
Agenda jalan jalan di mall telah usai.
Kini semua anak manusia itu kembali ke tempat tinggal mereka masing masig setelah mereka lelah berkeliling mall untuk berbelanja dan sekedar bersenang senang.
Pria bernetra hijau itu kini tengah berada di dalam kamar bernuansa hello kitty disana.Tangan kekar bertatonya tergerak mengusap usap lembut pucuk kepala Nabila hingga gadis kecil itu terlelap sambil memeluk hello kitty jumbo yang baru saja ia beli.
Adrian menarik selimut guna menutupi tubuh Nabila yang mulai larut dalam mimpi mimpi indah.Adrian mengecup kening Nabila,ia lantas keluar dari kamar tersebut dan bergegas menuju kamar utama.
ceklek....
pintu terbuka....
Dilihatnya sang istri tengah melipat mukena,pertanda wanita itu baru selesai dengan ibadahnya.Adrian tersenyum,ia kembali menutup pintu kamar dan bergegas pergi ke dapur.
Tak butuh waktu lama,pria bertato itu kembali dengan segelas susu khusus ibu hamil di tangan nya.Adinda yang tengah berada di depan meja rias pun tersenyum melihat kedatangan suaminya dari pantulan cermin.
Adrian melatakkan susu itu di atas meja rias
"minum dulu gih....biar dedeknya sehat" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.
"makasih..." ucap Adinda dengan senyuman manis.Ia pun segera menenggak habis susu coklat tersebut dengan cepat.
Adrian tersenyum menyaksikan pemandangan di depannya.Adinda mengusap bibirnya yang basah dan meletakkan gelas di tangannya itu di atas meja.
"Din...."
"hmmm...."
"kamu tau nggak..."
"nggak...."
"aku kan belum selesai...." ucap Adrian yang hanya di balas dengan cengiran kuda olah Dinda.
Adrian terkekeh,tangannya tergerak mencubit hidung mancung Adinda.
Wanita itu bangkit lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubunnya.
"disini aja ngomongnya....nggak enak di situ...." ucap Adinda sambil menarik pelan ujung kaos Adrian.
Adrian pun menurut.Ia merebahkan tubuhnya di samping Dinda dalam posisi miring menghadap wanita cantik itu.
Tangan bertatonya tergerak masuk ke dalam piyama pendek Adinda dan mengusap usap lembut perut ibu hamil tersebut.
"Din..."
"apa...."
"kamu tau nggak...tadi pas Sheila dateng...kok dia bisa kenal Joddy ya?" tanya Adrian penasaran
Adinda terdiam.
"trus....Joddy jadi kayak aneh gitu...dia nggak petakilan kayak biasanya...diem aja...nunduk..kamu tau dia kenapa?" tanya Adrian.
Adinda masih diam.
Ngomong nggak ya?
__ADS_1
Ia takut kalau nanti Adrian marah dan kambuh lagi jiwa iblisnya.
Adinda mengubah posisi tidurnya,ia memposisikan tubuhnya miring menghadap wajah Adrian dengan satu lengan yang ia gunakan sebagai bantal.Sedangkan satu tangannya lagi bergerak mengusap bongkahan dada bidang Adrian yang berbalut kaos tanpa lengan warna abu abu.
"mas..."
"hmmm...."
"kalau aku mau cerita kamu mau dengerin nggak...?"
"ya mualah..."
"tapi dengerin sampai selesai,dan janji jangan marah..." ucapnya hati hati.
"emang kamu mau ngomong apa?"
"tapi janji jangan marah dulu..."
"iya...ada apa?"
"jangan marah..." ucapnya sambil menatap manja ke arah Adrian.
"iya...."
Adinda pun mulai menceritakan semuanya.Mulai dari aksi nekat Joddy melaporkan Adrian,hubungannya dengan Sheila,hingga aksi diam diamnya bekerja sama dengan Chika menyebar foto foto dan vidio dirinya.
Sungguh....sebenarnya Adinda ragu untuk mengatakan ini,tapi menurutnya,akan lebih baik jika Adrian mendenagarkan cerita ini dari mulutnya langsung dari pada harus mendengarkannya dari orang lain.
Adinda bercerita dengan sangat hati hati,dengan tangan yang terus mengusap usap lembut dada sang suami yang kini terlihat menegang.
"tuh kan kamu marah...katanya tadi janji nggak marah..." ucap Adinda.
Adrian tak bergeming.
"mas....jangan mulai deh...aku takut kalau kamu diem gini ah...." ucap Dinda merengek.
Adrian masih tak menjawab.Wanita itu lantas memeluk erat tubuh Adrian.Membenamkannya pada dada bidang Adrian yang masih tak bergeming.Dinda bisa merasakan gerakan naik turun dari dada tersebut,pertanda emosi laki laki itu mulai naik.
"maaf...aku nggak ngomong dari awal...aku takut kamu marah mas..." ucapnya sambil terus memeluk tubuh besar itu.
Tatapan mata Adrian berubah makin tajam.
Adrian bangkit dengan cepat lalu duduk membuat Adinda terjingkat kaget.
"jadi dia yang sudah berani mencoba memisahkan kita?" tanyanya dingin.
Adinda dengan cepat ikut duduk.Tangannya kembali tergerak,kini meraih punggung tangan Adrian dan meremasnya lembut.
"dia udah mendapat balasannya mas...dia udah menyesali semua perbuatannya dia.Kamu juga liat sendiri kan,dia jadi pemurung sekarang.Chika sendiri yang bilang sama aku...dia nggak pernah keluar rumah dan nggak mau ketemu orang selain sama Chika" ucap Adinda.
Adrian kembali menatap tajam Adinda.
"itu nggak cukup..." ucapnya dingin lalu menghempaskan tangan Adinda dan bergegas pergi meninggalkan kamar itu.
"mas...!kamu mau kemana?!!" ucap Adinda sambil berlari menyusul Adrian.
Adrian sudah sampai di depan pintu dan hendak membukanya.Namun dengan cepat Dinda menghalangi pergerakan Adrian dengan berdiri menghadang Adrian di depan pintu yang masih tertutup tersebut.
__ADS_1
"mas....istigfar....kamu mau ngapain?"
"kamu pikir?dengan semua perbuatan dia?aku harus diam aja Din?"
"mas...jangan....dia udah dapat hukuman dari semua perbuatan nya..."
"nggak cukup Dinda!"
"terus kamu mau ngapain?kamu mau bunuh dia?kamu lupa kalau status kamu masih tahanan?" ucap Adinda mulai kesal.
"mas.....kamu masih di awasi..!Joddy udah menyesal...udah....kamu jangan kayak gini dong..." ucapnya lagi.
Adrian tak bergeming.Adinda perlahan mendekati suaminya.
"mas.....mungkin maksud dia baik,dia nggak tau kalau dia udah berubah waktu itu,...niat dia cuma mau nolongin aku...tapi cara dia salah...." ucapnya pelan.
Adrian tersenyum sinis.
"dia selalu bilang aku baji**an,tapi ternyata...dia rela nyerahin tubuhnya buat ja**ng itu cuma biar bisa menghancurkan aku...dia bukan pengen nolongin kamu Din...tapi dia terobsesi buat dapeetin kamu" ucapnya.
"tapi aku kan milihnya kamu.." ucap Adinda sambil memeluk tubuh itu lagi.
"jangan marah marah mas...aku takut..." ucap Dinda lagi.
Adrian menggelengkan kepalanya.
"nggak....aku harus kasih pelajaran..." ucapnya lalu dengan cepat mendorong tubuh Adinda membuat pelukannya terlepas.Adrian melangkah dengan cepat dan lebar keluar dari kamar tersebut dan menuruni tangga.
"mas tunggu...."
Adrian tak menggubris.Ia terus berjalan dengan emosi yang sudah memuncak.
"mas....jangan mas..tunggu..."
Adrian masih tak menggubris.
"mas...mas Adri..."
tetap tak menggubris.
"maaaas......aaaakkkkkkggghhhhh...." Adinda memekik sambil memegangi perutnya.
Wanita itu meringis.Ia terduduk di ujung bawah tangga.
"maaaaassssshh....aakkkggghhhh....."
Adrian menghentikan langkahnya,ia berbalik badan,dilihatnya sang istri terduduk di ujung tangga sambil memegangi perutnya.
"aaaakkkkkkggghhhhh.....sakiiiiiitttttt....."
"DIINDA....!!!"
...----------------...
***HAYOOKKKK
DIKASIH DULU LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA.....🥰🥰🥰🥰🥰🥰***
__ADS_1