Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
176


__ADS_3

"ibuuuuuukkkkkk......!!!!!!!!!“


Naya,Chika dan Joddy memekik secara bersamaan.Dilihatnya disana...bu Ela tergeletak bersimbah darah di tengah jalan dalam posisi terlentang.Sedangkan Gunawan bersama sejumlah pengendara dan warga yang lain kini tengah berlari mengejar mobil yang baru saja menabrak wanita tua itu hingga tak sadarkan diri .


Naya,Chika dan Joddy berlari mendekati bu Ela yang sudah tergeletak di tangah jalan.


" ibuuuuukkkkk...."ucap Naya histeris.


"ibuukkk....banguuuunn....!!Nay...ini gimana?" ucap Chika panik.


Naya,Chika,Dinda dan Putri sudah mengenal bu Ela sejak mereka pertama masuk SMA,membuat hubungan mereka pun sudah seperti ibu dan anak kandung.


Joddy menghentikan taxi yang lewat di jalan itu,dengan cepat ia membopong tubuh wanita itu masuk ke dalam taxi tersebut.


"kita bawa ke rumah sakit.." ucap Joddy.


Naya dan Chika mengangguk.


Naya dan Chika ikut masuk ke dalam taxi.Naya memangku kepala bu Ela yang berlumuran darah,sedangkan Chika kini mulai meraih ponselnya mencoba menghubungi Adinda.


...


Sementara itu di kediaman Adrian....


Sepasang suami istri yang baru selesai dengan aksi panas mereka di pinggir kolam renang itu kini tengah sibuk bercanda di dalam kamar mereka.Masih dengan tubuh yang polos,keduanya begitu asyik bergurau di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Sesekali gelak tawa teerdengar dari mulut dua anak manusia yang saling sangat mencintai itu..


"udah ah....aku capek...aku mau mandi..." ucap Adinda sambil hendak pergi ke kamar mandi.


"ntar dulu dong....buru buru banget sih..." ucap Adrian menahan tubuh Dinda.Laki laki itu kembali mendekap erat tubuh ramping kesayangannya itu.


Adrian kembali menciumi pundak sang istri,seolah tak mau jauh jauh dari wanita hamil berkulit putih itu.


"ini udah siang....Nabil keburu pulang loh..."


"masih pengen berduaan Din...."


"iya..ntar malem lagi..." ucap Adinda.


"beneran?"


"iya..."


"ntar malem jenguk dedek lagi..."


"iya..."


"dimana?"


"ya di kamar lah dimana lagi..."


"nggak mau..."


"trus dimana?"


"depan gerbang...."


Adinda tertawa lepas.Ia mencubit kedua belah bibir Adrian dengan gemas.


"nggak sekalian di perempatan komplek mas?"


Adrian terkekeh melihat reaksi Adinda yang begitu lepas.


"kamu lucu banget sih...gemesin tau nggak...jadi pengen gigit..."


"nggak boleh.."


"kenapa?"


"udah keseringan mas"


Adrian makin gemas,ia menciumi pipi yang mulai terlihat chubby dengan gemasnya.

__ADS_1


"udah ah...aku mau mandi...lengket semua mas..." ucap Adinda kemudian bangkit dari ranjang.


Adrian yang masih gemas dengan cukup keras memukul ****** Adinda yang mulai bangkit meninggalkan nya.


Wanita itu hanya terkekeh mendapati tingkah usil dari sang suami.


Adinda pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.


Adrian tersenyum,ia kemudian mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas lalu memainkannya sambil menunggu Adinda selesai dengan mandinya.


Saat ia tengah sibuk dengan ponselnya,tiba tiba....


ddrrrttt.....ddrrrttt....


ponsel Adinda berbunyi.


Chika....


memanggil....


Adrian menoleh ke arah ponsel.


"Din...!Chika telfon nih...!"


ceklek...


pintu kamar mandi terbuka.


wanita cantik dengan tubuh polos penuh busa dan perut buncit muncul dari balik pintu sambil memijat mijat rambut berbusanya.


Adrian terkekeh sambil memijit pelipisnya.


"astaga bini gue..." ucapnya.


"apa?!" ucap Dinda enteng.


"telfon sayang...Chika nelfon..." ucapnya.


"angkat aja mas...lagi mandi juga..." ucap Dinda sembari kembali ke bawah guyuran air shower tanpa menutup pintu kamar mandi.


Adrian meraih ponsel itu.Ia kemudian mengusap tombol hijau yang ada di layar benda pipih tersebut.


"halo Chik..." ucap Adrian.


"hikks...mas Adrian...."


Adrian terhenyak.


"kamu kenapa?"


"mas....ibuk mas....hikksss....ibuk..." ucapnya sambil sesenggukan


"ibuk kenapa?"


"ibuk ketabrak mas....sekarang kita lagi di perjalanan ke rumah sakit..!ibuk dari tadi nggak gerak mas...aku takut...hikkkss.."


.


.


.


.


deeggghh...


Adrian mematung.


Dadanya sesak.Bagaimana perasaannya saat ini?entahlah....sedih,terkejut,sakit,semuanya...bercampur jadi satu hingga tak bisa tergambarkan dengan hanya menggunakan kata kata.


Adrian lemas.Ponsel itu terlepas dari genggamannya.Tatapannya kosong.Pikirannya berkecamuk tak karuan.


Adinda datang dari dalam kamar mandi dengan kimono handuk membungkus tubuh putih mulusnya.

__ADS_1


Dinda menyipitkan matanya melihat sang suami yang nampak terdiam dengan raut wajah linglung.


Dinda mendekat,di sentuhnya dengan lembut pundak pria yang kini masih bertelan**ng bulat itu.


"mas...."


"kamu kenapa?"


Adrian tak menjawab.


Dinda menggoyangkan tubuh Adrian.


"mas...kamu kenapa?"


Pria itu menoleh dengan tatapan mata sayu yang mulai mengembun.


"Din..."


"ya..."


"mama Din..."


"mama?mama siapa?...ibuk?"


"mama kecelakaan Din..." ucapnya.


degghh..


Dinda terdiam.


"aku harus gimana?"


Dinda mematung melihat wajah pria tersayangnya itu.Lagi lagi....Adrian seperti orang linglung jika sudah menyangkut tentang bu Ela.Ia seolah seperti manusia yang kehilangan arah.Tatapan matanya kosong,jiwanya seolah hilang.Padahal ia baru dikabari jika bu Ela kecelakaan,belum tahu bagaimana keadaannya sekarang.


"sekarang ibuk ada dimana?" tanya Adinda lembut.


"rumah sakit..."


"Dinda...rumah sakit Din..." ucap Adrian bak orang bingung.


"iya...iya...kita ke rumah sakit ya...kita ganti baju dulu..." ucap Adinda.


Adrian mengangguk


Wanita itu segera bangkiy dan mengganti pakaiannya.Setelah selesai,ia menoleh ke arah Adrian,dilihatnya sang suami masih tak bergerak dari tempat nya.Ia masih mematung dengan pandangan kosong.


Dinda mengambilkan baju ganti untuk suaminya lalu menghampiri pria itu.


"pakai dulu mas...kita segera susulin ibuk ke rumah sakit ya...." ucapnya.


Adrian mengangguk..


"dipakai dulu ya...." ucap Dinda lembut bak seorang ibu yang tengah membujuk anaknya.


Adinda membantu suaminya untuk mengenakan pakaiannya.Setelah selesai laki laki itu kemudian bangkit.


Adrian nampak celingukan dengan tatapan mata yang terus menjelajah ke segala arah seolah tengah mencari sesuatu.


"kamu cari apa?"


"kontak motor ku mana Din..?" ucap Adrian bingung.


Dinda menghela nafas panjang...padahal kontak motor jelas jelas ada di atas meja tepat dihadapan Adrian.Namun laki laki itu seolah tak bisa melihatnya saking kalutnya....


Ya Allah....sebegitu besar kah efek trauma yang sudah terjadi berpuluh puluh tahun yang lalu,hingga kini pria itu masih merasakan dampak buruknya.Tragedi memilukan itu seolah membuat Adrian kehilangan jati dirinya sebagai seorang anak.Ia selalu menjelma menjadi sosok yang ling lung dan tak tentu arah jika sudah berkaitan dengan bu Ela.Batinnya seolah berperang,antara benci sebagai korban dari keegoisan wanita itu dimasa lalu,juga kerinduan yang lazim seorang anak rasakan pada ibunya yang puluhan tahun terpisah jarak dan waktu.


Dinda mendekati pria itu,ia meraih punggung tangan Adrian lalu meremasnya lembut.


"kita pesen taxi aja..." ucapnya.Adrian tak bereaksi,ia masih seperti manusia setengah sadar saat ini.


Adrian mengangguk,entah mengangguk mengerti,atau hanya reflek menggerakkan kepalanya,entahlah....


Dinda meraih ponselnya dan segera memesan taxi online.Ia tak mau ambil resiko.Adrian sedang tidak baik baik saja saat ini.Ia tak akan mengizinkan suaminya untuk berkendara dalam keadaan seperti ini,terlalu berbahaya.....

__ADS_1


...----------------...


YUKKK....KASIH DUKUNGANNYA YANV BANYAK YUUUKKKK🥰🥰🥰🥰


__ADS_2