Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1317. Di Sepelekan!


__ADS_3

"Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu padaku!? Asal tahu saja, ada sekitar 90 lebih murid sekte dari berbagai Cabang kali ini. Kak senior Cassia menempati posisi teratas, kemudian posisi kedua ditempati Kak senior Geofrey. Dan yang ketiga, tentu saja Kak senior Baron. Sedangkan Cabang kalian menempati posisi paling akhir! Sialan, apa seperti ini didikan orangtuamu! Dipermalukan, tapi masih sempat saja tertawa!"


Slash!


Selesai mengatakannya, tiba-tiba seseorang telah mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas.


"Tidak masalah kamu menghinaku, tapi jangan sekali-sekali bawa orang tua dalam masalah ini!" ucap Jansen sembari menatap Deliza dengan dingin.


Deliza pun terbelalak, dia tidak menyangka jika kekuatan pria yang ada di hadapannya ini sangat kuat.


Jansen mencengkeram lehernya dengan sangat kuat, seolah-olah dia sedang menghadapi cengkeraman binatang buas.


"Junior dari mana yang berani menyentuh murid sekte Cabang Sungai Selatan!?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang.


Saat menoleh ke arah sumber suara, terlihat beberapa pemuda berjubah panjang berjalan menghampiri.


Aura mereka sangat kuat. Dalam dunia Jianghu, masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang setara dengan master sekte.


Terutama seorang pemuda yang menjadi pimpinan dari rombongan itu. Sosok pemuda itu memberi Jansen sebuah tekanan yang sangat besar. Berdasarkan prediksinya, kekuatannya tidak kalah dengan Tuan Besar Jacob.


"Kak senior Baron, tolong aku!"


sahut Deliza menatap pemuda itu.


"Siapa kalian!?"


Pemuda yang menjadi pimpinan dalam rombongan tak menggubris ucapan Deliza. Tatapan matanya tertuju pada Preston dan Jansen. Tentu saja, dia lebih memperhatikan sosok Jansen ketimbang Preston.


"Ternyata kamu yang bernama Preston dari Cabang Gunung Salju Peri!"


angguk Baron sembari menegur, "Saat gelombang pertama pasukan mayat hidup tiba, tidak masalah jika performa Cabang kalian tidak seperti yang kita harapkan. Tapi berani-beraninya kalian menindas murid Cabang yang sama denganku di tempat ini!?"


Setelah mengatakannya, dia pun terdiam sembari menatap ke arah Deliza.


"Kamu juga sampah, Deliza! Yang kamu bisa lakukan hanya membuat Cabang Sungai Selatan malu saja!" ucapnya.

__ADS_1


"Kak senior!"


Deliza hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.


Preston terlihat menghampiri Jansen dan menariknya menjauh. Jansen pun melepaskan cengkeramannya pada Deliza.


"Ada 2 wanita berbakat yang berasal dari Cabang Gunung Salju Peri, di mana mereka berdua mendapatkan perhatian lebih oleh sekte pusat. Tapi, saat gerbang perunggu terbuka, performa kalian justru terlihat biasa-biasa saja dan membuat sekte pusat sangat kecewa. Daripada kalian melawan anggota sendiri seperti ini, bukankah lebih baik kalian memikirkan bagaimana cara membunuh lebih banyak mayat hidup? Jangan malah enak-enakan di sini!"


"Jangan tunggu sampai kalian berada di peringkat terbawah, mau ditaruh mana muka kalian nanti!" imbuhnya.


"Tenang saja, ada aku di sini. Selama istriku ingin menjadi yang nomor satu, maka aku akan memberikannya. Dan begitu sebaliknya!" sahut Jansen nampak acuh.


"Hah?"


Semua orang pun menatap ke arah Jansen. Mereka tidak menyangka jika Jansen berani membuka mulutnya.


Preston pun nampak panik. Pemuda itu adalah senior dari Cabang Sungai Selatan.


Tatapan Baron terlihat memadat.


"Kamu siapa!?" tanyanya dengan kesal.


Jansen tak berniat menyembunyikan identitasnya. Semua orang yang ada di lokasi pun tercengang. Pantas saja pria ini tidak mengenakan jubah panjang sekte, ternyata bukan dari anggota sekte Yuhua.


"Sepertinya aku memang pernah mendengar jika junior Elena sudah menikah. Saat itu, suaminya bahkan pernah membuat onar di Cabang Gunung Salju Peri!"


"Aku tidak menyangka jika orang itu adalah dia! Asal tahu saja, Junior Elena adalah salah satu mutiara yang ada di Cabang Gunung Salju Peri, tidak pantas bersanding dengan pria itu!"


"Sudahlah, aku tidak terlalu peduli padanya. Hanya saja, nyalinya besar juga. Haiss..."


Para murid sekte merasa nada bicara Jansen terlalu arogan. Hal itu membuat mereka sangat kesal.


Baron menyipitkan matanya menatap Jansen.


"Orang luar sepertimu berani ikut campur dalam urusan sekte tersembunyi. Baiklah, aku ingin melihat bagaimana caramu membuat Cabang Gunung Salju Peri menjadi yang nomor satu. Tidak perlu sombong terlebih dulu, nantinya kamu juga yang akan menanggung malu!" ucap Baron sembari menggelengkan kepalanya.


Selesai mengatakannya, dia pun membawa para murid sekte pergi meninggalkan lokasi.

__ADS_1


Dia merasa tidak perlu menanggapi pernyataan liar yang Jansen ucapkan barusan.


Para murid sekte pun menatap Jansen dengan penuh penghinaan di wajah mereka. Kemudian, mereka mengikuti Baron pergi dari lokasi.


Deliza masih tercengang menatap Jansen. Dalam hatinya pun berkata, "Besar juga nyali orang ini. Untung saja Kak senior Baron tak memedulikannya, kalau tidak, sudah habis dia dibantai!"


Kemudian, dia kembali melanjutkan perjalanan. Karena sudah mendapatkan pelajaran di awal, maka dia tak lagi berani bersikap arogan.


Preston menatap Deliza yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Diam-diam dia merasa kagum pada Jansen. Suami Elena ternyata benar-benar luar biasa!


Setelah 20 menit menyusuri jalan, tiba-tiba Jansen bertanya, "Kira-kira di mana area yang dikhususkan untuk murid sekte Cabang Gunung Salju Peri? Kenapa terasa sangat jauh!?"


"Wilayah tenggara!"


jawab Deliza sedikit berbisik.


"Sebenarnya, pembunuhan mayat hidup kali ini bergantung pada siapa yang bisa membunuh lebih banyak. Dan wilayah yang dikhususkan untuk Cabang Gunung Salju Peri berada di wilayah tenggara, sangat jauh dari gerbang perunggu. Jadi, mayat hidup yang ada di sana pun jumlahnya sedikit!" imbuh Deliza sedikit ragu.


Raut wajah Jansen pun nampak dingin setelah mendengar penjelasan Deliza.


Deliza dibuat bergidik oleh tatapan dingin Jansen. Dia pun buru-buru menjelaskan, "Ini bukan aku yang menentukan, ini sudah diatur sama Penatua Yohan!"


Melihat perguruannya diperlakukan tidak adil, Preston pun merasa kesal.


"Mereka benar-benar keterlaluan!" bentaknya.


"Tidak masalah itu wilayah mana, yang penting aku akan melakukan semua yang istriku mau. Kalau dia mau menjadi yang nomor satu, aku akan memberikannya!"


"Terus jalan!" imbuh Jansen.


Baik Preston ataupun Deliza, keduanya dibuat terkejut oleh ucapan Jansen. Mereka merasa apa yang Jansen ucapkan terdengar sangat sederhana.


Mereka semua terus melangkahkan kaki ke arah depan. Namun, tiba-tiba terdengar suara bising dari arah depan.


Di celah sebuah gunung, terlihat beberapa sosok sedang bertarung melawan pasukan mayat hidup!


Mayat hidup memiliki bentuk yang sangat aneh. Mirip seperti mayat kering, kurus namun terlihat tinggi, seluruh tubuhnya berwarna ungu, namun kecepatannya benar luar biasa. Kekuatannya juga sangat besar.

__ADS_1


Mayat hidup memiliki sedikit perbedaan dengan zombie ulat parasit atau pun zombie Yin kebencian yang ada di istana. Mereka tampak lebih kuat dan tidak tergeletak di tanah seperti zombie ulat parasit. Mereka justru terlihat seperti manusia yang mampu berjalan, dengan kekuatan setengah dari zombie yin kebencian di istana .


__ADS_2