
Sepasang suami istri itu baru pulang dari pasar setelah sebelumnya mereka pergi ke makam ayah Dinda.Dengan menggunakan motor matic milik Dinda,sepasang suami istri itu berboncengan sambil menenteng belanjaan berisi sayuran dan lain lain sebagai bahan membuat soto untuk mereka jual besok pagi.Adrian memang sengaja tak mengajak Nabila.Gadis kecil itu sedang tidur saat mereka berangkat.
"assalamu'alaikum...." ucap Adinda saat memasuki rumah disusul Adrian di belakang dengan seabrek barang belanjaan di tangannya
"wa alaikum salam" ucap Bu Lastri lirih.Wanita itu kini tengah duduk di ruang tamu.Ia menatap sinis ke arah barang belanjaan yang ada di tangan Adrian
"Nabil udah bangun buk?" tanya Adinda.
"ibuk nggak tau" ucap Bu Lastri sambil melengos membuang muka.
Adrian susah payah mengatur emosinya.
ceklekk...
pintu kamar Adinda terbuka.Nabila keluar kamar dan langsung memeluk mamanya.Ia menatap takut ke arah sang nenek.Nabila sudah bangun dari tadi,tapi ia memilih mengunci diri di dalam kamar saat ia tak menemukan kedua orang tuanya di rumah.Sejak di bentak oleh bu Lastri pagi tadi,gadis kecil itu kini tak berani mendekati neneknya itu.
"kamu udah bangun sayang?" tanya Dinda sambil mengusap lembut kepala Nabila.
Nabila hanya mengangguk sambil menatap takut ke arah Bu Lastri.Pemandangan itu tak luput dari tatapan mata tajam Adrian.Ia berfikir,jangan jangan Bu Lastri melakukan hal yang tidak tidak saat ia meninggalkan Nabila tadi,hingga membuat anaknya terlihat ketakutan seperti itu.
"mama....mama kemana aja.." ucap Nabila lirih dengan mata yang tak lepas dari bu Lastri.Sedangkan wanita itu hanya menatap tidak suka pada keakraban yang tersaji di hadapan nya.Entahlah....seharusnya belum waktunya ia melihat pemandangan seperti ini.
"mama abis dari pasar nak....abis belanja"
"tadi pagi kan udah ma..."
"ini buat kita jualan soto besok sayang" ucap Adinda.
Bu Lastri reflek menatap ke arah Dinda.
"untuk apa kamu jualan soto?!ndak usah...!ndak usah jualan lagi...!"
"buk...itukan satu satunya mata pencarian ibuk..."
"ndak usah pedulikan ibuk Din..!ndak usah urusin ibuk..!urusi saja keluarga barumu...!ibuk ndak perlu dibantu..!" ucap Bu Lastri.
"buk... tolong buk....udah....jangan kayak gini lagi.Dinda sama mas Adri cuma pengen bantuin ibuk.Kita pengen menebus kesalahan kita"
"ibuk bilang ndak usah ya ndak usah...!!"
buugghhh....
Adrian melempar kresek kresek belanjaan ditangannya dengan kasar,membuat ketiga wanita yang ada disana menoleh ke arahnya.Pria yang sedari tadi diam itu seolah sudah habis kesabaran.Ia menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.Anaknya di buat menangis,di sapa baik baik selalu dijawab dengan tidak mengenakkan.Dan sekarang niat baiknya membantu malah ditolak mentah mentah.
Adrian memang tengah belajar bersabar demi Adinda.Tapi mungkin sekarang ia belum lulus.Ia sudah terpancing emosi dengan sikap mertuanya yang memuakkan menurutnya.
Adrian menatap tajam ke arah sang mertua.Bu Lastri yang menyaksikan hal itu pun sontak kaget.Antara takut,heran dan tidak suka saat Adrian menatapnya bak singa yang hendak memangsa korbannya.
Adinda melepaskan Nabila yang berada di pelukan nya.Ia mendekati sang suami yang mulai terbakar emosi.
"mas...udah...kita ke kamar ya...kita bicara di kamar aja"
Adrian masih tak bergeming.
"mas...kita ke kamar sayang....aku mohon" ucap Adinda lirih dengan raut wajah memohon.
"maass....aku mohon..."
Adrian menatap wajah wanita cantik itu.Sekali lagi Adrian harus bersabar.Ini ujian untuknya menuju keluarga yang utuh dan bahagia bersama Adinda.
Adrian mengangguk.Adinda memungut kresek kresek belanjaan itu dan membawanya ke dapur.Sedangkan Adrian masuk ke dalam kamar bersama Nabila.
Adinda kembali dari dapurnya dengan membawa secangkir kopi untuk Adrian,ia kemudian masuk ke dalam kamar menyusul sang suami dan putri kecilnya.
Adinda menyerah kan kopi tersebut pada pria yang masih nampak kesal itu.
"mas....maafin ibuk aku ya..." ucapnya.
Adrian menatap sendu ke arah sang istri.
"apa kita harus menyerah Din?"
"mas...ini baru dua hari....kita masih punya banyak waktu." ucap Adinda.
"mungkin memang aku yang nggak pantes buat kamu Din."
"maaass....ibuk cuma masih kaget aja,karena ini terjadi begitu cepat.Aku yakin suatu saat ibuk pasti mau menerima kamu dan Nabil" ucap Adinda.
Tangan Adinda tergerak menyentuh pipi Adrian.
"sabar sebentar lagi ya...." ucapnya.
Adrian tersenyum.Ia mengecup kening Adinda lalu memeluk tubuh ramping itu.
...****************...
Malam hari....
tok...tok....tok....
__ADS_1
Adinda mengetuk pintu kamar sang ibu.
"buk....makan dulu buk..." ucap Adinda.
Bu Lastri yang berada di dalam kamar tak bergeming.
"buk...ini udah waktunya makan malam,kita makan bareng yuk" ucapnya lagi.
Masih tak ada jawaban.
Adinda menoleh ke arah meja makan,dimana sudah ada Adrian dan Nabila disana.Adinda mencoba tersenyum,ia kemudian mendekati meja makan tersebut.
"kita makan bertiga dulu ya..." ucapnya.
Adrian dan Nabila pun mengangguk.Adinda mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk suami dan anaknya.Tiba tiba....
doorr....doorr....dooorr...
Pintu rumah digedor dengan sangat kasar.
"siapa sih?nggak sopan banget gedor gedor rumah orang malem malem" ucap Adinda.
Wanita itu kemudian berjalan menuju pintu rumah tersebut.
ceklekk....
pintu terbuka.
Seorang wanita bertubuh subur dengan perhiasan mentereng dan make up tebal berdiri dengan angkuhnya di depan pintu rumah kecil itu.Dibelakangnya terdapat dua orang pria berkulit gelap dan bertampang sangar.
"maaf...cari siapa ya buk?" tanya Adinda.
"Lastri ndi?" tanya nya angkuh
(Lastri mana?)
"ibuk saya ada di kamar.Ada perlu apa buk?"
"oh...jadi kamu anaknya yang katanya ilang itu?mana ibukmu..!ini sudah waktunya bayar utang...!" ucap Wanita bertubuh subur bernama Tuti itu.
"utang?" tanya Dinda memperjelas.
"bu Tuti..."
Suara itu berhasil membuat Adinda menoleh.Bu Lastri keluar dari kamarnya dengan terburu buru.
"nahh....ini orangnya..!bayar utangmu...!" ucap bu Tuti.
"kita bicara di luar ya buk" ucap bu Lastri.Ia kemudian menutup pintu rumahnya dan mengajak bu Tuti untuk duduk di kursi yang berada di teras rumah.
Adinda melirik dari jendela rumahnya.Kedua wanita itu terlibat pembicaraan serius.Adinda sebenarnya penasaran.Tapi sepertinya bu Lastri tak mengijinkan nya untuk mengetahui urusan nya dengan bu Tuti.
Adinda kembali ke meja makannya.
"siapa sayang?" tanya Adrian.
"nggak tahu mas,tamunya ibuk...aku nggak kenal" ucap Adinda.
"lanjutin makannya mas...!" ucap Dinda.
"Nabil juga,makannya di abisin ya nak"
"iya ma.."ucap Nabila.
Mereka pun mulai makan,tiba tiba...
brraaakkk...
Suara pintu terbuka dengan kasar membuat ketiganya kaget.Nabila ketakutan,ia berlari memeluk ibunya.
"buk....jangan buk..."
"koen iku kakean alesan..!!seneng utang tok gak gelem bayar..!!"
(kamu itu kebanyakan alasan..!!senengnya utang doang nggak mau bayar)
Bu Lastri menangis mengiba kepada wanita gemuk itu
"bawa motornya..!!" perintah bu Tuti kepada dua anak buahnya.
Bu Lastri semakin histeris.Ia bahkan bersimpuh di kaki Tuti memohon
"jangan buk...itu punya anak saya...!saya janji besok saya bayar..!!"
"hallah...!!omong tok..!!"
(hallah...ngomong doang..!!)
Kedua anak buah bu Tuti itu pun hendak membawa motor matic milik Dinda,namun Bu Lastri sekuat tenaga menghalangi nya.
__ADS_1
"jangan pak...jangan...!!"
"lepaskan..!!"
"jangan pak....tolong...!!"
Bu Lastri terus menangis mencoba mempertahankan benda berharga miliknya itu.Hingga....
"ada apa ini?"suara bariton itu menggema.Membuat semua mata menuju ke arah pria tampan yang terlihat gagah dengan kaos biru dan celana pendek hitam itu.Adrian berdiri dengan tatapan angkuh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.Disampingnya,Adinda berdiri sambil menggendong Nabila yang ketakutan.
" sopo koen?" tanya bu Tuti
(siapa kamu?)
"saya menantu ibu ini..." ucapnya sambil menunjuk ke arah bu Lastri yang masih bersimpuh di lantai.
"ada masalah apa sampai anda harus membuat kegaduhan di rumah ini malam malam?" tanyanya.
Bu Tuti tersenyum sinis.
"lagakmu le....cemekek..!" ucap bu Tuti.
(lagakmu nak....sok ganteng)
"mertuamu ini punya hutang sama saya!sampai sekarang ndak dibayar bayar..!" ucap Bu Tuti.
Adrian tersenyum sinis.
"berapa?" tanyanya.
"lima juta...belum termasuk bunganya..!!" ucap Bu Tuti.
oh...jadi wanita ini rentenir,batin Adinda.
Adrian mengangkat satu sudut bibirnya.
"Din....ambilin dompet aku sayang" ucapnya lembut pada sang istri.
"iya mas..." ucap Adinda sambil mengangguk.Ia kemudian menurunkan Nabila dan bergegas menuju ke kamarnya.Nabila kini beralih memeluk sang papa.
Tak berselang lama,Adinda datang dengan dompet tebal di tangannya.Membuat Bu Tuti dan semua yang ada di sana terbelalak.Kebetulan sekali,Adrian baru saja mengambil uang di Atm siang tadi.Membuat dompet coklat miliknya nampak gemuk dipenuhi lembaran uang warna merah itu.
Adrian melepaskan Nabila lalu mendekati Bu Tuti,ia mengambil semua uang yang ada di dalam dompetnya itu dan menyerahkan nya pada Bu Tuti.
"segini cukup?" tanyanya.
Bu Tuti mengambil lembaran uang tersebut kemudian menghitungnya di depan Adrian.Adrian menatap sinis ke arah wanita yang berada di hadapan nya itu.Uang pemberiannya itu bahkan lebih dari cukup untuk membayar hutang plus bunga bu Lastri.
Tuti tersenyum.
"cukup" ucapnya.
Adrian tersenyum smirk.
"hehh....Lastri...!berterima kasihlah sama mantumu ini..!kalau ndak ada dia sudah ku hancurkan rumahmu ini" ucap Bu Tuti.
Wanita itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Adrian berbalik badan,ia tersenyum menatap anak dan istrinya yang masih berdiri di posisi yang sama.
"kita lanjutin makan yuk" ucap Adrian.
Adinda dan Nabila pun mengangguk.
"saya akan kembalikan uang kamu" ucap Bu Lastri.
Adrian dan Dinda pun menghentikan langkahnya.Mereka menoleh ke arah wanita yang kini sudah berdiri itu.
"saya memberikan uang kepada perempuan tadi niatnya bukan untuk membayar hutang ibuk.Tapi saya melakukannya karena saya tidak mau anak dan istri saya tidak bisa tidur nyenyak malam ini" ucap Adrian.
"kalau ibuk merasa berhutang pada saya,saya tidak keberatan kalau ibuk mau mengembalikan nya.Tapi kalau ibuk nggak sanggup atau merasa terlalu berat,nggak usah dipaksain.Anggap saja itu rasa terima kasih saya pada ibuk karena sudah merawat dan membesarkan wanita se sempurna Adinda.Meskipun saya tahu itu nggak akan cukup."
"Adinda lebih berharga dari semua uang yang saya punya" ucap Adrian tulus.
Bu Lastri menatap tajam ke arah laki laki itu.
"asal kamu tahu le...sampai sekarang saya masih belum yakin kalau kamu adalah laki laki yang baik untuk Adinda!kalau kamu memang laki laki yang baik harusnya kamu datang kemari meminta ijin pada saya dan suami saya sebelum kamu menikahi Adinda..bukan sekarang setelah kalian menikah dan setelah saya dan suami saya mati matian mencari Adinda sampai sampai suami saya harus kehilangan nyawanya..!!"
Adrian menghela nafas panjang.
"saya tahu saya salah buk....saya minta maaf.Ini memang salah saya dari awal.Saya minta maaf."
"jika ibuk mengijinkan,saya ingin memperbaiki kesalahan saya.Saya ingin membahagiakan Adinda dan ibuk."
"buktikan kalau kamu memang bisa..." ucap bu Lastri kemudian pergi kembali menuju kamarnya.
Adrian menghela nafas panjang.Adinda meraih telapak tangan suaminya.Ia tersenyum hangat.Meskipun belum mendapat restu,namun setidaknya baik ibunya dan suaminya semua sudah mengeluarkan unek uneknya.Semoga setelah ini hubungan keduanya akan membaik.
...----------------...
__ADS_1
***INI BOLEH NGGAK SIH MINTA VOTE DAN HADIAHNYA🥺🥺
MINTA LIKE & KOMENNYA JUGA LAHH...🥺🥺🥺🥺***