
Adinda dan Adrian saling menatap.....
Dinda pun membuka kertas tersebut,dan......
Sebuah kertas hasil ulangan matematika dengan nilai sembilan puluh lima.
Dinda dan Adrian mengernyitkan dahinya.Sedangkan Nabila melipat kedua lengannya di depan dadanya dengan bibir yang tak lepas mengulum senyum.Ada rasa bangga yang luar biasa disana bisa mendapatkan nilai hampir sempurna dari mata pelajaran yang paling tak ia sukai.
"ini hasil ulangan kamu Bil?sembilan lima?" tanya Adinda memastikan
Nabila mengangguk pasti.
"ini kamu sendiri yang ngerjain kan?kamu nggak nyontek kan?" tanya Dinda memastikan.Ia cukup sangsi dengan hasil ulangan putrinya itu,lantaran ia yang selalu mendampingi Nabila belajar,jadi ia tahu persis,sejauh mana kemampuan Nabil dalam mengerjakan tugas matematika.
"astagfirullah haladzim mamaaaa.....masa nggak percaya sama anak mama....Nabil itu udah berusaha dengan susah payah buat bisa dapat nilai sembilan lima...mama masih nggak percaya???" ucap Nabila dengan sok drama sambil mengelus dada dan menggelengkan kepalanya.
Adrian terkekeh mendengar celotehan putri kecilnya itu.
"papaaaaaaa....." ucap Nabila
"papa janjinya apa hayoooo...." ucap Nabila menggoda.
"gimana ya...." ucap Adrian nampak berfikir.
"tuuuhh....kaaaaannnn....papaaaaa.....Nabil udah belajar capek capek biar dapet nilai bagus....." ucap Nabila sambil menghentak hentakkan kakinya.
Adrian tergelak....
"iya....iya....hari minggu kita ke pantai...." ucap Adrian.
"yeeeeeeeyyyyyyy...!!!!" gadis kecil itu bersorak sorai saking bahagianya.Ia mendekati laki laki bertato itu lalu memeluk nya.
"makasih pa....."
"iya..udah....buruan makan dulu sana..." ucap Adrian.
"siap boss...!!!" ucap Nabila riang sambil tangannya memberikan hormat pada sang papa.
Nabila pun bergegas ke dapur untuk minta makan pada bu Ela.Sementara itu Adinda masih sibuk menatap lembar jawab yang Nabila berikan padanya.Wanita itu seolah masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"udah...nggak usah diliatin..." ucap Adrian.
"kamu udah makan siang belum...kita makan yuk..." ucapnya lagi.
Adinda melipat kertas tersebut lalu memasukkannya kedalam kantong celananya.
Keduanya pun bergegas menuju ke dapur mengikuti langkah sang putri.
Sampai di dapur....
Dilihatnya Naya Chika dan Joddy asyik ngobrol sambil menikmati snack yang Joddy bawakan.
Adrian kembali menatap tajam ke arah remaja putra yang nampak santai itu.Adrian duduk di meja makan yang ada di dapur ruko yang tak terlalu luas itu.Nabila pun tengah berada di sana menikmati suapan demi suapan yang bu Ela berikan padanya.
Adrian duduk,disusul Adinda yang juga menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu di samping Adrian.
"jangan di liatin terus mas....bisa bisa kamu naksir loh sama Joddy nanti" ucap Adinda sambil mengisikan nasi dan beberapa lauk pauk untuk suaminya itu.
Ruko itu memang seperti rumah kedua bagi keluarga Adrian.Bu Ela selalu memasak makanan di sana,untuk anak,menantu,cucu dan juga Naya-Chika.
Adrian menoleh ke arah Adinda.Dinda meletakkan piring di tangannya itu di depan Adrian.
"emang mereka udah lama pacarannya?" tanya Adrian
"mereka pacaran setelah adegan kamu mau ngehajar dia di angkringan..." ucap Adinda sambil menatap ke arah sang suami.
Adrian kembali menoleh ke arah tiga anak muda yang sedang asyik berbincang itu.
__ADS_1
"Naya...Chika..Joddy....sekalian makan siang dulu yuk..." ucap Adinda.
Chika menoleh ke arah Joddy.
"kita pengen makan di luar Din....bentar lagi,lagi nungguin bang Marco..." ucap Joddy.
"ohh....double date nih ceritanya...."
"enggak...." sahut Naya sambil mengunyah snack di mulutnya.
"cuma makan siang aja Din...." imbuhnya.
Adinda hanya tersenyum.Masih aja malu malu si Naya..
Ia kembali menoleh ke arah Adrian.
"udah...buruan makan mas..." ucapnya.
Adrian pun meraih piring nya.
"tante Naya...tante Chika...om Joddy....hari minggu aku mau ke pantai dong sama papa sama mama..." ucap Nabila pamer.
"oh...ya....?waaahh...asyik dong.." sahut Naya menanggapi
"tante...tante sama om ikut ya..." ucap Nabila lagi sambil kembali mengunyah makanan nya
"nenek juga....ya nek ya...." ucap Nabila.
Bu Ela tersenyum.
"nenek udah tua Bil....nenek dirumah aja...." jawabnya sambil kembali menyuapi Nabila.
"nggak apa apa kok nek...nenek kan nggak pernah jalan jalan...ya nek ya...." ucap Nabila.
"iya buk...ikut aja....dari pada ibuk dirumah sendiri...."imbuh Dinda.
"iya dong...papa pasti akan lebih seneng kalau nenek ikut....iya kan papa..?" tanya Adinda sambil menyentuh pundak Adrian dan memberikan senyuman termanisnya pada sang suami.
Adrian yang sedari tadi diam pun masih tak bereaksi.
"papaaaa....." ucap Dinda lembut sambil mendekatkan wajahnya pada Adrian.
Adrian masih tak bereaksi.
"paaaa..." ucapnya lagi dan semakin mendekat membuat Adrian kesulitan menyendok makanan nya lantaran wajah Dinda yang begitu dekat dengan wajahnya bahkan hampir menempel
"terserah" jawab Adrian dingin sambil mendorong wajah Adinda menjauh dari wajahnya.
"yeeeyyyyy.....nenek ikut ke pantai...!!!!" sorak Nabila girang.
Adinda menggeliat di samping Adrian dengan senyuman yanb dibuat semakin manis.
"makasih papa...." ucapnya manja.
Adrian melirik sekilas.Ia kembali melanjutkan makannya tanpa berucap sepatah katapun.
...****************...
Di tempat lain....
Disebuah desa di pesisir pantai....
Disebuah rumah yang tak terlalu mewah,namun cukup mentereng di antara rumah lain.
Suasana duka menyelimuti sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal seorang duda kaya yang memiliki sawah berhektar hektar di desa itu
Pagi tadi,sang duda ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan dekat area persawahannya dengan luka sayatan di leher dan kedua bola mata yang terlepas dari tempat yang semestinya.Selain itu,uang dan beberapa benda berharga milik sang duda juga raib entah kemana.Polisi yang datang ke tempat kejadian menyimpulkan bahwa sang duda adalah korban perampokan.Namun siapa pelakunya belum bisa dipastikan,tak ada yang tahu.Tak ada tanda tanda tentang identitas pelaku pembunuhan yang terbilang sadis itu.
__ADS_1
Namun lagi lagi,polisi menemukan sebuah gambar berbentuk mirip kepala serigala yang dilukis dengan darah di sisi belakang mobil duda tersebut.Sebuah gambar yang sama dengan gambar yang ditemukan saat kejadian beberapa waktu lalu digubug tua di desa itu juga.
Polisi menyimpulkan,pelaku adalah orang yang sama.Dan kemungkinan,bukanlah orang yang jauh dari desa tersebut,atau mungkin,justru warga dari desa itu sendiri.
Hal ini menyebabkan para warga desa menjadi ketakutan.Desa mereka kini menjadi mencekam.Seolah teror pembunuhan sadis tengah mengintai desa mereka.
Dari puluhan pelayat yang datang,nampak di sana pak Herman yang baru saja pulanv dari rumah duka bersama beberapa pelayat lain nya.Sekitar sepuluh menit perjalanan dengan berjalan kaki,pria itu sampai di rumah gubugnya.
Seperti biasa,gubug tersebut selalu terlihat sepi.Pak Herman mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang berada di depan rumah.Ia melepas peci hitamnya,dan mengipaskan benda penutup kepala tersebut ringan guna memberikan efek sejuk pada wajahnya.Hari ini cuaca cukup panas,berjalan sebentar saja sudah membuat keringatnya mengucur cukup deras.
Untuk beberapa saat pak Herman nampak terdiam.Dua peristiwa pembunuhan di desa itu dalam kurun waktu yang hampir berdekatan kembali menari nari di pikirannya.Sebenarnya siapa pembunuh itu.Kenapa kejam sekali?dan kenapa selalu ada gambar kepala serigala dalam setiap kejadian pembunuhan tersebut.
Pak Herman nampak larut dalam lamunannya,hingga....
Pak Herman tersadar.Kenapa sepi sekali?Dimana Zev?
Laki laki paruh baya itu berjalan terseok seok menuju kamarnya.Ia membuka tirai yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan satu satunya kamar yang ada di rumah tersebut.
Kosong....
tak ada orang....
Dimana Zev?apa dia sekolah?
Ya....satu lagi pertanyaan besar yang pak Herman tak bisa pecahkan.Zev tiba tiba ingin sekolah.Dan bocah itu bahkan dengan percaya diri pergi ke sekolah dan mendaftarkan dirinya sendiri.Pernah beberapa kali pak Herman bertanya,dapat uang dari mana ia untuk membeli peralatan sekolah.Tapi remaja itu tak pernah mau menjawab.
Pak Herman menoleh ke kanan dan kiri.Sepi..
Seoertinya Zev masih disekolah.Mungkin ini saat yang tepat untuk ia mencoba mencark tahu tentang remaja misterius itu.
Pak Herman mendekati sebuah rak kecil tempat Zev menyimpan buku bukunya.Ia mengobrak abrik rak tersebut.Barang kali ada sesuatu yang bisa menjelaskan,siapa sebenarnya remaja 'aneh' itu.
Tak ada apapun....
Hanya buku buku pelajaran seperti selayaknya seorang pelajar yang ada disana.
Pak Herman lantas beralih mengangkat bantal dan guling yang ada di atas kasur.
Masih tak menemukan apapun.
Belum menyerah,
Ia lantas meraih kasur lusuh itu dan membalikkan ujungnya.
degghhhh....
.
.
.
.
pak Herman memegangi daddanya.Jantungnya berdetak lebih cepat.
Uang kertas pecahan dolar dan rupiah berhamburan bak sampah yang tak berguna di bawah kasur itu.Pak.Herman gemetar.Dapat darimana.Zev uanv sebanyak itu?
Laki laki itu lemas,badannya seolah tak mampu untuk bangkit saking terkejutnya.Ia meringsut mundur,menyandarkan tubuhnya di dinding anyaman bambu disana.Matanya menatap nyalang ke arah puluhan lembar uang yang nampak berserakan disana.
"siapa bocah itu sebenarnya?" gumamnya.
...----------------...
YUUUKKK...
LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA YUUUKKK...🥰🥰🥰
__ADS_1