Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
168


__ADS_3

Agenda main di pantai berlanjut.


Kini rombongan itu tengah menikmati makan siang mereka yang dibawakan oleh bu Ela.Di atas tikar yang digelar di atas pasir putih...mereka larut dalam suasana makan siang yang hangat dan penuh kekeluargaan.


Adrian duduk di samping Adinda yang memangku Nabila.Dengan satu piring nasi berporsi kuli yang menggunung,laki laki itu terlihat sibuk menyuapi kedua bidadari tersayangnya dan juga dirinya sendiri secara bergantian.Sambil bercerita kesana kemari Adinda dan Nabila terlihat begitu antusias menerima suapan demi suapan dari laki laki tampan itu membuat dua pasangan yang belum halal disana hanya bisa menatap iri juga baper.


"pa...ma...tau nggak...tadi Nabil ketemu orang..." ucap Nabila.


"orang siapa?" tanya Adrian sambil mengarahkan satu suapan nasi ke mulut Adinda.Wanita itupun menerimanya.


"Nabil nggak kenal pa...tapi dia tadi disanaa" ucap Nabila sambil menunjuk batang pohon kelapa tempat dimana ia bertemu remaja misterius tadi.


Adrian mendengarkan cerita dari sang putri dengan seksama.


"tapi orangnya diem terus pa...nggak mau ngomong...trus matanya serem...kayak mata papa..tapi lebih serem mata dia..." ucapnya.


Adrian hanya tersenyum sambil kembali menyuapi gadis kecil itu.


"emang mata papa nyeremin Bil?" tanya Adrian.


"nggak nyadar kamu mas?" tanya Dinda enteng.


Laki laki itu tergelak


"tapi lebih serem yang tadi ma...tapi Nabil nggak takut sih..." ucap gadis kecil itu lagi.


"mungkin warga sini.." ucapnya


Nabila mengangguk.


"kayaknya dia nggak bisa ngomong deh pa....soalnya Nabil tanya diem terus...nggak dijawab..."


"orang dewasa apa anak kecil?"


"eeemmm...kayaknya...anak SMP kalau nggak SMA pa...soalnya badannya tinggi.." ucap Nabila menerka nerka.


Adrian hanya mengangguk.Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka hingga tandas.


Setelah selesai....


"papa main voli yukkk....." rengek Nabila.


"om Joddy...om Marco....main voli yokk..."


Joddy menoleh ke arah Nabila.


"siapa?" tanyanya.


"aku sama papa....lawan om Marco sama om Joddy.."


"ah...elah....bocil ngeyel banget..!maen pasir pasiran aja sono" ucap Joddy.


"ye....aku bisa tauk..." ucapnya.


"kena bola paling juga nangis..." ucap Joddy.


"enggak... !!" ucap Nabila membantah.


"ayo pa....main pa..." rengek Nabila lagi.


"om Joddy sama om Marco berani nggak?" tanya Adrian.


"kalo om Marco pasti berani...kalo om Joddy nggak tau...takut kalik...takut tangan nya pegel pegel..." ucap Nabila cekikikan menggoda laki laki itu.Tak ada Rio kini Joddy yang jadi sasaran kejahilan Nabila.


"apaan sih lo bocah...ayok buruan...ngeselin banget lo jadi bocah...!" ucap Joddy.


Marco menggelengkan kepalanya melihat Joddy yang terlihat begitu gampang terpancing emosi nya oleh ucapan Nabila.


Nabila tak henti cekikikan.Ketiga pria dewasa dan Nabila pun bangkit bergegas untuk melakukan voli pantai.


Voli pantaipun dimulai.Nabila satu tim dengan Adrian,sedangkan Marco satu tim dengan adiknya,Joddy.


Sementara para pria itu sibuk main voli,para wanita disana sibuk melakukan vidio call dengan satu satunya sahabat mereka yang jauh dari mereka.Putri


Ya...mereka sebenarnya sangat merindukan sahabatnya yang paling nyeleneh itu,tapi mau bagaimana lagi,Putri memutuskan untuk kuliah di kota M.Mau tak mau mereka kini harus berjauhan.Namun terpisah jarak bukan berarti mereka tak pernah berhubungan.Hampir tiap malam ke empat sahabat karib itu melakukan panggilan video.Dan tak tanggung tanggung.Kalau ngobrol bisa sampai dua hingga tiga jam.Entahlah...apa yang di obrolin.


Tanpa mereka sadari,namun masih dapat Adrian rasakan.Sepasang mata serigala tak lepas menatap bengis ke arah para pengunjung pantai itu.Namun fokus utamanya adalah laki laki berbadan tegap yang tangah bermain bola voli dalam kondisi bertelanjang dada disana.Amarahnya benar benar memuncak.Beberapa ide licik nan membahayakan sudah ia siapkan untuk memberikan pemanasan atas balas dendamnya yang ia rencanakan akan panjang.Mungkin raja iblis tengah berbaik hati padanya hari ini.Mempertemukannya dengan mangsa yang selalu menari nari dipikirannya.


Mereka datang ke kandangnya.Zev yakin....hari ini,ia akan mendapatkan darah salah satu dari mereka.Ya...dia benci mereka.Otak kriminal warisan orang tuanya serta semua kisah yang sudah ia dengar tentang laki laki bernama Adrian itu sudah cukup membentuk dan menanamkan kebencian yang membuncah dalam diri remaja tiga belas tahun yang sebenarnya belum menemukan jati dirinya itu.Namun didikan dan doktrin keluarga nya lah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.Bengis,penuh misteri dan tak terkendali.


"kalian datang untuk mati" ucapnya.


......................


sementara itu kembali ke voli pantai....


Adrian kembali menghentikan pergerakannya,


ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah.Entahlah..sedari tadi ia merasa ada yang tak beres.Jiwa penjahat dan mafianya seolah menggelitik.Ia merasa ada yang mengawasi mereka.Tapi siapa?dimana?

__ADS_1


"papa....!!!!"


buuggghhhh.....


Sebuah bola mendarat di pipi Adrian membuat laki laki yang setengah melamun itu tak siap hingga jatuh tersungkur ke pasir.


Joddy tertawa.Pukulan dari tangannya beehasil mengenai wajah berjambang tipis milik Adrian


"haahaha....wooee...!maen wooeee...!bengong mulu sih lo..!" ucapnya.


"papa...!papa kenapa sih...main voli malah bengong..!!" ucap Nabila.


Adrian bangkit.Ia meraih bola di atas pasir itu lalu menatap tak suka ke arah Joddy.Dengan satu gerakan


buugghhh....


"anj**t..!!" pekik Joddy saat bola mental terkena tubuhnya.


"maksud lo apa?!" ucap Joddy kesal.Ia melempar kembali bola itu ke arah Adrian dengan kesal.Untungnya laki laki itu berhasil mengelak,sehingga benda bulat itu tak kembali mengenai tubuhnya


Marco menggaruk garuk kepala belakang nya yang tak gatal.Sudahlah....dua laki laki itu sudah seperti tom and jerry sekarang.


"maksud lo sendiri apa ngelempar bola se enak jidat pas gue belum siap..?!" ucap Adrian tak mau kalah.


"salah lo sendiri...ngapain bengong..udah tau lagi maen voli..!"


"lo dari tadi nyari gara gara mulu ya...!" ucap Adrian kesal.


Ia kembali meraih bola voli itu lalu dengan pukulan sekuat tenaga ia melakukan passing ke arah Joddy.Joddy yang belum siap pun dibuat gelagapan.Namun beruntung,masih dapat mengimbangi pukulan Adrian.


Aksi saling serang dengan media bola voli pun berlangsung sengit.


Nabila bersungut.Main bola volinya berakhir gagal dengan aksi ke kanak kanak kan sang papa dan om Joddy.


Marco terkekeh.Dah lah....kayak bocah semua.


Laki laki berkulit putih itu kemudian meraih tangan Nabila mengajak gadis kecil itu untuk menyingkir dari sana.


"ikut mama aja yukk...." ucap Marco.


Nabila mengangguk.


Ia kemudian bergegas menuju ke karpet tempat para wanita wanita duduk di sana.


Adinda yang telah menyudahi video callnya dengan Putri itu tersenyum.


"nggak jadi voli nak?"


Adinda mengarahkan pandangannya ke arah dua laki laki yang terlibat permainan sengit disana.Dari wajah dan pergerakannya terlihat jelas raut wajah kesal bercampur dendam di sanaa.


Adinda menghela nafas panjang.Dahlah....biarin aja....ntar kalo capek juga berhenti sendiri.


Adinda bangkit.


"mau kemana ma?" tanya Nabila.


"mama mau ke warung di seberang jalan itu nak...mau beli shampo...kamu lupa nggak bawa kan?mama cek di tas tadi nggak ada.." ucapnya.


Nabila menepuk jidatnya.


"oh iya....lupa ma..." ucapnya.


Adinda tersenyum,


"kamu tunggu disini ya...." ucap nya.


"ikut ma..."


"ya udah ayok...." jawabnya.


"aku juga ikut Din.....ada yang mau aku beli" ucap Naya.


Ketiga wanita itupun bergegas menuju sebuah warung kecil yang ada di seberang jalan berbatu di sana.


Nabila yang berjalan di belakang Naya dan Dinda nampak mengedarkan pandangannya menikmati pemandangan desa di pesisir pantai yang masih terlihat asri itu.


Saat hendak menyebrang....


Tiba tiba....


"MAMA...!!!AWAS....!!!"


...


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


weerrrrr.....


bugghhhh.....


aaakkkkhhhh......


Sebuah motor melesat kencang secara tiba tiba.Nabila berlari,ia menarik tubuh mama dan tantenya sekuat tenaga membuat ketiga wanita itu terjatuh.


"DINDA....!!!"


"NAYA...!!"


"YA ALLAH....KENAPA ITU..!!!"


Adrian dan semua yang berada di tepi pantai berlari mendekati tiga wanita yang nampak tersungkur di tepi jalan itu.


Nabila bangkit.Ia mendekati sang mama.


"mama...!!mama nggak apa apa kan?" tanya Nabila panik.


"tante Naya...!tante Naya nggak apa apa kan...?!"


Adrian yang baru datang itu duduk berjongkook di hadapan Adinda.


"Dinda...!kamu nggak apa apa?" tanya Adrian khawatir.


"nggak...nggak apa apa mas..." ucap Adinda


"perut kamu sakit nggak?" tanya Adrian lagi.Nampak jelas raut wajah panik pada diri laki laki itu.


"enggak... nggak apa apa kok" ucapnya.


"aku bantu berdiri sayang..." ucapnya.


Adrian pun membantu memapah tubuh ramping itu untuk bangkit.


Sementara itu,


Marco menatap pergelangan tangan Naya yang nampak berdarah lantaran terkena sayatan ujung kayu lapuk yang teronggok tak jauh dari tempat wanita itu jatuh.Namun laki laki itu tak berani menyentuh kulit mulus wanita muslimah itu.


"tangan kamu Nay..." ucapnya.


Naya hanya menunduk.


"nggak apa apa kok mas..."


"ada yang sakit?"


"nggak ada mas..."


"bisa berdiri nggak?"


"bisa mas..." ucapnya.


Naya susah payah mencoba bangkit,namun lututnya terasa perih,lantaran juga ada lecet di sana.Marco mendongak ke arah Chika yang berdiri tak jauh dari nya.


"Chik...bisa minta tolong bantuin Naya nggak?" ucapnya.Sungguh...ia selalu berusaha menghargai wanita se suci Naya.Ia tak akan seinchi pun menyentuh kuliy wanita solehah itu sebelum ia berhasil menjadikan putri pak ustadz tersebut sebagai kekasih halalnya.


Chika mendekat.Ia meraih tubuh Naya dan membantu sahabatnya itu untuk berdiri.


"kalian duduk di sana lagi deh...aku beliin plester" ucap Marco meminta rombongan itu untuk kembali duduk ke tikar mereka.


Semuapun menurut.Sedangkan Marco bergegas menuju warung di seberang jalan untuk membelikan plester untuk Naya dan Dinda.


Nabila pun bergegas mengikuti langkah kedua orang tuanya menuju tikar mereka.Namun tiba tiba....


mata indahnya tak sengaja menangkap sosok yang ia kenali berdiri di antara rimbunnya pohon kelapa tak jauh dari tempat nya berdiri.Tatapan matanya tajam tanpa ekspresi tertuju ke arah nya dan keluarga berdiri.


Nabila menyipitkan matanya.


"itu kan kakak tadi" gumamnya.


Jiwa kepo bocah kecil itu meronta ronta.Pria itu cukup misterius.Ia setengah berlari mendekati remaja itu.Namun saat itu juga remaja itu bergegas meninggalkan tempatnya berdiri dengan langkah tenang.


"kak...tunggu..." ucapnya.


Namun remaja itu tak menjawab.


Nabila menghentikan laju kakinya.Remaja itu sudah menghilang.Entah kemana....cepat sekali pergerakannya.


...----------------...

__ADS_1


YUUUKKKK....DI TUNGGU LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA....🥰🥰🥰


__ADS_2