Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
112


__ADS_3

Ke esokan harinya....


Di sekolah elite itu....


Hari ini hari kedua ujian sekolah berlangsung.Seperti biasa,Adinda berangkat sekolah dengan di antar ojek online.Wanita yang kini seolah sudah tak memiliki teman itu memilih menuju taman sekolah sambil menunggu bel masuk,dari pada harus ke kelas dan bertemu orang orang yang membully nya kemarin...membayangkannya saja ia sudah sangat malas.


Adinda duduk di salah satu kursi bercat putih di taman itu.Tangannya tergerak mengambil ponsel yang berada di sakunya.Adinda mengetikkan sesuatu di room chat nya dengan Naya.Ia menanyakan bagaimana kabar ibunya yang kini tinggal sendiri itu.Hanya ada tiga sahabatnya yang sesekali menjenguk wanita paruh baya itu.


"*Nay.....nanti kalau kamu lagi sama ibuk...kabarin aku ya....aku pengen denger suara ibuk" tulis Adinda.


"iya Din....ntar aku kasih tau kamu kalau aku sama ibuk.Aku sekarang lagi di sekolah nih..." tulis Naya.*


Saat mereka sedang asyik berbalas pesan,tiba tiba....


"Din..."


suara itu sukses membuat Adinda menoleh dan mendongak ke arah sumber suara tersebut.


Dilihatnya remaja pria berdiri di sampingnya dengan tatapan sendu.


"Joddy" batinnya.


Adinda memasukkan ponselnya ke saku lalu meraih tas ranselnya dan mengenakan nya di pundak.Adinda bangkit tanpa berkata sepatah katapun.Ia bergegas pergi dari tempat itu namun baru selangkah ia mengayunkan kakinnya,Joddy meraih tangan Adinda dan menahannya.


"Din...tunggu.." ucap Joddy.


Adinda menatap tangannya yang di genggam Joddy.


"lepas" ucap Adinda tanpa mau menoleh.


Joddy tak menggubris.Ia berpindah posisi berdiri di hadapan Dinda dengan tangan yang masih menggenggam tangan Adinda.Adinda malingkan wajahnya tak mau menatap wajah Joddy.


"Din...kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya" ucap Joddy.


Adinda tak menjawab,ia menggerakkan tangannya mencoba melepaskan genggaman tangan Joddy namun laki laki itu seolah tak mau kalah.


"Din...gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo Din...!" ucapnya.


"lepas Jod..!" ucap Dinda lagi dengan suara bergetar.Sungguh...ia muak...ia sangat muak dengan berbagai kenyataan pahit yang tersaji di hadapannya.


"Din..gue sayang sama lo..!gue cinta sama lo makanya ngelakuin ini demi bisa bebasin lo dari suami lo..!"


"gue udah korbanin semua nya buat lo Din...!semua...!!!liat gue...!!!!"

__ADS_1


Adinda menghempaskan tangan Joddy membuat Genggam nya terlepas.


"makasih....makasiiiihhh banyak....makasih atas semua pengorbanan kamu...makasih..." ucap Adinda lirih.


"lihat aku sekarang...." ucapnya dengan senyuman getir sambil merentangkan kedua tangannya.Seolah meminta Joddy untuk melihat betapa hancurnya kondisinya saat ini.


"lihat Jod...makasih....kamu udah berhasil melepaskan aku dari suami aku...kamu udah berhasil membebaskan aku dari suami aku...dan ini hasilnya....seperti inilah aku sekarang...." ucap Adinda dengan uraian air mata dibarengi senyuman yang justru terlihat memilukan.


"makasih Jod....pengorbanan kamu nggak sia sia....kamu....BERHASIL..." ucap Adinda dengan penuh penekanan di akhir kalimat nya.


Adinda mengusap air mata nya.Ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.Meninggalkan Joddy yang mematung meratapi kebodohannya.


Joddy kehilangan semuanya.Kepercayaan kakaknya.Juga Adinda.Hancur....lenyap semuanya.Berawal dari ambisi yang justru mengjancurkan hidupnya.Remaja itu seolah sudah tak punya apa apa lagi.Ia begitu menyesal.Ia sangat menyesal...bagaimana caranya menebus semua dosa dosanya ini??


...****************...


Beberapa hari kemudian....


Disebuah ruangan gelap yang hanya bercahayakan lampu remang remang yang tergantung di atas sebuah meja kayu berbentuk persegi.Tanpa jendela ataupun fentilasi udara,dua orang pria dewasa duduk saling berhadapan di atas kursi kayu yang terpisahkan oleh bangku peesegi di hadapannya.Adrian terlihat begitu tenang saat mata tajam seorang pria bernama Bram menatapnya sedari tadi dengan tatapan menyelidik.


"apa kabar tuan Adrian Tama?" tanya salah satu anggota polisi bernama Bram itu.


Adrian tak menjawab...hanya sebuah senyuman smirk yang ia lempar pada laki laki itu.


Bram bangkit dari posisi duduknya.Ia berjalan dengan tenang mendekati Adrian yang masih duduk manis dengan kedua lengan yang ia lipat di depan dada.


Adrian tersenyum...


"bukan sesuatu yang penting....hanya beberapa informasi tentang orang orang yang sedang kalian buru.." ucap Adrian santai sambil memainkan kuku kuku jarinya.


"apa yang kau tau?" tanya Bram


"apa yang aku dapat jika aku memberitahumu?" tanya Adrian tak mau kalah.


Bram tersenyum sinis...


"jangan macam macam dengan aparat Adrian"


"aku tidak macam macam tuan Bram...aku hanya ingin mengajukan penawaran.Bebaskan aku dan aku akan membantumu menumpas semua mafia di negara ini...karena aku tahu semua tentang mereka....bahkan sampai anak cucunya sekalipun" ucapnya.


"tidak semudah itu..."


"kalau begitu silahkan bekerja sendiri" ucap Adrian.

__ADS_1


Bram menatap sinis ke arah Adrian,ia lalu mengambil bungkus rokok yang berada di saku bajunya kemudian mengambil satu batang dan menyerahkan pada Adrian.


Adrian yang sudah lama tak merasakan benda bernikotin itupun segera menerimanya lalu mengapit ujung bergabus itu dengan kedua belah bibir atas dan bawahnya.


Bram menyalakan korek ditangannya lalu mengarahkannya ke arah rokok di mulut Adrian.


Pria bernetra hijau itupun mendekatkan wajahnya,membuat ujung batang rokok itupun tersulut.


"aku akan memberikan penawaran untukmu..." ucap Bram yang kini juga menyalakan rokok untuk dirinya sendiri.


Adrian tak menjawab.Ia menghisap benda bertembakau itu lalu membuang asapnya.


"aku akan mengurangi masa tahananmu...." ucap Bram.


Adrian menyeringai...


"aku mau bebas..."


"tidak bisa....kasusmu terlalu berat"


"kalian bisa menjadikanku tahanan kota..!kau meminta informasi tentang gembong mafia padaku,dan kau masih menahanku...jika aku masih disini siapa yang akan melindungi anak dan istriku...!" ucapnya Adrian.


"mereka akan jadi sasaran empuk para baji**an baji**an itu...!" ucapnya lagi.


"kami akan melindungi anak dan istrimu..."


"aku ingin melindungi mereka dengan tanganku sendiri"ucap Adrian.


Bram kembali menghisap rokoknya.Lalu mematikan api pada ujung benda berbentuk batang itu dengan menempelkannya di asbak yang berada di atas meja.


" kalau begitu aku minta maaf Adrian...permintaanmu tidak bisa ku kabulkan."ucap Bram.


"silahkan menikmati sisa masa tahananmu sambil menunggu vonis hakim.Minimal kau akan ada di sini hingga sepuluh tahun kedepan" ucap Bram kemudian berjalan menuju meja telfon yang berada di sudut ruangan berniat menghubungi sipir agar membawa suami Adinda itu kembali ke sel.Namun tiba tiba....


"bagaimana service Desi kemarin tuan?apa dia masih bisa memuaskan anda?" tanya Adrian lantang membuat Bram sontak menoleh ke arahnya.


Adrian menyeringai,ia menatap nyalang ke arah Bram sambil menikmati rokok di tangannya.


"dia terlihat sangat menggoda dengan lingerie merah itu bukan?" imbuhnya lagi dengan senyuman sinis di wajah tampannya.


...----------------...


***YUKK...RAMAIKAN KOLOM KOMEN....🥰🥰🥰

__ADS_1


JANGAN LUPA KLIK LIKE SETELAH BACA....🥰🥰🥰🥰🥰


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN HADIAHNYA🤩🤩🤩🤩***


__ADS_2