Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1006. Permainan!


__ADS_3

Pemuda iblis itu sangat cepat, tetapi Api Yang bahkan lebih cepat darinya, mendarat di atas punggungnya dan kemudian menghilang.


"Apa yang terjadi!"


Seluruh tubuh pemuda iblis itu bergetar ketakutan. Sebelumnya, temannya terbungkus api dan dibakar dari luar ke dalam dan berubah menjadi abu.


Tapi dia tidak terbungkus api!


Mungkinkah energi Qi Jansen habis, sehingga nyala apinya tidak kuat?


Atau apakah energi Qi miliknya mampu menahan api?


Pikiran ini baru saja terlintas, tapi dia langsung merasakan ada yang tidak beres.


Ini karena api yang mengenainya mulai menyala dari dalam tubuhnya. Jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, yang satu dari luar ke dalam, dan yang satu lagi dari dalam ke luar!


"Ah!"


Dia menjerit dengan sangat menyedihkan. Bagian dalam tubuhnya terbakar seperti pasta kertas. Rasa sakit yang parah membuat wajahnya mengerut!


Dhuar!


Pada akhirnya, dia tidak bisa lagi menahan siksaan itu dan mengakhiri hidupnya dengan serangan telapak tangan ke dahinya sendiri.


Dhuar! Dhuar! Dhuar!


Tubuhnya jatuh ke tanah, masih berkedut, tetapi api segara menyala dari organ dalamnya, membakar hingga ke luar.


Harry dan yang lainnya merasakan kedinginan mendalam. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Tiga Monster Gunung Utara semuanya mati. Kejadian itu dimenangkan sepihak.


"Nyala api macam apa ini? Seperti senjata pembunuh yang tak terkalahkan!"


Harry berasal dari keluarga Dunia Jianghu dan tahu betapa menakutkannya energi Qi yang disertai nyala api.


Hanya bisa dikatakan dia telah meremehkan Jansen. Bukan tidak berdasar bahwa Jansen mampu bertarung satu lawan satu melawan Master Aliansi Seni Bela Diri.


Saat ini, dia merasakan adanya tatapan sedingin es yang sepertinya berasal dari Jansen.


"Jansen, Jessica tidak ada di tanganku!"


Harry tampak tenang, tapi sebenarnya ada ketakutan di dalam hatinya.


"Tidak ada di tanganmu bukan berarti tidak boleh menyentuhmu, 'kan?"


Jansen menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah Harry selangkah demi selangkah.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin menyinggung Keluarga Yiwon?"


Harry melangkah mundur, dia tidak menyangka walau Jessica sudah melarikan diri, Jansen tetap berani menyentuhnya. Bukankah ini merupakan sebuah provokasi secara langsung kepada Keluarga Yiwon?


"Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"


Jansen tiba di depan Harry dan secara tiba-tiba menendangnya keluar. Terdengar bunyi krak, kaki kiri Harry patah tertendang dan dia terduduk kesakitan di atas tanah.


Meskipun Harry juga pernah belajar seni bela diri, tapi jika dibandingkan dengan Jansen, kemampuan seni bela diri mereka punya perbedaan layaknya bayi dan orang dewasa.


Prak!


Jansen kembali menginjaknya, dan kaki Harry yang satunya juga patah.


"Jansen, kamu gila!"


Harry tidak menyangka Jansen begitu kejam. Dia sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.

__ADS_1


Prak!


Jansen tidak mengatakan sepatah kata pun. Tangannya menggenggam dua lengan Harry, lalu meremukkannya.


Teriakan kesakitan layaknya seekor binatang yang baru saja dibunuh menyebar ke seluruh vila.


Mereka yang masih hidup semuanya berlutut, tubuh mereka terus menerus gemetaran.


Termasuk Charlie juga gemetaran. Awalnya, dia mengira jika Jansen hanya akan memberi sedikit pelajaran pada Harry, hanya pelajaran kecil, tapi Charlie Lankester tak menyangka bahwa pelajaran yang diberikan begitu besar, langsung melumpuhkan sepasang kaki dan tangan!


Apakah Jansen tidak takut Keluarga Yiwon akan marah setelah apa yang dia lakukan?


"Aku tidak suka melakukan sesuatu tanggung-tanggung!"


Jansen mengabaikan Harry dan berkata dengan ringan, "Sekarang, apakah kamu menyerah?"


"Jansen!"


Tubuh Harry berkedut terus menerus, namun matanya menatap Jansen dengan kesal.


Menyerah?


Melumpuhkan sepasang kaki dan tangannya, bagaimanapun dia adalah seorang tuan muda dari Keluarga Yiwon yang terhormat, bisa menyerah!


Jika dia menyerah, Keluarga Yiwon tidak akan diakui lagi sebagai Keluarga Elite Aliansi Seni Bela Diri.


Bam!


Jansen mendaratkan kakinya ke atas sepasang kaki Harry. Darah menyembur keluar seperti sosis yang dihancurkan!


Hal yang lebih mengerikan adalah Jansen bukan hanya menginjaknya, tetapi menginjaknya dengan memutarkan kakinya!


Iblis!


Orang-orang yang masih hidup semuanya punya pemikiran seperti ini. Mereka juga turut berduka untuk Harry dalam diam. Tadinya baru saja berencana menyerang Jansen, malah dia yang duluan terkena pukulan keras dari Jansen, dan sudah menjadi orang cacat pula!


"Menyerah tidak?"


Nada bicara Jansen masih sangat tenang, seolah sedang berbicara dengan seorang teman!


Harry tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Dia hanya tahu bahwa dia sudah cacat. Samar-samar dia mendengar perkataan Jansen, dan dari sudut mulutnya akhirnya melontarkan sebuah kata!


"Menyerah!"


Kalimat ini seperti menguras seluruh tenaganya.


Tapi apa dia bisa tidak menyerah?


Jika berani mengatakan tidak, dia memiliki firasat bahwa Jansen benar-benar akan membunuhnya tanpa sedikit pun keraguan!


Orang ini pasti orang gila!


"Ayo kita pergi!"


Jansen mengangguk menatap para gadis yang masih hidup dan meminta mereka untuk pergi. Ia kemudian masuk ke dalam vila untuk mencari. Namun, dia tidak melihat Jessica. Ke mana perginya kakak perempuan satu ini?


Mungkinkah dia sudah ditangkap oleh orang-orang Keluarga Gibson?


Dalam keputusasaan, Jansen hanya bisa meninggalkan tempat itu untuk sementara, berharap bisa menggunakan koneksinya untuk mencari informasi.


Charlie Lankester mengikuti Jansen dan pergi, diam tak bersuara selama perjalanan. Dia masih syok dengan kejadian berdarah barusan.


Diam-diam dia juga tersenyum kecut, Harry telah dibuat cacat. Jika Keluarga Yiwon benar-benar ingin menyelidikinya, maka keterlibatannya juga tidak bisa diabaikan!

__ADS_1


Namun, sembari tersenyum kecut, dia juga merasa punya secercah harapan. Jansen sangat mampu melindungi orang, mungkin dia akan membantunya ketika sesuatu terjadi padanya.


Memikirkan kembali kemampuan Jansen yang hebat, tiba-tiba dia tidak begitu merasakan takut lagi.


Di vila saat ini, para pengawal dan tuan muda masih berlutut di atas tanah, takut Jansen tiba-tiba kembali dan membunuh mereka jika merasa kesal saat melihat mereka lagi.


Setelah menunggu selama dua puluh menit, akhirnya mereka bisa menghela napas lega.


"Cepat, antarkan Tuan Muda Harry ke rumah sakit!"


seseorang bereaksi dan berteriak dengan cemas.


Semua orang dengan cepat bergegas menuju ke tempat Harry berada, menggendongnya dan ingin mengantarkannya. Namun, baru saja mereka sampai di gerbang, seorang misterius yang mengenakan sweater hitam dan topi berdiri di sana, menghalangi jalan.


"Siapa kamu?"


Semua orang terkejut.


Biasanya, mereka pasti langsung memaki. Lagian di saat seperti ini, masih saja ada yang mau mencari keributan.


Namun, semenjak serangan berdarah Jansen barusan, kesombongan semua orang tertahan.


"Hehe, hanya orang lewat!"


Orang itu dengan perlahan mengulurkan telapak tangannya, muncul sebilah Pedang Sabit Purnama yang dengan lembut diayunkannya!


Sret!


Orang-orang yang berada di dekatnya terbelah menjadi dua, usus dan organ dalam mereka bertumpahan jatuh ke bawah.


Yang lebih menakutkan adalah karena teknik pedangnya terlalu tajam, setelah mereka dipotong menjadi dua bagian, mereka tidak langsung mati, mereka masih bisa melihat tubuh bagian bawah mereka dan menangis sembari berteriak.


"Ah, Pembunuh!"


Orang-orang yang tersisa ketakutan dan melarikan diri satu per satu.


Siu!


Si misterius bersweter ini sangat cepat, dan bahkan teknik pedangnya sangat tajam. Setiap ketajaman tepinya seakan bisa merenggut satu nyawa.


Hanya dalam kurun waktu setengah menit, semua orang yang masih hidup terbunuh begitu saja.


Tersisa Harry yang masih terbaring di atas tanah belum mati, matanya menatap orang itu dengan ketakutan.


"Aku, aku adalah Harry!"


Suaranya terdengar lemah dan gelisah.


"Aku tahu, maka daripada itu aku makin ingin membunuhmu!"


Pria bersweter misterius itu menampakkan senyum haus darahnya, menebaskan Pedang Sabit Purnamanya, dan sebuah kepala manusia pun menggelinding di sepanjang tanah. Itu adalah kepala Harry!


Pupil mata Harry melebar. Ia tidak menyangka bisa bertahan hidup di tangan Jansen, malah dibunuh oleh orang ini.


"Permainan ini makin menyenangkan!"


Setelah membunuh Harry, si misterius bersweter itu memasuki vila untuk mencari. Melihat tidak ada yang hidup, dia pun menghilang ke kompleks vila seperti hantu!


Dhuar!


Tidak lama setelah dia menghilang, kobaran api muncul di vila, membakar vila dengan hebat. Selain kepala Harry yang diletakkan di luar gerbang, semua mayat ikut terbakar habis.


Tidak tahu telah berselang berapa lama, di danau buatan di kejauhan, sesosok tubuh muncul dari dasar air dalam keheningan!

__ADS_1


__ADS_2