Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
136


__ADS_3

Gadis manis itu berjalan menyusuri jalanan komplek yang sepi menuju ke ujung jalan dimana pria yang tengah janjian dengan nya menunggu nya.Tak butuh waktu lama,tak sampai lima menit Chika sudah sampai di depan gerbang masuk komplek perumahan mewah tersebut.


Dari kejauhan sudah nampak seorang laki laki dengan helm dan motor sport biru menunggu di pinngir jalan di samping pos satpam.


"hai...." sapa Chika saat sudah berada di samping motor Joddy


Laki laki yang sibuk dengan ponselnya itu pun menoleh.


"eh Chik....hai...." ucapnya sambil memasukkan benda pipih miliknya ke saku celananya.


"kamu udah lama nunggunya?"


"belum kok....baru nyampek.." ucap Chika.


Joddy menyerahkan satu helm yang sudah ia persiapkan untuk sang teman dunia maya.Chika pun menerima nya kemudian mengenakannya.


Chika pun segera naik ke atas motor.Joddy pun men starter motornya kemudian melajukan kendaraan roda duanya itu.Saat motor biru itu melesat meninggalkan komplek perumahan tersebut,dari arah lain datang satu motor besar berwarna hitam yang dikendarai Adrian.


Adrian menghentikan laju motornya di tempat yang sama dengan Joddy tadi.Ia memperhatikan motor biru yang kini sudah mulai menjauh mengecil dari pandangan matanya.Ia hafal motor itu.Itu motor laki laki yang dulu selalu mengejar ngejar Adinda.


Sudah lama ia tak bertemu laki laki itu.Sedang apa dia kemari?dan dengan siapa ia tadi?seorang wanita berhijab?ia tak bisa mengenali wajah wanita itu lantaran sudah tertutup helm.


Adrian mengangkat kedua bahunya mencoba tak peduli.Ya sudahlah....toh bukan urusan dia.Pria bernetra hijau itu kemudian kembali menyalakan mesin motornya lalu melajukannya menuju kediamannya.


Tak butuh waktu lama,motor besar berwarna hitam itu sampai di halaman luas rumah mewahnya.


Adrian turun dari motor sambil membawa dua kotak pizza yang ia tercentel di stang motornya.


"Assalamu alaikum..." ucap Adrian.


"wa alaikum salam.." jawab dua orang wanita yang tengah duduk di sofa ruang tamu.Itu bu Ela dan Nabila.


"papa....!!!!!" pekik Nabila sambil berlari mendekati sang papa.Adrian berjongkok sambil merentangkan tangan nya bersiap memeluk gadis kecil tercintanya itu.


Nabila memeluk tubuh kekar Adrian cukup lama,setelah puas memeluk,gadis itu kemudian meraih punggung tangan Adrian lalu menciumnya.


"mama mana?"


"di dapur kayaknya pa..." ucap gadis kecil itu.


"papa bawa apa?" tanya Nabila .

__ADS_1


"papa bawa ini....Nabila mau?" tanya Adrian sambil menenteng kantong plastik berisi dua kotak pizza itu.


"waaaaaahhhhhh......baksoooo.....!!Nabil mauuuukkkk....." ucap Nabila riang.


Adrian mengernyitkan dahinya.Sifat Adinda juga mendarah daging dalam diri Nabila ternyata.Laki laki itu tertawa geli melihat ekspresi menggemaskan sang putri.Ia mengacak acak pelan rambut bocah itu lalu mengangkat tubuh nya dan menggendong nya.


"kita makan sama mama yukk" ucap Adrian.


"tunggu pa..."


"kenapa?"


"papa nggak salim dulu sama nenek?" tanya Nabila sambil menunjuk ke arah bu Ela yang duduk di sofa panjang disana.


Adrian terdiam,ia mengarahkan pandangannya pada wanita tua yang hanya menunduk itu.


Sepersekian detik kemudian,laki laki itu tersenyum.


"kita ke dapur ya..." ucap Adrian pada Nabila.


"salim dulu pa....aku aja salim sama papa...masak papa nggak salim sama nenek....kan orang tua...." ucap Nabila polos namun dewasa.


Nabila merosot dari gendongan.Ia kemudian menarik tangan Adrian.


"ayo pa....salim dulu..." ucap Nabila.


Adrian tak menjawab,bahkan tak.bergerak.


"papa....ayookkk....." ucap Nabila lagi sambil terus menarik tangan sang papa berniat mendekat kan tubuh besar itu pada bu Ela yang hanya diam di atas sofa.


Adrian memang tak pernah bisa menolak permintaan gadis kecil itu.Laki laki itupun akhirnya mendekat juga.Ia sedikit membungkuk dan meraih tangan sang mama yang tak pernah ingin ia sentuh sebelumnya.Adrian mencium punggung tangan bu Ela dengan hati yang bergetar.Tak dipungkiri,ia tetaplah sosok anak yang merindukan kasih sayang orang tua.Ia yang di besarkan hanya dengan kakeknya itu pun merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya ketika ujung hidungnya bersentuhan langsung dengan kulit keriput milik bu Ela.


Bu Ela pun merasakan hal yang sama.Dadanya bergetar saat sang putra yang begitu sangat ia rindukan tersebut bersedia untuk mencium tangannya yang berlumuran dosa.Bu Ela menitikkan air mata,tangannya reflek tergerak mengusap kepala Adrian yang jaraknya begitu dekat dengannya.


"anak mama..." lirihnya.


Adrian tak bisa menyembunyikan perasaannya.Laki laki itu terduduk lemah di hadapan sang ibu dengan posisi masih mencium tangan bu Ela.Bahkan kini ia menghirup aroma punggung tangan itu seolah menemukan aroma relaksasi yang begitu menenangkan jiwanya.Adrian bak terhipnotis.Bu Ela memeluk tubuh besar itu.Tubuh yang begitu sangat ingin ia sentuh sedari pertama ia melihatnya di gubug reyot tempat tinggalnya dulu.


Bu Ela mendekap erat tubuh itu dengan satu tangannya lantaran satu tangan lainnya masih dalam kuasa Adrian .


Bu Ela menangis sesenggukan.Melepaskan semua kerinduannya pada sang putra yang kini sudah menjadi pria dewasa.

__ADS_1


Adrian yang semula hanya berniat sekedar menuruti keinginan Nabila pun nyatanya kini merasa begitu nyaman.Ia seolah menemukan tempat ternyaman lain selain dalam pelukan Adinda.Tempat ternyaman yang dulu pernah ia miliki,tempat ternyaman yang sudah puluhan tahun hilang.


Laki laki itu semakin bergetar saat bu Ela melepaskan telapak tangan keriputnya itu dari genggamannya,lalu dengan erat ia memeluk tubuh tegap bertato tersebut dengan kedua tangannya.Bahkan kini wanita tua itu menciumi pucuk kepala sang singa yang bak hilang kesadaran.Tak ada respon apapun dari Adrian.Adrian bak orang ling lung yang tengah sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Bu Ela menangkup wajah tampan tersebut.Ia menatap wajah itu dengan tatapan sendu.


"maafin mama nak....mama menyesal..." ucapnya lirih dengan air mata yang sudah banjir.


Adrian tak menjawab.Ia hanya menatap wajah keriput itu dengan tatapan nanar.


"kamu boleh menghukum mama dengan cara apapun yang kamu mau...mama ikhlas..." ucapnya lagi.


"tapi tolong ampuni mama nak..."


Adrian masih tak bergeming.Entah apa yang ia rasakan saat ini.Jiwanya seolah kosng.Pikirannya seolah melayang entah tak tau kemana.


"panggil mama nak...mama kangen suara kamu sayang..." ucap Bu Ela lagi.


Adrian masih tak bergeming.Mulutnya terbuka,seolah ada kata kata yang ingin terucap namun begitu sulit untuk dikeluarkan.


"panggil mama sayang..." ucap Bu Ela lagi.


"ma........mama..." ucap Adrian lirih dan terbata bata.


Bu Ela mengangguk.Iya....suara ini yang ia rindukan.Suara ini yang ingin ia dengar.


"mama...." ucap Adrian lagi dengan tawa getir.


Bu Ela mengangguk sambil menangis sesenggukan.Wanita itu kembali memeluk Adrian dengan eratnya seolah tak mau melepaskan nya.Ia menangis sejadi jadinya sambil tak henti mengucap syukur.


Adrian masih bak orang linglung.Masih tak ada pergerakan.Ia hanya diam dengan tatapan nanar tanpa membalas pelukan dari wanita itu.


Adinda yang diam diam menyaksikan adegan mengharukan tersebut pun ikut dibuat bahagia.


Ya...ia tahu...tidak gampang meluluhkan hati Adrian.Bahkan hingga saat inipun mungkin Adrian belum sepenuhnya bisa menerima Bu Ela melihat Adrian yang sama sekali tak merespon gerakan bu Ela.Namun bersedia di peluk dan mengucap kata 'mama'....bukankah itu suatu kemajuan yang luar biasa???


...----------------...


***SELAMAT PAGI......


YOOOOKKKK...VOTE LIKE KOMEN DAN HADIAHNYA YUKKKK...BANGUN DARI SEBELUM SUBUH LOH INI CUMA BUAT NULIS.....🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺***

__ADS_1


__ADS_2