Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
177


__ADS_3

Sepasang suami istri itu melangkah cepat menuju IGD rumah sakit tersebut.Adrian menarik tangan Dinda membuat wanita itu setengah berlari untuk mengimbangi ayunan kaki sang suami yang lebar.


"mas..pelan pelan..." ucap Adinda.


Adrian tak peduli.Ia seolah tak mendengar.Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah ibunya.Ia harus segera menemuinya.Meskipun ia sendiri tak tahu,apa yang harus ia lakukan nanti jika sudah melihat kondisi wanita yang telah melahirkannya dua puluh sembilan tahun yang lalu itu.


Keduanya sampai di depan ruang IGD..


Dilihatnya Naya,Chika,dan Joddy berdiri di depan ruangan tersebut dengan wajah yang nampak cemas.


Dinda dan Adrian mendekat.


"Nay...Chik...Jod..." ucap Dinda.


Ketiga anak manusia itupun menoleh.


"Din..."


"keadaan ibuk gimana?"


"dokter belum keluar Din....mereka masih nanganin ibuk..." ucap Naya.


Ingin sekali Adinda bertanya kronologi tertabraknya bu Ela,namun ia urungkan,ia harus menjaga perasaan dan emosi Adrian.Laki laki itu benar benar terlihat tak terkendali sekarang.


Adrian yang linglung...ia mendekati pintu IGD itu.Tatapan matanya nanar,tubuhnya terasa lemas.Ia menabrakkan tubuh besarnya pada pintu IGD itu.Entah bagaimana perasaannya sekarang.Yang ia inginkan sekarang ialah ia bisa melihat ibunya kembali seperti sedia kala.Adrian tak suka situasi seperti ini.


"mama..." ucapnya menangis.


Adinda,Naya,Chika,dan Joddy menoleh ke sumber suara.Laki laki itu menangis sambil mengusap usap pintu IGD.


Dinda merasakan perih.Ia mendekati laki laki itu.Tangannya tergerak menyentuh pundak sang suami.


"mas...duduk di sana ya...kita tunggu dokter keluar...biar ibuk ditanganin dulu..." ucap Adinda lembut.


"mama..." ucapnya lirih pada sang istri sambil menunjuk pintu IGD.


Sungguh..laki laki itu seperti anak kecil yang nampak kebingungan,membuat Naya,Chika,dan Joddy mengernyitkan dahinya menyaksikan tingkah Adrian.


"iya...mama baik baik aja mas...kita duduk ya..." ucap Adinda.


Adrian mengangguk.Ia mengikuti langkah sang istri duduk di kursi tunggu.


Adrian kembali kalut.Ia meremas rambutnya dan menariknya,seolah ingin sekali melepaskannya dari kulit kepala.


Adinda mencoba menahan tangan kekar itu.


"mas...jangan kayak gini....istigfar sayang..." ucap Dinda.

__ADS_1


Adrian menangis.Ia lemah...


Dinda memeluk tubuh besar itu.Adrian menangis sesenggukan dalam dekapan istri kecilnya itu.


"kita berdoa ya mas...kita doain ibuk semoga ibuk baik baik aja..."


Adrian menangis,terus menangis,membuat Dinda ikut merasakan perih.


Tak berselang lama,dokter keluar dari ruang IGD.


"dengan keluarga ibu Ela...." ucap sang dokter dengan perut buncit dan kepala plontos.


Adrian terlonjak.Dengan gerakan cepat ia mendekati dokter itu disusul oleh Adinda.Ia tak akan jauh jauh dari Adrian.Ia harus selalu berada di sisi laki laki itu di saat saat tersulitnya.


"gimana mama?mama saya gimana?!" tanya Adrian memburu.


"mas...tenang..." ucap Dinda.


"anda ini.....?" ucap sang dokter menggantung sambil menatap Adinda,seolah meminta jawaban ada hubungan apa pria berbadan tegap itu dengan pasiennya yang ada di dalam ruangan sana.


"ini suami saya dok...dia anak dari pasien.Bagaimana keadaan ibu kami dok...?" tanya Adinda.


"maaf mbak...ibuk anda mengalami pendarahan yang cukup serius pada bagian kepalanya,membuat ibuk anda masih berada dalam kondisi koma saat ini..." ucap Sang dokter.


"tapi bisa sembuh kan dok?"


"maaf mbak...kemungkinan nya sangat tipis...." ucap Dokter yang langsung di sambut dengan cengkeraman tangan yang kuaat dari lengan kokoh Adrian.


"maksudmu apa?!!SEMBUHKAN DIA....!!!" ucap Adrian menggebu dengan sorot mata pilu.


Joddy mendekat,mencoba melerai emosi laki laki itu.


Adinda pun ikut berusaha melepaskan tangan Adrian dari kerah baju Sang dokter.


"mas...lepasin mas.." ucap Adinda membujuk.


"Adrian lepasin...lu gila ya..!" ucap Joddy.


Adrian menghempaskan tubuh dokter itu membuat sang dokter kini bisa bernafas lega.


Adrian berbalik menatap tajam remaja pria di sampingnya.


"gue gila lo bilang?IYA....GUE GILA...!!GUEE GILAAAA.....!!!!"


daaggghhhh....


Adrian tak terkendali,ia menendang dinding tembok rumah sakit itu.Laki laki itu frustasi.Ia belum siap untuk ini.Ia bel siap kehilangan lagi.Tolong beri dia kesempatan.....

__ADS_1


"aaakkkkkkhhhhh......!!!!"


Adrian menjambak rambutnya sendiri.Adinda kembali mendekati suaminya.


"mas...istigfar sayang....jangan kayak gini.."


"dia mamaku Din..."


"iya....aku tau....mending sekarang kita masuk ya..kita lihat kondisi ibuk....jangan kayak gini mas..aku nggak mau kayak gini..." ucap Adinda sambil mengusap lelehan air mata sang suami.


"kita ketemu mama..?" ucapnya lirih.


"iya...kita ketemu mama..." ucap Adinda.


Adrian menurut,ia kemudian bangkit bersama Dinda kemudian bergegas untuk melihat kondisi bu Ela di dalam ruang IGD rumah sakit tersebut.


...****************...


Adinda dan Adrian sampai di ruangan tempat Bu Ela dirawat.Dengan baju berbalut kain hijau hijau khas rumah sakit,sepasang suami istri itu menatap sendu ke arah wanita tua yang kini tengah berbaring lemah dengan berbagai alat bantu disekujur tubuhnya.


Adrian bergetar.Ia mendekati sang mama dengan mata yang banjir.


"ma..." ucapnya lirih.


Adinda menatap sendu pada laki laki yang terlihat rapuh itu.


Tangan bertato itu tergerak meraih punggung tangan keriput yang selalu ia hindari selama ini.Adrian duduk di kursi di samping ranjang pasien.


Adrian menatap sayu wajah wanita tua yang sering ia bentak bahkan ia maki maki itu.


Lagi.....untuk kedua kalinya ia berada di ruangan rumah sakit dengan keadaan hati yang penuh penyesalan.Dulu Adinda...ia membuat wanita itu masuk rumah sakit karena ulah gilanya yang berujung dengam tewasnya sang calon buah hati.


Dan kini...ia kembali berada di rumah sakit.Menangis menyesali perbuatannya yang telah berlaku tak baik pada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Adrian menangis,ia menciumi punggung tangan kasar nan keriput itu dengan air mata yang berurai.Maaf...maaf...hanya itu yang terucap lirih disela sela tangisnya yang tak terbendung.


Dinda merasakan iba...ia mengusap punggung lebar itu,mencoba memberikan kekuatan pada laki laki gagah yang tengah rapuh tersebut.


"ma.....bangun..." ucap Adrian lirih dan terdengar pilu.


Adrian menyesal....mungkin...sangat menyesal.....


...----------------...


***YUKK


LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAHNYA....🥰🥰🥰🥰🥰🥰***

__ADS_1


__ADS_2