Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
99


__ADS_3

Marco menyodorkan ponselnya pada Adrian.Laki laki itupun menerimanya.


Adrian melihat layar ponsel tersebut.Layar yang menunjukkan sebuah portal berita online yang memberitakan tentang polisi yang tengah memburu seorang gembong narkoba kelas kakap.Dalam berita tersebut mengatakan polisi memburu seorang bandar besar yang di ketahui bernama James.Namun ternyata laki laki bernama James itu telah meninggal.


Kini polisi tengah memburu anak buah James dan akan memberikan imbalan pada siapapun yang berhasil menemukan gembong narkoba kelas kakap yang sangat berbahaya itu.


Adrian menyeringai.


"gimana?" tanya Marco.


"gue tau semua tentang si kepa*** ini..!bahkan sampai anak cucunya" ucap Adrian.


"good....!gue bisa minta sama pengacara untuk melakukan barter.Lo bisa bebas asal lo mau bisa bantu polisi nangkep bandar ini" ucap Marco.


"gue bisa bantu polisi meringkus semua mafia di negara ini.Asalkan gue bisa bebas dan ada jaminan perlindungan untuk anak dan istri gue" ucapnya.


Marco mengangguk paham


"gue paham...gue akan usahain..." ucapnya.


"oke...kalau gitu gue cabut dulu" ucap Marco lagi kemudian hendak pergi meninggalkan tempat itu namun...


"tunggu..." ucap Adrian.


Marco menghentikan pergerakannya.


"boleh gue minta tolong sekali lagi sama lo?"


Marco tak menjawab,ia hanya memiringkan kepalanya.


"jemput anak dan istri gue" ucap Adrian pilu.


Marco menghela nafas panjang.Terlihat sekali raut kesedihan pada pria itu.Ia memang begitu mencintai Adinda.Terlihat jelas dari ekspresinya.


Marco semakin merasa bersalah.Ini semua adalah ulah adiknya yang sok tau itu.Marco bertekad akan membantu Adrian agar bisa bebas,atau setidaknya mengurangi hukumannya.


Marco tersenyum.


"gue akan bawa mereka buat lo" ucap Marco.


"thanks" ucap Adrian.


Marco tersenyum.Ia kemudian menepuk pundak Adrian.


"ya udah....gue cabut ya" ucapnya.


Pria berkulit putih itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut meninggalkan Adrian yang masih duduk mematung.Ia berharap semoga rencana Marco berhasil dan ia segera bebas.


Adrian merasa gagal senagai seorang suami sekaligus ayah.Semenjak menikah dengan nya Adinda seolah tak pernah menemukan kebahagiaannya.Begitu juga Nabila,Adrian yang tergerak mengadopsinya adalah agar bisa melindunginya dan merawat gadis kecil yang sudah tak memiliki orang tua itu.Namun kini,alih alih melindungi,anak itu justru dibuat tersiksa lantaran dirinya yang harus mendekam di dalam jeruji besi.

__ADS_1


...****************...


Malam menjelang.....


Di sebuah gubug reyot di kota berhawa sejuk itu....


Seorang gadis kecil menggigil kedinginan di bawah selimutnya.


Adinda datang dari dalam dapur dengan membawa baskom kecil berisi air hangat serta sebuah kain.Dinda pun mulai mengompres dahi sang anak dengan kain yang ia bawa.


"papaku nggak jahat.." ucap Nabila terus mengigau.Adinda berkali kali mengganti kompres di dahi Nabila dengan sabarnya.Air matanya luruh lagi.Sebegitu sedihnya kah sang putri sampai sakit seperti ini.


Bu Ela masuk ke dalam kamar yang sempit itu


"panasnya belum turun Din?" tanya Bu Ela.


"belum buk" ucap Adinda


"mending bawa ke dokter aja...itu di dekat sini ada dokter praktek ndok" ucap bu Ela.


Adinda mengusap lelehan air matanya.


"iya buk" ucap Dinda kemudian.


Adinda meraih tubuh mungil itu.


"pakai jaketnya dulu sayang biar nggak kedinginan" ucap Adinda.


"kita ke dokter dulu nak..." ucap Adinda sambil membimbing Nabila untuk bangkit.


"papa..." ucap Nabila lagi.Adinda kembali meneteskan air mata sambil susah payah mengangkat tubuh Nabila kedalam gendongannya.


"buk...ibuk ikut ya...tolong pegangin Nabil,Dinda takut kalo Nabil jatuh,dia lemes banget buk" ucap Adinda.


"iya,ibuk bantuin." ucap Bu Ela.


Adinda pun menggendong Nabila menuju ke luar rumah.Dengan susah payah ia mengangkat tubuh mungil itu ke atas motor.Bu Ela naik,ia duduk di belakang Nabila lalu menyandarkan kepala gadis kecil itu di dadanya.Adinda pun segera naik dan men starter motor kesayangannya itu.Mereka pun melesat meninggalkan gubug mereka menuju rumah sang dokter.


Tak butuh waktu lama,ketiga wanita beda generasi itu sampai de sebuah rumah berlantai dua dengan satu bangunan menempel di sisi sebelah kiri rumah utama.Bangunan itulah yang menjadi tempat praktek sang dokter.


Adinda turun dari motor sambil menggendong Nabila.Bu Ela mendekati pagar besi yang tak terlalu tinggi itu.Sebenarnya hari ini sang dokter tidak buka praktel,terlihat dari tulisan yang tergantung di pintu ruang praktek itu bertuliskan "close".


" buk....itu tutup..."ucap Adinda.


"ndak apa apa....kita minta tolong sebentar ndok...kasian Nabila...ini dokter yang paling dekat dari rumah kita.Lagian ini udah mau hujan,kasian anakmu" ucap Bu Ela sambil menatap langit malam yang mulai berselimut awan hitam.


Adinda mengangguk.Ia hanya mengikuti saja apa yang diucapkan bu Ela.Yang penting Nabila bisa secepatnya mendapatkan pertolongan dari dokter.Lagipula ini sudah larut malam dan Nabila sedari tadi tak henti mengigau.Suhu badanya semakin panas.Gadis kecil ini harus segera mendapatkan pertolongan.


"papaku nggak jahat..." ucap Nabila lagi.Dan lagi lagi membuat wanita muda itu bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"permisi...assalamu alaikum....pak Ridwan..


assalamu alaikum" ucap Bu Ela memanggil manggil sang empunya rumah.


Cukup lama bu Ela memanggil manggil nama sang dokter.Hingga muncullah seorang laki laki gempal berperut buncit dengan rambut plontos dan jenggot tipis yang sudah memutih.


Pria itu mendekati tiga wanita yang berdiri di depan gerbang rumahnya itu.


"ada apa ini?kenapa teriak teriak?" tanya sang dokter.


"maaf dok....saya kesini bawa cucu saya...dia lagi sakit" ucapnya


Dokter pria bernama Ridwan itu menatap Adinda yang berdiri di belakang bu Ela sambil menggendong Nabila yang terus mengigau saking tingginya suhu badan gadis itu.


"ya udah bawa masuk.." ucap Sang dokter.


Adinda pun bergegas mengikuti sang dokter.


Dokter pria itu kemudian membuka pintu ruang prakteknya dan menyalakan lampu yang semula padam itu.


"tidurkan dia di ranjang itu." ucap sang dokter.


Adinda pun menurut.Ia merebahkan tubuh mungil yang masih menggigil itu ke atas ranjang.


Dokter Ridwan pun mulai melakukan pemeriksaan.


"sudah sejak kapan adik mu sakit seperti ini?"ucap Dokter Ridwan.


"dia putri saya pak..." ucap Adinda sontak membuat dokter tersebut menoleh ke arahnya.Gadis se usia ini sudah punya anak?


"anakmu?kandung?" tanyanya lagi.


"anak angkat....tapi sudah seperti anak kandung saya sendiri" ucapnya sambil menunduk.


Dokter Ridwan memperhatikan wanita cantik itu dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai.


"sudah sejak kapan dia sakit begini?" tanyanya kemudian sambil kembali memeriksa Nabila.


"baru tadi siang dok" ucapnya.


Dokter Ridwan kemudian bergegas menuju mejanya guna menyiapkan obat obatan untuk Nabila.


"saya kasih obat...kalau besok panasnya ndak turun turun juga kamu bawa dia ke rumah sakit." ucap sang dokter.


"baik dok..."ucapnya.


...----------------...


***LIKE NYA BANYAKIN DONG....

__ADS_1


KOLOM KOMENNYA DI RAMAIKAN..


VOTE DAN HADIAHNYA JUGA TAMBAHINNN😩😩😩😩😩😩😩***


__ADS_2