Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 483. Pertemuan Dengan Tuan Hilton!


__ADS_3

Joshua memiliki ratusan pertanyaan di dalam hatinya, tetapi dia tidak bertanya apa-apa. Dia mengeluarkan dua botol anggur dan meminumnya sambil berjalan dengan Jansen.


"Jansen, apakah kamu masih ingat saat masih di kuliah, kita pernah sembunyi-sembunyi minum bir?"


"Ingat, kamu ini bajingan sembunyi-sembunyi meminum bir dan setelah pemeriksaan, tak disangka kamu melemparkan bir itu ke bawah tempat tidurku dan membuatku kehilangan poin!"


"Haha, saat itu aku kaget, tetapi ketika kamu dihukum berlari di lapangan, aku juga ikut bersamamu!"


Mereka menceritakan masa lalunya dan mengingat masa muda mereka.


"Oh ya, satu hal lagi!"


Joshua yang sedang minum wajah memerah, tiba-tiba dia memikirkan sesuatu, "Dan satpam itu!"


"Apa kamu benar-benar ingin balas dendam dengan mereka satu per satu!" Jansen terkejut.


"Tentu saja," Joshua sebelumnya tidak memiliki keberanian dan kemampuan, "Sekarang aku adalah bos besar Fashion Design. Orang yang pernah memandang rendah dan menertawakanku. Aku ingin membalas mereka semua. Dengan begitu hidupku tidak akan sia-sia!" Joshua berkata dengan gagah berani.


Jansen tersenyum, dia tahu kalau Joshua sudah lama merasa tertekan dan sepertinya dia telah menyelesaikan masalah Cathy juga.


Keduanya kembali ke Grup Fashion Design lagi. Meski hari sudah malam sekarang, berita mengenai pergantian bos Grup Fashion Design sudah menyebar ke perusahaan.


"Selamat, kamu dipecat!"


Kata Joshua setelah melihat satpam itu dan melangkah masuk dari gerbang itu.


Dia terlihat agak mabuk dan merasa tertekan.


"Bos, Bos besar!"


Satpam itu sudah tahu tentang Joshua, sehingga dia kaget sampai kakinya menjadi lemas.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa pekerjaanmu ini hanya bergaji 7 ribu yuan, kamu menginginkan aku memecatmu? Sekarang, aku mengabulkannya, pergi ke bagian keuangan untuk mendapatkan gaji terakhirmu, lalu segera pergi dari sini!" kata Joshua dengan berani, setelah berbicara suasana hatinya langsung menjadi sangat senang!


"Bos besar, jangan, hari itu aku hanya bicara sembarangan saja, anakku masih TK dan di rumah keluargaku menungguku untuk makan malam."


Satpam itu benar-benar takut sampai menangis dan menampar dirinya sendiri dengan keras.


"Pergilah!"


Joshua tidak mau mendengarkannya.


Satpam itu tidak menyangka, di siang hari Joshua menjadi seorang pengecut yang takut mencari masalah, di malam harinya tiba-tiba dia menjadi seorang bos. Dia segera menatap Jansen dan berkata, "Bos, bisakah kamu mengucapkan beberapa patah kata untukku. Aku tidak mengenal bos besar itu sebelumnya. Apa yang saya katakan pada saat itu hanyalah bercanda saja!"


Wajah Jansen terlihat menjadi serius, "Kamu memiliki kebebasan dan kekuatan untuk berbicara, tetapi kamu harus menanggung konsekuensinya. Kamu tidak dapat marah-marah sesukamu dan mengatakan semua hal sesukamu. Setelahnya, kamu menganggap itu bukanlah apa-apa! Aku akan memberimu tambahan gaji satu bulan dan besok kamu tidak perlu datang kerja!"


Mendengar perkataan ini, satpam itu sangat menyesal.


Meskipun gaji pekerjaan ini tidak tinggi, tapi pekerjaannya santai. Orang-orang yang datang ke perusahaan harus melewati mereka dan sesekali memberikannya rokok dan bir.


Tapi sekarang, pekerjaan yang banyak diminati ini hilang.


Jansen sama sekali tidak bersimpati padanya. Joshua berbicara beberapa patah kata dan lalu perlahan pergi.

__ADS_1


Keduanya minum sampai larut malam. Ketika Jansen kembali ke rumah komunitas, dia melihat sesosok orang yang juga sedang membuka pintu!


"Jansen!"


Setelah melihat Jansen, orang itu menghampirinya dengan perasaan senang.


"Keisha? Kamu tinggal di sini?"


Jansen tampak terkejut.


Keisha sebenarnya tahu sebelumnya bahwa Jansen tinggal di sini, dia berkata sambil tersenyum, "apakah kamu lapar? Masuklah untuk makan mie!"


"Ini sepertinya tidak terlalu baik!"


Jansen merasa sedikit sungkan.


"Apa yang kamu takutkan!"


Keisha dengan murah hati membuka pintu dan masuk bersama Jansen.


"Ah, kamu tidak boleh melihatnya!"


Tapi begitu lampu dinyalakan, Keisha berteriak dan mendorong Jansen keluar!


Jansen memegang kepalanya karena merasa canggung. Sebenarnya dia sudah melihat kalau ruang tamu itu sangat berantakan. ****** *****, bra, dan stoking sutra dengan segala warna terlempar dimana-mana.


Pramugari ini sepertinya agak malas.


Tapi ini memberikan orang lain perasaan yang nyata.


Beberapa saat kemudian, Keisha membiarkan Jansen masuk, tetapi wajahnya memerah dan terlihat sangat cantik di bawah cahaya.


"Apa sebelumnya kamu melihat sesuatu?"


Setelah Jansen masuk, Keisha bertanya lagi.


Jansen menyentuh hidungnya, kali ini tentu saja dia mengatakan kalau dia tidak melihat apa-apa.


"Baguslah, tunggu dulu, aku akan membuatkanmu mie!"


Keisha merasa lega dan memasuki dapur dengan kaki panjangnya. Sementara Jansen melihat ruang tamunya, di sini ukurannya hampir sama dengan di rumahnya, tapi memang sedikit berantakan.


"Uang sewa di sini sangat mahal. Harganya 7 ribu yuan sebulan. Pemiliknya sangat kejam, tapi aku dengar pemiliknya sudah ganti."


Keisha sedang mencari-cari di dapur, sepertinya sedang mencari mie.


Jansen diam-diam merasa canggung, seolah-olah dirinya adalah pemilik rumah itu, dia tertawa lalu berkata, "Apa kamu tidak bisa menemukan mienya?"


"Bagaimana kamu bisa tahu!"


Keisha keluar dengan wajah merah, "Aku ingat masih ada mie setengah bungkus, tapi aku tidak tahu siapa yang memakannya!"


Jansen tidak bisa menahan untuk menggelengkan kepalanya. Pramugari itu sungguh tidak bisa diandalkan. Dia mengusulkan, "Sudahlah, kita makan di luar saja!"

__ADS_1


"Boleh, aku yang traktir, anggap saja untuk membalas mu karena telah menyelamatkan hidupku."


Keisha mengangguk dengan riang, "Oh ya, kamu terlihat sangat santai, apa kamu sudah pensiun?"


"Hmm, bisa dibilang begitu."


Jansen juga tidak tahu apakah ini bisa disebut pensiun, bagaimanapun juga, dia bukan seorang tentara yang formal.


"Baru saja pensiun, pasti sekarang sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Tetapi tidak apa-apa, selama orang bekerja keras, kamu pasti tetap bisa makan!" kata Keisha menghibur, dia tahu pria ini tidak punya banyak uang, untungnya malam ini dia mau mentraktirnya.


Keisha sangat tahu lingkungan sekitar, dia membawa Jansen ke sebuah warung makan dan dia juga sangat akrab dengan orang-orang di sekitar sana.


"Eh, Keisha, kamu sudah pulang kerja ya!"


Di sini semakin malam semakin ramai. Ada warung di mana-mana, banyak orang yang baru saja pulang kerja makan jajanan malam.


"Iya sudah pulang!"


Keisha terus menyapa kenalannya. Keduanya berjalan melewati deretan salon rambut sementara Jansen melihatnya dengan rasa penasaran.


"Jangan dilihat, itu tempat kotor!"


Wajah Keisha memerah dan berkata memperingatkannya.


"Yah, aku masih merasa depresi, bagaimana bisa ada orang yang memotong rambutnya di tengah malam begini!" Jansen tertawa, matanya bercahaya. Sebelumnya dia melihat salah satu salon rambut dengan aura yang aneh, sepertinya aura Mayat, di salon rambut itu pasti ada orang dari jianghu.


"Sudah sampai, siput goreng di warung makan ini sangat enak, dan tumisan kerangnya juga enak!"


Tak lama kemudian, keduanya duduk di sebuah tenda. Terlihat Keisha adalah pelanggan tetap di sana. Bosnya sangat sopan kepadanya!


"Malam ini aku yang traktir, makan saja sesukamu!"


Keisha juga meminta beberapa botol bir untuk diminum bersama Jansen.


Jansen terkejut. Di pesawat, Keisha terlihat lembut dan penampilannya juga cantik. Tak disangka dia sangat sederhana.


Keduanya mengobrol sambil makan, seolah-olah mereka adalah teman yang sudah kenal bertahun-tahun.


"Aku punya teman yang bekerja di bar. Bagaimana kalau nanti aku memperkenalkanmu untuk menjadi satpam di sana?"


"Boleh!"


"Oke sepakat!"


Keduanya mengobrol sampai sangat malam. Keesokan paginya, sebuah panggilan telepon membangunkan Jansen.


"Saudara Jansen, aku, Hilton, kamu terakhir kali bilang bahwa aku selama ini memiliki aura bekas darah, kebetulan sekali aku ada sedikit masalah dan ingin meminta bantuanmu. Tentang uang, kamu sebut saja jumlahnya"


"Oke, kamu ada di mana sekarang?"


Jansen merenung sejenak, tapi dia tidak berniat mencari uang. Tuan Hilton ada di Ibu Kota dan pasti akan membantu Jansen di masa depan.


Tuan Hilton segera mengirim seseorang untuk menjemput Jansen. Tak lama kemudian, sebelum sampai gerbang vila mobilnya berhenti. Setelah Jansen turun dari mobil itu, dia langsung melihat dua orang yang dikenalnya.

__ADS_1


Itu adalah Amanda dan Veronica.


__ADS_2