
Mendengar ucapan ini, raut wajah pria tua itu pun berubah, "Setelah memasang perangkap yang begitu besar, kenapa masih ada yang bisa lolos? Sungguh aneh, bagaimana mereka bisa lolos?"
"Pertempuran sebelumnya sangat kacau, sehingga aku tidak melihatnya dengan jelas. Namun, biasanya setelah dikepung begitu banyak pasukan, tidak akan ada yang bisa lolos kecuali... kecuali..."
"Kecuali apa? Cepat katakan!"
"Kecuali, ketiga orang ini sudah merasa ada yang tidak beres pada awalnya dan tidak jadi masuk ke dalam perangkap!"
Pria tua itu terdiam sejenak lalu tertawa keras sambil berkata, "Hebat sekali, di dalam Tim Macan ternyata memang ada seorang yang tangguh. Tunjukkan kepadaku siapa ketiga orang itu!"
....
"Bos, apa yang harus aku lakukan sekarang? Banyak orang sedang mengejar kita!"
Saat ini, Amanda sedang mengikuti Jansen melarikan diri.
Wajah Glenn tampak kesal. Glenn juga mendengar perintah ketua tim dan hampir ikut mati karena ingin kembali ke markas.
"Usahakan lari ke dalam hutan, jangan sampai tersesat!"
Jansen menggunakan Tangga Awan vertikal dengan kecepatan tinggi.
Namun, Jansen dibuat tidak berdaya dengan Amanda yang tidak mampu mengimbangi kecepatan mereka berdua.
Meskipun lengan Glenn terluka, kecepatan gerak Glenn tidak berkurang sama sekali. Glenn pun tertawa melihat Jansen berjalan seperti di atas air, "Jansen, aku kira kemampuan lari yang aku miliki sudah luar biasa. Ternyata, kamu lebih jago. Kamu bukan sedang berlari. Kamu lebih mirip hantu gentayangan yang terbang di udara!"
"Berhenti bicara omong kosong, kita hampir terkejar pasukan di belakang!"
Jansen menegurnya sambil tertawa lalu menghindar dari beberapa tembakan peluru..
Sialan, medan perang memang tempat yang penuh kekacauan.
Tidak heran bila Penatua Jack pernah mengatakan bahwa betapa hebat pun kemampuan bela diri yang dikuasai, mereka tidak akan bisa menjadi tentara. Ternyata, ucapan ini memang benar.
Energi Qi pun tidak akan dapat menahan tembakan peluru yang datang menerjang
bila terus menerus.
"Dokter, ketua tim memerintahkan kita untuk
menghancurkan markas dengan berjuang sekuat tenaga. Markas itu sangat dekat di depan mata, tetapi sekarang kita malah berlari semakin menjauh." Glenn tiba-tiba berkata.
"Dasar bodoh, mereka membiarkanmu melompat ke dalam jebakan yang mereka pasang. Lagi pula, pasukan musuh berjumlah sangat banyak. Kamu sendiri akan mati sebelum kamu sempat meledakkan bom!" Jansen memarahinya.
"Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan sekarang? Melarikan diri seperti ini juga bukan jalan keluar!" Glenn terlihat tertekan.
Jansen tidak berbicara, tetapi hatinya sangat bersemangat karena ini adalah medan perang.
Asap senapan pun tercium, baunya menusuk hidung. Terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.
Orang-orang pun terkejut.
"Bos, kamu bilang markas tadi adalah markas palsu?" Amanda datang menyusul lalu bertanya.
"Benar!"
__ADS_1
Jansen mengangguk, "Tetapi, semua yang terlihat asli bisa saja palsu dan begitu pula sebaliknya. Aku tebak, markas yang asli berada di belakang markas palsu! Bersiap-siaplah, kita akan pergi menyerang markas divisi yang asli!"
"Bos, apa kamu gila? Tempat itu dijaga dengan sangat ketat!"
"Tidak, markas besar saat ini berada dalam kondisi tanpa penjagaan. Ada dua tim khusus di garis depan yang berfungsi sebagai kekuatan utama, sedangkan semua kekuatan utama lain yang tersisa telah keluar untuk mengejar kita. Kita akan memutar jalan lalu menyerang tempat itu dengan tiba-tiba. Mereka pasti akan kelabakan!"
"Kamu benar, aku rasa mereka tidak akan menduga bahwa kita bertiga akan menyerang mereka kembali!"
Amanda yang lihai bersiasat pun paham dengan jalan pikiran tersebut.
Tiga orang yang tersisa mewakili tim kecil yang telah gagal. Meskipun mereka tidak gagal, semangat mereka telah memudar. Mereka kehabisan semangat juang.
Karena itu, musuh hanya ingin menghancurkan mereka tanpa menduga bahwa mereka akan melakukan serangan balik.
"Haha, Bos, kamu sungguh hebat. Macan Tutul, kamu ingat apa slogan kita?" Amanda sangat bersemangat.
Glenn secara alamiah juga ikut bersemangat. Dia melambaikan pistol sambil berkata, "Ingat, pihak yang menang akan hidup senang, pihak yang kalah akan menderita!"
"Cepat bergerak, jangan lambat-lambat seperti ini. Kalau tidak, kamu akan ditendang ke dasar laut!" Jansen menendang Glenn lalu memutar jalan jauh untuk mendekati markas dari samping.
Benar saja, tidak ditemukan satu pun pasukan musuh di jalan. Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya kembali ke markas sebelumnya.
Namun, mereka terus bergerak maju.
Setelah melintasi jalan pegunungan ini, muncul lagi sebuah markas.
Jansen dapat merasakan bahwa ada orang di dalam markas itu. Tak hanya itu, orang tersebut memiliki aura yang berbeda. Aura orang itu mirip seperti aura pembunuh.
Markas itu adalah markas yang sebenarnya.
Komandan Strategi ini memang seorang pemberani yang juga lihai. Dia sangat percaya diri.
"Putri, Macan Tutul, segera serang dan ledakkan markas itu!"
Jansen memerintahkan Amanda dan Glenn.
Glenn dan Amanda sejak awal pun sudah sangat bersemangat. Mereka berdua buru-buru mengeluarkan bahan peledak lalu menyelinap maju ke depan.
Sementara itu, Jansen berada di tempat yang tinggi sambil memegang senapan sniper untuk melakukan tembakan jitu terhadap orang yang kemungkinan lolos dari markas itu.
Saat ini di dalam markas, pria tua itu masih melihat ke layar dan wajahnya tersenyum penuh makna.
"Kita sudah boleh tutup perangkap sekarang. Kita tidak segan segan mengorbankan beberapa bangunan markas untuk dijadikan umpan demi memancing Tim Elang dan Tim Serigala. Sekarang, mereka semua telah masuk area perangkap kita!" Kepala Komandan Strategi berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tutup perangkap! Ledakkan granat secara besar-besaran!"
Pria tua itu mengangguk, "Tim Operasi Khusus memiliki keunggulan, yaitu kelincahan yang baik. Akan tetapi, saat mereka masuk ke dalam perangkap besar yang kita pasang, mereka akan kehilangan kelincahan mereka. Mereka semua akan tertangkap!"
"Tutup perangkapnya!"
Kepala Komandan Strategi mengeluarkan perintah.
Di garis depan, di depan markas tersebut, Tim Serigala dan Tim Elang sedang melakukan penyerbuan. Akan tetapi, terjadi pula ledakan granat dalam skala besar.
"Sialan, kita masuk perangkap!"
__ADS_1
Kedua tim tampak kesal. Mereka semua pun tereliminasi.
Macan Hitam juga melihat adegan ini. Dia diam-diam merasa senang. Namun, tak lama kemudian, dia malah terlihat kecewa.
Meskipun kedua tim juga gagal, setidaknya mereka telah berhasil menghancurkan beberapa markas.
Dan bagaimana dengan Macan Hitam?
Ambisi Macan Hitam terlalu besar. Dia tak hanya kehilangan seluruh pasukannya. Dia bahkan tak berhasil menghancurkan satu pun markas.
"Kamu jangan menyerah, jangan lupa, tim kalian masih memiliki tiga orang yang masih hidup!"
Arthur tiba-tiba menghiburnya dengan berkata demikian.
"Apa gunanya tiga orang itu, mereka sepertinya sedang kabur menghindari kejaran pasukan. Mereka lari kelabakan dan hanya akan bertahan paling lama setengah jam!" Macan Hitam melihat sekilas ke arah layar.
Tiga titik cahaya di layar tiba-tiba telah berubah.
Mereka ternyata masuk kembali ke wilayah jantung pertahanan.
"Sialan!"
Macan Hitam mengumpat.
Arthur sudah terbiasa melihat hal ini karena Jansen memang tidak sesederhana itu.
Pada saat ini, di dalam markas, para komandan strategi bertepuk tangan riuh. Mereka akhirnya berhasil memenangkan latihan militer ini.
Ternyata, Tim Operasi Khusus tidak ada apa-apanya. Para tentara unggulan itu masih kalah dibandingkan dengan para tentara senior seperti mereka.
Pria tua itu bersikap istirahat di tempat sambil tersenyum puas dan berkata, "Kedua tim telah kalah total. Tim Macan juga sudah binasa. Sebentar, mereka sepertinya masih punya tiga orang lagi!"
"Tiga orang melawan seluruh pasukan kita? Mereka tak akan mungkin bisa menghadapi pasukan dalam jumlah besar. Dalam waktu sepuluh menit, kita pasti akan menerima kabar kemenangan!"
Kepala Komandan Strategi tertawa terbahak-bahak.
Wajah pria tua itu tampak serius, "Kedua tim terus mencari mereka, seharusnya mereka berhasil ditemukan. Kecuali..."
Saat dia berbicara, raut wajahnya berubah drastis. Dia pun berkata dengan terkejut, "Kecuali, mereka datang ke gerbang markas!"
"Mustahil!"
Semua komandan tim yang awalnya kegirangan sontak berhenti bersorak
Duar!
Di saat ini pula, terjadi ledakan besar di markas.
Peralatan komunikasi pun hancur dan seluruh medan pertempuran ikut terdampak.
Semua sersan tim di depan layar juga melihat langsung adegan ini.
Raut wajah komandan Tim Elang dan komandan Tim Serigala langsung berubah drastis. Bukankah semua anggota Tim Macan sudah mati?
Markas tempat Macan Hitam berada kini dalam keadaan sunyi.
__ADS_1
Markas divisi benar-benar telah ditemukan.