Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
95


__ADS_3

Mentari mulai memancarkan sinarnya.Adinda sudah selesai dengan aktifitas memasaknya,bahkan saat Nabila masih terlelap tidur di kamar.


Bu Ela keluar dari kamarnya menujubke dapur....


"kamu udah masak Din?" tanya Bu Ela.


Adinda tersenyum.


"udah buk...ibuk mau sarapan?" tanya Adinda.


"ndak...ibuk belum lapar." ucap Bu Ela.Ia kemudian duduk di sebuah dipan kayu yang sudah usang.


"buk....Dinda boleh minta tolong nggak?"


"minta tolong apa ndok?"


"Dinda hari ini rencananya mau beli oven.Cari yang murah murahan lah buk.Ibuk kan jago bikin kue...ibuk ajarin Dinda ya..Dinda pengen jualan" ucap Adinda.


"kamu mau jualan kue?" tanya Bu Ela memperjelas.


Adinda mengangguk.


"semua kartu kredit mas Adri udah nggak bisa dipakai buk.Sedangkan kita juga butuh biaya hidup kan" ucap Adinda sambil mendudukkan diri di samping bu Ela.


"kebetulan Dinda masih punya sedikit pegangan...bisalah buat modal jualan..."


Bu Ela menatap sendu kearah menantunya itu.


"yang sabar Din...ini semua ujian untuk kalian" ucap Bu Ela.


Adinda hanya tersenyum.


"Dinda ikhlas kok buk...Dinda percaya ini semua pasti akan segera berakhir." ucapnya.


Bu Ela tersenyum.


"Adrian beruntung memiliki kamu" ucap Bu Ela.


"ya udah...kalau gitu sekarang kamu mandi terus berangkat...Nabila biar nanti sama ibuk....nanti ibuk ajarin kamu bikin kue.." ucap Bu Ela.


"Dinda masih mau nyuci buk"


"ndak usah...biar ibuk aja...kamu kalau mau cari oven mending berangkat sekarang...biar nggak kesiangan.Nanti biar kamu juga bisa jengukin Adrian" ucap Bu Ela.


Adinda tersenyum.


"makasih buk...kalau begitu Dinda mandi dulu" ucapnya.


Bu Ela hanya mengangguk.


Adinda bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti di dalam kamarnya kemudian ke belakang rumah,menuju ke sebuah sumur timba yang berada di belakang gubug itu.Adinda dengan tubuh mungilnya pun mulai mengerek timba yang untungnya tak terlalu berat itu.Dengan susah payah hanya untuk sekedar mandi.Ia menimba se ember demi se ember air dari dalam sumur yang cukup dalam tersebut.


Setelah bak mandi terisi penuh,dan cukup untuk mandi tiga orang nantinya,,Adinda segera masuk ke dalam bilik berdinding anyaman rotan itu untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Adinda pun keluar dari bilik tersebut dengan baju yang sudah melekat sempurna.Sedangkan handuk ia gunakan untuk mengeringkan rambut basah nya.


Adinda harus terbiasa dengan hidupnya yang semakin keras.Tinggal di rumah yang sebenarnya tak layak.


...****************...


Sementara itu ditempat lain.....


Adrian dan para tahanan lain tengah bersiap untuk mandi.Kamar mandi tahanan yang hanya ada empat ruang disana dan digunakan oleh puluhan tahanan membuat para narapidana itu harus rela antri menunggu hanya untuk sekedar membersihkan diri.


Tak terkecuali Adrian.Pria itu ikut berbaris menunggu giliran untuk mandi.Dengan gayung berisi peralatan mandi di tangan dan handuk di bahu kokohnya,laki laki tampan tersebut berbaur dengan tahanan lain disana.


"duit" ucap seorang laki laki berbadan besar dengan tato di sekujur tubuhnya pada Adrian saat suami Adinda itu hendak masuk ke dalam ruang kamar mandi.


Adrian menghentikan langkahnya,ia menatap tangan berkulit gelap yang menengadah minta uang itu.


Pria bernama Baron itu menatap bengis ke arah Adrian yang tak bergeming bahkan terkesan menyepelekannya.


" bud*k lu?!mana duit lu...!!" ucap Baron.


"nggak ada" ucap Adrian tenang.


Baron mendekatkan tubuhnya ke tubuh Adrian.


"lalu lo mau bayar pakai apa?" ucapnya dengan tatapan menantang.


Adrian tersenyum sinis.Ternyata dia adalah napi yang sok berkuasa di sini.Sok kuat dan sok hebat.Merasa jadi yang paling disegani di antara napi yang lain.


"siapa lo minta bayaran?" tanya Adrian dengan wajah yang masih tenang.


"lu nggak tau siapa gue?!" tanya Baron dengan wajah garangnya.


Adrian tetap tenang sambil mengeluarkan senyum sinis nya.


"anak baru jangan sok lu disini...ini wilayah kekuasaan gue...!!" ucap Baron lagi.


Adrian menghempaskan tangan Baron.


"sorry....gue nggak punya duit" ucap Adrian kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


Baron menatap punggung kekar yang melangkah ke dalam kamar mandi itu dengan tatapan bengis.Berani sekali anak baru itu mengacuhkannya..!


Adrian memulai aktifitas mandinya.Melucuti bajunya,membasahi tubuh kekar bertatonya dengan air dan membersihkan dengan sabun.


Adrian menghentikan pergerakan nya.Telinganya menajam,ia merasa ada mata yang mengamati pergerakannya di dalam kamar mandi.


"****.." umpatnya.


Adrian segera menyiram tubuhnya dengan air.Ia sadar betul dimana ia sekarang.Sel pesakitan yang dihuni oleh para pria pendosa dengan segala tindak kejahatan nya dimasa lalu.


Mendekam di penjara dalam waktu yang tidak sebentar,bahkan ada yang seumur hidup membuat para pria dewasa itu tidak bisa menyalurkan hasrat kelelakiannya dengan bebas.Bagi yang kuat iman,mungkin mereka bisa menahan,atau paling tidak hanya melakukan pelepasan sendiri dengan lima jarinya.Namun bagi mereka yang berotak binatang..


tak ada betina jantan pun jadi...

__ADS_1


Adrian tak mau mengambil resiko.Tubuhnya yang atletis,pembawaannya yang cool dan parasnya yang tampan membuat siapa pun pasti terpesona pada laki laki itu.Tak terkecuali para laki laki yang haus belaian di rutan itu.


Adrian selesai mengenakan baju tahanannya,ia kemudian membuka pintu dan bergegas untuk keluar kamar mandi,namun....


empat orang pria berbadan tegap berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tatapan tajam menatap ke arah Adrian.


Suami Adinda itupun berdiri dengan gagahnya dan masih dengan sikap yang tenang.


"jadi ini...anak baru yang nggak bisa setor uang keamanan itu?" ucap seorang pria berbadan besar,berkulit gelap dan dipenuhi tato disekujur tubuhnya itu.


Pria bernama Dorman,napi kasus pembunuhan berantai dan pemer**saan yang dipidana seumur hidup itu menatap bengis ke arah pria tampan berkulit putih itu.


Dorman mendekati Adrian,ia mengangkat kaos oren yang melekat di tubuh Adrian hingga memperlihatkan bongkahan roti sobek yang terbentuk sempurna pada perut laki laki dua puluh delapan tahun itu.


Dorman tersenyum sinis mendapati pemandangan indah yang di hiasi beberapa tato pinggang itu


"boleh juga lo" ucap Dorman sambil menepuk perut kotak kotak itu.Dorman kembali menutup perut tersebut.Ia mendekatkan wajahnya ke arah Adrian.Adrian tersenyum sinis.Pria di hadapan nya ini benar benar ba**ngan yang sesungguhnya, memakan apapun yang ada di hadapannya.


"lu bisa bayar pakai cara lain.." ucap Dorman menyeringai.


Adrian tersenyum sinis.Ia kemudian mengangkat tangannya,mengisyaratkan Dorman untuk masuk ke dalam kamar mandi yang tak terlalu luas itu.Dorman pun menyeringai.Ia mendapatkan mangsa baru pikirnya.


Dorman pun masuk ke dalam kamar mandi tersebut.Di susul Adrian yang kemudian menutup pintu kamar mandi itu dan menguncinya dari dalam,meninggalkan tiga anak buah Dorman yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi tersebut.


Dorman menyeringai,ia kemudian melepas kaos orennya dengan tatapan mata yang tak lepas dari tubuh sexy Adrian yang masih berbalut seragam napi itu.


Adrian mengeluarkan senyuman psychopath nya.Ia pun melepaskan kaosnya daannn...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dan apa hayooooo.........🤣🤣🤣🤣🤣


...----------------...

__ADS_1


KASIH LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH YANG BANYAK DULU Laahhhh...😝😝😝😝


__ADS_2