Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
79


__ADS_3

Siang hari......


Semua berjalan seperti biasa.Adinda dan Adrian kini tengah berada di dalam warung yang sudah mulai sepi itu.Sedangkan Nabila,gadis kecil itu kini tengah bermain dengan anak penjual bakso yang kios nya bersebelahan dengan warung soto Adinda.Semenjak Nabila ikut jualan,ia jadi punya teman baru.Namanya Rubi,anak yang usianya sama dengan Nabila.Kedua gadis itu nampak begitu akrab.Keduanya selalu menghabiskan waktu berdua bernain di pasar sambil menunggu orang tuanya jualan.


Di dalam warung.....


Dengan satu piring penuh soto hasil karya tangan mereka,kini sepasang suami istri itu tengah asyik menikmati makan siang sederhana nya.Sepiring soto untuk berdua.Duduk saling berhadapan dengan posisi ternyaman mereka,sambil sesekali menebar tawa disela sela perbincangan hangat selayaknya dua insan yang saling jatuh cinta.Sungguh....sebuah kebahagiaan sederhana yang membuat siapa pun akan iri melihatnya.


"assalamu'alaikum...." suara itu berhasil menghentikan tawa keduanya.


"wa alaikum salam"


Adrian dan Adinda mendongak melihat siapa yang datang.Dilihatnya wanita paruh baya masuk ke dalam warung itu sambil membawakan sayuran dan daging untuk bahan dagangan mereka besok.


"ibuk...." ucap Adinda kaget.


Adrian yang masih mengunyah pun tak kalah terkejut melihat kedatangan bu Lastri.Ada apa mertua nya datang kemari.Tidak biasanya.


"ibuk ngapain kesini?" tanya Dinda.


"jadi maksud mu ibuk ndak boleh ke warung ibuk sendiri?" tanya Bu Lastri sinis.


"bu...bukan gitu buk...maksud Dinda kok tumben kesini" ucap Adinda.


Bu Lastri duduk di kursi plastik disana.Sekilas ia melirik sang menantu yang duduk di lantai sambil asyik memakan makanan di hadapannya.


"ibuk kebetulan lewat,sekalian ibuk belanja bahan bahan buat kalian jualan besok.Biar kalian nanti bisa langsung pulang ndak perlu belanja lagi" ucapnya.


Dinda dan Adrian saling sejenak saling melempar pandangan.Seutas senyum singkat terbentuk dari bibir keduanya.Sepertinya Bu Lastri mulai ada perhatian untuk mereka.Secara tidak langsung itu mengisyaratkan bahwa wanita paruh baya itu mulai membuka hati untuk mereka.


"makasih buk..." ucap Adrian sambil mengunyah makanannya.Tak lupa sebuah senyum manis ia tunjukkan sambil menatap sang mertua penuh arti.


Bu Lastri memalingkan wajahnya,menghindari kontak mata dengan pria tampan bertato itu.


"ibuk udah makan?Dinda bikinin soto ya buk" ucap Adinda.


"ndak usah...ibuk ndak lapar" ucap Bu Lastri masih dalam mode judes nya.


Dinda dan Adrian kembali melanjutkan makan mereka.Adrian yang merasa pedas pun meraih gelas berisi es teh manis di hadapan nya.Dan dengan sekali seruput,es yang masih separuh gelas lebih itupun ludes tak bersisa.


"ahh....jangan di abisin..." rengek Dinda bak anak kecil


"telat" ucap Adrian singkat.


"trus aku minum apa?"


"bikin lagi Din..itu masih banyak"


"bikinin..." ucapnya manja lalu memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya.


"ogah..."


"maaassss....." ucap Dinda makin merengek.


"iya iya bawel"


Adrian bangkit.Ia kemudian bergegas membuatkan es teh untuk sang istri.


"nih..." ucap pria bertato itu sambil menyerahkan satu gelas es teh kearah Dinda.Adinda pun segera menyeruputnya.Sedangkan Adrian berjalan ke luar warung untuk mencari putrinya


"aaakkkhhh.....paiiitttt..." rengek Adinda setengah teriak.Adrian yang sudah berada di luar warung itu tertawa mendengar suara rengekan istri kecilnya itu.


Dinda bangkit dengan membawa piringnya sambil ngomel tak jelas mendapatkan perlakuan usil dari suaminya itu.Seutas senyum simpul terbentuk dari bibir Bu Lastri menyaksikan pemandangan di hadapannya.Lucu sekali anak dan menantunya kalau lagi berdua.


"Nabil...kita beres beres dulu nak.." ucap Adrian setengah teriak.


"iya pa...." sahut bocah delapan tahun itu.Nabila pun berlari mendekati papanya.Keduanya pun masuk ke dalam rumah tersebut.Saat hendak memasuki pintu,Bu Lastri keluar dari warung tersebut.


"buk...ibuk mau pulang?" tanya Adrian.


Bu Lastri hanya mengangguk tanpa berucap apapun.Wanita paruh baya itu kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


"nenek ngapain kesini pa?" tanya Nabila.


"nganterin sayuran...jadi hari ini kita nggak belanja deh,langsung pulang"


"yeee......" ucap Nabila sambil bertepuk tangan.


"bantuin mama cuci piring ya...papa yang lap lap"


"oke..."


Keluarga kecil itu pun mulai berbagi tugas beres beres warung yang tak terlalu besar itu.Tanpa mereka sadari sepasang mata sayu milik wanita paruh baya itu mengamati aktifitas mereka dari kejauhan.


Bu Lastri tersenyum,sudah tepatkah laki laki pilihan Adinda?selama hampir seminggu laki laki itu disini Adrian selalu menunjukkan perilaku yang baik walaupun ia selalu mengacuhkan nya.Adinda juga terlihat begitu bahagia bila bersama laki laki bertato itu.


Jika dipikir pikir,kalau memang cerita Adinda itu benar,harusnya ia berterima kasih pada Adrian.Jika bukan karena pria itu yang menyelamatkan Dinda mungkin hingga kini Adinda sudah tidak jelas bagaimana nasibnya.Adrian juga memberikan pendidikan pada Dinda,membayar hutangnya,memberikan modal untuk usahanya.Dia juga berhati mulia mengadopsi seorang anak yatim piatu.


Adrian memang baik hati...


namun sayangnya itu tidak sepenuhnya benar.Karena nyatanya Adrian adalah tersangka utama yang membuat keadaan jadi sesulit ini.Mungkin jika bukan penculikan yang anak buah Adrian lakukan,hingga kini Adinda masih menjadi anak kebanggaan Bu Lastri yang akan segera lulus SMA dan mengejar cita citanya tanpa embel embel suami dan anak.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama,keluarga kecil itu selesai beres beres.Adrian menutup rolling door itu lalu menggemboknya.


"dah....kita pulang..." ucap Adrian.


"mas....kamu mau nggak mampir dulu?" tanya Dinda.


"kemana?"


"kerumah Bu Ela.."


"bu Ela siapa?"


"dia itu penjual kue langganan aku di sekolah.Kasian mas,dia janda,udah tua,nggak punya keluarga.Semalem pas aku lagi vidio call sama temen temen aku mereka bilang bu Ela abis jatuh dari motor,kasian nggak ada ngurusin.Aku pengen jengukin dia sekalian bawa oleh oleh buat dia." ucapnya.


"kamu mau ya nemenin aku..."


"boleh..."


Adinda tersenyum.


"ya udah...kalau gitu kita cari oleh oleh dulu buat Bu Ela."


Keluarga kecil itu pun mulai meninggalkan tempat itu.Adinda berhenti sejenak di toko kelontong untuk membeli buah tangan untuk Bu Ela.Setelah selesai mereka pun menuju ke parkiran motor.Namun tiba tiba Adrian menghentikan pergerakan nya.Ia menatap ke arah tukang buah yang ada disana.


"ada apa mas?"


"beliin anggur,apel,sama jeruk ya..."ucap Adrian sambil mengeluarkan sejumlah uang untuk Dinda


"boleh"ucapnya.


Adinda segera menuju ke tukang buah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.Tak butuh waktu lama Adinda kembali mendekati Adrian dan Nabil yang sudah naik ke atas motor.


" nih mas....buah kamu"


"bukan buat aku..tapi buat bu Ela" ucap Adrian.Entah kenapa tiba tiba ia ingin membeli buah buah kesukaannya itu untuk penjual kue tersebut.Mungkin karena ia merasa simpati dengan cerita Dinda barusan.


"oh....ya udah kalau gitu." ucap Dinda.


Wanita cantik itu segera naik ke atas motornya.Motor matic putih itupun segera melesat meninggalkan pasar tersebut menuju kediaman bu Ela.


Seperti biasa,sepanjang perjalanan ketiganya tak henti menebar tawa.Terlihat jelas keakraban dan kebahagiaan di wajah mereka.


Sekitar lima belas menit perjalanan,motor matic itu sampai de sebuah gubuk berdinding anyaman bambu yang nampak sudah bolong bolong.Lantainya beralaskan tanah dengan pintu kayu yang nampak reyot.


Adinda turun dari motornya setelah Adrian memarkirkan motor tersebut di halaman yang ditumbuhi rumput dan ilalang itu.Nampak sangat tak terawat.


Adrian dan Nabila pun ikut turun.


"ini rumah nenek Ela sayang..."


"siapa?"


"temennya mama" ucap Adinda singkat.


Adindapun mulai melangkah mendekati pintu kayu itu.


"assalamu'alaikum.." ucap Dinda.


"wa alaikum salam" sahut seorang wanita yang usianya lebih tua dari bu Lastri itu dari dalam gubuknya.


"masuk saja...ibuk ndak bisa bangun" ucap wanita itu lagi dari dalam rumah nya.


Adinda pun membuka pintu.Ia masuk bersama Adrian dan Nabila.Adinda meletakkan kresek berisi buah tangan yang ia beli tadi di atas meja kayu usang di ruang tamu tersebut.Tak ada kursi,hanya ada meja kecil dan tikar lusuh yang masih tergulung tersandar di dinding bambu tersebut.


Adrian mematung.Pandangan matanya tertuju pada sebuah foto usang tanpa bingkai yang terselip di dinding anyaman bambu itu.Sebuah foto anak laki laki yang tersenyum manis di pelukan ibunya.


Adrian merasakan gemuruh di dadanya.Perasaannya tidak karuan.Matanya memerah.Namun sekuat tenaga ia mencoba membuang perasaannya yang mulai tidak tenang.


Adinda berjalan menuju kamar kecil itu sambil menggandeng tangan Nabila.Dilihatnya wanita tua itu terbaring lemah di atas kasur kapuknya dengan tongkat kayu yang tersandar di samping ranjang.


"ibuk.." ucap Adinda.


"Dinda?kamu Dinda?" ucap Bu Ela.


"iya buk..." jawab Adinda lalu duduk di ranjang usang itu kemudian meraih punggung tangan Bu Ela dan menciumnya.


"ibuk kenapa bisa sampai jatuh?" tanya Dinda.


"mungkin ibuk pegangannya kurang kenceng,makanya sampai jatuh dari motor pas lagi naik ojek" ucap Bu Ela menjelaskan.


Di ruang tamu.Adrian semakin gemetar mendengar suara wanita tua itu.Dadanya semakin sesak.Ia masih sangat hafal suara itu.Membuat mata merahnya mulai mengembun.Bercampur antara duka,kesedihan,dendam,dan amarah.Namun Adrian masih tak bergeming.Ia masih sibuk dengan pikiran nya sendiri membuat laki laki itu hanya diam sambil menatap foto usang yang sedari tadi menjadi pusat perhatian nya.


"kamu kesini sama siapa ndok?" tanya Bu Ela.


"Dinda kesini sama anak dan suami Dinda buk"


Bu Ela mengernyitkan dahinya.


"anak?suami?"


Adinda tersenyum..

__ADS_1


"ceritanya panjang...kapan kapan Dinda ceritain deh" ucap Adinda.


Bu Ela hanya tersenyum....


"ini anakmu?" tanya Bu Ela menatap tulus ke arah Nabila yang berada di pangkuan Dinda.


"iya buk namanya Nabila" ucap Adinda.


"Nabil.....salim dulu sama nenek" ucap Dinda lagi.


Nabila pun menurut,ia meraih punggung tangan ringkih itu lalu menciumnya.


"cantik sekali kamu nak" ucap Bu Ela.Nabila pun tersipu malu mendengar ucapan itu.


"terus suamimu mana?"


Adinda menoleh ke belakang.Mana suaminya?


"mas..." ucap Adinda.


"mas...sini dong...bu Ela mau kenalan nih" ucap Adinda.


Adrian melangkah dengan gontai.Dengan perasaan yang campur aduk,ia berharap wanita yang akan ia temui bukanlah wanita yang ada didalam bayangannya sedari tadi.


Tubuh tegap tinggi besar bertato itu memasuki sebuah kamar yang berukuran sangat sempit itu.


.


.


.


.


.


.


Deggggh......


kedua mata itu saling bertemu.Kedua nya mematung.Dunia bak berhenti berputar untuk sesaat.Bu Ela membuka mulutnya.Matanya mengembun.Lidahnya seolah kelu tak mampu berucap sepatah katapun.


Adrian semakin gemetar.Ia tak siap dengan pertemuan ini.Ia benci situasi ini.Dadanya naik turun,menahan amarah,duka,dan dendam yang bercampur menjadi satu.Mata merehnya mulai mengembun,pandangannya mulai buram.Sepersekian detik kemudian cairan bening itu lurruh juga.


Bu Ela...Bertha Gabriella Tama.Wanita yang meninggalkan nya dan bahkan hampir membunuhnya dua puluh tahun lalu.Wanita yang sangat ia benci seumur hidupnya.Wanita yang berhasil menorehkan luka,trauma dan kebencian yang mendalam dalam diri Adrian.Wanita yang berhasil membentuk jiwa psychopath dalam diri Adrian.Wanita yang tak pernah ingin ia temui lagi seumur hidupnya.Kini terbaring lemah di hadapan nya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


"Adrian..." ucap Bu Ela lirih.


Adrian tak bergeming.


Bu Ela mencoba susah payah untuk duduk.Adinda hendak membantu wanita tua itu namun...


"jangan sentuh dia Dinda" ucap Adrian dingin dengan mata yang tak lepas dari wanita tua itu.


Adinda bingung,ada apa ini?


"mas...." ucap Adinda tak paham.


"kita pulang...." ucapnya lagi,masih dengan mode yang sama


"mas tapi...."


Adinda menghentikan ucapan nya.Bu Ela susah payah mencoba bangkit,ia meraih tongkat yang tersandar di dinding bambu itu.Susah payah wanita itu mencoba mendekati Adrian yang berdiri bak patung beton yang keras.


"nak...." ucap Bu Ela sambil mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi Adrian.Namun laki laki itu dengan cepat memundurkan tubuhnya.


"jangan menyentuh ku" ucapnya Dingin.


Bu Ela kembali mendekat,air matanya sudah banjir...


"Adrian...." ucapnya sambil kembali mencoba menyentuh wajah tampan Adrian.Namun dengan cepat dan kasarnya Adrian mendorong tubuh ringkih itu hingga tersungkur ke lantai tanah.


"AKU BILANG JANGAN MENYENTUH KU...!!!!" bentaknya dengan emosi yang tak terbendung sambil menunjuk nunjuk wajah wanita tua itu.Aura kebencian dan sakit hati tergambar jelas dari dirinya.


"maass...!!!!" Adinda memekik.Ia bangkit berniat untuk menolong bu Ela yang terjerembab di lantai.Namun dengan kasarnya ia menarik tangan istrinya itu.Membuat Adinda kaget.Ada apa ini?kenapa Adrian berubah jadi sebuas ini.


"maas..." ucap Adinda lirih.


"kita pulang" ucap Adrian dingin dengan tatapan nanar yang sulit diartikan.


"tapi..."


"PULANG...!!!" Adrian membentak tepat di wajah Adinda membuat wanita itu diam dan menunduk seketika.


Adinda mengangguk.Ia pun mengikuti langkah lebar suaminya yang menyeret tangannya dengan kasar.Sedangkan Nabila yang dibuat bingung hanya berlari mengikuti kedua orang tuanya sambil terus memanggil manggil papanya.


...----------------...


***1980 KATA SUDAH OTHOR TULIS.


Harusnya ini buat dua episode,tapi digabung jadi satu.Kalau sempet othor up lagi nanti malam...kalau nggak ya besok๐Ÿ˜๐Ÿ™

__ADS_1


JANGAN LUPA BANYAKIN LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA YA MANTEMAN.....๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜***


__ADS_2