
......................
"mas tunggu...."
Adrian tak menggubris.Ia terus berjalan dengan emosi yang sudah memuncak.
"mas....jangan mas..tunggu..."
Adrian masih tak menggubris.
"mas...mas Adri..."
tetap tak menggubris.
"maaaas......aaaakkkkkkggghhhhh...." Adinda memekik sambil memegangi perutnya.
Wanita itu meringis.Ia terduduk di ujung bawah tangga.
"maaaaassssshh....aakkkggghhhh....."
Adrian menghentikan langkahnya,ia berbalik badan,dilihatnya sang istri terduduk di ujung tangga sambil memegangi perutnya.
"aaaakkkkkkggghhhhh.....sakiiiiiitttttt....."
"DIINDA....!!!"
Adrian berlari mendekati sang istri yang meringis kesakitan di ujung tangga.
"aaaaaakkkkkkkhhhhhhh........." Adinda memekik sambil terus memegangi perutnya.
Adrian mendekat,ia berjongkok di depan sang istri dengan raut wajah panik.
"kamu kenapa?!" tanya Adrian panik.
Adinda menangis sambil terus memegangi perutnya.
"sakiiiiiiiittt....." ucapnya.
"kita ke dokter ya..."
"nggak mau..."
"nggak mau gimana....perut kamu sakit Din...kalau terjadi apa apa gimana?"
"ya kamunya marah marah terus....huhuuhuuu......sakit maaaaasssss..."
"ya udah makanya kita ke rumah sakit..."
"nggak mauuukkk...."
"trus gimana Din...aku harus gimana..."
"bawa aku ke kamar..."
"Din....kalau terjadi apa apa sama anak kita gimana....ke dokter ya....."
"nggak mauuu....!!!!aku maunya ke kamar...!!" ucap Adinda ngeyel.
"Dinnn...."
"sakiiittt....." ucapnya lagi.
Adrian kalut,laki laki itu seolah tak bisa berfikir jernih.Ia pun segera membopong tubuh Adinda dan bergegas membawanya ke kamar.
Adinda mengalungkan kedua tangannya ke leher Adrian sedangkan kepalanya ia tempelkan ke dada bidang suaminya.
"sakit mas..." ucapnya lirih disertai isakan.
"tahan ya.." ucap Adrian.
Seutas senyum terbentuk dari bibir merah muda Adinda
"berhasil.....maaf ya mas...bikin kamu panik..kalau nggak gini kamu pasti nggak akan berhenti" batinnya.
Ya...jiwa usil ibu hamil itu kembali bergejolak.Ia yang sudah putus asa mengejar Adrian yang diselimuti amarah pun sudah mulai kehabisan akal agar suaminya itu mau menghentikan langkahnya.Alhasil,dengan gerakan cepat ia mendudukan tubuhnya di ujung tangga sambil berteriak histeris seolah tangah merasakan sakit yang luar biasa.
Dan....
berhasil....
Adrian kembali,ia tak jadi pergi meninggalkan nya untuk menemui Joddy.
Dinda memang tidak mau Adrian berbuat gegabah.Mengingat laki laki itu kini masih berstatus tahanan kota.Segala tindak tanduknya masih dalam pengawasan polisi.Jika sampai ia lepas kontrol dan berbuat yang tidak tidak pada Joddy,tidak menutup kemungkinan ia akan kembali di jebloskan ke dalam sel.Adinda tidak mau itu terjadi.
Selain itu,ia juga tak mau Joddy kenapa kenapa.Laki laki itu memang salah,tapi sekali lagi Adinda mencoba untuk memaklumi dan memaafkannya.Terlebih lagi ada Marco yang harus ia jaga hatinya.Laki laki itu sudah terlalu baik padanya dan keluarga nya.Ia tak mungkin sampai hati jika harus membiarkan suaminya baku hantam dengan Joddy.
Tak butuh waktu lama,sepasang suami istri itu sampai di kamar mereka.Adrian meletakkan tubuh Adinda yang mulai tenang itu di atas ranjang lalu menyelimutinya.Pria tersebut kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya.Tangan Adinda tergerak menahan pergerakan Adrian.
__ADS_1
"mau ngapain?"
"telfon dokter"
"nggak usah.."
"Dinda....."
"maaass..."
"kamu nurut...atau kita ke rumah sakit..." ucap Adrian tegas.
Adinda tak bisa berkutik.Ia pun dengan terpaksa membiarkan Adrian menghubungi dokter kandungan yang biasa menangani Adinda.
Setelah selesai menghubungi dokter...
tangan putih itu tergerak meraih telapak tangan Adrian.
"mas...."
Adrian menoleh.
"jangan pergi..." ucapnya dengan mata mengembun.
Adrian menghela nafas panjang....
"aku nggak mau kamu masuk penjara lagi....hikss..."
"aku takuutt....."
"ada anak kita disini mas...." ucapnya sambil mengarahkan tangan bertato itu ke perut nya yang masih rata.
Adrian menghela nafas panjang lagi.
Laki laki itu tersenyum.Tangannya bergerak mengusap lembut perut rata itu dengan penuh ketulusan.
"maaf...maaf udah bikin kamu panik.." ucapnya.
"jangan pergi..." rengek Adinda lirih.
"nggak....aku nggak akan pergi....aku akan disini nemenin kamu.." ucapnya.
Adinda tersenyum.
"masih sakit?" tanya Adrian sambil kembali mengusap lembut perut itu.
"nggak usah panggil dokter mas..." ucapnya lagi.
"nggak apa apa sayang...dokternya juga udah dalam perjalanan kok..." jawabnya.
"kamu istirahat dulu aja...sambil nungguin dokternya dateng" ucap Adrian.
Adinda pun hanya mengangguk.
...****************...
Sementara itu di tempat lain.....
Pria berkulit putih itu terlihat memasuki kamar bernuansa bola milik adik laki lakinya.Dilihatnya disana Joddy tengah asyik memainkan ponselnya dengan posiisi miring.Game..!!
Marco duduk di sisi ranjang.Ia kemudian dengan entengnya melempar sebuah kartu kredit ke wajah Joddy yang tak menggubris kedatangannya.
Joddy pun terjingkat kaget dibuatnya saat sebuah kartu kredit melayang ke wajahnya.Pria itupun langsung mendudukkan tubuhnya.
"gue balikin kartu kredit lo...!inget jangan boros boros..!" ucap Marco.
Joddy pun menerimanya dompet tak kasat mata itu dengan sumringah.
"weeeiiiissss....makasih abangku....!"ucapnya dengan binar bahagia.
Marco bangkit....
" ingat ya Jod...jangan bikin ulah lagi...kalau sekali lagi lo bikin ulah...gue udah nggak mau ikut campur...lo urus sendiri.."ucap Marco.
"masih mending tadi Sheila nggak ngomong macem macem sama Adrian...kalau sampai dia buka mulut....gue udah nggak tau gimana nasib lo..." ucapnya.
Joddy tersenyum...
"iya bang...gue nggak macem macem lagi...sueerr" ucapnya sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"buruan tidur lo...besok ada kuliah pagi kan?"
"iya bang..." ucap Joddy.
Marco pun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.Joddy meloncat dari ranjangnya sambil menciumi kartu kredit pemberian Marco.Akhirnya....dia nggak akan miskin lagi.
"besok kita jajan sepuasnya preennd...." ucapnya sambil tersenyum lebar menatap kartu di tangannya.
__ADS_1
...****************...
Kembali ke rumah Adrian.....
Seorang dokter wanita kini tengah sibuk memeriksa keadaan Adinda di.dalam kamar utama.
"gimana dok?kandungan istri saya baik baik aja kan?" tanya Adrian antusias.
Dokter dengan name tag Lidia itu tersenyum.
"kandungan istri anda baik baik saja kok mas.Tidak ada tanda tanda masalah yang berarti kok.Mungkin hanya kram perut.Hal seperti ini memang wajar terjadi pada ibu hamil.Banyak banyak makan makanan yang bergizi saja ya mbak...jangan lupa olah raga tapi jangan yang berat berat...dan satu lagi....jangan benyak pikiran" ucap Dokter Lidia.
"iya dok...."
"ini saya kasih vitamin...jangan lupa diminum ya mbak..." ucap sang dokter sambil menyerahkan beberapa obat obatan.
"makasih dok" ucap Adrian.
"kalau begitu saya permisi dulu...selamat malam..."
"malam dok...terima kasih" ucap Adinda.
"biar saya antar dok.." ucap Adrian.
Laki laki itu kemudian beranjak keluar kamar untuk mengantarkan sang dokter.
Tak butuh waktu lama....
Adrian kembali ke dalam kamar.Dilihatnya sang istri tengah berbaring dengan posisi miring sambil memeluk guling di atas ranjang dengan selimut tebal menutupi tubuh rampingnya.
Adrian mendekat.Ia pun naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut tersebut.Laki laki itu lantas tidur dengan posisi miring menghadap wajah sang istri.
"tidur...udah malem" ucap Adrian.
Adinda hanya tersenyum...
"nggak jenguk dedek?"
Adrian terkekeh..
"kamu pengen ya?"
"enggak...cuma...biasanya kan gitu.." ucap Adinda sambil memainkan jari jarinya di atas guling yang dipeluknya,seolah tengah menuliskan sesuatu disana.
"kamu kurang sehat...tidur dulu...besok aja.." ucap Adrian.
Dinda menatap dalam wajah sang suami
"mas..."
"hmmm...."
"makasih ya....udah mau tetep dirumah..." ucap Adinda.
Adrian mengangkat tangannya,ia menyelipkan beberapa helai rambut Adinda yang tergerai ke depan wajah cantik nya.
"aku pernah melakukan kesalahan dengan membuat kamu keguguran....kamu tau...gimana menyesalnya waktu itu.Aku merasa sangat bersalah sama kamu Dinda.Aku kira aku nggak akan bisa melihat senyuman kamu lagi saat itu." ucapnya.
"aku terlalu bodoh udah menyiksa wanita seistimewa kamu sayang...aku minta maaf..."
"dan sekarang....Tuhan masih beekenan memberiku kepercayaan,menitipkan calon penerusku di rahim kamu...aku nggak mau mengulangi kesalahan ku lagi sayang..."
"aku janji....aku akan menjaga kalian dengan sepenuh hatiku..." ucapnya.
Adrian mengusap pipi mulus itu,
"terima kasih...sudah mau mengandung anakku.." ucapnya.
Adinda tersenyum manis.
"dah...udah malem...bobok ya..." ucap Adrian.
"peluk.."
"iya..."
"jangan dilepasin ampe pagi..."
"iya....sini...." ucap Adrian sambil merentangkan tangannya.
Dinda tersenyum sumringah.Ia melempar asal guling yang tadi dipeluknya.Lalu mendekatkan tubuh ke tubuh Adrian.
Adrian mendekap erat tubuh ramping itu.Keduanya pun akhirnya melewati malam panjang mereka dengan saling berpelukan hingga pagi menjelang.
...----------------...
YUUUKKKK...TAMBAH LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA YUUUKKK.....
__ADS_1