
Belasan menit kemudian, seorang pengawal datang membawa seorang wanita masuk ke dalam rumah. Wanita itu mengenakan rok hitam dan terlihat sopan serta elegan. Setelah masuk, dia menyapa dengan sopan.
"Ternyata dia orangnya!"
Jessica semakin senang saat melihat wanita itu datang karena dirinya beranggapan wanita itu tidak hanya enggan menandatangani kontrak, tapi juga akan memarahi Elena.
"Nenek, saya Deva Alisia dari Grup Aliansi Bintang. Anda boleh panggil saya Deva!"
Deva membuka kacamata dan menyapa Nenek Miller dengan sopan.
"Apa kabar, Deva?"
Nenek tersenyum ramah, "Suamiku selalu ingin bekerja sama dengan Grup Aliansi Bintang. Karena sudah tidak tahu harus berbuat apa, aku terpaksa mengundangmu datang kemari!"
Ternyata, nenek selalu berusaha untuk bisa bekerja sama dengan Grup Aliansi Bintang karena itu adalah keinginan kakek.
"Aku tahu, tapi kerja sama ini..."
Deva yang merasa serba salah, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jessica diam-diam merasa senang mendengar nada bicara Deva.
Nenek seketika kecewa karena Deva menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.
Nenek lantas berkata sambil menatap Elena, "Hari itu kamu bilang Elena bisa mewakili Keluarga Miller untuk bekerja sama dengan kalian. Kebetulan, dia juga ada di sini. Apakah kerja sama ini masih bisa dibicarakan lagi?"
Deva juga menatap Elena. Sebenarnya, ini adalah kali pertama Deva bertemu dengan Elena, tapi dia tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Ah! Aku kira Elena sangat hebat sehingga harus dia sendiri yang turun tangan untuk kerja sama ini, tapi ternyata dia juga sama tidak berguna!"
"Nenek, aku rasa kita bakal kecewa lagi!"
Semua kerabat seolah sangat kesal, namun sebenarnya mereka semua malah senang sambil mengompori kegagalan Elena.
Apalagi setelah melihat nenek cemberut, mereka lebih senang lagi.
Mereka tahu bahwa Elena bisa bertahan di Keluarga Miller berkat dukungan nenek. Apabila nenek juga kecewa dengan Elena, tentu hari-hari Elena di rumah Keluarga Miller akan segera berakhir!
Jessica memandang Jansen sambil berpikiran bahwa tanpa dukungan nenek, Jansen akan dapat diatasi oleh Keluarga Miller dengan mengerahkan para pengawal mereka.
"Namamu Deva, kan? Kenapa kamu tidak menandatangani kontrak? Istriku sudah turun tangan langsung, tapi kenapa kamu masih tidak memberi muka?"
Jansen tiba-tiba bersuara dengan santai.
Orang-orang Keluarga Miller langsung menoleh dan melihat Jansen sedang santai minum teh dengan nada seperti menegur bawahan.
Apakah orang bodoh ini hendak merusak hubungan antara Keluarga Miller dengan Grup Aliansi Bintang?
Jessica dan Ricky tertawa diam-diam.
Sebenarnya, Grup Aliansi Bintang enggan bekerja sama karena orang-orang Keluarga Miller berbuat sesuatu yang tidak pantas tanpa sepengetahuan mereka sehingga mereka sangat tidak menyukai sikap orang-orang Keluarga Miller.
Pernyataan Jansen ini bukankah seolah mengompori kekesalan Grup Aliansi Bintang?
"Jan... Jan!"
Deva baru menoleh ke arah Jansen dan raut wajahnya langsung berubah. Dia berkata sambil tersenyum, "Kerja sama, tentu boleh saja, tetapi sikap orang-orang Keluarga Miller membuat pihak Grup Aliansi Bintang sangat kesal, misalnya Ricky, ketika ada pertemuan dengan kami, dia bukan saja telat, tapi juga lupa membawa kontrak dan akhirnya tidak jadi menandatangani kontrak!"
"Ada lagi, Rowen misalnya, dia mengancam kami dengan menelepon kantor pusat agar kami bekerja sama dengan Keluarga Miller karena kalau tidak, pihak kami akan terus mendapatkan tekanan!"
__ADS_1
"Dengan sikap seperti itu, bagaimana Grup Aliansi Bintang bisa bekerja sama!"
Raut wajah Rowen dan Ricky langsung berubah drastis.
Wajah nenek tampak marah, "Rowen, Ricky, apa yang dikatakan Deva itu benar?"
Mereka berdua langsung malu.
Mereka berdua beranggapan bila kerja sama dengan Grup Aliansi Bintang terlaksana, maka itu juga hanya kerja sama kecil-kecilan. Namun, karena Grup Aliansi Bintang tiba-tiba membatalkan kerja sama, mereka merasa dilecehkan dan ingin membalas perlakuan Grup Aliansi Bintang.
"Bu!"
Rowen berteriak dengan kesal.
"Kamu berbuat salah!"
Nenek paham dengan karakter Rowen dan tahu apa yang hendak dia katakan.
Orang lain mungkin tidak tahu siapa Grup Aliansi Bintang, tetapi nenek dan kakek tahu seberapa hebat bekingan Grup Aliansi Bintang. Jika kerja sama bisa terlaksana, kedudukan Keluarga Miller dalam delapan keluarga elit bisa saja maju dua peringkat.
Hal yang patut disayangkan, anak-anak mereka bukan hanya menganggap ini sebagai kerja sama kecil-kecilan, tapi juga bersikap arogan di depan pihak Grup Aliansi Bintang.
Kalau pun ini hanya kerja sama kecil-kecilan, tapi bukankah pintu dan kesempatan besar lain sudah terbuka?
Nenek buru-buru menatap Deva dan berkata, "Deva, aku akan memberi mereka pelajaran atas kesalahan ini. Mereka memang tidak tahu aturan. Kamu jangan marah, aku rasa kerja sama kita ini...'
"Kerja sama ini tergantung pada keputusan Tuan Jansen!"
Deva mengangguk lalu menatap Jansen.
Jansen?
Saat jamuan makan nenek terakhir kali, Grup Aliansi Bintang bersedia kerja sama karena ada Elena. Meskipun pihak Grup Aliansi Bintang memuji Jansen, mungkin itu hanya karena ingin memberi muka kepada Elena.
Ini semua sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jansen.
Lagi pula, kedudukan Jansen masih tidak pantas untuk ikut campur masalah ini.
"Jan, Jansen?"
Nenek juga merasa heran.
"Setujui saja kerja sama ini supaya mereka tidak kepikiran terus!"
Jansen mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, mari segera mulai kerja sama ini!"
Deva mengeluarkan dokumen kontrak dari tas kemudian membubuhinya dengan stempel Grup Aliansi Bintang.
Dokumen kontrak diserahkan lagi kepada Jansen yang kemudian meneruskannya kepada Elena. Meskipun sempat terkejut sejenak, Elena akhirnya menandatangani kontrak tersebut.
Sejauh ini, kerja sama tersebut berhasil.
Kerja sama ini dicapai dengan sangat mudah tanpa halangan berarti dan membuat orang-orang tidak percaya.
Orang-orang Keluarga Miller telah mati-matian berusaha untuk mencapai kesepakatan kerja sama selama setengah bulan ini, namun tidak ada yang berhasil. Jansen malah hanya butuh mengucapkan sepatah kata dan berhasil mencapai kerja sama tersebut.
Tak hanya satu kali, ini adalah kedua kalinya hal tersebut terjadi.
__ADS_1
"Baiklah, kami pulang dulu!"
Jansen berdiri lalu membawa Elena pergi dari sana.
Suasana hening beberapa saat, mereka semua tiba-tiba menatap nenek yang mengedipkan mata karena merasa heran dengan apa yang baru saja terjadi.
Sialan dia!'
Jansen kembali menarik perhatian nenek!
Wajah Jessica dan Renata berubah murung. Mereka awalnya ingin melihat Jansen dipermalukan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Masih sisa tiga bulan lagi, kita lihat sampah seperti dia ini bisa sombong terus sampai kapan!"
Renata marah dengan suara pelan.
Jessica terus bertanya-tanya dengan wajah kesal, apakah Jansen memang memiliki hubungan dengan Grup Aliansi Bintang? Kalau itu memang benar, perjanjian enam bulan pasti akan berbuah pahit bagi pihak Keluarga Miller.
Di tempat lain, Elena pergi mengendarai mobil, matanya menatap ke depan sambil menyindir, "Jansen, kelihatannya Grup Aliansi Bintang sangat menghormatimu!"
Jansen pernah memberitahu Elena bahwa dirinya adalah Wakil Direktur Grup Aliansi Bintang.
Saat itu, Elena sama sekali tidak peduli.
Namun, kekuasaan seorang wakil direktur ternyata begitu besar. Keluarga Miller bahkan harus bersikap segan dan menuruti perkataan Jansen.
"Biasa saja!"
Jansen merasakan kecemburuan Elena dan
menjelaskan, "Itu semua karena Gracia memohon padaku agar membantu memeriksa penyakitnya!"
"Apa dia perlu melepaskan baju saat kamu memeriksanya?"
Elena menoleh ke Jansen sambil bertanya.
Jantung Jansen berdebar kencang dan mencoba meyakinkan, "Tentu saja tetap harus memakai baju!"
Jansen berkata pelan bahwa dia memang memakai baju, tapi baju yang tipis sekali.
"Untung saja ada pakai baju!"
Elena tidak bertanya lagi kepada Jansen. Dia lalu berkata, "Besok aku akan melakukan perjalanan dinas lagi. Aku sepertinya butuh waktu cukup lama untuk perjalanan dinas kali ini karena aku mau menjadi seorang calon Raja prajurit. Aku dengar Tuan Muda Aidan Woodley juga sedang berjuang untuk posisi ini. Karena itu, aku harus lebih hebat daripada dirinya agar aku punya kekuasaan tiga bulan berikutnya!"
"Aidan Wodley?"
Jansen menyipitkan mata karena penasaran dengan saingan cinta yang belum pernah dia temui itu.
Namun, orang seperti dia yang bisa bertarung memperebutkan posisi calon Raja prajurit tentu memiliki kemampuan yang hebat.
"Istriku pasti bisa menjadi calon Raja prajurit!"
Jansen menyemangati Elena, tetapi Jansen sebenarnya tahu saat Elena mengurus masalah Grup Aliansi Bintang tadi, Elena bukan takut dengan Grup Aliansi Bintang, melainkan karena segan dengan ayah kandungnya sendiri.
Tiga bulan kemudian, jika
Danial memaksakan kehendak pada Elena, sepertinya Elena juga harus menuruti perkataannya.
"Ayo, sini cium!"
__ADS_1
Sesampainya di Aula Xinglin, mereka berdua berpelukan. Elena lalu pergi meninggalkan Jansen.