
Setelah memilih mobil, Elena menarik Jansen dan berkata kalau dia masih kekurangan uang. Kelihatannya, dia sangat menyukai mobil Mercedes Benz GLE itu.
"Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan uangnya!" Jansen tersenyum sambil menghiburnya.
Elena tiba-tiba merasa sedikit malu, karena membuat suaminya mengeluarkan uang lagi!
Pada saat ini, Giselle datang sambil tersenyum, pada saat yang sama memberikan tiket kepada Jansen dengan sopan dan berkata, "Ini pemberian Manajer Wilsen untukmu!"
Setelah berbicara dia langsung buru-buru pergi, karena sangat takut buat salah kepada Jansen!
Sebelumnya dia sudah tahu dari manajernya kalau pemuda itu adalah mitra kerja sama yang disebutkan itu dan dia juga terkejut!
Untungnya, Jansen tidak memedulikannya, jika tidak mungkin dia harus menampar dirinya sendiri beberapa kali!
"Berikutnya adalah undian berhadiah hari ini. Hadiah pertama adalah mobil Mercedes Benz GLE. Pemenang tidak hanya mendapatkan mobil, tetapi juga bebas pajak, pengalihan kepemilikan, serta garansi dan asuransi sepuluh tahun!"
Saat ini, suara pengumuman terdengar dari aula.
Baik tamu dan karyawan toko semuanya tercengang kaget saat ini!
Karena mereka tidak tahu ada undian berhadiah!
"Cuih, undian berhadiah semacam ini, pasti hanyalah tipuan belaka!"
Elena merasa kesal, karena dia tidak percaya pada promosi bisnis seperti ini.
"Siapa tahu, kita bisa memenangkan hadiahnya. Ayo kita lihat!"
Jansen tersenyum canggung dan membawa Elena ke meja lotre. Dia menduga bahwa ini bentuk hadiah terselubung dari Manajer Wilsen.
"Kakak ipar, kamu pikir orang bodoh sepertimu bisa memenangkan lotre? Yang ada kamu mendapatkan stroke, jangan bermimpi!" Kata Naomi meremehkannya sambil melihat video di ponselnya.
Agnes mengerutkan keningnya dan duduk bersama dua orang lainnya, hatinya masih penuh dengan keraguan!
"Para tamu yang terhormat, Kantor Pusat Mercedes Benz ke 10 tahun mengadakan kegiatan berhadiah untuk para pelanggan, pengambilan lotre dimulai!".
Seorang pembawa acara memegang mikrofon dan memasukkan tangannya ke dalam kotak lotre, "Hadiah pertama, nomor 19, selamat kepada nomor 19 yang memenangkan mobil Mercedes Benz GLE kami!"
Penonton terdiam, semua orang saling bertatap-tatapan dengan tatapan kosong!
Faktanya kebanyakan orang tidak memiliki tiket lotre, karena lotre ini dibuat sementara.
Pembawa acara itu melihat ke aula dan tiba-tiba menatap Jansen.
Jansen tersenyum dan memberi isyarat dengan tangannya.
Agnes melihat Jansen mengangkat tangannya, lalu berkata dengan sinis, "Untuk apa kamu mengangkat tangan, menurutmu kamu bisa memenangkan hadiahnya? Dan juga untuk apa membuat angka 9 dengan tanganmu, dia bilang
nomor 19!"
Ketika pembawa acara melihat gerakan tangan Jansen, dia tiba-tiba berteriak, "Aduh, ternyata aku salah, ini angka 9, iya 9!"
Plakk!
Agnes seperti ditampar.
__ADS_1
Naomi, yang sedang bermain dengan ponselnya di sebelahnya mendongak, "Beruntung sekali, punya kakak ipar nomor 9 dan yang keluar nomor 9?"
Elena juga tampak terkejut, "Hadiah pertama ini
mendapatkan mobil, pengalihan kepemilikan, bahkan garansi dan asuransi sepuluh tahun!"
Mendengar ini, Elena merasa senang dan mencium pipi Jansen, "Hebat, kita memenangkan lotre, apa kamu tahu, ini
adalah pertama kalinya dalam hidupku mendapatkan hadiah sebesar itu!"
Wajah Agnes dan Naomi langsung menjadi muram, entah kenapa, melihat Jansen memenangkan lotre, mereka sangat tidak senang!
"Sebenarnya, aku memegangnya terbalik, punyaku nomor 6!"
Jansen tiba-tiba merasa lemas.
"Haha, percuma sudah merasa senang. Nomor 6 dianggap sebagai nomor 9. Kenapa kamu sangat lucu? Aku sudah bilang keberuntunganmu mana mungkin sangat bagus!"
Naomi dan Agnes langsung menjadi senang, mereka senang melihat orang lain menderita.
Orang-orang di sekitar juga menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Mereka kira orang ini sudah memenangkan lotre, ternyata mereka melihatnya secara terbalik.
Pembawa acara yang mendengar suara itu, tiba-tiba berteriak lagi, "Oh, aku tidak memakai softlensku hari ini, aku salah membacanya lagi. Ternyata pemenang hadiah pertama adalah nomor 6!"
Semuanya sunyi senyap!
Kemudian terdengar banyak kritikan!
Kalau salah sekali bisa dimengerti, kalau salah dua kali juga masih oke tapi mana ada sampai tiga kali!
Agnes dan Naomi tetap tersenyum, tapi wajah mereka menjadi serius!
Entah kenapa mereka merasa, toko 48 menginginkan Jansen menang. Berapa nomor Jansen, itulah yang nomor yang mereka sebutkan!
"Aduh, sudah hampir menang, tunggu, sepertinya aku bukan nomor 6!"
Jansen menghela napasnya.
Pembawa acara itu hampir berlutut lemas, kami hanya ingin memberikan mobil untukmu, jangan permainkan kami!
Untungnya, Jansen melirik tiket lotre itu lagi dan memastikan bahwa itu adalah yang nomor 6. Setelah itu, dia memeluk Elena dengan kencang!
"Toko penipu!"
Para tamu mengeluh dan merasa ada terlalu banyak masalah dalam lotre ini.
Tapi ini bukan urusan Jansen. Dia menyerahkan masalah itu untuk dibereskan oleh Manajer Wilsen.
Tidak sampai 3 hari mobil itu akan sampai. Setelah menangani hal lainnya, Jansen membawa Elena pulang.
Agnes dan Naomi ikut di belakang mereka, wajahnya yang muram semakin terlihat muram, rasanya seperti ditampar!
Agnes masih merasa ada yang tidak beres, jadi dia tidak berani sombong!
Semakin Naomi melihat Jansen semakin dia merasa kesal!
__ADS_1
"Bangga kentutmu, hanya keberhasilan kecil saja. Memang kita hidup hanya mengandalkan keberuntungan saja? Kita harusnya bergantung pada bakat!"
Naomi selalu merasa Elena ditipu oleh Jansen. Dia tidak sabar untuk merobek topeng Jansen dan membuat Jansen merasa rendah diri dan meninggalkan Elena.
Naomi menghentikan Jansen dan Elena, "Jansen, kamu hanyalah seorang dokter kecil dari desa, kenapa kamu selalu mengganggu Kak Elena? Menurutmu kamu pantas
mendapatkannya?"
"Kenapa aku tidak pantas?"
Jansen tampak kesal dan kesabarannya habis, "Kamu seorang dokter, aku juga seorang dokter, tapi apa keterampilan medismu dapat dibandingkan denganku?"
Naomi tidak bisa berkata-kata dan menghentakan kakinya dengan marah, "Aku tidak berbicara tentang keterampilan medis, tetapi tentang kehidupan, karakter dan kepribadian serta bakat yang dikontribusikan kepada masyarakat. Pernahkah kamu membaca 'Charastura', "Teori Kehidupan', 'Danau Walden', 'Meditasi'?"
"Apa pendapatmu tentang masyarakat!"
"Apa cita-cita dalam hidupmu?"
"Apa kamu mengerti musik?"
"Kamu tidak bisa apa-apa, kamu hanya orang yang tidak sopan!"
Mendengar perkataan ini, Jansen menggelengkan kepalanya, "Memangnya kamu mengerti?"
"Aku mengerti, dari aku masih kecil aku sudah mengerti. Aku sudah membaca buku sosiologi dan teori hidup. Aku mempunyai cita-cita, ambisi dan aku menyukai musik. Aku tahu kamu masih tidak mau kalah, biar aku tunjukan kepadamu!"
Naomi langsung mengeluarkan ponselnya, "Lihat? Ini baru pemuda masa kini, inilah bakat!"
Dia memutar video permainan piano di sebuah mall!
"Benar!"
Agnes tampaknya telah menemukan kepercayaan dirinya dan ikut berbicara, "Orang ini adalah pemuda masa kini, sedangkan kamu, seperti apa dirimu!"
"Sangat bagus bukan? Dia memainkan lagu dengan lima jarinya dan penuh penjiwaan. Apa kamu melakukannya? Kamu bahkan tidak bisa sebanding dengan pemuda itu!"
Naomi menjadi semakin bangga dan terus membuka forum, "Pemuda itu hanya memainkan sebuah lagu dan baru beberapa jam, sekarang sudah sangat viral di Ibu kota. Banyak situs forum yang membagikan videonya. Pemuda itu berbakat dan juga rendah hati. Tidak sepertimu, mendapatkan mobil Mercedes Benz jelek saja sudah senang sekali seperti orang kaya baru!"
"Kamu lihat, bahkan tampak depannya sudah keluar, biar aku kasih lihat seperti apa dia!"
Dia terus mengutak-atik ponselnya. Kali ini, Jansen pasti merasa malu!
"Naomi, biarkan dia melihat penampilannya, keduanya masih sama-sama muda, kita tunjukan pemuda itu seperti apa dan dia seperti apa!" Agnes diam-diam ikut menambahkan, "Elena, kamu juga lihat!"
Saat ini Naomi sedang mencari foto tampak depannya. Ini pertama kalinya dia melihatnya. Dia sangat senang sampai dia hampir mencium layar ponselnya!
"Kamu lihat betapa hebatnya orang itu, sangat tampan!"
Sambil melihatnya dia menegur Jansen, tetapi setelah berbicara, dia menjadi terdiam membeku!
Dalam video tidak sengaja terekam wajah pemuda itu, hanya saja wajahnya tampak tidak asing!
Dia tiba-tiba menatap Jansen dan membandingkannya dengan video di ponselnya!
Tidak hanya tercengang, tapi dia juga terlihat bodoh!
__ADS_1