....
tinjuan sekuat tenaga mendarat di pipi Gunawan membuat laki laki itu jatuh tersungkur ke lantai.
"mas...!!" pekik Adinda.
Adrian hendak kembali melayangkan pukulan pada Gunawan,namun Adinda menahannya.Ia memeluk tubuh besar itu agar tak berlaku lebih pada Gunawan.
"mas...ini rumah sakit..!jangan bikin keributan disini"
"DIA NGGAK BECUS...!!!" ucap Adrian murka sambil menunjuk nunjuk wajah Gunawan yang kini mulai bangkit.
"saya benar benar minta maaf tuan...saya kecolongan..."
"tapi tuan jangan khawatir...saya sudah mengamankan pelaku nya...." ucap Gunawan membuat Adinda reflek menoleh ke arah Gunawan.
Adrian menajam...
"siapa?" tanyanya dengan suara dingin yang mengerikan.
"dia salah satu saudara dari gembong mafia yang berhasil anda jebloskan ke penjara tuan...dia juga yang beberapa bulan lalu mengirimkan potongan kepala an**ng pada keluarga tuan" ucap Gunawan.
"dimana dia?"
"sudah saya serahkan pada tuan Bram untuk dipidana tuan"
"GOB*OK...!!!" ucapnya sambil kembali mencoba menendang sang body guard namun ditahan oleh Dinda.
"harusnya kau bawa dia padaku bang***...!aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri...!!!!" ucap Adrian dengan emosi yang sudah meledak ledak.
"mas...istigfar...." ucapnya.
"maaf tuan...saya hanya menjalankan tugas yang seharusnya saya lakukan.Biarkan polisi yang memberikan hukuman yang setimpal...karena jika anda yang turun tangan sendiri,bisa dipastikan anda akan menjalani hukuman lebih lama lagi...karena status anda saat ini masih tahanan kota.." ucap Gunawan tegas.
Ya...Gunawan memang bodyguard yang Bram hadiahkan untuk Adrian bukan?tugas nya memang menjaga Adrian dan keluarga nya sepenuhnya.Dalam hal apapun...!
Adrian menjambak rambutnya sendiri.Ia frustasi..!lagi lagi orang terdekatnya ikut menanggung akibat dari dosa dosanya di masa lalu.
...----------------...
***SELAMAT PAGIIIIK.
PENEROR SUDAH TERTANGKAP OLEH MAS GUNAWAN...
APAKAH DIA ZEV?
YUKKK RAMAIKAN KOLOM KOMENNYA....
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAK SETELAH BACA YA...🥰🥰***