Gadis Tawanan Sang Psychopath

Gadis Tawanan Sang Psychopath
48


__ADS_3

DHOOOORRRRRR.....


.


.


.


.


.


.


.


.


Suara tembakan itu menggema ke seluruh ruangan.


Adinda mematung,tubuhnya gemetar,darah segar terpercik mengenai seragam putih dan hijabnya.


Wanita itu menoleh ke belakang.Begitu juga James yang masih setia dengan pistol ditangannya.Terlihat disana,Romi tewas tergeletak bersimbah darah dengan luka tembak di bagian belakang kepalanya.


"selamat siang tuan James...anda lupa mengundang kami untuk ikut bermain bunuh bunuhan?" tanya seorang laki laki tak jauh dari sana sambil menodongkan sebuah pistol ke arah James


Itu Farhan....!selain Farhan,ada Joddy dan Marco di samping kanan dan kirinya.


Kok bisa??


Ya...Joddy dan Marco yang sempat mengikuti Adrian kehilangan jejak laki laki itu lantaran Adrian yang berkendara begitu ugal ugalan.Beruntung kedua kakak beradik itu bertemu dengan Farhan dan anak buah Adrian lainnya.Marco pun mengikuti mereka dan disinilah mereka sekarang.


James geram,dengan satu gerakan ia menarik rambut Adinda yang berbalut hijab lalu membekap wanita itu dengan satu tangannya,sedangkan tangan lainnya menodongkan pistol ke arah kepala Dinda.Adinda gemetar.Ia menangis dalam bekapan tangan besar James.


"Dinda...!!!?" teriak Joddy hendak melangkah mendekati Adinda namun pergerakannya ditahan oleh Farhan.


"Jangan mendekat...!atau wanita ini akan ku antar menyusul Romi" ucapnya yang saat ini berdiri menghadap Farhan.


Farhan diam sejenak dengan tangan yang masih mengangkat senjata,seolah memikirkan rencana.


"TURUNKAN PISTOLMU...!!!" hardik James.


Farhan menurut.Pria dua puluh delapan tahun itupun menurunkan senjatanya.


James menyeringai,ternyata mudah sekali.Hanya sekali hardikan tangan kanan Adrian itu sudah menurut padanya.


Tanpa James sadari,dibelakangnya,laki laki yang tadinya terkapar itu kini bangkit dan berdiri dengan gagahnya.Mata hijaunya menajam,aura iblisnya keluar.Ia bak pembunuh yang haus darah.Dengan satu gerakan ia mengunci leher James dengan satu lengan besarnya.Membuat bekapannya pada Adinda terlepas. Farhan Joddy dan Marco berlari mendekat ke arah mereka.Farhan bersiul.


daaaagggghhhh...


pintu utama di dobrak...


puluhan anak buah Adrian masuk ke dalam bangunan itu.Dan...terjadilah pertempuran besar besaran antara dua genk mafia itu.


Joddy mendekati Adinda,dia yang sudah babak belur itu melepaskan ikatan yang ada pada tubuh Adinda,lalu membawa wanita itu sedikit menyingkir ke pojokan,menjauhi orang orang yang tengah berduel di sana.


"lo tunggu disini...jangan kemana mana...!" ucap Joddy,Adinda hanya mengangguk.


Joddy segera berlari membantu Farhan dan yang lainnya.Peperangan pun tak terelakkan.


Adrian mengunci leher James dengan lengannya sekuat tenaga.Membuat laki-laki itu semakin kesulitan bernafas.


"ayo James....duel satu lawan satu.Jangan jadi pengecut yang beraninya main keroyokan...!" ucap Adrian menantang.


James setengah mati mencoba untuk bernafas,kumudian

__ADS_1


buugggghhh...


James menghantam perut Adrian dengan sikunya,membuat kuncian Adrian terlepas.Aksi baku hantam antar keduanya pun tak ter elakkan.Adrian bak kerasukan iblis.Ia menyerang James membabi buta,seolah tak memberi jeda untuk pria itu bernafas barang sedetik.Pukulan,tendangan,tinjuan,silih berganti ia layangkan pada tubuh pria empat puluh tahun itu.Mata Adrian merah.Dendam membara dalam dadanya.James sudah membunuh kakek tercintanya tepat di depan matanya.Dia harus ikut mati.Laki laki itu harus mati ditangannya hari ini juga.


buugghhhh....


tinjuan terakhir Adrian membuat James terhempas ke lantai dengan kasar.James kalah,anak buahnya banyak yang sudah tewas.


Adrian yang bonyok itu mengambil sebuah linggis yang menjadi senjata salah satu anak buah Adrian tadi.


Pria itu berjalan dengan tenang sambil menyeret linggis itu.Aura psychopath nya terpancar jelas dari senyumnya yang mengerikan.


"Adrian....maaf..maafkan saya....jangan bunuh saya" ucap James memohon ampun sambil terus menyeret tubuhnya mundur.


"aku bukan manusia pemaaf" ucapnya


buuhhhh....


"aaakkkhhhhh......"


Adrian menginjak dada James dengan sekuat tenaganya,membuat laki laki itu merasakan sakit yang teramat sangat.


"sampaikan salam ku pada raja neraka" ucapnya.Dan.....


blesssss....


Linggis tertancap dibperut James.


Darah mengucur deras membasahi hampir seluruh tubuh Adrian.Adrian tertawa mengerikan dengan tubuh yang bermandikan darah.Ia merasa puas....sangat puas


Adinda menutup mulutnya yang terbuka,antara takut dan syok.Wanita itu gemetar menyaksikan betapa sadis dan menyeramkan nya sang suami.Begitu juga Joddy dan Marco.Joddy tau Adrian itu gila,tapi ia tak menyangka bahwa ia segila ini.Apalagi Marco....ia yang mengenal Adrian sebagai pria yang baik sungguh tak pernah mengira pria itu memiliki sisi lain yang begitu mengerikan.Fix...Adrian psycho...!yah....dia yakin sekarang akan dugaannya itu.


Adrian berbalik badan,melihat tiga orang yang terpaku disana.


"kalian sudah mengenal siapa aku sekarang?" ucapnya dingin dengan tatapan yang mengerikan.


Adinda menatap nanar kepada pria berlumuran darah di hadapannya itu.


Tangan Adrian tergerak menyentuh pipi Adinda yang sudah sangat basah.


"kita pulang sayang?" ucapnya.


Adinda menangis lagi,entahlah...bagaimana perasaannya saat ini.Mulutnya seolah sudah tak mampu berucap apapun lagi.


Adrian tersenyum menatap wanita yang masih terlihat syok itu.Wajah garang itu sudah hilang,berganti wajah lembut dan senyuman manis yang ia berikan pada Adinda.


"Farhan..."ucap Adrian tanpa menoleh.


"saya tuan"


"urus pemakaman kakek hari ini,dan hancurkan tempat ini tanpa sisa"


"baik tuan" ucap Farhan tenang.


Adrian kembali menatap wajah sembab wanita dihadapannya.Adrian merangkul pundak Adinda,lalu mengajak wanita itu pergi meninggalkan tempat tersebut,meninggalkan Joddy dan Marco yang masih mematung.Adinda hanya menurut.Ia seolah sudah tak mampu berfikir jernih setelah melihat adegan mengerikan di hadapan nya tadi.


...****************...


Sekitar Empat puluh menit kemudian.....


Guyuran air shower itu membasahi tubuh tegap bertato yang penuh dengan luka.Air yang tadinya jernih kini berubah menjadi merah bercampur darah mengalir membasahi lantai kamar mandi.


Adrian kini tengah berada di dalam kamar mandi rumahnya.Setelah sepuluh menitan di kamar mandi,Adrian keluar dengan menggunakan handuk abu abu yang di lilitkan di pinggangnya.Adrian menatap ke arah sang istri yang sudah duduk di tepi ranjang.


Adrian tersenyum,ia mendekati wanita berambut panjang yang kini sudah nampak cantik dengan menggunakan kaos crop top warna hitam dan hotpants putih setelah Adinda selesai mandi sebelum ia.

__ADS_1


Pria itu duduk di samping Adinda.Tangannya tergerak menyelipkan rambut Adinda ke belakang telinga sang istri.


"kenapa?" tanyanya lembut pada wanita yang terus menunduk itu.


"nggak apa apa....ganti baju mas...aku obatin lukanya.Kita harus ke pemakaman kakek" ucap Adinda.


Wajah Adrian berubah sendu.


"ya..." ucapnya.


Adrian bangkit,ia menuju lemari dan segera memakai pakaiannya.


Adrian kembali mendekati Dinda.


Ia menatap dalam wajah wanita itu.Adinda masih nampak sembab.Tangan besar Adrian tergerak mengangkat dagu lancip milik Adinda.


"kau takut?"


mata Adinda kembali mengembun.


"aku mau pulang..."ucap Adinda sambil meneteskan air mata.Tangannya tergerak menepis tangan Adrian dari dagunya.


" pulang kemana?ini rumahmu sayang"ucap Adrian.


Adinda menggelengkan kepalanya.


"lepasin aku mas...aku nggak mau disini...aku mohon..." ucap Adinda dengan tangis yang semakin tak terbendung.


Adrian menggeleng samar.


"nggak...!kau akan tetap disini bersamaku Dinda...!kita akan hidup berdua dan bahagia di sini" ucap Adrian.


Adinda menggelengkan kepalanya.


"cukup....aku capek mas...aku nggak mau disini...tolong.....hikks..."


"apa yang kau katakan?" tanya Adrian dengan tangan yang hendak menyentuh pipi sang istri,namun Adinda mengelak.Sungguh,ia lelah.Ia tak mau disini lagi.Batin dan jiwanya benar benar tergoncang.Ia tak mau hidup dengan laki laki gila yang sudah menghancurkan hidupnya ini,meskipun mungkin dalam hatinya ada rasa sayang untuk laki laki itu.Tapi hal itu tak bisa menutupi rasa takut dan trauma yang sudah terlanjur terbentuk.Adinda lelah,mungkin akan jauh lebih baik jika ia pergi menjauh dari Adrian untuk selama lamanya.


Adinda tak mampu menjawab ucapan Adrian,dia hanya bisa menangis.Adrian mencengkeram pundak Adinda.


"Dinda..!jawab...!setelah apa yang aku lakukan hari ini?setelah aku kehilangan kakek ku?kau mau pergi??haaah....?!!jawab...!!!" ucap Adrian membentak,kedua tangannya mencengkeram pundak Adinda.Bukan kah ia sudah mati matian menyelamatkan Dinda hari ini sampai sampai ia hampir kehilangan nyawanya,harusnya Adinda berterima kasih lalu mereka akan baikan dan hidup bersama lagi kan?tapi kenapa Adinda malah minta pergi?ada apa?


"jawab aku Dinda...!!Jawab aku jangan diam saja?!apa karena kau ingin pergi bersama laki laki tengik itu?iya?!kau menyukainya??!jawab...!!"


"nggak...!!!"


"lalu apa?!!"


"karena aku nggak mau disini...!aku mau pergi aku nggak mau hidup berdua sama orang yang sudah membunuh calon anakku...!!!!!" ucap Adinda smabil menghempaskan tangan Adrian penuh emosi.Wanita itu hancur se hancur hancurnya.Ia mencengkeram rambut panjangnya frustasi dengan air mata yang tak henti menetes.


"aku udah nggak punya apa apa mas...kamu udah mengambil semuanya dari aku..!!" ucapnya histeris.


"aku cuma mau pulang...tolong lepasin aku mas.....hiks...." ucap Adinda lagi dengan suara yang mulai melemah.


Adrian menggeleng samar...


"nggak....kau akan tetap disini.." ucapnya.


"maaas..."


Adrian memalingkan wajahnya tak mau menatap ke arah istrinya yang terus mengiba.Adrian mengambil kunci mobilnya lalu bergegas pergi meninggalkan kamar itu.Adinda mengejarnya,namun Adrian mendorong tubuh Adinda hingga jatuh tersungkur.Pria itu kemudian keluar dan mengunci pintu kamar itu dari luar.


Adinda menangis sambil menggedor gedor pintu kamar itu.Adrian mengusap wajahnya kasar.Ya....katakanlah laki laki itu egois.Ia tak mau melepaskan Dinda.Ia ingin membuat Adinda bahagia namum dengan cara ia tetap di samping Adinda,bukan dengan melepaskan wanita itu.Tidak...Adrian tidak mau.Adinda harus tetap di sisinya.Ia yakin,ia bisa membuat wanita itu bahagia.Ia pasti bisa.


...----------------...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH YANG BUUAAANYAAAKKK DONG PLIIISSSSSS........😒😒😒😒😒😒


__ADS_2