Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
102


__ADS_3

"assalamu alaikum..." ucap wanita cantik iti dari depan pintu rumah yang tertutup tersebut.


"wa alaikum salam.." sahut seorang wanita paruh baya dari dalam rumah ber cat biru tersebut.


ceklekkk...


Pintu terbuka...


Bu Lastri muncul dari balik pintu.Wanita itu terdiam melihat sosok putri semata wayangnya yang berdiri di depan pintu rumahnya.Dengan kaos hitam panjang,rok plisket abu abu dengan hijab instan berwarna senada,wanita muda yang sudah bersuami itu nampak lebih kurus dari sebelum ia meninggalkan rumah ini.Kantung mata dengan lingkaran warna hitam di sekeliling matanya menandakan betapa wanita ini begitu lelah baik hati maupun fisiknya.


"ibuk...." ucap Adinda lirih,membuat wanita itu bergetar hatinya.Semarah marahnya ia pada Adinda,hatinya tetaplah teriris melihat wanita yang selama sembilan bulan dikandungnya ini terlihat begitu menyedihkan.


Bu Lastri sekuat tenaga menahan air matanya agar tak tumpah.Ia mengarahkan pandangannya ke segala arah,tak mau menatap wajah sang putri yang terlihat begitu memilukan.


Adinda meraih punggung tangan sang ibu kemudian menciumnya.


Bu Lastri semakin bergetar.Dadanya terasa semakin sesak saat tetesan air mata Dinda mengenai punggung tangan keriputnya.


"ibuk apa kabar?" tanya Adinda.


Bu Lastri tak menjawab,ia masih memalingkan wajahnya tak mau menatap Dinda.


"buk....Dinda kesini mau pamit.Dinda sama Nabila besok mau kembali ke ibu kota.Mas Adrian di pindahkan kesana buk.Dan kemarin ada teman mas Adri yang mau jemput Dinda." ucapnya.


"Dinda minta maaf....sekali lagi Dinda minta maaf.Bukan maksud Adinda membantah atau durhaka sama ibuk.Tapi sekarang Adinda punya suami buk...kami punya anak...anak kami begitu merindukan papanya."


"Dinda akan kesana untuk memulai hidup baru.Sekali lagi Dinda minta maaf....sungguh bukan maksud Dinda untuk membangkang sama ibuk." ucap Adinda dengan linangan air mata.


"Adinda minta maaf...Adinda belum bisa jadi anak yang bisa ibuk banggakan.Dinda sudah melukai perasaan ibuk.Dinda sudah mematahkan harapan ibuk."


"maaf.......maaf buk..." ucapnya dengan air mata yang semakin banjir.


Bu Lastri tak bisa menyembunyikan kesedihan nya.Mendengar ucapan itu membuat hati wanita itu semakin teriris.Air matanya pun menetes dengan deras membasahi pipi keriputnya.


Adinda mengusap lelehan air mata nya.Ia kembali meraih punggung tangan ibunya,lalu menciumnya dengan sepenuh hati,seolah enggan untuk melepaskan nya.Adinda sesenggukan.Sungguh berat baginya dalam mengambil keputusan ini.Ia harus pergi meninggalkan sang ibu disaat wanita paruh baya itu tinggal seorang diri.Ingin rasanya ia memboyong bu Lastri,namun mengingat betapa bencinya bu Lastri pada Adrian membuatnya berfikir seribu kali untuk membawa wanita itu.


"Adinda pamit buk....Dinda akan sering sering ke sini nengokin ibuk.Dan kalau ibuk berkenan,Dinda akan jemput ibuk untuk ikut tinggal sama Dinda di rumah mas Adrian.Biar ibuk nggak kesepian" ucap Adinda.


Bu Lastri masih tak menjawab.


"Dinda pamit buk....assalamu alaikum" ucapnya kemudian bergegas pergi meaning tempat itu.

__ADS_1


"wa alaikum salam" ucap Bu Lastri lirih,nyaris tak terdengar.


Bu Lastri luruh.Ia menangis di kursi kayu yang berada di teras rumahnya.Ia kehilangan anak nya satu satunya.Jauh dari dalam lubuk hatinya ia sangat berat kehilangan putrinya,melepaskan nya untuk pergo dan tinggal di kota besar itu.Sungguh....ia tetaplah seorang ibu yang menyayangi anaknya melebihi apapun.Namun kerasnya hati dan kekecewaan yang mendalam atas Kebohongan yang Adinda buat sudah berhasil menutupi semua perasaan itu.Ia sudah kadung kecewa.Entahlah.....bagaimana akhirnya nanti....hanya Tuhan dan Author yang tau😜


...****************...


Ke esokan harinya..



Marco sudah berada di kediaman Adinda dengan taxy online yang akan mengantar mereka menuju bandara.Dengan kemeja biru muda,celana jeans putih dan kacamata hitam yang bertengger membingkai mata teduhnya,pria itu terlihat sangat sempurna.Sambil memainkan ponsel miliknya Marco berdiri bersandar di samping mobil yang sedang terparkir di depan rumah Adinda.


"Ya Allah...Dinda itu dikelilingi cowok ganteng ya...jadi pengen... " ucap Putri.


Naya dan Chika hanya menggelengkan kepalanya.


Marco berjalan mendekati ketiga remaja itu.Mereka pun menyambut dengan berbagai ekspresi.Putri nampak berbinar takjub,Chika terlihat cuek,sedangkan Naya hanya menunduk.


"Nay....gue boleh nggak minta nomor hp lo" ucap Marco pada gadis yang terus menunduk itu.


Putri dan Chika saling pandang....


"buat apa mas?" tanya Naya.


"moduussss...." ucap Chika lirih sambil mengalihkan pandangannya.


"lawas c*kk..." ucap Putri sambil ikut mengalihkan pandangannya


(kuno...")


"boleh?" tanya Marco lagi.


"emm...." Naya seolah ragu untuk memberikan nomor ponselnya.


"nomor nya Putri aja mas...!" ucap Chika tiba tiba dengan lantangnya.


"ooohhh...iya...nomornya Putri aja...." ucap Naya mengiyakan.


"Put...nomor mu Put....mana Put...kasian mas nya nungguin" ucap Naya buru buru.


"oh...oke...ini mas....nomor ku...catet ya.... 08........." ucap Putri dengan cepat dan cekatannya menyebutkan nomor ponselnya.

__ADS_1


"kalau gabut vc aja mas..." ucap Putri disambut tawa cekikikan dari dua sahabatnya.


Marco pun dibuat gigit jari oleh ulah kompak para remaja cantik itu.Mau tak mau ia pun menyimpan nomor Putri,padahal bidikannya Naya.Gadis itu ternyata jauh lebih lembut dan pemalu dari pada Dinda.Dinda mah masih ada ganjen ganjen nya dikit,kalau Naya dari kemarin kalau diajak ngobrol jawabnya cuma 'nggih' (iya) sama 'mboten' (tidak) doang.


Tak butuh waktu lama,Dinda keluar bersama Nabila dan Bu Ela.Dinda memutuskan untuk membawa Bu Ela sekalian.Mau bagaimana pun bu Ela adalah ibu kandung Adrian.Ia juga berhak untuk tinggal di rumah suaminya itu.Siapa tahu dengan begitu hubungan antara Bu Ela dan Adrian akan berangsur membaik.


"siap Din?"tanya Marco


"siap mas..."jawab Adinda.


" Nabila siap?"


"siap om..!!yeyy....aku mau ketemu papa...!!" ucap Nabila bersorak.


Adinda mendekati tiga sahabatnya.


"aku pergi dulu ya....aku titip ibuk.." ucap Adinda dengan mata mengembun.


"kalau udah sampai kabarin ya Din.." ucap Putri.


"jaga diri kamu baik baik ya..." ucap Naya.


"semoga kamu bisa bahagia disana dengan kehidupan baru kamu Din"


Adinda mengangguk haru.Ke empatnya pun berpelukan cukup lama.Air mata pun tumpah.Mereka akan berpisah lagi setelah belum lama mereka berkumpul.


"mas...titip temen saya ya...kalau nakal jambak aja" ucap Putri mencoba mencairkan suasana.Tawa renyah pun tercipta.


"duluan ya...assalamu alaikum..." ucap Dinda.


"wa alaikum salam.."


Mereka pun berpisah.Dinda segera menuju mobil bersama Nabil dan Bu Ela duduk di kursi belakang.Sedangkan Marco duduk di kursi samping kemudi.


...----------------...


***MANA VOTE DAN HADIAHNYA?


RAMAIKAN KOLOM KOMEN DAN JANGAN LUPA KLIK LIKE SETELAH BACA...


PADAHAL BANYAK YANG BACA LOH...TINGGALIN JEJAK LAAAHH🥺🥺🥺🥺***

__ADS_1



__ADS_2