
Di sisi lain, Jansen turun dari kereta dan berlari menuju bandara. Ketika dia sedang mengantri untuk keluar dari stasiun, tiba-tiba dia melihat sosok yang familier.
Orang itu adalah Widya
"Gadis itu cepat sekali larinya!"
Jansen menggelengkan kepalanya tak berdaya. Mereka mengemasi barang nya dengan cepat, alhasil semuanya tertinggal.
"Oh tidak, di mana kartu identitas aku?"
Pada saat ini, Widya, yang akan meninggalkan stasiun terlihat cemas, dia tengah sibuk mencari isi di dalam tasnya.
"Tidak mungkin kan? Kamu baru saja mendapatkan kartu identitasmu. Coba lihat saku di rok kamu!"
Gadis muda di sampingnya juga ikut panik.
"Aku sudah mencari di semua tempat, dan seingatku tidak memasukkannya ke dalam saku!"
Widya sangat panik.
"Ini kartu identitas kamu, 'kan!"
Pada saat ini, suara yang familier terdengar dari belakang mereka. Mereka berdua menoleh ke belakang dan bukankah dia paman yang tadi?
Paman itu tengah memegang kartu identitas Widya
"Ini punyaku!"
Widya merebutnya, dia memeriksa sekilas kemudian dengan cepat berterima kasih pada Jansen.
"Kenapa kamu punya kartu identitas Widya?"
Gadis di sampingnya terlihat waspada. Dia selalu merasa jika Jansen sedang merencanakan sesuatu.
"Kamu meninggalkannya begitu saja di tempat dudukmu. Aku hanya menemukannya dan mengambilnya untukmu!" ujar Jansen tertawa.
"Karena sudah menemukannya, maka kami berterima kasih sekali padamu. Apakah kamu juga turun di sini? Bagaimana dengan kakak perempuan tadi dan yang lainnya? Kamu tidak meminta uang pada mereka, 'kan? Itu uang untuk menyelamatkan hidup mereka!" Gadis itu menambahkan.
"Jangan khawatir, aku tidak memintanya, dan urusan mereka pergi ke Aula Xinglin untuk berobat juga sudah beres!"
Jansen berkata dengan perlahan, namun matanya tertuju pada Widya, dan dia makin yakin bahwa itu adalah kehidupan sembilan foniks.
Sekarang, menyembuhkan Veronica adalah yang paling penting baginya. Bagaimana pun, Veronica terus menua dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Paman, pergi ke Aula Xinglin untuk berobat tidak bisa semaumu. Pamanku adalah seorang pejabat di Ibu Kota. Dia saja tidak percaya diri bahwa dia bisa mendapatkan antrian. Kamu pikir kami tidak tahu apa-apa!"
Meski Jansen membantu wanita itu mendapatkan pencuri, tetapi gadis muda itu merasa Jansen sangat tidak bisa diandalkan. Dia menggunakan rumput liar untuk mengobati penyakit dan menemukan kartu identitas Widya. Dia pasti punya niat lain.
__ADS_1
"Widya, ayo pergi!"
Gadis muda itu membawa Widya dan pergi.
Widya ingin mengucapkan terima kasih, tapi dia ditarik oleh gadis muda itu sehingga dia hanya bisa tersenyum canggung pada Jansen.
Jansen tidak peduli dan menyusul keluar dari stasiun kereta.
"Kamu masih mau mengikuti kami sampai kapan? Biarkan aku memberi tahu padamu, keluarga Widya bukanlah keluarga biasa. Kamu tidak bisa mengusiknya!"
"Apalagi Widya sudah milik orang lain. Pacarnya memiliki latar belakang yang luar biasa besar, jadi kamu tidak akan mampu mengusik dia"
"Aku menasihatimu, pergilah sejauh yang kamu bisa, jangan cari masalah!"
Melihat Jansen masih mengikuti, gadis muda itu menghentikan langkahnya dan mengancam dengan suara dingin.
Jansen terlalu malas untuk memedulikannya. Dia menghentikan taksi dan masuk sambil berkata, "Ke bandara!"
Taksi itu melaju dan pergi bersama Jansen.
Gadis muda itu tertegun dan sedikit salah tingkah.
"Seira, sepertinya kamu salah paham sama dia!"
Widya juga sedikit salah tingkah.
Di sisi lain, Jansen turun dari taksi dan naik ke pesawat, kemudian langsung berangkat menuju Ibu Kota.
Sebenarnya gadis muda itu tidak salah, Jansen memang memiliki niat terhadap Widya, tapi dia tidak akan mengejar perempuan itu. Dia hanya menginginkan darahnya.
Apalagi dengan cara Jansen saat ini, jika dia ingin mendapatkan sedikit darah gadis itu, dia bisa saja menggunakan teknik Xuan secara diam-diam.
Namun, gadis muda itu bukanlah orang dunia Jianghu. Jansen tidak ingin menggunakan cara khusus padanya.
Di sisi lain, di sebuah rumah bangsawan di Kota Sosena, hanya terlihat gaya bangunan rumah bangsawan yang antik dan tradisional, ada musik kecapi yang melayang keluar, yang menambahkan kesan mewah tapi tidak berlebihan.
Di paviliun taman rumah bangsawan, seorang pemuda sedang duduk di sana membuat teh, gerakan tangannya terlihat fasih dan tampak seperti pecinta teh
"Tuan Muda, Master Gesun gagal!"
Di waktu yang sama, seorang pria tua masuk, memakai sepatu dan berjalan tanpa suara.
Pemuda itu menghentikan kegiatan minum teh, dan matanya memancarkan cahaya dingin. "Dia adalah peringkat ke-50 dalam Daftar Peringkat Awan Badai Dunia Jianghu, dia juga gagal?"
"Master Gesun meminta untuk bertemu di luar rumah bangsawan!"
Orang tua itu berkata lagi, setelah itu melihat pemuda tersebut mengangguk. dia berbalik dan pergi. Tidak lama kemudian, dia datang lagi dengan seorang pria paruh baya yang hanya memiliki satu tangan.
__ADS_1
"Tuan, aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang ini. Aku telah gagal memenuhi harapanmu!"
Pria paruh baya itu masuk dan berkata dengan pelan.
"Master Gesun, aku sangat profesional dalam hal pekerjaan. Kalau kamu menyelesaikan pekerjaan kamu, kamu akan dapat penghargaan besar. Kalau kamu gagal, tapi sudah melakukan yang terbaik, aku tidak akan menghukum kamu, selain itu akan tetap mendapat penghargaan!"
Pemuda itu memainkan cangkir teh dan berkata, "Aku tanya, apakah kamu sudah melakukan yang terbaik dalam hal ini?"
"Tuan, kamu sedang mempertanyakan aku?!"
Master Gesun mendengar ada sesuatu dalam ucapan pemuda itu. Dia berkata dengan wajah tenang, "Tidak ada seorang pun di dunia Jianghu yang tidak tahu dengan cara kerja Master Gesun. Selama aku sudah berjanji kepada orang, aku akan membunuhnya meskipun itu adalah anakku sendiri!"
Mata pemuda itu berbinar. "Lalu kenapa kamu bisa gagal? Apa yang terjadi dengan tanganmu!"
"Ini dipotong oleh Jansen!"
Master Gesun tidak menyembunyikan apa pun. "Kekuatannya tidak hanya sebatas tingkatan dasar Trancedent. Kemampuannya di luar yang dibayangkan, Teknik pedangku juga dikalahkan olehnya!"
Pria tua di sampingnya berkata dengan sungguh-sungguh, "Master Gesun, peringkat ke-50 dalam Daftar Peringkat Awan Badai Dunia Jianghu, tingkatan tengah Trancedent, kamu benar-benar kalah dari seorang dokter?"
"Ini adalah hal yang memalukan. Tidak apa-apa kalau kamu tidak membahasnya, tetapi karena Tuan Justin sudah bertanya, aku akan mengatakannya saja!"
Master Gesun berkata dengan samar, "Informasi yang Tuan Justin berikan padaku salah. Jansen jelas bukan tingkatan dasar Trancedent!"
Pemuda menghentikan kegiatan minum tehnya seketika. Dia adalah Justin Onix. Di masa lalu, Keluarga Woodley hancur, dia datang untuk membantu. Setelah itu, dia bertarung dengan Jansen dan menebak kalau Jansen adalah petarung terkuat di tingkatan dasar Trancedent.
Jadi dia meminta Master Gesun untuk membunuh Jansen. Secara logika, seharusnya Jansen bukan lawan Master Gesun, tapi dia tidak menyangka jika Master Gesun juga gagal.
"Kekuatan apa yang dia gunakan?"
Justin bertanya lagi.
"Seni bela diri!"
Jawab Master Gesun.
Justin merasa makin aneh, saat terakhir kali dia bertarung melawan Jansen, dia jelas merasakan kekuatan ramuan gen pada diri Jansen. Kenapa Jansen tidak menggunakan kekuatan ini untuk mengalahkan Master Gesun?
"Baiklah, aku sudah salah paham denganmu!"
Wajah Justin berubah perlahan. Master Gesun memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Dia mengangguk dan berkata, "Utang budi pada ayahku sudah lunas!"
"Terima kasih, Tuan Justin!"
Master Gesun tersenyum dan merenung, "Tuan Justin, Jansen adalah orang yang hebat seni bela diri dan sangat langka di Dunia Jianghu. Dia bisa masuk peringkat 200 besar dalam sejarah. Kalau rasa benci tuan dan Jansen tidak begitu dalam, aku pribadi menyarankan lebih baik berbaikan dan berdamai!"
Mendengar ini, Justin yang awalnya masih sopan menyipitkan matanya dengan pelan dan bertanya, "Apakah kamu begitu yakin dengan Jansen?"
__ADS_1
"Benar. Dia orang yang paling tidak bisa kutebak sejak aku berlatih bela diri. Meskipun orang ini seorang dokter, dia memiliki rasa cinta dan benci yang jelas. Kalau dia terpancing, dia tidak akan berhati lembut. Contohnya, pada hari itu, Raja Kaki Robin Hody dikalahkan oleh Jansen. Alasannya karena Raja Kaki Robin Hody sering menantang Jansen!" Master Gesun mengangguk.