
Alamatnya ada di rooftop sebuah kawasan perumahan tua.
Jansen tidak bisa berkata-kata. Bagaimana dia bisa memilih tempat seperti itu?
Dia menelepon dan meminta Panah untuk segera bergegas. Ketika tiba di perumahan tua, dia mendapati bahwa ada bangunan yang sangat kuno dan ada cukup banyak orang di sekitarnya.
Panah memarkir mobil di tempat parkir umum, kemudian hendak mempersilakan Jansen turun. Namun, saat ini sebuah Nissan Sylphy berhenti di depan Mercedes, yang mana merupakan seorang wanita berpakaian modis muncul seraya mengetuk jendela.
Panah menatap Jansen dan menurunkan jendela mobil.
"Kamu buta, bagaimana bisa mobilmu terparkir di tempat parkirku!"
Wanita itu berpakaian seperti karyawan kantor, tetapi tidak disangka sikapnya cukup angkuh.
Panah mengerutkan kening sejenak, dia mengira bahwa wanita ini merupakan orang biasa, jadi dia tidak perlu repot-repot memedulikannya. "Aku tidak salah. Tempat parkir ini adalah tempat parkir umum, kan?"
"Apa kamu buta? Tempat parkir umum apa? Tempat parkir ini milikku. Keluargaku adalah orang pertama yang membeli mobil di perumahan ini. Aku telah parkir di sini selama lima tahun."
"Cepat singkirkan mobilmu. Jangan mentang-mentang naik Mercy berarti orang kaya. Bisa jadi, ini mobil bekas, dasar pamer!"
Wanita itu memiliki rasa benci terhadap orang kaya, seolah-olah berbicara dari sudut pandang pihak yang dirugikan.
"Aku berhenti saat melihat tidak ada siapa pun di tempat parkir ini, tidak bermaksud pamer. Selain itu, kamu harus sopan saat bicara, jangan tiba-tiba memaki orang lain tanpa sebab."
Panah menahan amarahnya. Dia tahu, Jansen tidak suka bertindak pada orang biasa, jadi dia terpaksa menahannya.
Pikirnya, hal ini cukup lucu, hanya seorang pengecut biasa. Jika bukan karena sikap Tuan Jansen, dia mungkin sudah menamparnya dari awal.
Bagaimana pun, dia tahu bahwa Tuan Jansen enggan bertindak pada orang biasa.
"Bagaimana bisa bicaraku tidak sopan? Cepat serahkan tempat parkirnya. Jangan bertele-tele!"
Wanita itu terlihat tidak sabar.
Panah tidak mau repot-repot berselisih dengannya. Dia kembali menyalakan mobil dan berniat mencari tempat lain. Namun, ini adalah perumahan tua, yang mana sulit sekali untuk menemukan tempat parkir.
Dia takut membuang-buang waktu Tuan Jansen.
"Kamu bawa mobilnya ke depan!"
Melirik Nissan Sylphy yang berhenti di depan Mercy, aura Panah merasa tidak enak.
"Untuk apa kamu bicara keras-keras, mentang-mentang naik Mercy bisa seenaknya menindas pihak yang dirugikan."
Wanita itu menjawab dengan tidak senang, matanya melirik Jansen di kursi belakang, lalu tertawa, "Masih muda, tangan dan kakinya juga lengkap, tetapi menyuruh sopir untuk mengemudi. Pasti anak orang kaya seperti ini yang membuat bangkrut!"
Setelah mengatakan itu, dia hendak melajukan mobilnya.
"Panah, turun."
Tiba-tiba, terdengar suara Jansen.
Panah terlihat senang. Sepertinya Tuan Jansen enggan menyerahkan tempat parkirnya.
"Apa maksudnya? Tadi bilangnya mau pergi, sekarang tidak jadi. Aku sudah bilang, ini tempat parkir keluargaku, mau tidak mau aku harus parkir di sini. Sementara orang lain tidak diizinkan parkir di sini."
__ADS_1
Wanita itu awalnya ingin mengusir. Setelah mendengar perkataan Jansen, dia menjadi marah.
Saat ini, Jansen berjalan menunduk dan menatap wanita ini dengan ekspresi tenang.
Sejujurnya, dengan identitasnya, dia benar-benar tidak ingin menindas orang-orang biasa seperti ini.
Namun, orang ini sudah keterlaluan. Dia telah menggunakan identitasnya layaknya pihak yang dirugikan untuk membuang bebannya, selain itu sikapnya juga buruk dengan mengaku bahwa tempat parkir umum telah menjadi miliknya.
Orang semacam ini, mungkin para tetangganya tidak kalah bersalahnya.
Tidak boleh dimanjakan!
"Toilet umum digunakan untuk semua orang. Kalau kamu ke sana sekali, apakah toilet itu jadi milikmu?"
"Kalau kamu pergi ke restoran untuk makan, apakah orang lain tidak boleh pergi ke sana juga?"
"Sialan, pergi!"
Jansen tidak memberikan rasa hormat sama sekali.
"Kamu, kamu sangat tidak masuk akal, barbar!"
Wajah wanita itu memerah sebab marah. Ketika marah, dia jadi tak terarah seperti orang yang tidak masuk akal.
"Tidak mau pergi, 'kan? Aku akan memarkir mobil di depan mobilmu. Kamu tidak akan keluar sampai kapan pun, kecuali kamu mampu."
"Inilah cara untuk menghadapi orang barbar sepertimu!"
Wanita itu seolah mendatangi api dan memarkir Nissan Sylphy di depan Mercedes.
Banyak orang berkumpul untuk menyaksikan perseteruan ini. Mereka sudah lama tidak menyukai wanita itu, hanya saja karena suaminya adalah seorang manajer perusahaan besar, jadi mereka tidak mampu mengusiknya.
"Tuan Jansen!"
Tak urung, Panah menatap Jansen.
Jika pihak lawan bukan orang biasa, dia benar-benar ingin membunuhnya dengan satu tebasan.
"Tabrak mobilnya, ayo naik ke atas."
Jansen melirik wanita itu dan memimpin.
Bruk!
Panah menabrak Mercy menabrak Sylphy tersebut. Setelah beberapa kali, mobil Nissan Sylphy itu penyok dan pintunya jatuh.
Wanita itu menatap dan berteriak, "Kamu gila, mobilku, aku akan menuntutmu sampai mati!"
Mobil ini adalah harta berharganya. Dia selalu membersihkannya setiap hari sepulang bekerja. Sekarang, melihatnya ditabrak seperti ini, tentu membuat hatinya berdarah.
"Begitulah cara orang barbar melakukan sesuatu."
Panah menutup pintu mobil dan mengejar Jansen.
Orang-orang di sekitar merasa lega. Wanita ini tidak boleh dimanjakan!
__ADS_1
"Suamiku, mobil keluarga kita ditabrak. Cepat pulang!"
Wanita itu sangat marah sehingga dia bergegas menelepon suaminya. Dia kemudian bertolak pinggang dan menatap Jansen yang sudah jauh.
"Kalau kamu tidak memberi kompensasi, kamu akan kehilangan segalanya, maka jangan sebut aku keluarga Gayo."
Jansen tidak punya waktu memperhatikan rubah betina ini. Dia memasuki salah satu gedung dan berjalan menuju rooftop.
Sesaat kemudian, di atap lantai sembilan, terlihat dua orang wanita berdiri di sana. Salah satunya adalah Jasmin, dia mengenakan pakaian dan celana kulit. Penampilannya sangat bagus, terutama kakinya yang ramping, yang memberi orang merasa semangat.
Ibu Bos mengenakan cheongsam merah, posturnya tinggi dan memberi kesan kecantikan klasik.
Jansen pun pernah melihat banyak orang mengenakan cheongsam, bahkan Elena pernah terlihat mengenakan cheongsam, tetapi jika menyangkut kecantikan klasik, Ibu Bos adalah orang pertama yang terbaik.
"Dokter Jansen cukup keras kepala rupanya."
Melihat Jansen datang, Ibu Bos tersenyum seraya menyapa. Jelas, dia juga melihat apa yang terjadi di lantai bawah.
Selain itu, dia hendak mengatakan sesuatu, seolah-olah untuk membicarakan tentang pembukaan Aliansi Bisnis Senlena.
Setelah melalui ini, tidak diragukan lagi Jansen akan menjadi makin terkenal.
Selain itu, ketenaran semacam ini tidak hanya di dunia sekuler, tetapi juga di dunia jianghu.
"Tidak masalah, seperti malaikat ketika bahagia, seperti setan ketika marah."
Jansen berkata dengan acuh tak acuh.
"Setahuku, ketika Kamu berada di Kota Asmenia, Dokter Jansen sangat mudah diajak bicara." Ibu Bos itu masih tertawa.
"Orang-orang, akan selalu tumbuh dewasa!"
Jansen mengedikkan bahu. "Baiklah, mari kita beralih ke bisnis."
Ibu Bos mengangguk, namun perkataan Jansen membuatnya tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri.
Benar, jika belum tumbuh dewasa, dia akan tetap menjadi ibu rumah tangga yang selalu mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Suaminya tetap akan melakukan kekerasan dalam rumah tangga saat mabuk, sementara dirinya masih tetap duduk di peron demi menghidupi keluarganya.
Jika putranya tidak jatuh dari lantai lima dan meninggal saat bermain, dia pasti tidak akan tumbuh dewasa.
Yang membuatnya bergidik adalah saat kematian putranya, suaminya masih mabuk. Bahkan meski mengetahui kondisinya setelah itu, suaminya tetap mengatakan pada dirinya untuk tetap menatap ke depan.
Setelah itu, tidak ada lagi yang tersisa.
Tidak ada rasa bersalah, tidak bertanggung jawab, masih malas-malasan, mabuk dan membawa wanita muda setiap hari.
Tentu saja karena kalimat itu, dia akhirnya mengakhiri hidup suaminya.
"Ibu Bos sedang memikirkan apa?"
Melihat Ibu Bos melamun, Jansen memanggil sambil tersenyum.
Lewat mata Ibu Bos, dia sudah melihat ceritanya.
__ADS_1
Orang-orang selalu tumbuh dewasa. Kalimat ini mungkin mengingatkannya pada masa lalu.
(Lanjut besok)