Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
188


__ADS_3

Hari berganti....


Saat ini....


Di sebuah kantor polisi...


Adrian duduk bersandar di kursi ruang tunggu kantor polisi tersebut.Berkali kali ia menghela nafas panjang,antara jengkek,jenuh,dan kesal.Niatnya kemari ingin membicarakan perkembangan kasusnya dengan Farhan,namun alih alih membahasnya,sejak pertama ia datang ia hanya disuguhkan pemandangan seorang pria brewokan yang senyum senyum sendiri sambil menulis sebuaj surat.Surat cinta kah?iya kalik......πŸ€¦β€β™€


Adrian sesekali mengamati wajah Farhan.Pria berkulit putih dan berjambang yang mulai lebat itu sesekali nampak tersenyum,bahkan tak jarang keluar tawa cekikikan dari mulutnya yang dikelilingi kumis dan jenggot.


Ya....sejak beberapa waktu lalu,saat.Adrian menjenguk Farhan bersama Dinda,Nabila,Putri dan Bu Lastri,laki laki yang kini berstatus sebagai tahanan itu mulai menaruh hati pada salah satu sahabat dari Adinda Zahra tersebut.


Sejak saat itu,Farhan gencar menanyakan semua tentang Putri pada Adrian.Hingga pada suatu hari saat Putri hendak pulang ke kampung halamannya,Farhan menitipkan sebuah surat untuk Putri melalui Adrian.


Isinya apa?


Biasalah.....kalau lagi PDKT gimana sih....πŸ˜†


Sejak saat itu,hubungan keduanya pun semakin dekat walaupun hanya melalui berbalas surat.Bahkan Putri rela pindah kampus hanya demi bisa terus berbalas surat dengan laki laki yang kini masih mendekam di balik jeruji besi itu.Farhan memang belum dinyatakan bebas.Ia hanya diberikan potongan masa tahanan jika berhasil membongkar siapa pembunuh berdarah dingin yang identik dengan kepala serigala itu.Ia akan menjalani masa tahanan sepertiga dari masa tahanan yang semestinya jika Zev benar benar sudah tertangkap.Yaitu yang awalnya sepuluh tahun menjadi tiga tahun empat bulan.Dan saat Zev tertangkap itu pula,Adrian akan dinyatakan bebas sepenuhnya.


Adrian hanya bisa melakukan itu.Mengingat betapa besarnya kejahatan mereka dulu,mendapatkan keringanan seperti itu,bukankah itu sudah sangat lebih dari cukup bukan?


Adrian pun sebenarnya juga tidak akan bisa sebebas sekarang jika tidak memegang kartu mati Bram,terkait skandal terlarang oknum polisi tersebut dengan salah satu mantan pekerja barnya,Desi.


Adrian masih setia menunggu Farhan yang tengah asyik menulis surat.


"aku harus menunggu berapa lama lagi disini?" tanya Adrian dingin.


Farhan mendongak menatap sang tuan.


"oh....maaf tuan...saya lupa kalau tuan ada disini" ucapnya dengan senyum merekah.


Adrian mengernyitkan dahinya...


Jadi sedari tadi dia duduk disana dianggap apa???astaga......πŸ™ˆ


Farhan selesai dengan suratnya.Ia melipatnya lalu memberikan nya pada Adrian.Biasanya ia akan mendapatkan balasan dari sang wanita saat Adrian kembali mengunjunginya.


Yaaa....anggaplah sekarang Adrian jadi tukang pos untuk kedua makhluk yang sedang jatuh cinta ini..


"saya titip untuk Putri tuan.." ucapnya sambil menyerahkan suratnya.


"hmm..." jawab Adrian lalu memasukkan kertas itu ke dalam saku jaketnya.


"tuan...apa yang ingin sampaikan hari ini?" tanya Farhan.


Adrian menghela nafas panjang,lalu bangkit...


"tidak ada.." jawabnya.


"hah??" ucap Farhan bingung.


"aku bahkan sudah lupa mau bicara apa padamu saking lamanya aku menunggumu menulis surat.." ucap Adrian kesal.


Farhan hanya nyengir kuda.


"kembalilah ke sel...aku mau pulang..." ucap Adrian.


"tuan.."


"apalagi?"


"jangan lupa berikan itu ke Putri.." ucap Farhan.


"kalau tidak ada balasan dari Putri,itu artinya aku sudah membakarnya.." ucap Adrian santai sambil melenggang pergi.


Farhan hanya cengengesan.Ia tahu betul bahwa sang tuan tidak sungguh sungguh mengatakannya.


Adrian bergegas menaiki motornya dan menuju ke toko kue miliknya.

__ADS_1


Sekitar dua puluh menit perjalanan,ia pun sampai di ruko dua lantai tersebut.Ia segera turun dari mogenya dan masuk ke dalam toko tersebut.


"assalamu alaikum..." ucap Adrian yang baru masuk.


"wa alaikum salam" jawab Putri dan Chika yang berjaga di toko tersebut.


Adrian merogoh saku jaketnya,meraih kertas titipan Farhan kemudian meletakkan kertas tersebut diatas etalase tanpa berucap sepatah katapun.Putri dengan cekatan mendekati kertas tersebut dan meraihnya dengan raut wajah sumringah.Adrian bergegas menuju ke lantai dua dengan mode coolnya untuk menemui wanita tersayangnya yang tengah berada di lantai khusus untuk istirahat tersebut.


Ya....hari ini Adinda berada di ruko,ia merasa bosan dirumah terus.Sehingga ia meminta sang suami untuk mengantarnya ke tempat usahanya itu sebelum Adrian pergi ke kantor polisi.


Adrian sampai di lantai dua...


Dilihatnya sang istri tengah duduk di sofa dengan posisi kaki selonjoran di atas sofa.Lantunan ayat ayat suci Al Quran terdengar dari ponsel yang ia letakkan di atas perutnya yang kian hari kian membuncit.Dinda seolah ingin mengenalkan islam dan Quran kepada sang jabang bayi bahkan saat ia masih berada di dalam kandungan.


Adrian tersenyum,


ia mendekati sang istri tercinta lalu berjongkok di samping sang wanita tercinta.Dilihatnya wajah ayu itu yang ternyata tengah terlelap itu.


Adrian tersenyum mengamati wajah tenang Adinda.Laki laki itu benar benar merasa beruntung mengenal wanita polos dan solehah seperti Adinda.Wanita yang benar benar berhasil mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat.


Tangan bertatonya tergerak menyentuh perut buncit di hadapannya lalu mengusapnya lembut.


"assalamu alaikum anak papa..." ucapnya lirih.


"sedang apa kamu nak....sehat sehat ya di rahim mama...jadilah anak yang berbakti...jadi anak yang baik yang bisa membanggakan mama dan papamu..." ucapnya.


"jadilah anak yang selalu bisa menjadi teladan...menbawa kebahagiaab untuk setiap orang yang dekat denganmu..."


"jadilah pribadi yang lebih baik dari papamu ini sayang.." ucapnya dengan mata mengembun.Bahkan hingga saat ini pun ia masih seolah tak percaya jika ba**ngan sepertinya anak segera memiliki keturunan dari rahim seorang wanita suci dan terhormat seperti Adinda.


Adrian memajukan wajahnya,mencium perut buncit berbalut gamis ungu itu.


"jadi anak soleh solehah sayang..." ucapnya.


"amin..." jawab Adinda sambil membelai lembut rambut Adrian.


Adrian menoleh ke wajah Adinda yang ternyata sudah terbangun dari tidurnya.


Dinda tersenyum.Ia meraih ponsel yang berada di atas perutnya lalu mematikan lantunan ayat AlQuran itu dan meletakkannya di atas meja.


Dinda hendak merubah posisi tubuh nya.Ingin menurunkan kakinya dari sofa agar Adrian bisa duduk.Namun laki laki itu menahan nya.Adrian mengangkat rendah kaki putih sang istri.Ia kemudian duduk di sofa dan memangku kedua betis berbalut gamis itu.


Adrian mulai memijit mijit pelan kaki sang istri.


"nggak usah mas...aku nggak capek.." ucap Adinda.


"nggak apa apa sayang...aku lagi pengen mijitin kamu.." ucapnya.


Adinda tersenyum.


"makasih..." jawabnya.


"mas.."


"ya.."


"besok kita belanja keperluan dedek yuk...hpl nya makin deket loh mas...kita belum ada persiapan apa apa.."


Adrian tersenyum...


"ya...besok kita belanja buat keperluan dedek..besok kan juga hari minggu...kita bisa ajak Nabil sekalian jalan jalan..." ucapnya


Adinda mengangguk pasti.


Adegan pijit memijit pun terus berlanjut sambil ditemani obrolan obrolan santai dari sepasang suami istri itu.


Sementara di lantai bawah.


Chika tak henti menguntiti langkah Putri.Ia yang melihat Puti mengambil kertas yang Adrian letakkan di atas etalase pun dibuat kepo se kepo keponya.Kertas apa itu?apa isinya?

__ADS_1


Terlebih lagi sikap Putri yang terkesan terlalu menyembunyikan isi kertas tersebut membuat jiwa keingintahuan Chika begitu meronta ronta.


"Put....itu apa sih..." ucap Chika sambil terus membuntuti langkah Putri.


"Put..."


"Put...kepo aku..!"


"Putri...!!"


"Putri gak nyauri tak keplak ndasmu koen...!" ucapnya kesal.


(Putri nggak jawab aku pukul kepalamu..!}


Putri menghentikan langkahnya.


"opo'o seh Chik..." ucap Putri ngegas


(apaan sih Chik..)


"lihat kertasnya itu lo..!!" ucap Chika tak mau kalah.


"kepo banget koen iku...!awas ampek ngguyu tak ulek koen..!!" ucap Putri kesal sambil menyodorkan kertas yang tadi Adrian berikan.


(kepo banget kamu..awas kalau ketawa aku ulek kamu..!)


Chika pun meraih kertad itu dan mulai membacanya.Seutas senyum bahkan tawa terbentuk dari bibirnya.


"jangan diketawain Chik..!" ucap Putri kesal.


Chika selesai dengan surat dari Farhan untuk Putri.Bibirnya tak henti cengengesan menahan tawa.


"ini dari siapa sih?" tanya Chika.


"dari temennya mas Adrian...yang lagi dipenjara..."


Chika mendekatkan wajah nya pada wajah Putri.


"napi?"


Putri mengangguk...


"kamu kenal dari mana?" tanya Chika.


"jadi gini....................."


Chika mulai menjelaskan awal pertemuannya dengan Farhan pada saat ia ikut bersama Dinda dan Adrian mengunjungi laki laki itu dipenjara hingga hubungannya bisa sedekat sekarang meskipun hanya melalui surat.Semua ia ceritakan tanpa ada yang ditutup tutupi.


Chika nampak mendengarkannya dengan seksama.Tak jarang tawa dan senyuman muncul dari bibirnya.


"jadi gitu ceritanya..." ucap Putri di akhir kalimatnya.


"kok koyok jamane emakmu wae Put surat suratan...hahhahaaa.." ucap Chika nyablak.


(kok kayak jamannya emakmu aja Put surat suratan)


"La menurutmu yok apo?aku lo gak ndue ilmu telepati....kepiye kate hubungan lek gak ambek layang kangen...." ucap Putri ngegas.


(trus menurut kamu gimana?aku kan nggak punya ilmu telepati...gimana mau berhubungan kalo nggak pake surat cinta)


"juuuuhhh.....layang kangen c*kkk...!!!!!hahhahaa....."


Keduanya pun tergelak.Mereka pun hanyut dalam obrolan seru mereka membahas hubungan Putri dan Farhan yang cukup unik.Terhalang jeruji besi dan hanya bisa berbalas kata melalui kertas...


Jadul sih..tapi so sweet...😍😍


...----------------...


***INI SEHARI AN KALO DI ITUNG ITUNG OTHOR NYA UDAH NULIS SEKITAR 3500AN LEBIH KATA KATA LOH....

__ADS_1


NGGAK ADA YANG MAU NGASIH DUKUNGAN GITU?


VOTE LIKE KOMEN DAN HADIAH***???


__ADS_2