
Malam menjelang....
Di ruang tamu gubug itu.Adinda menatap kartu ATM yang ada di tangannya.Kartu pemberian Adrian berisi saldo berjumlah fantastis itu tiba tiba tidak bisa digunakan saat ia hendak menarik uang tadi siang.
Sepertinya memang semua aset Adrian sudah disita oleh negara,termasuk pembekuan semua kartu kredit milik laki laki itu.Adinda menghela nafas panjang.Uang di dompet tinggal sedikit.Sedangkan ia butuh biaya tak sedikit untuk membayar biaya rumah sakit ibunya.Belum lagi kebutuhan sehari hari.Selain itu,ia juga harus mulai memikirkan sekolah Nabila.Sudah terlalu lama gadis itu berhenti sekolah.
Ingatan Adinda kembali melayang layang mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.Saat ia membicarakan tentang rencana kehidupan mereka kedepannya setelah mendapatkan restu dari bu Lastri.Menyekolahkan Nabila di sekolah elite,ia akan melanjutkan kuliah di kampus terbaik,menunda kehamilan hingga ia berhasil mencapai cita citanya.Sebuah angan angan yang indah yang sudah Adrian persiapkan untuknya dan Nabila.
Namun lagi lagi,manusia hanya bisa berencana,Allah yang menentukan.Dalam sekejab mata keadaan berubah seratus delapan puluh derajat.Adrian dipenjara,restu semakin menjauh,ibunya masuk rumah sakit,ia diusir,dan kini semua aset kekayaannya di sita.
Lenyap sudah semua angan angan indah itu.Semua tinggal kenangan.Kini Dinda harus berjuang lebih dan lebih keras lagi.Ia harus menjadi ibu sekaligus ayah untuk Nabila.Menjadi tulang punggung untuk gadis kecil itu dan juga mertuanya yang sudah tua.
Adinda harus memperkuat bahunya.Memperkuat mentalnya.Ia tak boleh lemah.Nasib Nabila sang yatim piatu yang kini menjadi anaknya itu ada ditangannya.
Adinda meraih ponselnya.Ia membuka galeri ponsel tersebut.Nampaklah foto foto dan vidio vidio kebersamaan nya dengan suami dan anaknya yang sempat terekam kamera ponsel.Adinda tersenyum,ia menggeser geser layar ponsel tersebut.
Indah sekali hidupnya dulu.Awal mula pertemuan yang memilukan berakhir dengan rasa cinta yang manis.Adinda membuka beberapa vidio kebersamaan mereka.Tawa getir terbentuk dari bibirnya.Sungguh,ia sangat merindukan laki laki itu.Biasanya jam segini mereka masih asyik bercengkrama dan bercanda.Tapi kini semua terasa sepi.Mereka harus terpisah untuk sementara waktu.
...****************...
Di tempat lain.....
Laki laki itu duduk menyandarkan tubuhnya di sofa panjang ruang keluarga rumahnya sambil menatap tajam ke arah adik laki lakinya yang terduduk menunduk di sofa lain di hadapannya.Marco sekuat tenaga menahan emosiny agar tak meledak menghadapi adik satu satunya yang sok tau itu.
"ceritain...apa tujuan lo ngelaporin Adrian?" tanyanya dingin.
Joddy meremas jari jari tangannya.Marco adalah satu satunya keluarganya setelah kedua orang tuanya meninggal.Ia sangat menyayangi laki laki itu.Ia selalu ciut jika sudah berhadapan dengan laki laki dua puluh lima tahun tersebut.
Joddy terus menunduk.
"Joddy gue nanya sama lo" ucap Marco dengan gigi mengetat.
"gu...gue pengen bebasin Dinda bang" ucapnya terbata bata.
Marco menarik nafas panjang.
"dan lo berhasil?Dinda bebas?dia bahagia?" tanyanya lagi.
Joddy semakin menunduk.
"napa diem?jawab!"
"so...sorry bang"
"napa lo minta maaf?pahlawan kok minta maaf...!udah dapet apa lo dari aksi jagoan lo?dapet penghargaa?piala??dapet apa?!!" ucap Marco lagi dengan emosi yang mulai naik.
Joddy sudah tak berani menjawab.
Marco bangkit.Ia mendekati adiknya itu dan berdiri dengan melipat kedua lengannya di depan dada tepat di hadapan Joddy.
__ADS_1
"sekarang jawab....dapet info dari mana lo tentang Adrian?"
Joddy semakin berkeringat dingin.Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia dapat info dari Sheila.Bisa mati dicincang dia sama Marco.
"Joddy..!" ucap Marco mulai ngegas.
"gue...nyelidikin sendiri bang" ucap Joddy terbata bata.
Marco mengangkat dagunya.
"Adrian bukan orang sembarangan...gue nggak yakin lo bisa ngelacak dia cuma dengan cara cara amatiran lo" ucap Marco.
Joddy semakin di buat panik.
"jangan bohong ama gue!gue nggak suka"
"gue nggak bohong bang..." ucap Joddy terlihat serius.
Marco seolah masih ragu dengan pengakuan adik kandungnya itu.Ia merasa tak kan semudah itu untuk membongkar kejahatan Adrian yang begitu besar.
"dimana alamat Dinda?" tanya Marco masih dengan mode dingin.
Joddy mendongak ke arah sang kakak.
"abang mau ngapain?"
"tapi maksud gue nggak gitu bang..!niat gue pengen nolongin dia..!"
"makanya gue berkali kali bilang sama lo jangan ikut campur...!!!gue tau lo peduli sama Dinda tapi dia udah punya keluarga..!itu bukan hak lo buat ngurusin urusan rumah tangga dia Jodddyy...!!!" ucap Marco ngegas dengan emosi yang mulai naik.
"lu nggak punya hak ikut campur urusan dia...!dia istri orang..!!kalau emang dia datang ke kita dan minta bantuan sama kita...kita bantuin...kalau nggak ya nggak usah...!!"
Marco menarik nafas panjang.Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"kasih alamat Dinda sekarang" ucapnya lagi.
"bang..."
"KASIH..!!" bentaknya membuat Joddy semakin ciut.
Joddy mengambil kertas di atas meja dan menulis alamat lengkap Dinda lalu menyerahkan nya kepada Marco.Marco pun pergi dengan perasaan dongkolnya.
Joddy menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang itu.Kenapa jadi begini sih,ini tidak sesuai dengan ekspektasi Joddy.
Joddy dibuat pusing dengan keadaan yang jadi rumit ini.Tiba tiba....
*tingg....
1 pesan masuk..
__ADS_1
dari nomor yang tidak dikenal.
"gue udah booking kamar untuk kita besok.Jangan lupa datang" tulisnya*.
"an**it...!!maunya apa sih nih cewek?!" umpat Joddy.
Remaja itu segera memencet tombol telfon yang ada di layar ponsel tersebut.
tuutt....tuutt...
"hay baby..." ucap Sheila manja dari seberang sana.
"mau lo apa?urusan di antara kita udah selesai ya..!gue udah nggak ada urusan lagi sama lo" ucap Joddy kesal.
Sheila tertawa sinis.
"selama gue masih menginginkan lo...itu artinya kita masih ada urusan....urusan ranjang" ucapnya dengan nada nakal.
"najis..!!jangan mimpi lo..!gue udah nggak mau ketemu lo lagi..!jadi jangan telfon telfon gue lagi..!"
"okee...gue nggak akan telfon lo lagi....tapi jangan kaget ya...kalau besok lo akan lihat foto foto kita di mading sekolah lo...di akun gosip....dan....di hp abang lo..Marco" ucap Sheila mengancam.
Mati lu Jod....matiiiii...!!!
Joddy mengepalkan tangannya.
"bangs** ...!!lu jangan macem macem an**ng..!!" ucap Joddy dengan gigi yang mengetat.
Sheila tertawa terbahak bahak di seberang sana.
"gue juga model kalau lo lupa baby....jadi jangan macem macem...hidup lo ada di tangan gue sekarang...!" ucap Sheila kemudian mematikan sambungan telfonnya.
"aaaakkkhhhh....!!!"
Joddy menarik rambutnya frustasi.
Dia terjebak dalam permainannya sendiri.Habis kau Jodd...!!
visual Sheila
...----------------...
***NUNGGUIN LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK NIH...
VOTE DAN HADIAHNYA JUGAAAA🥰🥰🥰🥰🥰***
__ADS_1