Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
101


__ADS_3

Adinda membelalakan matanya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"mas Marco..?"lirihnya.


Marco tersenyum.Adinda menoleh ke samping Marco,ada Naya berdiri di sana.


" Naya?"ucapnya.


Pak Ridwan keluar dari dalam rumah reyot itu membuat semua yang ada disana pun menoleh ke arahnya.


Marco menyipitkan matanya melihat seorang laki laki yang lebih pantas menjadi ayah Adinda itu keluar dari dalam rumah itu


"itu bapakmu Din?" tanya Marco.


Adinda menunduk...


"bukan mas...dia tadi mau berbuat k**ang aj*r sama aku" ucap Adinda menunduk.


Marco mengangkat dagunya lalu menoleh ke arah dokter Ridwan.


Marco menarik tangan Adinda agar mendekat ke arah Naya.Marco berjalan mendekati dokter Ridwan.


"bapak ngapain di sini?" tanya Marco


"dia tadi meminta saya kemari untuk memeriksa anaknya...tapi setelah saya sampai,dia justru mau menggoda saya" ucap dokter Ridwan berbohong.


Adinda menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.Kok bisa bisanya dia memutar balikan fakta.


Marco tersenyum sinis.


"mendingan sekarang kamu pergi" ucap Marco.


Pak Ridwan yang sudah terlanjur tertangkap basah itupun tak mau menyia nyiakan waktunya. Lantaran sudah terlanjur malu,ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Adinda bernafas lega,ia menatap ke arah Marco yang tengah sibuk memperhatikan rumah atau lebih tepatnya gubug tempat tinggal Adinda.Keadaannya jauh dari kata layak,membuat Marco semakin teriris pilu.Ia bahkan tak menyangka bahwa Adinda bisa bertahan hidup di tempat seperti itu.


"mas...." ucap Adinda membuyarkan pikiran Marco.


"mari masuk mas" ucap Adinda.


Marco pun tersenyum.Ia dan Naya kemudian masuk ke dalam rumah.Marco semakin perih saat melihat ke dalam rumah itu.Tak ada satupun barang mewah di tempat itu.Hanya ada tikar lusuh yang kini tengah digelar oleh Adinda serta sebuah bangku kayu usang bertengger di pojok ruangan.Ada dua ruangan yang tertutup gorden sebagai pembatasnya yang Marco yakin itu adalah kamar.


"aku bikinin minum mas.."


"nggak...nggak....nggak usah repot repot....kamu duduk aja..aku cuma pengen ngomong sama kamu" ucap Marco.

__ADS_1


Marco duduk di tikar itu bersama Naya,Adinda pun mengikuti.Marco kembali mengamati rumah tak layak huni itu.Sungguh...sangat memprihatinkan.


"kamu tinggal disini Din?" tanya Marco.


Adinda hanya mengangguk sambil menundukan kepalanya.


"sendiri?"


"sama anak dan mertua aku mas.." ucap Adinda.


"anak?mertua???" tanya Marco.Ia memang tidak tahu jika Dinda dan Adrian telah mengadopsi seorang putri bukan?ia juga tidak terlalu tahu tentang seluk beluk keluarga Adrian yang begitu tertutup rapat.


"kamu punya anak?Adrian masih punya orang tua?" tanya nya lagi.


Adinda tersenyum.


"mas Adri mengangkat seorang gadis kecil sebagai anak kami sebelum dia dipenjara mas" ucap Adinda.Marco mengangguk.Ia tahu,salah satu atau mungkin satu satunya sisi baik dari seorang Adrian Tama adalah ia sangat menyayangi anak kecil.Itu terbukti dari kemurahan hatinya yang selalu memberikan santunan pada anak anak di beberapa panti asuhan.Ternyata Adrian juga mengadopsi seorang anak sebagai anak angkat nya.Marco tersenyum,sebesar apa pun kejahatan Adrian,dia tetaplah pria yang masih memiliki nilai positif di mata Marco,membuatnya semakin yakin untuk membantu laki laki itu.


"kalau mertua kamu?apa dia keluarga suami kamu?" tanyanya.


"dia ibu kandungnya mas Adri mas..." ucap Adinda.Marco hanya mengangguk,ternyata ibunya Adrian masih hidup.


"mas Marco sendiri ada perlu apa datang kesini?kok bisa tau kalau saya ada di sini?" tanya Adinda.


Adinda ikut tersenyum melihat mereka berdua.


" memangnya ada perlu apa mas?"tanya Adinda.


"saya kesini mau jemput kamu Din...Adrian minta tolong untuk membawa kamu dan anak kamu pergi dari sini" ucap Marco.


Adinda membelalakan matanya.


"mas Marco udah ketemu sama mas Adri?dia gimana mas?dia baik baik aja kan?" tanya Adinda antusias.


"dia baik baik aja kok...dia minta saya untuk jemput kamu disini"


Adinda nampak berbinar bahagia,namun sepersekian detik kemudian,ia kembali murung....


"trus aku mau tinggal dimana mas kalau aku kesana..aku udah nggak punya tempat tinggal...semua aset mas Adri disita" ucap Adinda.


Marco tersenyum...


"Adrian bilang sama gue...kalau dia masih punya satu rumah yang dulu jadi tempat tinggalnya sama almarhum kakeknya.Itu satu satunya rumah peninggalan almarhum tuan William,dan nggak ada sangkut pautnya sama bisnis bisnis nya Adrian,jadi polisi nggak menyita itu" ucap Marco.


"Alhamdulillah......"

__ADS_1


Suara itu sukses membuat Marco dan Adinda menoleh ke arah gadis manis berhijab di samping Marco.Naya spontan mengucap syukur mendengar ucapan Marco yang mengatakan bahwa Adrian masih punya sisa harta untuk bisa Adinda tempati.Itu artinya Dinda tidak akan tinggal di gubug ini lagi.


Marco menatap lucu ke arah gadis itu.


"udah Din...kamu pergi aja sama mas ini....kamu juga bisa deket sama mas Adrian kalau kamu ikut mas ini" ucap Naya antusias.


"nama gue Marco bukan ini" ucap Marco dengan tatapan mata tak lepas dari wajah Naya.Naya menoleh ke arah Marco,ia kemudian menunduk saat ia sadar sedari tadi Marco mengamatinya.


"maaf mas.." ucapnya lirih.


Marco kembali menoleh ke arah Dinda.


"gimana?lo mau kan?" tanya Marco


"aku sebenarnya mau mas....tapi gimana sama ibu aku?dia sendirian mas.Dan sampai sekarang dia belum bisa menerima aku dan mas Adri sebagai suami istri.Awalnya kami datang kesini pengen minta restu ibuk,tapi malah jadi kayak gini"


"udah Din...nggak usah mikirin itu.Biar ibuk aku sama anak anak yang ngurusin seperti biasa,kita bisa gantian kok.Kamu pergi aja,kasian suami kamu...kasian juga Nabil dia sampai sakit kayak gitu.Aku juga nggak tega liat kamu tinggal disini terus terusan" ucap Naya lagi dengan semangat menggebu gebu.Tanpa Naya sadari sebuah kamera ponsel berhasil milik Marco berhasil menangkap gambarnya yang asyik nyerocos itu.Entahlah...lucu aja.


"ya Din ya....kamu mau ya.....kasian anak kamu Din..." ucap Naya lagi.


Adinda menunduk,ia seolah bimbang.Ia tak tega jika harus meninggalkan ibunya lagi,namun ia juga sangat ingin lebih dekat dengan Adrian.Terlebih lagi Nabila begitu merindukan papanya itu.


Adinda menarik nafas panjang.


"mas Marco kapan rencana baliknya?" tanya Adinda.


"Insya Allah besok Din.."


"kasih aku waktu ya mas...aku harus ngomongin ini dulu sama mertua aku.Aku juga harus ngomong sama ibuk aku" ucapnya.


Marco mengangguk sambil tersenyum.


"gue ngerti Din....lo bisa pikir pikir dulu kok" ucapnya....


...----------------...


***SELAMAT PAGI......


JANGAN LUPA BERNOVEL PAGI INI...


RAMAIKAN KOLOM KOMEN NYA YA.....


JANGAN LUPA KLIK LIKE SETELAH BACA.....


BOLEH JUGA NIH MINTA VOTE DAN HADIAHNYA YANV BANYAK.....πŸ₯°πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜***

__ADS_1


__ADS_2