Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
92


__ADS_3

Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu....


Bu Ela menangis sesenggukan setelah mendengar cerita Adinda.Cerita awal mula pertemuan nya dengan Adrian hingga berakhir dengan tertangkapnya Adrian kini.Ia menyesali segala kesalahannya dimasa lalu.Mau tak mau ialah yang memiliki andil terbesar dalam terbentuknya sifat Adrian.


Bu Ela menangis sambil memegangi dadanya.Bodohnya ia meninggalkan keluarga nya yang bahagia demi laki laki mata duitan yang hanya mengincar hartanya.Ia begitu perih,ternyata bukan hanya dirinya yang menderita akibat kekhilafannya,tapi juga anaknya.Laki laki itu jauh lebih menderita dari pada dirinya.


Bu Ela mengusap lelehan air matanya.Ia mencoba kembali tersenyum untuk menantu dan cucunya.


"jadi kalian mau tinggal disini?" tanya Bu Ela.


Adinda hanya mengangguk.


"kamu yakin ndok?rumah ibuk reyot.."


"yang penting kami nggak kehujanan dan kepanasan buk.Dinda udah di usir sama ibu Dinda.Kami udah nggak punya tempat tinggal" ucap Adinda dengan mata mengembun lagi...


"Ha Allah Din......hiksss...."


Bu Ela memeluk tubuh ramping itu.Malang sekali nasib Adinda.Ia begitu menderita diusia nya yang masih sangat belia.


Bu Ela melepaskan pelukannya.


"ya udah...kalian bisa tinggal disini.Ibu masih punya satu kasur nyang ndak kepakai...ada di sana" ucap bu Ela sambil menunjuk sebuah ruangan sempit tanpa daun pintu,yang hanya tertutup gorden lusuh.


"makasih buk.." ucap Adinda.


"ya udah....Dinda beres beres dulu" ucapnya lagi.Bu Ela hanya mengangguk.Adinda bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut.


Adinda terdiam sejenak.Sebuah ruangan yang bisa dibilang sempit dengan sebuah kasur kapur yang masih tergulung di atas sebuah tikar lusuh di lantai tanah.Adinda meneteskan air matanya.Bukan apa apa,tapi ia lebih memikirkan nasib Nabila.Ia merasa bersalah karena harus membawa Nabila tinggal di gubug yang menyedihkan ini.Ia tak bisa memberikan yang terbaik untuk malaikat kecilnya itu.


"ayo ma...kita beresin" ucap Nabila.


Adinda tersenyum lembut.Ia kemudian mengangguk.Keduanya pun mulai merapikan ruangan yang semula tak terpakai tersebut.


...****************...


Sedangkan di tempat lain.....


Saat malam mulai menjelang....


Di ruangan berjeruji besi.Laki laki tampan dengan tubuh yang dipenuhi tato itu tengah sibuk dengan buku buku agamanya.Tanpa suara,ia nampak begitu serius memahami kata demi kata dari buku panduan sholat yang Adinda berikan padanya.


Tekat Adrian sudah bulat,ia akan berubah demi Adinda.Ia akan menjadi laki laki yang bisa Adinda dan Nabila banggakan nantinya.Meskipun sedikit kesulitan karena ia harus belajar sendiri,tapi laki laki itu tak mau menyerah.Ia harus bisa.


Adrian masih fokus pada buku bukunya,tiba tiba...


"asssalamu alaikum"


Suara itu berhasil membuat Adrian mendongak ke arah sumber suara.Seorang pria berkopiah putih kurang lebih berusia lima puluh tahunan berjenggot putih datang mendekati Adrian.


"wa alaikum salam" ucap Adrian.


Laki laki itu mendekati Adrian,ia duduk di samping laki laki dua puluh delapan tahun tersebut.


"sedang apa mas?" tanya pria bernama Hasan tersebut.


Adrian hanya tersenyum simpul,ia menunjukkan buku panduan sholat yang dibacanya.


Pak Hasan tersenyum..

__ADS_1


"mau belajar sholat?"tanyanya.


Adrian hanya tersenyum,ia kembali membuka buka buku ditangannya.


Pak Hasan mengulurkan tangannya.


"Nama saya Hasan" ucapnya.


Adrian kembali tersenyum,ia menyambut uluran tangan laki laki berjenggot itu.


"Adrian" ucapnya.


Pak Hasan tersenyum.


"kamu kenapa bisa berada di sini?" tanyanya.


Adrian menunduk,ia tersenyum getir.


"karena saya memang pantas berada disini" ucap Adrian.


Pak Hasan tertawa getir.Ia menepuk pundak Adrian.


"bapak sendiri?kenapa bisa ada disini?saya lihat bapak seperti bukan orang jahat?" tanya Adrian.


"tidak semua yang ada disini itu penjahat mas" ucapnya.


"panggil saya Adrian saja pak" ucapnya.


"Adrian...." ucapnya.


Adrian hanya mengangguk.


Adrian menatap intens ke arah laki laki itu.


"siswa?" tanya Adrian.


"iya...bapak ini adalah salah satu pengajar di salah satu sekolah di kota ini...." ucapnya.


"kalau kamu sendiri?kenapa pria tampan dan muda seperti kamu bisa nyasar ke tempat seperti ini?nyari cewek?ndak ada disini...hehe.." ucap pak Hasan sambil tertawa mencairkan suasana.


Adrian tersenyum miris.


"saya manusia bia*** pak..!saya penculik,pemerk*sa,bisa dibilang ge*mo juga,pembunuh juga...yaaahhh....bisa dibilang saya jelmaan iblis lah...calon penghuni abadi neraka..." ucap Adrian dengan nada getir mengingat semua kejahatan nya.


Pak Hasan tercengang.Dalam hati ia mengucap istigfar.Ternyata orang yang ada di hadapan nya adalah seorang penjahat kelas kakap.Namun sepersekian detik kemudian ia tersenyum.


"heeemmmhhh....kamu itu sok tau...dari mana kamu bisa menyimpulkan kalau kamu itu calon penghuni neraka..yang abadi?" tanya Pak Hasan.


Adrian menatap ke arah pria itu.


"ndak ada yang tau seberapa besar dosa manusia selain Allah...bahkan kita sendiri aja ndak tau" ucapnya.


"jangan suka menghakimi dirimu sendiri..ndak baik" ucapnya.


Adrian tak menjawab.Ia hanya menunduk mendengarkan ucapan laki laki itu.


Pak Hasan menepuk pundak Adrian.


"berprasangka baiklah sama Allah..." ucapnya.

__ADS_1


Pria itu kemudian bangkit.


"bapak mau kemana?" tanya Adrian.


"saya mau sholat,bentar lagi mau masuk isya'.." ucapnya kemudian hendak melangkah pergi.


"pak..." ucap Adrian.


"apa saya boleh ikut solat sama bapak?" tanya Adrian lagi.


"kamu mau..?"


Adrian mengangguk.


"ayo kalau begitu" ucap Pak Hasan.


Adrian pun bangkit sambil membawa sajadah pemberian Adinda.


...***************...


Kembali ke gubuk reyot berdinding anyaman bambu....


Wanita itu tengah bersimpuh di atas sajadah sambil melantunkan ayat ayat suci Al Quran.Tak ada tangisan.Sekuat hati ia berusaha menenangkan perasaan nya.Mengiklaskan segala yang telah terjadi sambil terus manata hatinya agar bisa kuat untuk Nabila.


Disampingnya,Nabila tak henti menatap lekat wanita yang kini berstatus ibu angkatnya tersebut.Gadis kecil itu seolah ikut merasakan penderitaan sang mama meskipun usianya masih terlalu dini dan tak sepenuhnya paham tentang apa yang terjadi di keluarga barunya itu.Yang Nabila tahu,hidup mereka sedang diterpa badai.Ia tak boleh menyusahkan Adinda.Ia harus menjadi putri yang baik untuk wanita cantik itu.


Adinda selesai dengan AlQuran nya.Ia kemudian meletakkan kitab suci itu di atas meja rendah disana.


"nak...udah malem....tidur gih"


"kasurnya kecil ma...sempit.." ucap Nabila sambil menunjuk kasur berukuran 120x180 itu,hanya cukup untuk satu orang.


Adinda tersenyum.


"nggak apa apa,kamu tidur dulu...nggak akan sempit kok" ucap Adinda.


Nabila pun menurut.Ia segera tidur di atas kasur kapuk lusuh dengan sprei hello kitty yang Adinda bawa dari rumahnya tersebut.


Tak butuh waktu lama,Nabila terlelap dalam tidurnya.Adinda tersenyum.Ia menatap wajah imut milik gadis kecil nya tersebut dengan perasaan haru.Tangannya tergerak menyelipkan beberapa helai rambut Nabila kebelakang telinganya.


"selamat malam anak mama..mama janji...mama akan membuat kamu bahagia nak....kita akan kumpul lagi nanti sama papa ya sayang" ucapnya.


Adinda mengecup kening Nabila.Lalu menyelimuti tubuh mungil gadis delapan tahun itu.Adinda mulai merebahkan tubuhnya di atas tikar lusuh disana.Tanpa kasur,hanya tikar tipis yang bersentuhan langsung dengan lantai tanah.Adinda mengambil satu boneka hello kitty sebagai bantalnya.Wanita malang itu kemudian mengambil selimut dan bergegas untuk tidur.


Di ruangan lain di rumah yang sama....


Bu Ela alias Bertha masih bersimpuh di atas sajadahnya.Dengan tangan yang masih memegang tasbih,wanita tua itu masih sibuk berdzikir mengangungkan nama Allah.Satu doa yang selalu ia ucap dalam hatinya meskipun mulutnya tak bersuara,ialah kebebasan Adrian,dan kebahagiaan untuk keluarga kecil putranya itu.


Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus rasa bersalah nya pada Adrian.Ia masih diberi kesempatan oleh Tuhan.Ia masih dipertemukan dengan putranya.Tuhan juga berbaik hati menuntun sang menantu untuk mendekat padanya saat wanita itu sedang terpuruk.Tuhan seolah memberinya kesempatan untuk dia bisa menjaga dan merawat orang orang yang Adrian sayangi.


Bu Ela hanya bisa berharap....


semoga doa dari ibu yang penuh dosa ini bisa didengar oleh sang kuasa....


...----------------...


***RAMAIKAN KOLOM KOMEN DAN LIKE...


JANGAN LUPA VOTE DAN HADIAHNYA JUGA🥰🥰🥰🥰***

__ADS_1


__ADS_2