
Lima belas menit perjalanan.....
Ferrari merah itu sampai di sebuah bangunan lusuh berlantai dua yang menjadi markas bagi genk Diavolo yang dipimpin oleh James.Adrian menyiapkan dua pistolnya,lalu menyelipkannya di bagian belakang tubuhnya.
Adrian turun dari dalam mobil dengan sorot mata tajam dan aura iblis yang menguasai dirinya.Pria itu mendekati pintu utama bangunan tersebut dengan raut wajah garang.
"selamat datang di markas kami tuan Adrian,tuan James sudah menunggu" ucap seorang anak buah sambil membungkukkan tubuhnya.Namun terdengar sebagai sebuah penghinaan bagi seorang Adrian Tama.
Adrian tak peduli,yang terpenting sekarang adalah keselamatan Adinda dan kakeknya.
Pria bernetra hijau itu pun masuk ke dalam bangunan tersebut.Sebuah bangunan luas dengan satu tangga yang berukuran cukup luas menghubungkan antara lantai dasar dengan lantai dua.
"selamat datang di markas kami... yang terhormat tuan Adrian Tama.." ucap James dari lantai atas sambil mendorong pelan tuan William yang duduk di atas kursi roda itu menuju ke bibir tangga.
Adrian menatap garang ke arah James.Dadanya naik turun.Dia bersumpah akan membunuh laki laki itu dan menghancurkan tempat ini.
"apa kabar tuan....senang sekali berjumpa dengan anda..." ucap James lagi.
Tak berselang lama,Romi...si penghianat itu,ia datang dari belakang James dengan menyeret Adinda yang tubuhnya terikat dan mulut yang tertutup lakban.
Wanita itu nampak sembab,ia menatap sendu ke arah laki laki bernetra hijau dibawah sana.
"Dinda..." lirihnya.Adrian menatap nanar ke arah wanita yang nampak mengenaskan itu.Jauh dari dalam lubuk hatinya ia merasa perih.Ini semua berawal darinya.Jika bukan karena nya yang menyeret wanita itu masuk dalam kehidupannya,mungkin wanita itu tak akan se menderita sekarang.
Adrian melangkahkan kakinya,baru satu langkah....
"berhenti anak muda...!aku belum menyuruhmu mendekat..!" ucap James dingin.
"apa maumu..?!" tanya Adrian dengan aura iblisnya.
"kau....jadi budakku.." ucap James penuh penekanan.
Adrian menyeringai.
"mimpi" ucapnya dingin.
kriiieett....pintu utama terbuka.Puluhan anak buah James masuk ke dalam bangunan itu dengan membawa berbagai senjata.Para pria berbadan tegap itu masuk dan berdiri mengepung Adrian yang hanya seorang diri.
Adrian memasang mode awas.Dasar pengecut,beraninya main kroyokan.Jantung Adinda bak berhenti berdetak untuk sejenak.Adinda menggelengkan kepalanya samar.Ya Allah...bagaimana ini...di bawah sana,suaminya....ia sedang dikepung puluhan orang dengan berbagai senjata,sedangkan Adrian hanya berdiri seorang diri dengan tangan kosong.
"emmmggghhh..." Adinda menjerit namun tertahan oleh lakban dimulutnya.Wanita itu seolah ingin memanggil nama suaminya dan memintanya untuk pergi dari tempat ini.Sungguh....ia memang kecewa dengan segala perbuatan Adrian,tapi ia tak kan rela melihat suami nya itu dikeroyok oleh puluhan anak buah James itu.Yaa....katakanlah sebenarnya ia menyayangi Adrian sebagai suaminya dengan segala kekurangan dan hal buruk yang ada pada laki laki itu.
Adrian menatap nanar wajah Adinda yang mulai menangis.Hatinya bergetar.
"kau menderita karena aku Dinda...aku akan menebusnya hari ini" batin Adrian.
James menangkap adegan saling tatap dari sepasang suami istri itu.Sebuah seringai licik muncul dari bibir James.
Pria itu mendekati Adinda.Lalu mencengkeram kuat dagu Adinda.Membuat wanita itu kini menatapnya.
"apa yang kau tangisi sayang?" tanya James.
"dia?" ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah Adrian yang berdiri di lantai bawah.
__ADS_1
"emmm" Adinda menangis lagi.
"jangan sentuh istriku baji****...!"bentak Adrian dengan penuh amarah membuat James dan Adinda menoleh ke arah laki laki itu.Adrian hendak melangkah menuju tangga yang ada dihadapannya,namun dengan sigap dua anak buah James yang berdiri di belakangnya menahan kedua pundak Adrian.Mereka mengunci tangan Adrian membuat laki laki itu tak bisa bergerak dengan leluasa.
James menyeringai,ia melepaskan dagu Adinda yang semakin menangis melihat sang suami di bawah sana.James kemudian kembali beralih menuju tuan William yang juga meneteskan air mata melihat sang cucu.
James memegang kendali kursi roda itu dengan menatap bengis pada Adrian.
" katakan Adrian....kau terima tawaran ku...atau tidak..."
Adrian meronta minta dilepaskan.Tatapan penuh kebencian terus tertuju pada laki laki yang berdiri dengan angkuh di atas sana.
"lepaskan kakekku..." ucapnya dengan aura iblis yang begitu kuat..
"oh ya..?baiklah...sesuai permintaanmu tuan Adrian" ucapnya.Kemudian dengan entengnya ia mendorong kursi roda itu terjun menuruni tangga.Membuat sang kakek yang tua renta itu jatuh terguling bersama dengan kursi rodanya.
"KAKEKK.....!!!!" Adrian berteriak sekuat tenaganya.Air matanya jatuh.Kakeknya,keluarganya,penyelamat nya,orang yang sangat ia sayangi,tersungkur bersimbah darah tepat di hadapannya.Laki laki itu tewas tepat di hadapan Adrian.James tertawa terbahak bahak melihat kehancuran Adrian.Begitu juga Romi.Anak buah James melepaskan tangan Adrian.Pria itu melangkah lunglai mendekati jasad sang kakek disana.Adrian luruh,ia menangis memeluk jasad pria tua itu.Dunianya seolah runtuh saat itu juga.
Satu detik kemudian,mata elangnya menajam.Ia menatap penuh dendam pada laki laki pembunuh kakeknya itu.
Adrian bangkit,
"kau harus menyusul kakekku bang***...!βucapnya kemudian berjalan mendekati James,namun dengan sigap para anak buah James yang sedari tadi sudah bersiap itupun bergerak menyerang Adrian.
Pertempuran pun terjadi,antara seorang Adrian dengan puluhan anak buah James bersenjata lengkap.Adinda terus menangis melihat sang suami yang berjibaku di bawah sana.
" Ya Allah....lindungi suami hamba Ya Rabb.."batin Adinda memohon.
"emmmmggghh..." Adinda kembali mencoba berteriak.Ingin rasanya ia berlari memeluk laki laki itu.Adrian menatap pilu ke arah Adinda.Seutas senyum terbentuk dari bibir bonyok Adrian.
"aku sudah menerima karma ku sayang.Maaf untuk semua penderitaan mu" batinnya.
"cukup mas....pergi..." batin Adinda merintih.
Ia sudah tak sanggup melihat sang suami menderita dibawah sana.
James mendekati Adinda,ia membuka lakban di mulut wanita itu dengan gerakan pelan.
Adinda menangis.
"tuan....lepasin mas Adri...saya mohon....hikss...." ucap Adinda memelas.
"ckckck...kau menangisinya manis?untuk apa hemm?" ucapnya sambil menyentuh dagu lancip Adinda.
Air mata Dinda semakin tak terbendung,ia menangis sesenggukan di dalam genggaman tangan Romi.
"lepaskan suami saya tuan..." ucap Adinda mengiba.
James tersenyum smirk.
"akan ku lepaskan..tapi dengan satu syarat" ucapnya.
Adinda menatap James dengan tatapan menebak.
__ADS_1
"ceraikan suamimu...dan jadilah simpananku" ucapnya dingin.
Adinda menggeleng cepat.
"nggak....NGGAKK...!!!" ucap wanitan itu lantang.
"kalau begitu jangan mimpi untuk aku melepaskan nya" ucap James angkuh.
James berjalan menuruni tangga,disusul Romi yang setia menyeret tubuh Adinda yang terikat.
James berdiri angkuh dihadapan Adrian yang mencoba bangkit,namun...
buugghhh....
James menendang dada Adrian,membuat laki laki itu kembali terkapar dalam posisi terlentang.
"stooopppp....!!maaaaasssss.....!!!" Adinda semakin histeris.
"lemah sekali kau Adrian...!aku tidak menyangka ternyata semudah ini mengalahkan mu" ucapnya.
James menggulingkan tubuh Adrian yang sudah lemah itu dengan kakinya,lalu mengambil pistol yang ada di tubuh bagian belakang pria bernetra hijau tersebut.
"sepertinya akan menyenangkan jika aku membunuhmu menggunakan senjatamu sendiri" ucap James sambil mengarahkan pistol Adrian ke arah pria yang mencoba kembali bangkit itu.
"jangan tuan....jangan...." ucap Adinda ketakutan.
"DIAAAMM....!!!" bentak James pada Adinda.
"jangan bentak istriku ke*****...!!!βucap Adrian.
James menyeringai.
" selamat tinggal Adrian..."
.
.
.
.
.
DHOOOORRRRR........
...----------------...
***YA ALLAH....NUNGGUIN KONTRAK YA ALLAH...π«π«π«π«π«
TAK KASIH BONUS SATU EPISODE MUMPUNG OTHOR LAGI FULL INSPIRASI πππππ
YANG PENASARAN DENGAN KELANJUTAN NYA JANGAN LUPA LIKE KOMEN HADIAH DAN VOTE NYA YAAA....ππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°***
__ADS_1