
Pagi hari.....
Adinda selesai dengan ibadah subuhnya,
Wanita bersuami itu bergegas keluar dari kamar tamu yang ia tempati menuju dapur di rumah tersebut,saat melewati tangga menuju lantai dua,
"Din...."
suara itu berhasil membuat Adinda menoleh ke arah sumber suara.Dilihatnya Marco yang baru pulang dari masjid dengan sarung dan baju koko serta sajadah di pundaknya,tak lupa kopiah putih bertengger di atas kepalanya.
MashaAllah.....calon imam impian nggak tuh...😍
Adinda menundukkan pandangannya.
"mas Marco..." ucapnya.
"mau kemana?"
"mau ke dapur mas....bantuin bibik"
"istirahat aja Din...biar dapur bibik yang urus"
"nggak apa apa mas,saya udah biasa kok"ucap Adinda.
" Din...."
"kita bisa ngobrol sebentar nggak?" tanya Marco.
Adinda menunduk,lalu mengangguk pelan.
"lo duduk di sofa aja dulu,gue ganti baju bentar" ucap Marco.
"iya mas...." jawabnya.
Marco pun naik ke lantai atas,sedangkan Adinda menuju sofa di ruang tv lalu duduk disana.Tak lama berselang,Marco turun dari lantai atas lalu berjalan mendekati Adinda dan duduk di samping wanita cantik itu.Marco tersenyum menatap wanita yang menunduk disampingnya itu.
"gimana tidurnya semalem?nyenyak?" tanyanya.
Adinda tersenyum..
"nyenyak mas"
"Din....sorry,bukan maksud gue mau ikut campur urusan pribadi lo.Tapi gue cuma pengen tau,dan kalau mungkin ada yang bisa gue bantu lo boleh kok minta bantuan gue" ucapnya.
"gue cuma pengen tanya,sebenarnya ada apa antara lo sama Adrian?dan kenapa lo bisa sendirian malem malem di pinggir jalan?" tanya Marco lagi dengan hati hati.
Adinda menunduk.Sungguh,ia ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi,tapi ia ragu.Ia terlalu takut untuk mengusik kehidupan Adrian,terlebih lagi melibatkan orang lain.Ia tahu betul sebengis dan kekejam apa Adrian.Pada wanita lemah sepertinya saja ia tega,apalagi pada sesama pria???
Adinda kembali gemetar,ia meremas ujung hijabnya untuk menyalurkan rasa takutnya.Sebuah pemandangan yang berhasil di tangkap oleh mata Marco.Benar kata Joddy,Dinda selalu ketakutan jika menyinggung tentang Adrian.
"Din....lo nggak apa apa?"
Adinda semakin menunduk.
Joddy datang dari lantai atas dengan muka bantalnya.Sesekali pria yang baru bangun tidur itu menguap.
__ADS_1
"ada apaan nih....serius amat" ucapnya yang kemudian duduk di samping sang kakak.
"mas...boleh saya minta tolong?"tanya Dinda
"apa?"
"jangan bilang sama mas Adri kalo saya ada disini,saya belum siap ketemu dia lagi" ucapnya.
Marco menyipitkan matanya.Sepersekian detik kemudian ia menaikkan satu sudut bibirnya,Adinda keceplosan..!
"mas Adri?bukannya dia om lo?" tanya Marco penuh selidik.
Adinda reflek menoleh ke arah Marco.Marco tersenyum melihat ekspresi kepanikan itu.Begitu pun Joddy.
"cerita aja Din.Gue nggak akan bilang sama siapapun...!lo butuh teman untuk cerita.Nggak semua hal bisa lo hadapi sendiri" ucap Marco.
"iya Din....kita bukan orang yang ember yang bakal nyebarin semua masalah lo." ucap Joddy mengimbuhi.
Adinda makin menunduk.
"sa....saya....saya....saya.....saya nggak tau mas..." ucap Adinda dengan wajah ketakutan.
Sungguh,ia tak berani mengungkapkan kebenaran walaupun tak ada Adrian di sampingnya.Wanita itu seolah memiliki trauma sendiri pada laki laki itu.Bagaimana tidak,segala bentuk kekerasan sudah ia dapatkan dari laki-laki itu.Mulai dari fisik,psikis,bahkan kekerasan seksual.Wanita itu menangis ketakutan,membuat dua laki laki itu bingung sendiri.
"Din...udah....nggak apa apa.Kalau lo nggak mau cerita kita nggak maksa kok.Lo bisa cerita lain kali kalau lo udah siap" ucap Joddy.
"maafin aku Jod...mas...."
"nggak apa apa Din....lo istirahat gih...nggak usah sekolah dulu" ucap Marco.
Wanita itu segera pergi dari tempat itu,sedangkan dua saudara kandung itu saling pandang pandangan.
"lo liat sendiri kan...Dinda ketakutan banget.Bisa gila tuh cewek kalo terus terusan sama Adrian....!gue nggak rela kalau Dinda balik sama Adrian...!" ucap Joddy.
"untuk sementara kita umpetin Dinda dulu,sambil kita selidiki,ada apa ini sebenarnya"ucap Marco.
" oh ya Jod...apa nggak ada info tentang orang tua Adinda atau sekolah lama Dinda?atau mungkin sosmed nya....pasti ada dong datanya..paling nggak kita bisa cari tau dulu tentang asal usul Adinda..."ucap Marco.
Joddy menatap ke arah sang kakak...
"oh iya.....tumben lo pinter..!gue kira lo bisanya mencet mencet kamera doang...!"
"anj**t lo..." ucap Marco sambil melempar bantal ke arah sofa.
Joddy hanya terkekeh..
"ok....gue akan cari tau tentang sekolah lama Dinda...!gampang itu mah...!" ucapnya kemudian bangkit
"udah ah...mau mandi,gue pengen cepet cepet ke sekolah...takut bu Fitri kangen ama gue..hahaha..." ucapnya sambil tertawa.
"dasar bocah...!" ucap Marco sambil geleng-geleng kepala.
...****************...
06:15
__ADS_1
Joddy sudah rapi dengan seragam sekolahnya,ia menuju kamar tamu untuk sekedar bertemu dengan Adinda.Baru saja Joddy hendak mengetuk pintu kamar,Dinda sudah membuka pintu dan muncul dari balik pintu kamar tersebut.
"Joddy...." ucap Adinda.
"eh....baru mau diketuk...udah keluar.." ucap Joddy.
Adinda tersenyum.
"kamu mau sekolah?"
"iya....lo nggak usah masuk dulu deh...istirahat aja dulu.Ntar masalah pelajaran gue pinjemin catetan gue deh..."
"emang kamu pernah nyatet?" tanya Adinda meledek.
"nggak....hehehe...."
Keduanya pun tertawa.
"gue berangkat ya..."
"iya...."
Joddy pun beranjak,tiba tiba...
"Jod...."
Joddy menoleh ke arah Dinda.
"ya..."
"makasih..." ucap Dinda tulus.Joddy pun mengangguk sambil tersenyum.
...****************...
Di sebuah sekolah elite....
Pria itu mondar mandir sambil mengamati setiap siswi yang datang ke sekolah itu.Hanya satu yang ia cari,Adinda,istri cantik yang sudah ia lempar semalam,dan hingga kini wanita itu tak jelas dimana keberadaan nya.
Pria bernetra hijau yang biasanya selalu tampil sempurna itu kini nampak kacau.Dengan kaos oblong warna putih dan celana pendek hitam,serta rambut yang acak acakan menandakan bahwa ia sedang tak baik baik saja saat ini.Matanya merah,dengan warna hitam di sekitar matanya menandakan semalaman ia tak tidur karena memikirkan keberadaan sang istri.
"kamu dimana Dinda...!" gumamnya.Pria itu nampak gelisah sambil sesekali menggigit jarinya.
Sebuah motor sport biru memasuki area sekolah tersebut.Matanya menatap tajam ke arah pria itu saat ia melintas di depan Adrian.Sebuah senyum sinis terbentuk dari balik helm biru itu.
"nyari siapa lo?Adinda terlalu berharga buat jadi pedamping baji**** seperti lo...!" batin Joddy mencela.
Joddy memarkirkan kendaraan roda dua nya,lalu dengan santai berjalan menuju kelasnya seolah tak peduli dengan keberadaan Adrian disana.
...----------------...
***BOLEH LAAHH....LIKE VOTE KOMEN & HADIAH NYA......🥰🥰🥰🥰
MULAI BESOK UP 1X SEHARI LAGI YA.....
DOA'IN NOVELNYA LULUS KONTRAK YA READERS...KALAU LULUS BAKAL UP 2X SEHARI LAGI INSYAALLAH....🥰🥰🥰🥰🥰***
__ADS_1