
Sebuah tim memiliki empat puluh anggota, yang berarti ada sepuluh orang lagi.
Dan sepuluh orang ini jelas masih bergegas ke lokasi.
Jika cuma sepuluh orang, tidak lagi perlu memakai cara bersembunyi, seperti menunggu kelinci, bunuh saja satu per satu!
Jansen merebahkan tubuhnya dan memegang senapan sniper di tangannya. kesadaran Illahinya difokuskan ke arah depan.
kesadaran Illahinya bahkan lebih kuat dari matanya, ini juga alasan mengapa dia bisa menemukan lawannya sebelumnya. Namun, area yang bisa diamati oleh kesadaran Illahi tidak jauh, hanya sekitar lima ratusan meter.
Oleh karena itu, Jansen menggunakan Qi melihat.
Qi melihat bisa melihat lebih jauh, tetapi dia tidak seakurat kesadaran Illahi.
"Kadang-kadang terasa sangat mudah untuk berurusan dengan para tentara bayaran ini dengan metode dari Sekte Tersembunyi!"
Jansen tersenyum. Bahkan mungkin tidak akan ada yang tahu bagaimana Resimen Tentara Bayaran yang menduduki peringkat kedua di dunia internasional ini mati.
Dor!
Jansen mengunci targetnya dan dia menembak dari jarak empat ribu meter.
Meskipun pohon-pohon di depan sangat lebat dan juga dihalangi oleh banyak bebatuan, tapi itu tidak menghalangi intipan Qi melihat. Tentu saja, karena keakuratannya tidak sebagus kesadaran Illahi, Jansen hanya menembak berdasarkan perasaannya!
Dor!
Empat ribu meter jauhnya, sesosok orang asik sedang mengendap-endap, punggungnya dipenuhi dengan ranting pohon dan dedaunan. Pergerakannya juga sangat cepat!
Tapi tak lama kemudian, kepalanya tertembak.
Perlahan terjatuh dan tersisa mayat tanpa kepala.
"Tiga puluh satu dari kita tewas!"
Delapan orang yang tersisa sedang berbicara di radio, hati mereka berubah dingin.
Hingga kini, mereka juga masih belum tahu bagaimana rekan satu tim mereka tewas.
Baru tembakan pertama yang dilepaskan semenjak pertempuran dimulai, tetapi tiga puluh satu orang telah tewas.
"Kunci arahnya!"
Suara Ketua Tim datang dari walkie-talkie.
"Saat ini, kira-kira hanya bisa tahu bahwa dia berada di arah jam sembilan dan tebakan awal kira-kira dia berada dalam jarak satu kilometer!"
Seseorang berbaring di tanah dan melapor.
Beberapa dari delapan orang lainnya juga bergerak perlahan seperti dirinya, sementara ada yang mempercepat lajunya, menyelingi kiri dan kanan, bersembunyi di pepohonan.
Dor!
Pria yang baru saja berbicara ditembak di kepala juga!
Masih ada delapan orang yang tersisa!
"Arah jam sembilan, dalam jarak satu kilometer!"
Suara Ketua Tim ditransmisikan ke delapan orang yang tersisa, "Tinggalkan empat orang untuk menunggu kesempatan menembak dan berangkatkan empat orang sisanya!"
Mendengar perintah itu, empat penembak jitu diam di tempat untuk menunggu kesempatan. Asalkan Jansen kembali menembak, mereka akan bisa menguncinya.
Empat sisanya menuju arah jam sembilan.
Dor!
Seseorang tertembak lagi di kepala.
__ADS_1
"Arahnya sudah terkunci!"
"Mencari jejak si Dokter!"
Dor!
Ada lagi yang mati.
"Masih belum ada tanda-tanda si Dokter!"
Dor!
Bahkan penembak jitu yang diam di tempat untuk mencari Jansen juga tertembak di kepala.
"Belum menemukannya?"
Ketua Tim makin cemas. Jansen berada di arah jam sembilan dan rekan-rekan setimnya seperti Dewa Penembak. Bagaimana mungkin masih belum menemukannya?
Dor!
Suara tembakan lanjut terdengar dan satu penembak jitu terjatuh.
Tersisa satu orang yang bergegas ke arah tempat persembunyian Jansen, tetapi setelah mencari, dia berteriak ketakutan, "Lapor, tidak ditemukan jejak Jansen!"
Dor!
Begitu selesai berbicara, pria itu tertembak di kepala.
Tersisa satu orang di Tim Keempat, tersembunyi di bawah batu sejauh seribu meter. Ia melihat pemandangan di depannya melalui teleskop senapan. Dia berkata sambil gemetaran, "Ketua Tim, kami salah perhitungan bahwa Jansen melakukan tembakan dari jarak sejauh seribu meter. Menurut tebakanku, jaraknya setidaknya lebih dari tiga ribu meter!"
Dor!
Selesai berbicara, kepalanya tertembak dan dia pun tewas!
Tim Keempat dimusnahkan.
Ada banyak yang bisa menghalangi di hutan purba dan jaraknya tiga ribu meter!
Bagaimana si Dokter ini bisa menemukan Tim Keempat!
Mungkinkah itu Kewaskitaan?
Bahkan jika ada, Kewaskitaan juga akan terhalang oleh pohon-pohon lebat!
Apa-apaan ini!
"Beri tahu tim yang tersisa untuk diam di tempat dan saling menjaga. Jangan berpisah!"
Ketua Tim, Serigala Malam, memberi perintah.
Biasanya, penembak jitu memiliki misi terpisah. Mereka seperti serigala penyendiri di malam hari, tapi ketika bertemu dengan orang aneh seperti Jansen, sepertinya terlalu berbahaya jika terpisah.
Lagi pula, sejauh ini, mereka belum menemukan sosok Jansen dan semua yang bertemu dengannya sudah tewas.
Setelah anggota tim yang tersisa mendengar perintah, mereka tidak lagi berinisiatif mengejar Jansen. Sebaliknya, mereka diam di tempatnya. Mereka sangat dekat satu sama lain. Jika terjadi sesuatu, mereka bisa bereaksi kapan saja.
"Senapan sniper macam apa yang dipegang si Dokter ini? Jaraknya terlalu jauh!"
" Ketua Tim bilang dia menembak dari jarak sejauh tiga ribu meter, pasti asal tebak."
"Aku telah berpartisipasi dalam banyak pertempuran, seperti Perang Teluk, Timur Tengah dan sebagainya. Aku belum pernah melihat ada seseorang yang bisa menembak dari jarak sejauh tiga ribu meter di area hutan!"
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu, menunggu si Dokter berinisiatif untuk datang sendiri!"
"Menurut kalian, apa benar keahlian menembaknya sangat bagus? Dan juga, bagaimana dengan keterampilan bertarung jarak dekatnya? Jika mendekatinya dan tidak membiarkannya menembak, bisakah aku menghajarnya?"
"Jangan meremehkan dia. Dia adalah Raja Prajurit Huaxia. Keterampilan bertarung jarak dekat dan teknik membunuhnya jelas tidak lemah!"
__ADS_1
Ketiga tim itu berada di beberapa lokasi berbeda dan sedang berbicara dengan suara pelan.
Dor!
Di saat itu juga, suara tembakan terdengar, tiga tembakan berturut-turut.
Di pihak Tim Kedua, satu orang tewas dan dua tembakan lainnya meleset.
"Si Dokter datang, semuanya sembunyi dan cari target!"
Satu per satu master dari Tim Kedua bersembunyi, senapan sniper mereka diarahkan ke setiap sudut, mencari tempat di mana Jansen mungkin bersembunyi.
Tapi sekeliling sangat tenang.
"Tim Kedua berjaga di tempat, beri tahu Tim Pertama dan Tim Ketiga untuk bantu mencarinya!"
Ketika Ketua Tim mendengar berita itu, dia mengeluarkan perintah.
Tim Kedua tetap tinggal untuk menahan dan mengunci lokasi asal tembakan Jansen. Tim Pertama dan Tim Ketiga mencari secara menyeluruh, lebih dari seratus orang mencari bersamaan, sehingga tidak bisa dipercaya jika tidak bisa menemukan sehelai rambut pun dari Jansen.
Namun, area penembak awal Tim Pertama dan Tim Kedua hanya tersisa beberapa orang untuk berjaga.
"Ketua Tim dan sembilan master telah menunggu. Saat Tuan Alastor tiba di tempat tujuannya, dia akan bisa segera pergi menggunakan helikopter!"
"Perkiraan waktunya dua jam lagi!"
" Ketua Tim, bahkan kalau kita tidak bisa membunuh si Dokter, selama kita bisa melarikan diri dari Huaxia, maka pertempuran ini dimenangkan oleh kita!"
Mereka berbicara satu sama lain dengan earphone.
"Kalian tidak akan bisa pergi!"
Namun, pada saat ini suara dingin terdengar. Jansen telah sampai di markas penembak jitu Tim Kedua.
"Dokter Jansen, kau!"
Mereka bertiga menatap Jansen dan tersentak.
Jansen jelas berada di depan. Sejak kapan dia berpindah ke belakang dan menghindari mata ratusan orang?
Yang paling menakutkan adalah mereka benar-benar bisa ditemukannya di tengah hutan yang begitu lebat.
"Ketua Tim, Dokter Jansen muncul!"
Salah satu dari mereka sangat tenang dan segera menghubungi Ketua Tim.
"Laporkan lokasi spesifik!"
Ketua Tim bertanya dengan cemas, tetapi sudah tidak ada suara.
Wajahnya langsung tenggelam, menyadari bahwa rekan satu timnya ini juga sudah terbunuh.
"Rekan-rekan satu timku semua seperti iblis di kegelapan malam. Itulah mengapa kita dijuluki Harmoni Kegelapan. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan Jansen, dia yang lebih seperti iblis di kegelapan malam!"
Ketua Tim itu bergumam pada dirinya sendiri.
"Aku sudah pernah bilang, jangan meremehkan Jansen!"
Pada saat yang sama, sebuah suara terdengar dari sebuah lahan terbuka, terlihat Alastor yang mengikuti sesosok orang asing telah sampai di Wild Bull Mountain.
"Aku tidak meremehkannya. Ketika mengetahui bahwa Jansen yang mengejar kita, aku tahu bahwa pertempuran ini akan sulit, tapi aku percaya pada akhirnya kita yang akan menang!"
Ketua Tim tersenyum dan berjalan mendekat, bersalaman dengan Alastor.
Alastor mengangguk puas. Ketua Tim ini tidak sombong, menambah nilai plus di matanya.
Karena jika bersikap sombong terhadap Jansen, maka kematian sudah tidak jauh lagi.
__ADS_1