
Dua jam berlalu...
Aktifitas panas antara kedua anak manusia pun telah usai.Kini keduanya tengah tiduran di atas karpet bulu yang berada di bawah sofa.Dengan bantal sofa sebagai alas kepalanya,satu tangan Adrian kini sibuk dengan ponselnya,sedang satu tangan lainnya membelai rambut panjang Adinda yang kini tengah rebahan manja dengan kepala di atas perut Adrian sedangkan jari jarinya sibuk bermain berputar putar di atas pusar Adrian.Entah kemana perginya meja rendah yang harusnya bertengger di atas karpet.Adrian sudah memindahkannya ke sudut ruangan agar ia bisa leluasa rebahan santai disana bersama sang istri sebelum mereka bergegas untuk tidur.
"mas..."
"hmm..."
"aku boleh nanya nggak?"
"nanya apa?"
"tapi jangan marah..."
"emang mau nanya apa sih?"
Adinda bangkit dari rabahannya.Wanita yang kini hanya mengenakan gstring merah itupun duduk bersila di samping Adrian yang tengah rebahan.
"mas.."
Adrian meletakkan ponselnya.Laki laki yang kini berusia dua puluh sembilan tahun tersebut lantas meletakkan kepalanya di atas paha mulus Adinda.
"kamu nggak ada niat mindahin ibuk dari kamar belakang mas?" tanyanya.
Adrian terdiam.
"kasian ibuk mas...dia jadi kayak pembantu" ucapnya sambil membelai rambut pirang Adrian
"lagian disini juga ada ibuk aku sama teman teman aku juga kan...takutnya nanti mereka malah berfikir yang enggak enggak..." ucap Adinda membujuk.
Adrian masih tak menjawab.
"buka sedikit aja mas hati kamu buat maafin ibuk...ibuk udah......."
Ucapan Adinda terhenti saat Adrian dengan tiba tiba bangkit membuat Dinda tersentak.Laki laki yang juga hanya mengenakan celana da**m itupun duduk menghadap Adinda.
Ada sedikit rasa was was dalam diri Adinda.Ia takut salah bicara.Mengingat Adrian memang begitu sensitif jika sedang menyinggung tentang ibu kandungnya tersebut.
Adinda menunduk.Tangannya kemudian tergerak meraih punggung tangan sang suami dan meremasnya lembut.
"aku tau....rasa benci dan dendam dalam diri kamu begitu besar sama ibuk mas....tapi selama ini yang aku tau hidup ibuk udah banyak menderita mas.Dia ditinggalin sama suaminya di saat dia nggak punya apa apa....dan selama belasan tahun dia hidup sebatang kara di gubug tua itu seorang diri..." ucap Adinda mencoba meluluhkan hati Adrian.Namun laki laki itu masih tak bergeming.Ia hanya menatap datar wajah Adinda tanpa berucap sepatah katapun.
"mungkin itu cara Allah menghukum ibuk...membiarkan ibuk hidup susah dalam waktu yang begitu lama.Dan sekarang Allah mempertemukan kamu sama ibuk...Allah ingin ibuk mengucap maaf dan menebus semua dosa dosanya sama kamu" ucap Adinda lagi.
__ADS_1
"dia nggak pernah putus mendoakan kamu saat kamu di penjara mas...dia juga yang nampung dan ngerawat aku sama Nabil...dia menerima kami dengan lapang dada di saat semua orang menjauhi kami,termasuk ibuk aku sendiri..."
"ibuk ku ngusir aku dan terus mendesak aku supaya ninggalin kamu,tapi bu Ela...dia selalu mendukung aku...dia selalu bilang bahwa aku nggak boleh ninggalin kamu...dia sayang banget sama kamu,aku dan Nabil mas..." ucap Adinda begitu tulus.
Adinda menggerakkan tangannya menyentuh dada bidang Adrian.
"dia ibu yang melahirkan kamu mas....walaupun dia pernah melakukan khilaf yang berujung sangat fatal...tolong maafin dia mas...seperti kamu bisa dengan mudah maafin ibuk aku"
"ibu kamu keras karena dia kecewa sama kita Din" ucap Adrian akhirnya.Matanya menatap nanar ke arah Adinda.Gurat kesedihan terlihat jelas disana.
"karena pernikahan kita yang terjadi sebelum dia dan almarhum ayah kamu memberi restu buat kita.Ibu kamu nggak kenal sebelumnya sama aku...dan cara ku menikahi kamu yang salah kaprah..itu yang bikin ibuk kamu keras hati dan benci sama kita..!semua terjadi karena dia merasa dikecawakan Din..."
"sedangkan perempuan itu..(bu Ela)..!apa aku yang masih berusia delapan tahun waktu itu pernah mengecewakan dia?? nggak Din..." ucapnya lirih.
"apa papa ku pernah sekali aja buat dia nangis??nggak juga..."
"papaku selalu memperlakukan dia bak seorang ratu..!selalu menuruti semua apapun yang dia mau..!tapi nyatanya...dia masih merasa belum cukup kan??dia main gila sama laki laki kep***t itu dan dengan teganya dia mau bunuh aku Din..!anak kandungnya...orang yang harusnya dia lindungi..!"
"menurut kamu apa bisa aku segampang itu maafin dia..?"
"andai aja dia bisa sedikiit aja menahan nafsu dia...semua nggak akan kayak gini.." ucap Adrian dengan mata memerah menahan tangis.
"mas..." ucapnya sambil menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi Adrian,namun Adrian menolak.
Adinda bangkit.Ia mendekati Adrian lalu memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
" jangan marah" ucapnya memelas.
Adrian terdiam sejenak.
"aku cuma nggak mau jadi anak durhaka mas..apalagi sama ibu kamu...orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kamu" ucap Adinda lagi.
Adrian berbalik badan.Tangannya tergerak menangkup wajah cantik wanita berkulit putih bersih itu lalu mengecup lembut bibir merah mudanya
"kamu nggak salah..aku tau maksud kamu baik sayang....tapi nggak segampang itu buat aku melupakan semuanya" ucap Adrian.
"kamu boleh bawa dia masuk ke rumah ini.Suruh dia tidur di salah satu kamar tamu...tapi aku nggak mau dia menyentuh apapun barang pribadi aku" ucapnya.
Adinda tersenyum haru.
"makasih mas..." ucapnya.
Adrian tersenyum.Ia kembali mengecup bibir sang istri lalu beralih mengecup kening Adinda.
__ADS_1
"dah...tidur...udah malem" ucapnya kemudian.
Adinda hanya mengangguk.Ia lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beranjak untuk tidur.
...****************...
Hari berganti...
Menjelang siang di sebuah kamar tamu di kediaman Adrian Tama...
Gadis cantik nan tomboy itu tengah bersiap untuk bertemu sang teman baru hari ini.Sesuai janji mereka,Joddy akan menjemput Chika di depan komplek lantaran Joddy tak mau atau lebih tepatnya malu jika harus menjemput Chika di rumah Adinda.
Dengan balutan hijab hitam,kaos putih lengan panjang dibalut blazer hitam di atas lutut dan celana jeans biru tua,gadis cantik itu kemudian memasukkan beberapa lembar uang ke saku celananya lalu memasukkan ponselnya juga kedalam sana.
Chika adalah gadis yang simple.Ia jarang membawa tas ataupun dompet jika bepergian.Paling simple duit cukup masuk ke saku celana,atau kalau nggak di selipin di belakang case hp.
Chika keluar dari kamar tamu yang ia tempati bersama Naya,dilihatnya Dinda tengah berada di ruang tamu bersama Naya, bu Lastri dan bu Ela.
"mau kemana Chik?" tanya Adinda.
"ke depan bentar"
"depan mana?"
"itu....ke warung depan komplek...ada yang mau aku beli" ucap Chika bohong.
"mau aku temenin Chik?" tanya Naya menawarkan diri.
"nggak usah...ke depan doang kok..!" ucapnya.
"duluan ya.."
"hati hati"
"yookkk"
Chika pun melenggang dengan riang.Ia memang tak pernah menceritakan apapun tentang kerjasamanya dengan Joddy pada sahabat sahabatnya.Itu lantaran Joddy memang memintanya untuk tak bersuara pada siapapun.Biarlah ia bekerja memperbaiki nama Dinda tanpa perlu orang lain tau.Cukup ia,Chika dan Tuhan saja yang tahu.Yang penting nama Dinda bisa bersih,ia tak butuh pengakuan.Ia hanya ingin Adinda terbebas dari bullyan.Itu saja.
...------------...
***boleh minta vote & hadiah yang banyak nggak nih??
kasih dukungan apapun itu ya....like komen vote,hadiah...seeeeemmmuuuuuaaannyyyaaaaahhhh.....🥰🥰🥰🥰🥰***
__ADS_1