
"Cukup, Jansen, kamu masuk ke rumah Keluarga Miller tanpa izin, dan kalau pun kami tidak membunuhmu, itu karena kami sudah berbaik hati padamu. Kamu cepat pergi dari sini, selamanya kamu tidak boleh lagi masuk ke rumah Keluarga Miller."
Melihat kekacauan di rumah Keluarga Miller akibat ulah Jansen, Renata pun sadar bahwa dirinya tidak boleh lagi bersikap murah hati.
"Aku tidak akan pergi, tidak peduli siapa pun itu, apakah Tuan Woodley atau empat pemuda keluarga elit Ibu Kota, tidak ada yang bisa mengambil Elena dariku!"
Jansen masih tidak mau berkonflik langsung dengan Keluarga Miller, tetapi dia sudah mempertegas pendiriannya tentang masalah ini.
"Apakah kamu pikir dengan hanya mengandalkan keterampilan medis, kamu bisa menang melawan Keluarga Miller? Aku beri kamu satu detik terakhir untuk berpikir dengan matang, jika kamu masih bersikeras tidak mau pergi dari rumah Keluarga Miller, akan aku tembak kamu langsung di tempat!"
Suara Renata terdengar penuh kekuasaan, dia bisa dengan mudah membunuh Jansen semudah membunuh seorang rakyat jelata.
Saat ini, semua orang tahu bahwa Renata sangat marah.
Paman Ketiga sangat mengkhawatirkan Jansen. Dia tahu bahwa Renata orangnya keras kepala dan tidak percaya dengan orang luar. Renata sudah bertekad untuk membantu Jessica naik menjadi patriak, sedangkan Elena adalah kunci bagi Jessica untuk bisa naik menjadi patriak. Jika Jansen berani menggagalkan rencana mereka ini, Renata pasti akan membunuh Jansen.
Di rumah Keluarga Miller, kedudukan Renata sama seperti Danial. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan perkataan mereka. Renata hanya memberi Jansen waktu satu menit.
"Suamiku!"
Elena menatap Jansen dengan cemas.
Jansen tersenyum dan memegang tangan Elena tanda tekad yang sudah kuat.
Meskipun Jansen telah berjanji kepada Penatua Jack dan Paman Ketiga, bahwa dia tak akan bertikai dengan mereka, tetapi jika orang Keluarga Miller telah bertindak kelewatan, maka Jansen juga tidak akan tinggal diam dan terus melawan hingga titik darah penghabisan. Hari ini, Jansen hendak memberitahukan Keluarga Miller tentang pendiriannya.
walaupun kali ini mungkin 10 kali lipat lebih berbahaya dari terakhir kali di peristiwa pulau Rainbow.
Karena Jansen merasa, jika dia dengan mudah kompromi seperti ini, maka dia akan benar-benar kehilangan Elena selamanya.
Seiring berjalannya waktu, seluruh ruang utama menjadi sunyi. Banyak kerabat yang menertawakan kebodohan Jansen. Seorang dokter kecil seperti Jansen bahkan berani bertikai dengan Keluarga Miller yang kaya raya. Meskipun Jansen mendapat sedikit kemenangan dari pertikaian ini, tetapi pada akhirnya dia tetap akan hancur diinjak-injak oleh Keluarga Miller.
"Renata, meskipun kami Keluarga Miller telah menyetujui pertunangan dari Keluarga Woodley, tetapi pertunangan pun belum dilaksanakan. Kamu begitu beraninya membunuh orang, apa kamu menganggap kami Keluarga Miller ini masih sama seperti bangsawan zaman dahulu."
Tiba-tiba, terdengar suara orang tua. Kemudian, muncul seorang nenek tua berjalan pelan keluar dengan tongkat dibantu beberapa pelayan.
"Bu, kamu, kenapa kamu kembali?"
Melihat tubuh nenek tua itu, raut wajah Renata langsung berubah.
__ADS_1
Orang-orang Keluarga Miller yang ada di sana juga langsung berdiri memberi hormat dan satu per satu menyapa, "Halo, Nenek!"
Nenek tua ini adalah istri dari Kakek Miller. Kedudukan nenek tua ini tentu semua orang sudah tahu, tetapi nenek tua ini sudah jarang mengurus urusan Keluarga Miller, dia menikmati hari-hari tuanya di sanatorium. Di luar dugaan, nenek tua ini tiba-tiba pulang ke rumah hari ini.
Suasana hati Renata sedang jelek, sementara Jessica juga tampak kesal. Mengapa Nyonya Besar ini tiba-tiba pulang ke rumah?
Mata mereka berdua tiba-tiba tertuju pada orang yang berada di sebelah Nenek Miller. Ternyata ada anak dari Keluarga Carson. Mereka berdua merasa sangat terkejut.
Mungkin saja Nenek tua ini datang karena diundang oleh Keluarga Carson. Namun, kenapa putra Keluarga Carson ini ikut campur dalam masalah Keluarga Miller.
Jessica tanpa sadar memandang Jansen. Jessica sedikit cemas dan menduga Jansen ada di balik ini semua.
Jessica tidak menyangka bahwa seorang dokter kecil berhasil menggagalkan dua rencananya berturut-turut.
Saat ini, Jansen juga merasa kaget, tetapi karena Melihat Arthur ada di samping nenek, Jansen seketika sadar dan kemudian merasa terharu.
Arthur diam-diam berkedip pada Jansen. Sejak Arthur tahu identitas Jansen, dia pun tahu kesulitan Jansen. Karena Arthur merupakan anak dari Keluarga Carson, salah satu dari delapan keluarga elit Ibu Kota, maka dia bisa dengan mudah masuk ke sanatorium mencari kakeknya untuk membantu Jansen agar kakeknya Arthur bisa membujuk Nenek Miller pulang ke rumah.
Ini juga sebagai balas jasa atas pertolongan yang diberikan Jansen kepada Arthur saat insiden di atas pesawat terbang.
"Bu, hal-hal sepele di rumah biar kami yang mengurusnya, kamu jaga diri dengan tenang saja!"
"Renata, kita ini adalah keluarga yang besar, dan jangan sampai setiap hal yang kita lakukan menjadi gunjingan orang-orang di luar!"
Nenek tua berkata dengan nada datar, matanya memandang wajah Elena sambil tersenyum dan berkata, "Elena, kamu adalah anak Keluarga Miller yang tertinggal di luar sana, bagus, kamu sangat cantik, Keluarga Miller berhutang padamu karena saat itu kami tidak menjagamu dengan baik, sehingga ibumu juga pergi meninggalkan dunia ini dengan cepat!"
Elena tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak memiliki perasaan yang khusus dengan neneknya ini.
Nenek itu memandang Jansen lagi, "Kamu seharusnya suaminya Elena, bukan?. Arthur sudah menceritakan masalahmu, memang kami Keluarga Miller bersikap tidak adil kepadamu. Namun, aku juga baru tahu masalah ini. Kalau aku tahu lebih awal, seharusnya kami tidak menyetujui lamaran pernikahan dari Keluarga Woodley. Nah, sayangnya sekarang kami juga sudah menyetujui lamaran mereka, kalau kami tiba-tiba menolaknya tentu ini juga tidak baik bagi hubungan kedua keluarga!"
"Nenek, katakan saja apa yang ingin kamu katakan!"
Jansen merasakan bahwa perkataan nenek memiliki maksud tertentu, dan sikap nenek juga tidak keras kepala.
"Sekarang anak laki-laki Keluarga Woodley sudah pergi ke kamp militer untuk menjalani pelatihan, dia baru bisa pulang setengah tahun kemudian. Begini saja, aku kasih kamu waktu setengah tahun, selama Keluarga Woodley belum melangsungkan pertunangan, apakah kamu punya kepercayaan diri untuk bisa mengubah ini semua?" tanya nenek.
"Hehe, Bu, dia ini tidak punya apa-apa, waktu setengah tahun untuknya tentu tidak bisa mengubah apa-apa!"'ucap Renata tertawa menghina Jansen.
Perlu diketahui, Keluarga Woodley ini merupakan salah satu dari delapan keluarga elit Ibu Kota, bahkan urutan mereka masih berada di atas Keluarga Miller. Jansen sendiri saja tidak bisa menang melawan tekanan Keluarga Miller, apalagi bila harus berhadapan dengan Keluarga Woodley. Mereka tidak mungkin mau mengubah keputusan mengenai pertunangan tersebut.
__ADS_1
"Setengah tahun?"
Mata Jansen berkedip, meskipun dia juga merasakan banyak tekanan, tetapi ini adalah satu-satunya pilihannya yang bisa dia ambil, "Baiklah, setengah tahun kemudian, aku akan membuat pandangan Keluarga Woodley dan Keluarga Miller terhadap diriku ini berubah. Jika aku gagal melakukannya, aku sendiri yang akan mengajukan perceraian dengan Elena!"
"Terima kasih telah memahami kesulitan Keluarga Miller, setengah tahun kemudian, jika kamu bisa mengagalkan pertunangan itu, maka Elena akan ikut bersamamu selamanya. Ingat, jangan lakukan hal yang melanggar hukum!" kata nenek dengan penuh kasih sayang, "Kalau Elena sendiri, kamu tidak usah khawatir, dia akan tetap tinggal di rumah Keluarga Miller. Selama aku ada, tidak akan ada orang yang berani menindasnya!"
"Terima kasih, Nenek!"
Setelah mendapatkan jaminan dari perkataan nenek, Jansen akhirnya bisa lega.
"Hum, kamu kira dirimu itu sangat hebat!"
Orang-orang di Keluarga Miller diam-diam menertawakan Jansen.
Karena itu pula, Jessica tidak berusaha menganggu Jansen lagi, dia merasa lebih baik menunggu setengah tahun lagi dan saat itu Jansen akan mundur dengan sendirinya.
"Bu, Jansen ini selalu membuat keluarga kita tidak tenang, kita harusnya beri dia sedikit pelajaran!" Renata tiba-tiba berkata, "Begini saja, panti asuhan di distrik Utara akan segera dibongkar, panti asuhan ini dibangun oleh nenek kalian dulu, biarkan mereka mencari cara penyelesaian, jika masalah dapat diselesaikan dengan baik, maka anggap saja masalah Jansen menerobos masuk rumah Keluarga Miller juga selesai. Jika masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik, kita akan lapor polisi, biar dia mendekam di penjara untuk beberapa hari!"
"Renata?"
Nenek itu mengerutkan kening. Dia tahu bahwa masalah di panti asuhan tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sembrono.
"Nenek, masalah ini serahkan padaku saja!"
Saat ini, Jansen tiba-tiba datang menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Jansen tahu bahwa nenek telah Melindunginya dari pertentangan seluruh anggota Keluarga Miller. Jansen pun sangat berterima kasih atas kebaikan nenek. Jika Jansen sampai menolak permintaan nenek, tentu nenek akan berada pada posisi yang sulit.
"Jansen, kenapa kamu setuju untuk membantu?"
Elena diam-diam menarik Jansen. Saat pertama kali datang ke Ibu Kota, Jansen sama sekali tidak hapal dengan tempat-tempat di sana. Kalau begitu, bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah panti asuhan dengan baik?
Selain itu, masalah panti asuhan ini sepertinya agak rumit juga , kalau bukan begitu, orang Keluarga Miller pasti sudah berebut untuk mengelolanya.
"Percayalah padaku!"
Jansen menatap Elena dengan tatapan meyakinkan.
"Jansen, kamu benar-benar punya keyakinan bisa menyelesaikan masalah panti asuhan ini?" tanya nenek dengan heran.
"Kalau aku menyelesaikan masalah ini saja tidak bisa, mengapa aku harus menunggu lagi setelah setengah tahun!" Jansen mengangguk.
__ADS_1