Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
139


__ADS_3

Chika meraih ponselnya yang berada di saku celananya.Sedari tadi ia memang memasang mode silent membuat semua panggilan dan pesan yang masuk ke dalam ponsel tersebut pun tak terbaca dan tak terjawab.


Chika membelalakkan matanya.Ratusan pesan dan panggilan dari dua nomor tertera disana.Naya dan Adinda.Kedua sahabatnya itu sedari tadi sibuk menghubunginya ternyata.


"kenapa Chik?" tanya Joddy saat menangkap gelagat terkejut dari wajah Chika.


"Naya sama Dinda nelfonin aku terus ternyata..."


"emang lo tadi bilang mau kemana?"


"warung...hahhahha....."


"hahahaha.....ya pantes aja mereka nelfonin lo...mana ada kewarung seharian nggak pulang pulang...ada ada aja lo"


"iya nih...pasti mereka pada heboh deh nyariin gue.."


"telfon deh salah satu....kasian..." ucap Joddy.


"iya...."


Chika mulai menelfon sahabatnya yang paling pendiam dibandingkan yang lainnya,Naya untuk memberikan kabar tentanb dirinya yang kini tengah mencari kos kosan untuk mereka berdua.


Obrolan mereka terjadi cukup panjang lantaran Chika mau tak mau harus mendengarkan tausiah dari sang sahabat yang cukup panjang dan lebar itu.Joddy hanya cengar cengir melihat Chika yang nampak begitu malas mendengarkan ceramah dari Naya.


"iya....iya....ustadzah....udah ya...ntar disambung lagi ya...jangan sekarang..."


"kamu tuh kalau dibilangin cuma iya iya aja deh...ya udah cepetan pulang...aku kesepian Chik..." rengek Naya dari seberang sana.


"iyaa.....ini aku pulang...tungguin kanda pulang ya sayang..." ucap Chika


Joddy terkekeh mendengar ucapan itu.


"iya deh...kanda...cepetan ya...." sahut Naya


"iya....i love you..." ucap Chika


"mbahmu iku....keri aku Chik ambek awakmu"


(mbahmu...geli aku Chik sama kamu)


Keduanya pun terkekeh.Sambungan telefon terputus.Chika memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"pulang yuk.." ajak Chika.


"yookk.." jawab Joddy.


Keduanya pun bergegas bangkit dari duduk mereka,kemudian mengenakan helm masing masing dan menaiki tunggangan roda dua milik Joddy.


Tanpa mereka sadari,di seberang jalan wanita cantik itu berhasil menyaksikan adegan tersebut.Ia yang awalnya berniat menghubungi Chika justru malah tak sengaja melihat sang sahabat tengah bersama Joddy di seberang jalan sana.


"Chika ngapain sama Joddy?" gumam Adinda.


Sejak kapan Chika mengenal dekat laki laki itu.Bukankah mereka hanya bertemu saat Joddy berada di kampung halaman Adinda?itupun cuma beberapa hari.


Adinda memasukkan ponselnya kedalam tas,ia kemudian berniat untuk mendekati dua remaja itu,namun baru selangkah ia mengayunkan kaki..


"Din..." Adrian datang bersama Nabila dari dalam ruko.


"mas..udah selesai?"

__ADS_1


"udah...kamu mau kemana?"


Adinda kembali menoleh ke arah dimana ia melihat Chika,namun sahabatnya itu sudah tidak ada.


"nggak....tadi aku kayak lihat Chika...tapi kayaknya bukan deh...salah orang" ucap Dinda.


"kamu udah bisa hubungin dia?"


"belum..tapi tadi Naya WhatsApp aku...katanya Chika nyari kos kosan...dia udah telfon Naya"


"nyari kos kosan?sama siapa?"


Adinda mengangkat bahunya.


"udah yuk pulang..." ucap Adinda.


"iya pa....ayo pulang...Nabil udah laper.." imbuh Nabila


Adrian tersenyum.


"kamu nih ya....makan mulu kerjaannya"


"kan biar sehat pa...biar kuat..." ucap Nabila.


"makan diluar mau?" tanya Adrian


"mauuuu.....aku mau pa...ayo pa...ayooo..." ucap Nabila sambil loncat loncat tak sabar.


Adrian tersenyum gemas,ia mengacak acak pelan pucuk kepala Nabila


" ya udah....ayokk..." ucapnya.Nabila pun meloncat loncat kegirangan.


Merekapun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Malam menjelang.....


Disebuah gubug reyot di sebuah daerah terpencil di pesisir pantai....


Laki laki pincang itu keluar dari dapur rumahnya yang sangat sederhana menuju ke dalam satu satunya kamar dirumah tersebut dengan satu piring berisi nasi dan lauk ikan goreng hasil tangkapannya tadi siang.Dengan langkah terseok seok,laki laki itu masuk kedalam ruangan sempit berdinding anyaman bambu dan beralaskan tanah tersebut.Dilihatnya remaja pria yang tempo hari ia tolong tengah berdiri di dekat jendela dengan tatapan mata yang terus mengarah ke arah laut.Remaja yang mulai tumbuh,berwajah bule dengan rambut ikal pirang,posturnya tinggi dengan kulit putih bersih dengan bola mata biru yang indah namun terlihat begitu tajam bak mata srigala.


"nak....makan dulu..." ucap pria yang bernama Herman tersebut sambil susah payah mencoba duduk di kasur yang terletak di atas tikar lusuh disana.


Anak laki laki yang mengaku bernama Zev itu kemudian duduk di samping pak Herman.


"makan dulu nak..ini hasil tangkapan bapak tadi siang...lumayan banyak..Alhamdulillah..." ucap Pak Herman.


Zev menatap wajah laki laki itu.


"kenapa bapak selalu mengucap kata itu?" tanyanya datar tanpa ekspresi.


"kata apa?"


"yang tadi bapak ucapkan"


"alhamdulillah?"


Zev tak menjawab.


Pak Herman tersenyum...

__ADS_1


"itukan bentuk rasa syukur kita pada Allah nak"


"apa itu?"


Pak Herman melotot.


"kamu tidak mengenal Allah?"


Zev menggelengkan kepalanya.


Pak Herman tercengang.Siapa sebenarnya bocah ini.Sejak ia sadar beberapa hari yang lalu bocah ini tak pernah mengeluarkan ekspresinya.Ia hanya diam,diam dan diam.Jika ditanya ia hanya menjawab seperlunya.Tatapan matanya tajam yang selalu mengarah ke laut.Gaya bicaranya dingin.Tiap harinya hanya ia habiskan di kamar,namun jika malam hari pak Herman sering mendapati anak itu menghilang dari tempat tidur.Entah kemana perginya tak ada yang tahu karena pak Herman tak pernah sekalipun berhasil menemukan nya ketika laki laki itu berusaha mencarinya,dan selalu dengan tiba tiba ia akan mendapati Zev sudah ada di kamar ketika ia kembali.Jika ditanya,Zev tak pernah menjawab.


"nak...Allah itu yang menciptakan bumi dan seisinya.."


Zev tak menjawab.


"dia juga yang menciptakan kita,manusia...kau tidak tau?"


"aku tidak mengenalnya"


deggghhh.


Pak Herman jadi takut sendiri,ia merasa ngeri sendiri dengan anak ini.


Zev mengambil piring berisi nasi dan ikan yang cukup besar itu.Dengan satu gerakan Zev melahap salah satu sisi ikan goreng itu beserta tulang tulangnya.


"nak...nanti durinya bisa nyangkut di tenggorokanmu loh" ucap pak Herman khawatir.


Zev tak peduli,ia terua memangsa habis ikan tersebut hingga habis tak bersisa.


Zev mengulum jari jarinya guna membersihkan minyak yang menempel di sana.Ia kemudian menatap pak Herman.


"aku punya bahan makanan lain untuk lauk kita besok...ada dibelakang rumah..di bawah tumpukan kayu bakar" ucap Zev datar.


Pak Herman tak menjawab.Ia seolah jadi sedikit takut dengan anak ini sekarang.


Zev merebahkan tubuh nya,dengan dua lengan yang dilipat di depan dada ia pun mulai memejamkan matanya.


Pak Herman meraih piring disampingnya lalu membawanya menuju dapur.Pak Herman menatap pintu belakang rumahnya.Ia jadi penasaran,bahan makanan apa yang Zev siapkan di belakang rumah mereka?


Pak Herman yang penasaran pun berjalan mendekati pintu kayu tersebut,ia lantas membukanya lalu terus berjalan mendekati tumpukan kayu bakar yang biasa ia gunakan untuk memasak.


Pak Herman meraih tumpukan kayu tersebut dengan perlahan dan memindahkannya ke sisi samping.Sebatang demi sebatang,hingga mulai terlihatlah seonggok sesuatu berbulu lebat yang ada disana.Pak Herman mempercepat pergerakannya memindahkan kayu kayu bakar itu,hingga....


"astagfirullah haladzim...!!" pekiknya kaget sambil memundurkan tubuhnya.


Terlihat disana satu bangkai anji*ng dengan anggota tubuh yang masih lengkap namun dengan mata yang sudah dicongkel tewas dengan berlumuran darah.


Pak Herman syok.Ia gemetar.Dari mana anak itu mendapatkan hewan tersebut?siapa sebenarn anak itu?kenapa dia begitu menyeramkan dan penuh dengan misterri?


...----------------...


***SEPI DEH.....


VOTE NYA MANA?


HADIAHNYA MANA?


KOMENNYA MANA?

__ADS_1


LIKE NYA MANA?


BANYAKIN YA....🥰🥰🥰🥰🥰***


__ADS_2